
Semuanya terasa kosong. Seperti kertas putih bersih tanpa corak. Hampa dan begitu hening. Aku tidak tahu saat ini berada di mana. Rasa sakit yang sebelumnya aku rasakan kini sudah tidak lagi terasa.
Perlahan kudengar sayup-sayup suara seseorang. Suara itu makin lama semakin jelas. Namun, tetap saja aku merasa berada pada dimensi berbeda. Aku hanya mampu mendengar, tetapi tak sanggup untuk bicara. Raga ini serasa mati rasa. Bahkan, aku tidak tahu bagaimana posisiku saat ini.
Hingga segalanya terasa sedikit jelas. Suara di sekelilingku semakin jeli kudengar. Aku tak bisa melawan, seolah semuanya telah kupasrahkan. Sampai kemudian mataku bisa mengerjap, mencoba meraup kesadaran.
Aku bingung ini di mana. Tubuhku rasanya tidak bisa leluasa kugerakkan. Hanya kelopak mataku yang beberapa kali mengerjap ringan.
Kuedarkan pandangan ke sekeliling. Ada sosok pria yang tengah tertidur dengan menelungkupkan wajahnya di samping tanganku. Dia duduk menggunakan kursi plastik, lalu membungkuk dengan kepala diletakkan di atas ranjangku. Perlahan tanganku mulai bisa digerakkan. Kucoba meraih dirinya dengan mengusap kepala berambut tebal.
"Kak!" Suaraku terdengar lirih. Mungkin dia belum menyadari panggilanku. Sekali lagi kuusap kepalanya, berniat membangunkannya. Namun, wajah letihnya membuatku urung melanjutkan.
Kak Rey tampak kepayahan. Dia tertidur tanpa perlawanan. Padahal posisinya jelas tidak nyaman, tetapi lelaki itu justru terlelap seperti dalam buaian.
Kuperhatikan sekali lagi wajah itu. Wajah yang beberapa waktu ini selalu menemani hari-hariku, menjagaku dan anakku.
Anak?
Seketika aku mengusap perutku. Memori beberapa waktu lalu berkeliaran di kepalaku. Aku tertabrak mobil Kak Rena dan ....
Mataku melebar di kala meyadari perutku sudah mengecil. Di mana anakku?
Aku yang sebelumnya tidak tega membangunkan Kak Rey seketika memanggilnya lagi. Berusaha mengguncang tubuhnya.
"Kak Rey!"
Mata itu berusaha terbuka. Aku melihat Kak Rey belum sepenuhnya sadar dari tidurnya yang lelap. Tapi, apa yang ingin kutanyakan lebih penting dari semua yang terlihat.
"Alea, kamu sudah sadar?" Dia bertanya padaku. "Apa kamu haus?"
Aku menggeleng. "Kak, di mana anakku? Dia baik-baik saja, bukan? Aku tidak kehilangannya, kan?"
Saat itu juga air mata berlinang di pipiku. Aku takut anak yang selama ini kujaga justru terkorbankan karena insiden itu.
Telapak tangan Kak Rey mengusap kepalaku. Dia tersenyum tipis saat bola matanya memandang ke arahku. "Dia selamat. Dia baik-baik saja."
"Benarkah?" Aku mengucap syukur berkali-kali. Air mata kesedihan berubah menjadi air mata penuh haru. Aku telah menjadi ibu. "Di mana dia sekarang, Kak? Aku ingin melihatnya?"
__ADS_1
"Nanti. Kamu pulihkan tubuhmu dulu. Dia ada di ruang incubator. Karena dia terlahir lebih cepat sehingga harus menjalani perawatan khusus."
Kak Rey merogoh sesuatu di saku celananya. Ternyata sebuah ponsel. Ibu jarinya menggeser layar ponsel tersebut dengan lincah, lalu menunjukkannya kepadaku.
"Ini dia. Dia tampan."
Aku tak sanggup menyembunyikan rasa haru itu. Aku menangis di depan Kak Rey. Semuanya terasa sempurna. Dia memang terlihat kecil dan keriput. Tapi, menurutku dia adalah anak paling tampan di dunia ini.
"Doaku terkabul. Dia sangat mirip denganmu." Aku berkata lirih yang sarat akan kebahagiaan.
"Heem." Tangan Kak Rey mengusap lagi kepalaku. "Itu karena cintamu sangat besar padaku. Jadi anak ini sangat mirip denganku."
"Begitukah?" Dia masih saja menyombongkan diri. Tapi, aku tidak ingin mendebat karena aku memang sangat mencintainya. "Siapa namanya? Apa Kak Rey sudah memberi dia nama?"
Terdengar helaan napas dari bibirnya, lalu mengatakan, "Althaf. Dia akan menjadi pria berhati lembut, tetapi tegas. Aku ingin dia menyayangi orang tua dan adik-adiknya kelak."
