
Kami tidak jadi memakan masakan yang dibuat Kak Rey. Dia berkata setelah ikut mencicipi. "Jangan dimakan! Nanti perutmu sakit." Tangannya segera merebut sendok dariku, meletakkan kembali ke atas piring.
"Kak Rey, ini masih bisa diperbaiki. Sayang makanannya," kataku yang tidak rela apabila masakan pertama Kak Rey yang dia buat untukku malah berakhir di tong sampah.
Terdengar helaan napas dari bibirnya. "Tapi, kesehatanmu jauh lebih penting."
Ya, ampun. Ini hanya masalah rasa. Tidak ada hubungannya dengan kesehatan. Namun, aku mengalah. Aku menyimpan masakan itu ke dalam lemari makanan dan akan mendaur ulangnya nanti ketika Kak Rey sudah pergi.
"Kita mau ke mana?" tanyaku yang terpaksa ikut dengannya mencari sarapan. Kami sudah berada di dalam mobil karena sudah terlalu lambat jika harus memasak ulang.
"Ke rumah orang tuaku." Dia menoleh sekilas kepadaku, lalu kembali menatap ke depan karena tangannya sibuk menyetir. "Mereka ingin bertemu denganmu."
"Apa?"
Lagi, Kak Rey membuat keputusan spontan tanpa memberi tahuku dulu. Padahal aku belum bersiap diri. Pakaianku, dandananku. Ya, ampun, bagaimana aku bisa bertemu dengan orang tua Kak Rey dengan penampilan seperti ini.
"Kenapa tidak bilang? Lihat aku!" Aku protes kepadanya, tetapi dia hanya menatapku dari kaca spion tengah.
"Mau lihat seperti apa lagi. Setiap hari aku sudah melihatmu."
Aku mencebik. "Kak Rey! Aku serius."
Mobil yang tadinya melaju tiba-tiba berhenti. Jelas saja hal itu membuatku terkejut. Lalu, tanpa memberi penjelasan dia membalikkan badan dan menghadapku. "Sekarang aku sudah melihatmu."
Tuh, kan. Kak Rey terkadang ngeselin, tapi juga manis. Dia bisa membuatku marah dan tertawa secara bersamaan.
"Penampilanku seperti ini. Aku malu jika bertemu Tante Salwa dan Om Sean."
Dia tersenyum tipis mengaggapi, lantas mengusap kepalaku. "Mengapa malu? Kamu kan pake baju."
"Kak Rey!" Dia tidak bisa diajak bicara serius.
"Kamu cantik." Tiba-tiba Kak Rey berkata begitu. Aku yang sebelumnya kesal menjadi salah tingkah. "Jangan khawatir dengan penampilan. Kamu cantik pakai apa pun." Tentunya wajahku bertambah merona dibuatnya.
"Serius?" tanyaku memastikan.
"Enggak, aku hanya menghiburmu."
"Iih!" Aku pukul-pukul lengannya, gemas dengan jawaban lelaki itu. Bisa-bisanya dia bilang begitu. Membuat rasa percaya diriku yang sempat tumbuh, hancur tiba-tiba.
Dia terkekeh, mengacak rambutku yang kemudian kembali melajukan mobilnya.
Meskipun Kak Rey memang menjengkelkan, tetapi aku senang jika sudah berdebat dengannya. Aku merasa memiliki teman bergurau, bercerita. Kami bisa dikatakan sebagai partner. Tiada rahasia di antara kami karena aku juga selalu menceritakan apa pun kepadanya.
__ADS_1
"Besok kamu ada acara?" Kak Rey bertanya kepadaku.
"Heem, kamu sedang mengejekku?" Aku mengalihkan perhatianku dengan mengahadap langsung ke arahnya. "Aku pengangguran, mana ada acara."
Dia mengangguk-angguk. "Okey, kamu boleh bantuin Bunda untuk bikin kue. Dia sudah lama ingin punya anak perempuan yang mau diajak bikin kue bersama."
