Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 59. Percintaan


__ADS_3

"Alea, kamu di mana? Kenapa lama sekali?"


Kudengar Kak Rey berteriak memanggilku. Sementara aku di sini masih bingung dengan penampilanku. Ya ampun, pakaian ini membuatku kesulitan menyesuaikan diri. Dilihat dari mana pun, aku sama seperti sedang bertelanjang. Tiada yang bisa menutupi bagian tubuhku. Apakah Kak Rey tidak salah bicara, menyuruhku mengenakan pakaian salah bahan seperti ini?


"Alea!"


"Iya, sabar!"


Lagi. Suara Kak Rey memanggilku. Kusambar jubah tidur yang biasa dikenakan oleh Kak Rey, lalu kuikatkan talinya kuat. Kulihat tampilanku di cermin, tubuh mungilku tenggelam dalam jubah tidur Kak Rey yang besar. Setidaknya dengan begini aku merasa lebih nyaman. Aku bergegas mengayunkan kaki menuju balkon kamar di mana Kak Rey sudah sejak tadi menunggu.


Langkahku berhenti tepat di depannya. Dia mengernyit, melihatku dari bawah ke atas.


"Apa yang kamu kenakan?"


Dari posisi duduk, Kak Rey beranjak, lalu mendekat kepadaku. Kedua tangannya menyentuh bahuku kemudian menggiringku sehingga aku berada di batas dinding, sementara dia berdiri tepat di depanku.


"Aku ... pinjam milikmu." Aku berkata gugup. "Di luar dingin. Aku tidak mungkin keluar hanya menggunakan pakaian ini." Kembali aku mengutarakan alasan. Mungkin rasa dingin masih bisa kutepis, tetapi yang paling terasa saat ini adalah ... aku malu.


Namun, Kak Rey sepertinya tak terlalu peduli akan jawabanku karena pada detik itu juga tali pada jubah tidur yang kuikat kuat ditarik olehnya hingga terurailah simpul yang kubuat. Secara implusif kedua tanganku menyilang di dada, menatap mata hazel yang mengarahkan pandangannya pada tubuhku.


"Apa yang ingin kamu tutupi?" Pandangannya semakin menunduk. "Aku sudah tahu semuanya."


Dan saat itu juga jubah tidur itu dilepas olehnya. Kuncir rambut yang kupakai untuk mengikat rambutku pun tak luput dari perhatiannya. Dia membuangnya dengan melempar serampangan. Tangannya yang besar menjumput helaian rambutku, mengarahkan pada hidungnya. Kulihat matanya memejam saat mencium aroma rambutku.


"Kak Rey!"


Sungguh, saat ini jantungku berdebar kencang saat posisi kami seperti ini. Bukannya kami sering melakukan hal lebih dari ini? Tapi, tetap saja perlakuan Kak Rey yang seperti ini justru membuatku salah tingkah.


Saat mata hazel itu terbuka dengan tangannya melepaskan rambutku, membiarkannya menjuntai menutup sebatas dada, dia berkata, "Kamu cantik."

__ADS_1


"Apa?"


"Heem." Kepalanya menunduk dengan kening menempel pada keningku. "Aku suka rambutmu begini. Terurai. Jangan dipotong, ya?" bisiknya padaku.


"I-ya." Aku malah gugup dibuatnya. Kembali tangannya memainkan rambuku. Lalu, hidungnya menurun, menelusuri permukaan wajahku.


"Mata, hidung, bibir, dan dagumu indah. Aku menyukainya."


"Kak?" Pandangan kami saling bertemu dengan jarak yang teramat dekat. Kak Rey jarang sekali memujiku. Entah mengapa malam ini dia berbeda. Tak henti-hentinya lelaki itu mengucapkan hal aneh yang menurutku tidak masuk akal. Sejak kapan mata, hidung, bibir, dan daguku indah?


Sebelumnya dia selalu mengatakan bahwa aku jelek. Kak Renalah yang cantik. Namun, malam ini seolah akulah wanita tercantik itu.


"Kamu sedang menghiburku, bukan? Bukankah kamu sering mengatakan aku jelek, tidak menarik?"


Senyumnya semakin menawan, menambah debaran di dadaku kian meradang. "Aku bercanda," ucapnya. "Saat pertama masuk ke kamarmu, dan mengetahui bahwa kamu adalah wanita yang bersamaku malam itu. Sejak saat itu aku menyukaimu."


"Tidak mungkin. Kamu saat itu membenciku. Sikapmu sangat dingin dan mengerikan."


"Karena kamu bukan istriku. Bagaimana mungkin aku bisa bersikap hangat pada wanita yang bukan istriku." Telapak tangannya menyelip di belakang punggungku, memberi usapan yang membuat tubuhku menegang. Aku selalu tidak sanggup menahan godaan Kak Rey. Dia tahu benar di mana bagian-bagian tubuhku yang mudah bereaksi saat disentuh. "Saat kamu menerima tawaranku, aku merasa senang. Tapi, aku tidak bisa menyentuhmu. Aku hanya bisa memandangmu karena aku mengingat Rena.


