Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 73. Menuntut Hak


__ADS_3

Pekatnya malam itu menambah rasa sesak ketika suaraku tertelan udara malam. Kak Rey memandangku dengan tatapan tak percaya. Mungkin dia mengira aku hanya bercanda sehingga lelaki itu tertawa sumbang.


"Kamu bercanda, kan?" Dia menggeleng pelan, lalu kembali menyesap teh yang aku buatkan.


"Apa aku terlihat bercanda? Aku serius. Aku ingin kita bercerai." Air mata yang ingin tumpah aku tahan sekuat tenaga. Pandanganku mengarah ke atas, mencoba menghalau lelehan hangat cairan yang sudah menumpuk di pelupuk mata.


"Alea, apa kamu sadar apa yang sedang kamu katakan? Jangan mempermainkan kata cerai. Aku tidak menyukainya." Kak Rey menatapku dengan marah. Kulihat sorot matanya tajam mengarah padaku.


Aku tahu apa yang Kak Rey maksudkan, dan untuk saat ini aku sangat sadar dengan setiap apa yang keluar dari bibirku.


"Aku sudah memutuskannya. Aku ingin perjanjian kita sebelumnya diberlakukan lagi. Setelah Althaf lahir, kita berpisah. Kamu tidak perlu memikirkan masalah harta karena aku tidak meminta apa pun. Terima kasih karena selama ini sudah bertanggung jawab padaku dan Althaf."


Aku berdiri setelah mengucapkannya, membiarkan Kak Rey merenungi akan apa yang baru saja aku katakan. Belum sempat langkahku menjauh, tanganku dicekal olehnya.


Kurasakan tubuhku dipeluk dari belakang. Dia meletakkan dagunya di bahuku. Pipi kami saling menempel dengan tangannya melingkar pada perutku.


"Apa yang kamu katakan, Alea? Mengapa tiba-tiba ingin bercerai. Apa salahku?"


Sungguh, dipeluk olehnya seperti ini membuat hatiku rapuh. Kak Rey begitu hangat, bertolak belakang dengan udara malam yang menggigilkan badan. Tentu perasaanku masih sangat kuat untuknya. Aku terlalu mencintainya hingga takut jika dirinya tiba-tiba meninggalkanku karena mencingai wanita lain.


Helaan napas berat keluar dari bibirku. Aku berusaha menahan gejolak perasaan menggebu. "Kamu tidak salah. Tidak ada yang salah. Ini adalah keputusanku. Aku ingin kita berpisah."


Kugigit bibir bawahku, berharap tiada tangisan yang keluar dan terdengar olehnya. Sontak tangan kekar itu membalikkan tubuhku untuk dihadapkan padanya.


"Apa yang terjadi padamu? Mengapa harus bercerai? Alea, tatap mataku! Lihat aku!" Kak Rey berkata dengan sedikit membentak. Aku tak mampu hanya untuk memandang wajahnya, apalagi matanya yang tajam. "Apa karena Rena? Bukankah aku mengatakan bahwa Rena adalah masa lalu. Aku tidak akan menceraikanmu. Tidak akan pernah."


"Kak Rey, jangan membohongi dirimu sendiri. Kalian berdua masih saling mencintai, bukan? Aku bisa melihatnya saat kamu menjaga Kak Rena. Itu bukan hanya sebuah kepedulian dan bentuk rasa tanggung jawab. Kamu mencintainya, Kak. Kamu mencintai Kak Rena."


Sesungguhnya aku menguatkan hati saat mengatakan semua itu. Hatiku terlalu rapuh untuk menerima kenyataan yang ada. Menyadari bahwa suami yang kucintai ternyata masih memiliki perasaan dengan mantan istrinya.

__ADS_1


"Rena masa lalu, Alea. Saat ini aku hanya ingin membahagiakanmu, membahagiakan Althaf. Jangan paksa aku untuk meninggalkanmu! Pikirkan kebahagiaan Althaf!"


Aku memandangnya dengan mata berkaca-kaca. Sesungguhnya setiap perkataannya terdengar manis dan menyejukkan hatiku sebagai seorang wanita. Namun, tetap saja semua ini terasa mengganjal. Kak Rey hanya berusaha mencintaiku karena tidak ingin mengecewakanku.


Tiada yang salah dengan apa yang ia lakukan. Dia pria bertanggung jawab. Aku tahu itu. Akan tetapi, ada seseorang di luar sana yang lebih membutuhkannya, mengharapkan kehadirannya sebagai penyemangat hidup. Bagaimana bisa aku egois dengan memaksakan perasaan Kak Rey yang sesungguhnya.


Kak Rena sudah berubah. Seandainya mereka kembali bersatu pun, aku yakin Kak Rey akan bahagia dan diperlakukan dengan baik olehnya.