"Althaf?" Aku menyebut nama itu. "Nama yang indah. Aku suka."
Jemariku bergulir, memeriksa setiap foto yang Kak Rey ambil. Althaf, malaikat kecilku..
Dan barulah aku tahu jika aku telah koma selama tiga hari pasca menjalani operasi caesar. Kak Rey mengatakan bahwa saat itu dia hampir menyerah karena detak jantungku sempat terhenti. Namun, kini akhirnya kami bisa bersatu lagi.
Sungguh, tak henti-hentinya bibir ini mengucap syukur berkali-kali karena diberi Tuhan kesempatan hidup sekali lagi.
***
Kak Rey mendorong kursi roda yang kukenakan. Kami pergi menuju ruang incubator. Perawat mengatakan jika Althaf sedang kelaparan. Bayi mungil itu menangis sejak tadi.
Sebagai orang tua baru, pastilah sangat minim sekali pengalamanku. Kak Rey pun sama. Kami hanya menurut apa yang diajarkan oleh perawat wanita.
Saat memasuki ruangan bayi. Aku melihat anakku menangis dalam gendongan seorang suster wanita. Dia tersenyum saat mendatangiku bersama Althaf dalam gendongannya. Perlahan bayi mungil yang masih merah itu beralih ke tanganku. Sungguh detik itu juga perasaan haru luar biasa membanjiri hatiku.
Tubuh mungilnya yang rapuh. Jemarinya yang sangat kecil dengan mata memejam rapat. Hanya mulutnya yang terbuka sejak tadi, menangis dengan nada suara yang mengalun indah terdengar di indra pendengaranku.
Perlahan kubuka kancing bajuku, dibantu perawat wanita. Bagaimana cara menyusui bayi dengan posisi yang benar. Aku masih sangat kaku, tetapi perawat itu mengatakan bahwa itu sangat wajar.
Kak Rey pun tak tinggal diam. Dia membantuku untuk memberi nutrisi Althaf pertama kali. Dan saat ini, bibir mungil itu mulai belajar mengisap sumber makanannya.
__ADS_1
Perasaan trenyuh bercampur kelegaan bergelayut dalam sanubariku. Ini kah rasanya menjadi seorang ibu? Begitu indah dan menakjubkan.
Patutlah seorang ibu memiliki keterikatan batin terhadap seorang anak. Mereka tidak bisa dipisahkan begitu saja. Ada sesuatu yang menjerat mereka dalam satu ikatan yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Saat aku sedang memberi makan anakku, perawat yang sejak tadi menunggui meminta izin pergi meninggalkan kami. Aku mengangguk setelah mengucapkan terima kasih.
Kini, tinggallah kami bertiga: aku, Kak Rey, dan Althaf.
Kak Rey berjongkok di depan kursi rodaku, menatap bayi mungil yang sudah tenang dengan posisi menyusu.
"Apa tidak sakit?" tanyanya tiba-tiba.
"Apa?"
"Itu!" Dia mengedikkan dagu ke arah dadaku.
Aku mendengkus, memukul pelan bahunya. "Apa yang kamu pikirkan. Jangan aneh-aneh!"
Dia tertawa kecil, menunjukkan deretan giginya yang putih bersih. "Aku lihat Althaf kuat sekali mengisapnya. Mungkin lebih kuat dari apa yang sering aku lakukan padamu. Biasanya kamu bilang sakit, tapi kenapa sekarang diam saja."
"Kak Rey!" Aku melototinya, tetapi dia tidak takut, melainkan hanya tertawa. "Jangan membahas hal seperti itu di depannya. Aku takut pikirannya akan terkontaminasi dengan kemesumanmu sejak bayi."
Semakin lebarlah tawa Kak Rey, tetapi suaranya berusaha ia pelankan. "Ayolah, Alea! Dia belum mengerti."
"Tidak boleh! Pokoknya tidak boleh!" kataku memperjelas. Seharusnya anak bayi diperdengarkan dengan hal-hal positif, bukan masalah berbau me sum seperti itu, bukan?
"Jadi, kapan bolehnya?"
"Apa?" Aku semakin tidak mengerti arah pembicaraan Kak Rey. Perkataannya itu selalu membuatku salah paham.
Kepala Kak Rey diletakkan di atas pangkuanku, menyentuhkan keningnya tepat di atas lututku.
"Kapan aku boleh melakukan itu? Berapa lama aku harus puasa?" Dia berkata dengan suara memelas, membuatku ingin tertawa saat itu juga. Namun, aku harus menahannya karena luka di perutku tentu masih basah. "Jangan terlalu lama, ya? Aku takut dia karatan."
Astaga. Baru saja aku melahirkan, tetapi dia malah memikirkan kapan bisa melakukan itu lagi.
Kak Rey, bisakah kepalamu di isi dengan hal lain selain adegan ranjang?
__ADS_1