
Sebuah cafe yang berada di pinggir jalan raya menjadi tempatku berbincang kali ini. Mungkin terlalu pagi kami memesan kursi sehingga suasana masih sepi akan pengunjung yang biasanya selalu ramai.
Secangkir cappucino dan latte terhidang di atas meja menemani obrolan kami berdua.
"Jadi, apa yang Mbak Leli ingin sampaikan?" tanyaku setelah menyesap ujung cangkir yang berisi latte.
"Sebenarnya, Non, Mbak enggak tahu pastinya karena Mbak kerja di rumah itu saat Non sudah berusia lima tahun, tapi ...."
Mbak Leli tampak ragu mengatakannya. Namun, rasa penasaran akan asal-usulku membuatku tak bisa banyak menunggu keraguannya.
"Tapi apa, Mbak?"
"Mbok Narti yang sudah pensiun telah mengabdi sejak Tuan Arya Hinata masih kecil. Yang Mbak tahu, Mbok Narti sudah kembali ke kampung halaman sejak Mbak diberi kepercayaan menggantikan tugasnya. Mungkin Mbok Narti bisa memberi informasi tentang ibu kandung Non."
Perkataan Mbak Leli ada benarnya. Akan tetapi, apakah Mbok Narti masih mengingat masa lalu memikirkan usia beliau yang sudah sangat lanjut?
"Apa Mbak punya alamat Mbok Narti?"
"Ada, Non. Mbak pernah mencatatnya di buku. Mbak sebenarnya kasihan sama Mbok Narti. Di usianya yang sudah lanjut harusnya tetap di sini saja, tetapi Nyonya menyuruhnya pulang kampung. Entah siapa yang mau mengurusnya."
Seingatku, Mbok Narti pensiun saat aku memasuki usia sekolah menengah atas yang mana Papa telah dipanggil Yang Maha Kuasa. Aku tidak mengerti apa yang terjadi saat itu. Mbok Narti diantar pulang kampung oleh sopir pribadi Mama padahal usianya sudah renta. Mama bilang jika Mbok Narti sudah lelah tinggal di kota sehingga ingin menikmati hari tuanya dengan kembali ke kampung halaman bersama keluarga.
__ADS_1
"Bukankah Mbok Narti memiliki keluarga, Mbak?"
Mbak Leli menghela napas, lalu menggeleng pelan.
"Keluarga satu-satunya yang Mbok Narti miliki hanya cucunya. Tapi, ...." Kalimat Mbak Leli lagi-lagi menggantung, membuat rasa penasaranku kian menjadi-jadi. "Tepat satu tahun cucu perempuan satu-satunya diajak bekerja ke rumah keluarga Hinata, tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Mbok Narti bertahan di sana sambil mencari informasi tentang keberadaan cucunya yang selama ini pergi tanpa mengabarinya. Beliau sempat beberapa kali melapor kepada kepolisian setempat, tetapi sampai sekarang kabar keberadaan cucunya belum diketahui."
"Menghilang tanpa kabar?" Aku mengernyit bingung.
"Ya, itu yang Mbok Narti ceritakan kepada Mbak saat itu."
Rasa iba kemudian bergelayut di hatiku. Bahkan, Mama tega membiarkan Mbok Narti yang sudah mengabdi selama puluhan tahun sejak Papa masih kecil untuk tinggal sendiri di kampung halamannya. Padahal, masa muda Mbok Narti jelas dihabiskan untuk bekerja di rumah itu.
***
Kulirik jam yang melingkar di tangan sambil mengayunkan kaki ini menuju jalan depan. Aku sudah menyiapkan beberapa potong pakaian dalam tas ranselku untuk berkunjung ke rumah Mbok Narti.
Sebuah taksi berwarna biru berhenti tepat di depanku, dan segera kubuka pintu taksi tersebut tanpa menunggu dibukakan. Hanya berbekal alamat rumah yang dikirimkan oleh Mbak Leli, aku nekat mencari rumah Mbok Narti demi menemukan orang tua kandungku. Apa pun yang terjadi, aku akan merasa bahagia jika bisa bertemu kembali ibu yang telah melahirkanku. Setidaknya di dunia ini aku masih memiliki keluarga, bukan sosok sebatang kara yang tidak diharapkan.