"Sungguh?" Aku tidak percaya jika akhirnya bisa belajar bikin kue. Sejak dulu aku ingin sekali membuat kue-kue lucu dan unik, tetapi waktu dan kesempatan tidak memungkinkanku melakukannya.
"Heem, kamu senang?"
Aku mengangguk mengiakan. Dengan memiliki kesibukan, aku tidak lagi merasa kesepian. Lagi pula belajar bikin kue pasti sangat menyenangkan, bukan?
"Terima kasih, Kak Rey."
Dia tidak menjawab, hanya kulihat ada segaris senyum tipis tercipta di sana.
Sekitar dua puluh menit berlalu, kami akhirnya berhenti di sebuah rumah besar milik orang tua Kak Rey. Sudah tidak asing lagi rumah ini karena sebelumnya aku pernah diajak kemari.
Kak Rey membukakan pintu untukku setelah dia keluar dari mobil terlebih dahulu. Tangannya terulur kepadaku dan kusambut dengan berpegangan padanya di saat hendak turun. Lalu, dia melingkarkan lengan kekarnya pada bahuku.
"Kak Rey," kataku ketika langkah kami terayun hampir menaiki teras rumah. Dia menoleh padaku. "Aku ... gugup."
Telapak tangannya yang lebar meremas bahuku. "Semuanya akan baik-baik saja."
Kuembuskan napas, mencoba menetralisir kegugupan yang melanda. "Heem, semoga," ucapku.
Pria berumur itu hanya diam, tak berkata sedikit pun. Tatapannya yang begitu mengintimidasi sudah menunjukkan bahwa kedatanganku sama sekali tidak diharapkan. Aku menunduk, berusaha menyembunyikan diri di belakang Kak Rey. Namun, lelaki itu seolah enggan membiarkanku dan menahanku agar tetap di sampingnya.
Belum sempat meredakan rasa gugup yang menggebu, seorang wanita berkerudung keluar dari dalam sana, menyambut kedatangan kami berdua. Dia adalah Tante Salwa. Pertama, tatapannya tertuju pada Kak Rey.
Aku bisa melihat sendiri, betapa kecewanya Tante Salwa melihat kedatanganku bersama anaknya. Aku tidak bisa berbuat banyak. Apakah kedatanganku justru menambah masalah pada keluarga ini?
Aku ... takut.
"Rey, apa yang kamu lakukan di sana? Ayo, kalian berdua cepat ke dalam. Kami menunggu kalian datang untuk sarapan."
Apa? Menunggu?
Aku tidak salah dengar, bukan?
Kak Rey menunduk menatapku, lalu menyunggingkan senyum tipis. "Aku bilang apa? Semua akan baik-baik saja," katanya dengan mendorongku pelan untuk menggiring menuju meja makan.
Di sana, semuanya berbeda. Paman Sean yang tadinya menatapku dengan sorot mata tajam berubah ramah saat Tante Salwa mengambilkan makanan untuknya. Aku melihat bagaimana kasih sayangnya benar-benar ditunjukkan dengan sangat sempurna kepada sang istri. Paman Sean mengucapkan terima kasih sambil mengusap pipi Tante Salwa setelah dilayani.
__ADS_1
"Eheem!"
Kak Rey berdehem, membuatku salah tingkah. Aku mengedikkan dagu, menanyai tanpa rasa bersalah. Bukannya menjawab, lelaki itu memberi isyarat dengan sorot mata.
"Apa?" Bisikku tanpa suara. Hanya ada gerak bibir yang pasti bisa diterjemahkan oleh Kak Rey.
Akhirnya dia menyerah. Perlahan kepalanya mendekat, bergerak miring kepadaku, lalu berbisik. "Ambilkan makanan untukku!"
"Oh!" Aku menutup mulut dengan telapak tanganku. Aku sampai terlupa untuk melayani suamiku. "Okey," ucapku dengan menyunggingkan senyum.
Kami makan bersama dengan suasana yang hangat. Meskipun tiada yang bicara, hanya ada bunyi gesekan piring dan garpu, tetapi aku merasakan keluarga Kak Rey sangat harmonis.