"Aku berjanji menjadikan dia wanita satu-satunya. Aku merasa bersalah kepadanya setelah menikahimu sehingga aku memfokuskan diri untuk membahagiakannya. Aku berusaha melupakanmu dan hanya menganggapmu sebagai ibu dari anakku. Tidak lebih dari itu. Tapi, Rena justru mengecewakanku."


"Mengecewakan?" tanyaku bingung.


Embusan napas berat Kak Rey menerpa wajahku. Ada sesuatu yang sepertinya dia sembunyikan selama ini dan enggan untuk berbagi padaku. "Alea, tetaplah seperti ini. Jangan berubah meski kita sudah menua. Aku yang begitu sibuk dengan pekerjaanku, membutuhkanmu saat pulang ke rumah."


Aku mengangguk. "Tentu. Aku akan menunggumu pulang."


Saat itu dia merapatkan tubuhnya padaku. Kami ... berciuman.

__ADS_1


Rasa malu yang sebelumnya tercipta saat pertama kali mencoba gaun tidur yang Kak Rey hadiahkan padaku berangsur hilang. Aku sudah tidak peduli lagi akan hal itu. Aku terbuai dengan kehangatannya, sentuhan-sentuhannya. Dia mengajakku masuk ke dalam, membawaku dalam gendongannya.


"Kak Rey, mengapa harus dirobek?" Aku menegurnya di kala tangannya tak sabar membuka gaun itu.


"Ehm, pakaian seperti ini memang fungsinya untuk dirobek," ucapnya tanpa rasa berdosa. Aku memukul dadanya pelan. Dia benar-benar tidak sabaran.


Malam ini di bawah langit yang sama, kami melakukannya lagi. Aku merasakan bagaimana Kak Rey mencurahkan cintanya yang meluap-luap padaku. Sebelumnya dia tidak pernah begini. Dia lebih emosional malam ini. Entah apa yang terjadi tadi siang. Aku tidak tahu karena Kak Rey tidak mau menceritakan masalahnya padaku.


Aku hanya tahu jika Kak Rey masih menjalani proses sidang yang membahas harta gonogini dengan Kak Rena. Persidangannya berjalan alot sehingga sampai sebulan lamanya tak kunjung selesai. Dia hanya memberi tahu perkembangan kasusnya tanpa menjelaskan detailnya.


"Alea, aku mencintaimu," ucapnya di tengah percintaan kami. Entah sudah berapa puluh kali Kak Rey mengatakan tanpa kusuruh. Seolah kalimat itu telah lancar mengalir pada bibirnya.


"Heem, aku juga sangat mencintaimu."


Tapi, kalian tahu. Setiap kehangatan yang kudapat dari Kak Rey, setiap cinta yang dia ungkapkan kepadaku, ada sebuah rasa bersalah yang sampai saat ini selalu mengganjal pada sudut hatiku yang terdalam. Hatiku kecilku berkata bahwa aku telah merebut kebahagiaan ini dari seseorang. Siapa lagi kalau bukan Kak Rena.


Bukan masalah terkait hatiku yang terlalu lemah, melainkan rasa empati akan perasaan sesama wanita. Mungkin, inilah beban batin tak kasat mata yang selalu menghantui oleh perempuan yang dijuluki sebagai ... orang ketiga.


Sebuah album kenangan yang kubawa dari rumah orang tua Kak Rey menjadi pusat perhatian kami. Aku bersandar pada dada bidang itu yang terasa hangat dan padat. Pakaian yang sebelumnya melekat pada tubuh sudah hilang entah ke mana karena saat ini badan kami tertutup oleh selimut yang sama. Foto album itu berada di tangan Kak Rey. Kami melihatnya bersama-sama.


Dia sangat lucu. Bayi gembul yang menggemaskan. Senyumnya itu sudah menarik perhatian kaun hawa sejak dilahirkan. "Kamu sangat lucu, Kak. Jika anak ini laki-laki, aku ingin sekali dia mirip denganmu. Pasti sangat menggemaskan."


"Menurutmu begitu?" Dia berkata sembari meletakkan dagunya di bahuku yang terbuka. Kurasakan dia melabuhkan kecupan-kecupan kecil di sana. "Aku ingin dia mirip denganmu."


Aku tersenyum. "Aku tidak memiliki foto bayi. Sepertinya mereka lupa memotretku saat aku masih dalam buaian."


Kedua lengannya melingkar di perutku. "Itu tidak penting. Yang terpenting adalah ... saat ini kamu berada dalam pelukanku."


"Terima kasih, Kak Rey," ucapku tulus.

__ADS_1


__ADS_2