
Rumah itu cukup luas, meski terlihat kurang terawat. Mungkin karena Mbok Narti yang renta tinggal sendirian membuat bangunan ini terkesan sedikit kotor, bahkan kumuh. Para tetangga dengan suka rela membantu membersihkan rumah itu malam-malam begini.
Aku pun turut membantu, sekaligus ikut bermalam di sini. Ada dua orang remaja dan satu dewasa yang menjadi relawan ikut menemaniku menginap.
Sebut saja mereka, Aini, Finda, dan Pak Raka. Aini dan Finda baru lulus SMA, kebetulan rumahnya dekat-dekat sini. Sementara Pak Raka, usianya kutaksir sekitar empat puluhan dikenal memang sering menjadi relawan jika ada warga yang terkena musibah.
Aku dan para gadis membersihkan kamar Mbok Narti yang dijadikan tempat beliau meninggal. Karena menurut kesaksian warga Mbok Narti meninggal saat tercium bau busuk, sudah bisa dibayangkan jika ruangan ini agak bau dan memiliki nuansa ngeri. Namun, karena kami membersihkan secara bersamaan, jadi rasa takut tidak terlalu terasa sama sekali.
"Nanti kita tidur di mana?" tanyaku sambil mengelap meja yang berdebu.
"Di ruang tamu saja, Mbak. Tidur ramai-ramai lebih asyik. Kalau sendiri, aku takut," kata Finda.
"Heem, okey!" Kami percepat proses bersih-bersih karena hari sudah makin larut.
Sebuah tikar berbahan daun pandan berukuran besar dikeluarkan dan digelar di ruang tamu. Bau khas dari tikar itu terasa menusuk hidungku. Entah mengapa aku merasa ingin muntah. Kudekap hidungku, lantas berlari ke belakang tanpa teringat akan kesunyian malam di bekas rumah orang meninggal.
Aku keluarkan isi perutku di kamar mandi. Sudah lama sekali aku tidak merasakan mual-mual. Namun, kali ini rasa mual kembali menyiksa. Kepalaku pusing tiada terkira, hingga kusandarkan kepalaku di dinding kamar mandi yang berlumut.
Pandanganku mengarah ke langit-langit kamar mandi berbahan seng yang juga tampak karatan. Aku mendinginkan pikiran sembari menenangkan gejolak rasa yang berada di perutku. Rasa itu mulai membaik, tak ingin muntah lagi sehingga aku beranjak dari posisiku untuk berdiri, keluar dari kamar mandi.
Namun, tepat ketika aku ingin membuka pintu berbahan kayu yang sedikit lapuk, mataku membeliak terkejut melihat sebuah mata menatapku dari balik lubang.
"Aaaargghhh!" Sontak saja aku berteriak kencang sambil memejamkan mata lantaran begitu syok akan apa yang baru saja terlihat. Apakah itu hantu?
Mataku perlahan kubuka sedikit demi sedikit, memastikan mata yang tadi mengintipku sudah pergi. Namun, sepertinya hantu itu keras kepala. Aku masih melihatnya di sana tengah menatapku.
Aku berteriak lagi dengan lebih kecang, berusaha meminta tolong. Bagaimanapun aku bukanlah wanita pemberani yang bisa menghadang makhluk-makhluk astral yang mungkin berada di sekelilingku.
"Tolong! Aini, Finda, Pak Raka!"
__ADS_1
Kamar mandi Mbok Narti terletak di belakang terpisah dari rumah sehingga aku harus berteriak kencang agar mereka yang kini masih berada di ruang tamu mendengar teriakanku.
"Tolooong!"
Terdengar suara dobrakan di pintu kamar mandi membuatku mundur ke belakang. Di sana ada Pak Raka, Aini, dan Finda yang menatapku dengan penuh kecemasan. Pak Raka mendekat, membantuku berdiri dari posisiku yang berjongkok. Napasku masih tersenggal dengan mata nyalang ketakutan.
"Ada apa?" tanya Pak Raka kepadaku.