"Alea, apakah Rey mengurusmu dengan baik?" Tante Salwa berkata setelah menandaskan makanannya.
Aku mengangguk. Tidak menyangka Tante Salwa peduli kepadaku. "Iya, Tan. Kak Rey menjagaku dengan baik."
"Kalian sudah menikah. Meskipun kami merasa kecewa karena kalian sembunyi-sembunyi menikah tanpa melibatkan orang tua, tapi pernikahan tetaplah pernikahan. Kami ingin kalian hidup bahagia." Tante Salwa berkata dengan sangat lembut dan bijaksana. Aku melihat tangan Paman Sean menggenggam tangannya erat. Ah, mereka manis sekali.
"Dan kamu, Rey! Selesaikan urusanmu dengan Rena. Bunda tidak mau kamu membuat keributan lagi. Alea sedang hamil. Dia butuh ketenangan. Kamu harus menjaganya dengan baik. Dan bagaimanapun juga, kamu harus meminta maaf pada Rena. Kamu sudah menikahinya, memintanya kepada orang tuanya. Kamu juga harus mengembalikannya dengan baik. Jangan sampai ada luka yang berimbas pada kehidupan keluarga kecil kalian mendatang. Bunda yakin kamu bisa melakukannya."
Kak Rey mengangguk. Tak banyak berkata ataupun melawan. Entah apa yang sudah Kak Rey katakan kepada kedua orang tuanya. Tampaknya Paman Sean dan Tante Salwa mengetahui segala permasalahan Kak Rey lebih dariku. Kalau melihat bagaimana Kak Rey dengan mudah menemukan ibu kandungku, apakah keluarga mereka ini sebenarnya memiliki detektif pribadi sehingga dengan mudah mencari tahu apa saja yang tersembunyi?
Entahlah, keluarga Kak Rey menurutku sangat misterius.
Obrolan kami berhenti di kala Paman Sean dan Kak Rey hendak berangkat bekerja. Kak Rey mengajakku keluar lebih dulu. Dia melarangku melihat kedua orang tuanya yang sedang berpamitan. Katanya bisa membuatku kepanasan. Ah, masak berpamitan bisa membuatku kepanasan? Memang mereka melakukan apa? Namun, aku hanya menurut saja dengan mengikutinya ke depan.
Kak Rey mengusap perutku sebelum berangkat bekerja, lalu mengecup keningku. Tak lupa juga dia membisikkan pesan kepadaku. "Jaga dirimu baik-baik. Kalau istirahat, tidur saja di kamarku. Kamu tahu kan tempatnya?"
"Heem."
"Aku akan menjemputmu nanti malam."
Kak Rey pergi setelahnya, masuk ke mobil dan meninggalkanku di rumah orang tuanya.
Sejenak aku berhenti, lantas mengusap perutku. "Aku akan menunggumu, Kak Rey."
***
Ketika semua orang sudah pergi untuk bekerja, aku dan Tante Salwa berbincang di ruang tamu. Dia banyak menceritakan tentang pengalamannya menjadi seorang ibu. Rupanya Tante Salwa adalah orang yang hangat. Dia sama sekali tidak membenciku yang merupakan penyebab rusaknya rumah tangga anaknya.
Ah, andai aku tidak masuk ke kehidupan Kak Rey, mungkin Kak Renalah yang akan mendapatkan kebahagiaan ini. Suami yang penyayang, bertanggung jawab, juga mertua yang sangat baik. Memikirkan itu, hatiku merasa sakit karena menyadari bahwa tanpa sadar aku telah merampas kebahagiaan yang seharusnya menjadi milik Kak Rena.
Belum lama kami saling berbincang, membicarakan tentang serba-serbi kehamilan, sampai sebuah ketukan di pintu membuat perhatian kami teralihkan.
__ADS_1
Seorang pelayan yang sebelumnya pernah membantuku datang, sedikit tergopoh untuk membuka pintu. Aku dan Tante Salwa masih mengobrol, hingga seseorang masuk dan berdiri tepat di hadapan kami.
"Kak Rena," ucapku setelah melihat Kak Rena telah berada di depanku.