Dia sudah menyesali semua perbuatannya, dan seharusnya aku tidak mengambil kesempatan atas lengahnya Kak Rena dengan menarik perhatian Kak Rey. Padahal semua permasalahan mereka bisa dibicarakan baik-baik saat itu. Dan kini kebahagiaan sementara yang sempat kudapatkan harus rela aku ikhlaskan dan kembalikan kepada pemiliknya.


"Althaf masih sangat kecil. Dia tidak mengerti akan sebuah perpisahan. Tolong, penuhi permintaanku!"


"Alea, ini pernikahan bukan mainan. Kamu tahu mempermainkan pernikahan itu dosa!"


Aku menunduk dalam. Aku tahu semua itu. Tapi, perasaanku tidak menerima jika hati Kak Rey sebenarnya milik wanita lain. Aku juga merasa tidak tenang saat setiap mata memandangku sebagai wanita perebut suami orang. Mungkin seharusnya aku mundur, menghilang dari kehidupan baik Kak Rey maupun Kak Rena agar mereka berdua bisa menyelesaikan permasalahannya tanpa memikirkan aku dan Althaf karena merasa memiliki beban tanggung jawab.


"Ceraikan aku! Biarkan aku pergi!" Aku berusaha menguatkan diri akan keputusanku. Meski ini sangat sulit, tetapi tekadku sudah bulat.


Tangis yang semula kutahan pecah begitu saja. Ada rasa sesal melihat kekecewaan pada sorot matanya. Aku tahu ini salah, tetapi keputusan ini adalah yang terbaik untuk semuanya.


Punggungnya menghilang di balik pintu. Dan beberapa saat kemudian aku mendengar suara mobil dinyalakan. Segera aku berlari ke ujung balkon, mengintip ke arah bawah. Kak Rey pergi meninggalkan rumah dengan mobil membawa mobil di tengah malam.


***


Pagi ini rasanya hidupku berubah. Pertengkaranku dengan Kak Rey semalam masih membekaskan air mata. Mama yang sedang menyiapkan sarapan denganku di dapur seolah mengetahui bahwa aku sedang tidak baik-baik saja.


"Alea, ada apa? Semalam kalian bertengkar?" tanya Mama setelah mencicipi sayur yang baru saja matang.


Aku mengangguk lemah, mataku kembali berkaca-kaca mengingat pertengkaran semalam. Kak Rey tak menghubungiku sampai pagi ini. Entah ke mana dia pergi. Aku tidak tahu. Ada sesuatu yang hilang terasa dalam jiwaku ketika keberadaan Kak Rey tidak kuketahui.

__ADS_1


Aku memeluk Mama, menangis di sana. Aku curahkan semua perasaanku, kegundahanku selama ini. Menceritakan hubunganku dan Kak Rey dari awal bertemu sampai kami memiliki Althaf.


"Alea, apa pun yang menjadi keputusanmu, Mama akan selalu mendukung dan menemanimu. Tapi, jika pernikahan kalian masih bisa diselamatkan, maka lanjutkanlah! Althaf berhak bahagia dan memiliki keluarga yang utuh."


Aku mengangguk setelah menyeka air mata. Pilihan ini sulit, tetapi aku yakin bisa membahagiakan Althaf meskpun tanpa sosok seorang Papa sekalipun.


***


Dua hari ini Kak Rey tidak kunjung pulang. Aku tidak tahu dia berada di mana. Panggilan dan pesanku juga tak kunjung dibalas.


Hingga malam itu ....


Hujan kembali turun dengan lebat. Kak Rey pulang dengan tubuh basah kuyup tepat pukul sebelas malam. Kebetulan Mama menawarkan diri untuk menjaga Althaf malam ini sehingga ketika suara pintu diketuk, aku langsung membukanya sendiri.


Kak Rey berdiri di ambang pintu dengan pakaian dan kepala yang basah.


"Kak Rey, cepat masuk!"


Tanpa banyak bertanya aku gandeng tangannya, mengajak lelaki itu segera masuk ke rumah. Aku menutup dan mengunci pintu kembali, lalu mendorong Kak Rey agar naik ke atas membersihkan diri. Dia hanya menurut tanpa banyak membantah.


"Ganti pakaianmu, Kak. Aku siapkan minuman hangat."


Namun, saat aku hendak melangkah menjauh, Kak Rey mencekal lenganku.


Kurasakan tangannya begitu dingin menangkup tanganku. Lalu, aku membalikkan badan menghadapnya.


"Aku setuju kita bercerai." Suara Kak Rey menyentak ke udara, membaur dengan dinginnya malam yang pekat. Aku hampir tak percaya bahwa semudah itu dia menyetujui permintaanku. Namun, aku berusaha tersenyum menanggapi meski hatiku terasa perih. "Tapi dengan satu syarat."


"Apa?"

__ADS_1


"Aku menginginkan hakku malam ini," ucapnya dengan menunjukkan sorot mata tajam ke arahku.


__ADS_2