
Malam ini ketika bulan purnama tampak bersinar terang, aku duduk di balkon kamar seorang diri. Kedua tanganku melingkar, memeluk erat kedua kakiku yang ditekuk. Sepi mengambil alih segala runyam, menghadirkan ketenangan yang sejak pagi kuimpikan.
Pandanganku kosong menatap ke atas, di mana langit cerah karena cahaya bulan yang terang benderang telah dihiasi bintang-bintang berkilauan, bertebaran memanjakan mata.
Di sana ada satu bintang yang sendirian; begitu kecil, redup, dan terabaikan. Bintang kecil itu tampak menyedihkan, sama sepertiku. Tanganku menjulur ke atas seolah ingin sekali menggapai bintang yang memiliki nasib sama denganku. Aku ingin berbincang dengannya, mengajaknya bercerita.
"Hai, jangan bersedih! Kau tak sendiri. Kita sama," bisikku lirih.
Kejadian tadi pagi jelas begitu menyiksa batinku. Siapa aku? Dari mana asalku? Di mana orang tuaku? Masih hidup kah mereka?
Kuusap perutku yang masih rata. Dalam hati aku berjanji kepadanya juga pada diriku sendiri. Aku akan berjuang untuknya. Tak akan aku biarkan orang lain mengambilnya, sebaik apa pun mereka. Karena aku yakin, hanya orang tua lah yang benar-benar sayang dan tulus mencintai anak-anaknya.
Aku tidak ingin dia bernasib sama denganku. Dia akan menjadi anak yang hebat dan tidak akan kekurangan kasih sayang.
"Hai!"
Aku menoleh ketika melihat segelas susu dijulurkan di depan wajahku. Kak Rey datang dengan menggulung lengan kemejanya sebatas siku sembari membawa segelas susu di tangan.
Aku tersenyum tipis, menerima susu itu dari tangannya. Kebiasaan barunya adalah menungguku meminum susu itu hingga habis di depan matanya.
"Heem, sudah habis," ucapku sembari menggoyangkan gelas kosong itu ke depan.
Dia duduk di sampingku, lalu mengulurkan sapu tangan untuk menyeka bekas susu di bibirku. Ini juga kebiasaan baru. Aku tak bisa menolak ketika lelaki itu melakukannya.
Menurutku, Kak Rey tampak manis. Sayangnya, dia suami orang.
__ADS_1
"Apa kamu baik-baik saja?" Kak Rey bertanya setelah memasukkan kembali sapu tangan di saku celananya.
"Heem, baik." Aku kembali menatap ke depan, di mana pemandangan langit malam membentang di atas sana. Kami tak saling bicara setelahnya, hanya duduk berdua sambil menyandarkan punggung masing-masing di sofa panjang yang terletak di balkon kamar.
Semilir angin berembus di sana, menggoyangkan ke kanan dan ke kiri dahan serta ranting-ranting pohon, menemani kami berdua yang masih berada dalam kebisuan. Hingga pada akhirnya, Kak Rey mengatakan suatu hal.
"Sebenarnya aku sudah tahu."
Suara Kak Rey memecahkan keheningan yang sempat tercipta di antara kami. Aku menoleh ke arahnya. Lelaki itu tampak bergeming dengan pandangan tak beralih pada pesona langit malam.
"Apa yang Kak Rey tahu?"
"Kamu dan Rena bukan saudara kandung. Kalian tidak memiliki hubungan darah."
Tentu aku terkejut mendengar penuturan Kak Rey. Lelaki itu terlihat santai ketika mengatakannya. Berbeda denganku yang sejak awal masih begitu syok dengan kenyataan yang baru saja aku ketahui.
"Apa?"
"Saat itu aku baru pulang bekerja dan akan menemui Rena yang baru kembali dari liburan. Tapi, siapa sangka Tuhan malah menunjukkan seorang gadis bodoh yang ingin mengakhiri hidupnya dengan terjun dari atas jembatan."
"Kak Rey!" gumamku lirih.
Dia terus berbicara, aku mengamati setiap gerak bibirnya. "Saat kamu mengatakan bahwa sedang hamil, saat itu pikiranku mendadak buntu. Aku tidak menyangka kejadian malam itu justru berakhir seperti ini. Aku merasa kehidupanku akan kiamat. Kamu tahu, bukan, aku sangat mencintai Rena. Mana mungkin aku bisa memberi tahu kenyataan ini pada Rena?"
Aku mengerti. Sangat sulit bagi Kak Rey menjalani semua ini. Aku memilih pasrah apa pun keputusan Kak Rey ke depannya.
__ADS_1
"Tapi, aku juga tidak bisa mengabaikanmu. Sejak malam kelam itu, hidupku tidak pernah merasa tenang. Saat bersama Rena pun, aku tidak bisa melupakan kejadian malam itu. Apakah kamu tahu, Alea?" Dia tiba-tiba mengajukan pertanyaan kepadaku.
"Heem, apa?" kataku menanggapi.
"Saat mengetahui tiada hubungan darah di antara kalian, saat itu aku memutuskan untuk menikah denganmu. Dan detik kita dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri, hatiku baru merasakan sebuah kelegaan."
Aku menggeleng. Jelas saat itu dia terlambat. Bahkan, jika lebih lambat lagi mungkin pernikahan ini tidak pernah terjadi. "Bohong. Kamu terlambat dua jam lebih."
Bukannya marah, dia justru terkekeh. "Ya, kamu seharusnya memarahi dokter itu. Mereka mengurungku, tidak mengizinkanku pergi. Aku sampai mengancam akan meledakkan rumah sakit jika tidak diizinkan pergi."
"Hah?" Aku hampir tertawa mendengarnya. Gila! Kak Rey benar-benar gila. Sikapnya terkadang tidak masuk akal.
"Anak buahku sudah menyiapkan heli dia atas gedung rumah sakit agar aku tidak terjebak macet. Sialnya, aku tidak menemukan landasan heli di dekat tempat kita menikah."
"Lalu?" Aku menjadi antusias akan ceritanya. Kualihkan semua perhatianku, menatap sosok aneh di sampingku saat ini. Jelas saja tidak menemukan landasan heli. Kami menikah di daerah pinggiran kota yang jauh dari gedung-gedung tinggi. Hanya ada rumah-rumah warga yang berjajar tidak teratur.
"Kami mencari lapangan bola. Syukurlah, akhirnya heli berhasil turun dengan selamat. Masalahnya, aku kebingungan agar sampai ke masjid di mana kita akan melangsungkan pernikahan."
Aku tidak bisa membayangkan bagaimana paniknya Kak Rey saat itu. Pantas saja dia tidak menjawab panggilanku sama sekali.
"Lalu, Kak Rey naik ojek?" tebakku sok tahu.
Di detik Kak Rey mengangguk, saat itu juga aku tertawa, tawa renyah yang sudah lama tidak pernah aku lakukan. Aku menutup mulutku dengan telapak tangan setelah menyadari jika tawaku sedikit keterlaluan.
Dia tersenyum melihatku, mengulurkan tangannya untuk mengusap kepalaku. "Tersenyumlah, Alea! Kamu cantik saat tersenyum," ucapnya kemudian.
__ADS_1
Saat itu, aku yakin wajahku bersemu merah setelah mendengar perkatannya.