Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 46. Hati ke Hati


__ADS_3

Kalian tahu, ada hal yang membuat sebuah hubungan pertemanan ataupun persaudaraan bisa retak? Salah satunya adalah jika dua orang di antara mereka ternyata telah mencintai orang yang sama. Tiada yang mau mengalah ataupun menghargai akan perasaan masing-masing, merobohkan semua perjuangan dan kebersamaan yang selama ini telah mereka lewati bersama.


Kak Rena tidak terima dengan perkataanku, menunjuk-nunjuk tepat di depan wajahku.


"Aku menyesal kita pernah jadi saudara." Ucapan itu keluar ringan begitu saja dari bibirnya, menorehkan luka di hati yang terasa menusuk kian mendalam.


Aku tak mengatakan apa pun kepadanya. Saat ini diriku hanya bisa diam, mencoba meredakan gejolak emosi di dada. Hanya karena ingin membuangku dan anakku, Kak Rena mau mencarikan ayah sambung sera suami baru untukku. Ya, jika itu masuk kriteriaku. Namun, tentu aku tahu, jika hati telah merasa disakiti, tentu pilihannya belum tentu terbaik untukku, melainkan hanya terbaik baginya.


***


Aku pikir Kak Rey tidak akan pulang. Atau mungkin dia kembali ketika hari sudah larut seperti biasanya. Namun, ternyata aku salah. Dia justru pulang sekitar pukul tujuh malam.


Kak Rey masih sama, dingin tak tersentuh. Aku ingin menegurnya, tetapi takut dia bersikap tak acuh kepadaku. Namun, keinginanku untuk memperjuangkan lelaki itu sudah bulat. Dan itu aku mulai dari sekarang.


Tepat ketika Kak Rey berjalan melewatiku, aku memanggilnya. "Kak Rey!"


Dia tak peduli dan mengabaikanku. Aku merasakan sakit hati menanggapi sikap dinginnya kepadaku. Sekali panggilanku tak dijawab, segera kuhadang langkahnya dengan merentangkan kedua tanganku menghalangi jalannya.


Dia berhenti tepat di depanku.


Aku terlalu naif, bukan? Ya, aku tidak terlalu banyak memikirkan akibat sebelum melakukan sesuatu. Semuanya terasa spontan saat otakku memerintah untuk mengerjakannya.


Dia menatapku dengan sorot matanya yang tajam. Wajah dinginnya jelas terlihat tak bersahabat.


"Apa yang kamu inginkan?" tanyanya datar.


Saat itu, aku ingin menyudahi, membiarkannya pergi. Tapi, bagaimana mungkin aku menyerah begitu saja setelah nekad menghadangnya seperti ini.


Aku menurunkan kedua tanganku yang terentang, lalu menunduk di depannya. "Maaf. Maafkan aku."

__ADS_1


Namun sepertinya, Kak Rey tak peduli dengan ucapan maafku. Dia melewatiku begitu saja tanpa berkata apa pun kepadaku.


Sungguh, sikapnya ini benar-benar menyakitiku. Mengapa Kak Rey cepat sekali berubah?


Aku mengejar Kak Rey, tak ingin dia pergi begitu saja. Kupeluk lelaki itu dari belakang. Tanganku melingkar erat pada perutnya, sementara wajahku kutenggelamkan di punggungnya. "Jangan pergi! Kak Rey, aku tidak memiliki siapa-siapa di dunia ini. Aku hanya mengandalkanmu, memilikimu yang berjanji melindungiku. Tapi, tolong! Jangan abaikan aku!"


Tangan yang kuerat rapat dibuka dengan mudah olehnya. Aku tak menyangka jika hatinya begitu kaku, tak tersentuh dengan permintamaafanku yang tulus.


Aku menundukkan wajah ketika tubuh tegap itu terlepas dariku. Aku memang tidak pantas memeluknya, menyentuhnya seperti itu. Aku pikir dia akan pergi setelahnya, tetapi ternyata tidak. Dia berbalik ke arahku, menyentuh kiri dan kanan bahuku dengan telapak tangannya yang besar.


"Apa yang kamu inginkan sebenarnya dariku?"


"Kak ...." Aku tak sempat berkata-kata. Aku hanya ingin dia seperti biasa, tetap menganggapku ada. Bukan seperti ini. Kami tinggal seatap, tapi bertegur sapa pun enggan.


"Bukankah kamu menginginkan aku tidak menyentuhmu? Aku sudah melakukannya. Aku mencoba menghindarimu agar aku tak tergoda lagi melakukan kontak fisik terhadapmu. Bukankah ini semua keinginanmu?"


Aku hanya bisa menggeleng lemah. Salahkah aku menginginkan sedikit cinta darinya?


Dia mendorong tubuhku, hingga aku terjatuh di atas sofa panjang ruang tamu. Dia mengikuti di sana, memerangkapku dengan kedua tangannya.