"Ke stasiun, Pak." Aku berkata setelah memasukkan tubuhku ke dalam taksi dan menutup pintunya rapat. Taksi pun melaju dengan aku menyandarkan punggung di kursi penumpang.
Kulihat lagi layar digital tipis yang sejak tadi menyala, memperhatikan pesanku yang masih tercentang satu. Aku meminta izin Kak Rey sebelum berangkat lewat aplikasi Whatsapp, tetapi sampai sekarang pesan itu tidak kunjung terkirim.
__ADS_1
Ada apa dengan Kak Rey? Bagaimana kabarnya saat ini?
Aku tidak tahu mengapa setiap hari yang kulewati tanpa bertemu dengannya membuat perasaan rindu ini kian bertambah. Ingin sekali rasanya aku bertemu dengannya, ngobrol berdua seperti yang kerap kali kami lakukan sebelum malam itu terjadi.
Secara sadar, aku mengerti bahwa apa yang kuinginkan ini adalah kebodohan. Bagaimana bisa aku masih mengharapkan laki-laki yang merupakan suami kakakku sendiri? Padahal sebelumnya aku enggan bertemu dengannya, tetapi saat dia menghilang, aku merindukannya.
Kuusap perutku yang sedikit buncit, membelainya lembut. Aku harap saat anak ini lahir, aku bisa merangkap peran ganda, yaitu sebagai ayah dan ibu secara bersamaan. Aku tidak ingin banyak berharap kepada Kak Rey. Mungkin saat ini Kak Rena juga sedang menjalankan progam kehamilan pada keluarga kecil mereka. Aku tak mungkin mengganggu dan merusak kebahahiaannya.
Pandanganku mengedar ke luar, di mana matahari mulai turun dengan suruk, tenggelam di batas cakrawala. Lampu-lampu jalan mulai menyala dari sedikit redup hingga pendarannya menyilaukan mata. Jalan raya di pusat kota tampak padat, membuat siapa saja yang sedang berkendara tak mampu mengejar waktu dengan melesatkan mobilnya cepat.
Aku merebahkan kepala di punggung jok mobil, memijit pangkal hidung yang mendadak pening. Keberanian dalam mencari keberadaan ibu kandungku sedikit surut ketika menyadari bahwa aku sendirian. Ya, aku berjuang sendiri untuk mengetahui semuanya. Tiada seorang yang mendampingi untuk sekadar menemani, apalagi melindungi. Namun, segera kutekatkan hati ini agar tidak menyerah sampai berhasil menemukan kebenaran.
Butuh sekitar hampir tiga puluh menit akhirnya aku sampai di stasiun kereta api. Setelah melihat nominal pada argo, aku keluarkan beberapa lembar pecahan lima puluh ribu kepada sopir taksi untuk membayar jasanya.
Kulirik jam di tangan sekali lagi, memastikan jadwal kereta api ke daerah tujuanku belum tiba. Ya, lima menit lagi waktu tersisa. Aku segera menuju ke loket pembelian tiket yang saat itu kebetulan tidak terlalu ramai antrean. Hingga ketika suara kereta api terdengar hampir mendekat, kudengar ponselku berdering nyaring.
Dengan sigap kurogoh tas slempang kecilku, mengambil smartphone yang menyala karena ada panggilan sembari berjalan mendekat ke arah pintu masuk kereta api. Langkahku mengayun sambil mencari tempat duduk yang sesuai dengan nomor yang tertera pada tiket yang kubeli. Namun, saat itu juga aku tertegun di tempat setelah menyadari siapa yang menghubungiku.
Kak Rey. Lelaki itu setelah seminggu lamanya tiada kabar, kini tiba-tiba menghubungiku sesudah menerima pesan yang sekitar satu jam lalu aku kirimkan. Aku hanya menatap layar smartphone-ku tanpa berniat menjawab panggilan itu. Entah mengapa, aku takut menjawabnya. Hatiku mendadak merasa kesakitan tanpa sebab. Bayangan malam itu kembali melintas, menari-nari di kepalaku, membuat dadaku kian sesak. Aku memejamkan mata, mengurai rasa sakit yang tiba-tiba menyelimuti hati.
Kak Rey, maaf. Untuk saat ini, biarkan aku melupakanmu.
__ADS_1