Wajahnya begitu dekat denganku, deru napasnya pun menerpa mukaku. Hidung mancungnya menyentuh ringan, menelusuri permukaan wajahku. Aku memejamkan mata ketika lelaki itu mengembuskan napas hangat pada telingaku, lantas berkata, "Apa yang kamu rasakan saat ini? Kamu yakin tidak menyukai sentuhanku?"


Dia menegakkan tubuh setelah mengucapkan hal itu, lalu pergi begitu saja meninggalkanku. Hanya sebuah sentuhan kecil mampu memabukkan diriku. Aku tidak bisa membohonginya bagaimana tubuhku bereaksi cepat di kala lelaki itu melakukan kontak fisik terhadapku.


Aku berdiri dari sofa, menatap punggung tegap yang pergi menjauh. "Ya, aku menyukainya." Dia menghentikan langkah ketika hendak menapakkan kakinya pada anak tangga pertama. Barang kali, ini adalah pengakuan paling memalukan yang pernah aku lakukan. "Aku ... menginginkan sentuhanmu. Aku juga menikmatinya." Kutundukkan wajah, sedikit menggigit bibir bawahku. "Mungkin aku adalah wanita paling munafik di dunia ini. Aku ingin, tetapi menolak. Itu semua karena aku ingin disentuh oleh laki-laki yang memang menginginkanku, mencintaiku. Apakah keinginanku terlalu berlebihan? Kamu tidak tahu bagaimana rasanya saat laki-laki menyentuhku, tetapi justru memikirkan wanita lain."


Sungguh, dadaku sesak mengatakan hal itu. Mencoba menekan ego dan perasaan yang bercampur baur dalam hati. Namun, aku tidak peduli. Setidaknya apa yang kurasakan tersampaikan kepadanya. Entah dia akan luluh atau semakin membenciku. Aku sudah pasrah dengan semua itu. Tampaknya, itu memang sudah menjadi jalan takdirku.


Hingga ketika rasa putus asa menyelimuti, merasa tidak ada harapan lagi, Kak Rey tiba-tiba berbalik kepadaku, lalu memelukku. Kepalaku didekap erat olehnya.

__ADS_1


"Dasar bodoh! Apa yang kamu pikirkan? Siapa yang memikirkan wanita lain?" Dia mengusap kepalaku.


"Alea, aku memang mencintai Rena. Sampai saat ini pun aku belum bisa menghilangkan perasaanku kepadanya." Hei, mengapa dikatakan lagi? Apa dia sengaja ingin menyakiti hatiku? "Tapi, aku juga menyayangimu. Aku tidak tahu apakah aku akan sanggup mencintaimu sebesar aku mencintai Rena atau tidak. Tapi, aku tulus menikahimu, menjalin hubungan dengamu." Tangan kekarnya menyentuh daguku, membuatku menengadah menatapnya. "Alea, bantu aku belajar mencintaimu."


Permintaannya itu aneh. Namun, aku melihat ketulusan di matanya. Tiada kebohongan di sana. Aku menyadari itu. Bolehkah aku mencoba melakukan sesuai dengan permintaannya?


Aku menyunggingkan senyum. Ternyata apa yang aku pikirkan tentang Kak Rey tidak semua benar. Dia peduli kepadaku.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanyaku yang memang tidak mengerti. Aku belum pernah berhubungan dengan pria manapun. Tentunya aku tidak tahu bagaimana cara membuat seorang laki-laki bisa mencintaiku.


Bukannya menjawab, Kak Rey tiba-tiba mengangkat tubuhku, membawaku dalam gendongannya. "Mungkin kita bisa melanjutkan yang semalam."


Aku ternganga dibuatnya. "Hai, itu terlalu ekstrem. Apakah tidak ada cara pendekatan yang lebih ringan?"


Kak Rey menggeleng, tersenyum aneh. "Aku ingin cara cepat." Dia terkekeh kemudian setelah seharian bersikap dingin kepadaku. "Besok aku pikirkan lagi bagaimana cara untuk mendekatimu," imbuhnya sembari melangkah menaiki tangga untuk membawaku ke kamar pribadinya.


"Tapi ini masih jam tujuh."


"Itu lebih baik. Kita bisa pemanasan lebih lama."


Ya ampun, otakku. Pasti saat ini kepalaku telah tercemari dengan pikiran-pikiran kotor terkait hubungan orang dewasa.


"Oh, ya, nanti kita putar film yang semalam, ya?" ucapnya menggodaku.


Aku tersenyum malu-malu, menenggelamkan wajahku di dadanya.


Kalian tahu apa yang saat ini membuatku bahagia?


Kak Rey rupanya menyimpan kado ulang tahun yang belum sempat aku berikan, tetapi ternyata dia sudah menemukannya. Dia meletakkan bola salju yang di dalamnya terdapat ibu, ayah, dan bayi dalam buaian itu di atas meja kecil samping ranjang di mana foto pernikahan kami berdiri tegap di sana.

__ADS_1


__ADS_2