Aku hanya bisa mengatur napas agar normal kembali setelah akhirnya menjawab, "Ada yang ngintip, Pak."
Aini dan Finda jadi merinding, mengusap lengannya menggunakan telapak tangan. "Masuk, yuk, Mbak!" ajaknya kepadaku.
Pak Raka menyerahkan tanganku kepada Aini dan Finda. Lelaki itu berjalan di belakang kami tanpa ada rasa takut sedikit pun. Kami kembali ke ruang tamu, bersiap tidur karena hari sudah sangat larut.
Seperti yang kuduga, aku tidak bisa tidur malam ini. Berkali-kali aku membolak-balikkan tubuh demi mencari posisi ternyaman. Namun, tetap saja mata ini tak bisa memejam.
Aku akhirnya mengubah posisiku menjadi duduk, memeluk kedua lutut sembari bersandar ke dinding. Mataku tertuju pada bufet tua berbahan jati yang berdiri kokoh di ruang tamu. Di sana ada foto dua orang wanita berbeda usia terpasang pada pigura kecil bermotif batik.
Saat melihat wajah gadis itu, ada hal aneh yang kurasakan. Seolah wajah itu sudah sangat familier di ingatanku. Mata, alis, dan juga bibirnya ... sangat mirip denganku.
Apa maksud semua ini?
"Alea!"
Aku sempat terhenyak ketika mendengar namaku dipanggil oleh seseorang. Segera kutolehkan ke arah sumber suara. Ternyata Pak Raka di sana berdiri menatapku.
"Iya, Pak."
"Kenapa tidak tidur? Hampir pagi. Cepatlah tidur!"
__ADS_1
Aku mengangguk. Lelaki itu terlihat tegas dan menakutkan. Kalau kata penduduk sekitar, dia sering menjadi relawan jika ada tetangga yang kena musibah. Ya, sepertinya dia orang baik. Buktinya dia mau menemaniku dan memberiku dua orang teman agar aku tidak tidur sendirian di rumah Mbok Narti.
Segera kukembalikan pigura itu pada tempatnya, lalu ikut berbaring di samping dua orang remaja yang sudah terlelap dalam buaian mimpi.
***
Ketika pagi menjelang, aku berjalan-jalan di sekitar perkampungan. Dua orang remaja yang semalam menemaniku sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Mereka bekerja di sebuah toko pakaian yang berada di jalan utama sehingga pulang pagi-pagi sekali demi bersiap diri.
Kampung Mbok Narti terletak di kaki gunung sehingga udara di pagi hari terasa sejuk dengan pemandangan indah memanjakan mata. Aku duduk di bawah pohon sembari memandang hamparan sawah penduduk yang mana banyak petani sudah bekerja sejak pagi.
Di musim penghujan seperti ini memang sangat cocok untuk bertanam. Mereka memulai bekerja dari subuh sampai saat ini sehingga padi yang ditanam cukup banyak. Tanah berair itu hampir ke seluruh permukaannya tertutup benih padi yang tampak seperti permadani hijau saat dipandang dari atas sini.
Semilir angin menerpa wajahku, menggerakkan rambut-rambut halus di keningku. Aku menutup kepala dengan hoodie abu-abu hingga hanya terlihat wajahku saja. Beberapa hal yang menarik di kampung ini setidaknya membuatku terhibur dan melupakan sejenak masalahku. Mengenai Ibu, entah bagaimana caraku menemukannya. Apakah wanita yang ada di foto itu ada hubungannya dengaku?
Tidak terasa aku sudah terlalu lama berada di pinggir sawah. Semua petani baik laki-laki maupun perempuan tampak sedang menikmati makan siang mereka. Wajah lelah tampak jelas terlihat, tetapi senyuman teduh dengan saling melempar canda membuat hari berat mereka tidak menjadi beban.
Mungkin inilah alasannya mengapa warga desa lebih sehat dan tidak gampang sakit-sakitan. Mereka pekerja keras, bangun pagi, dan selalu tersenyum bahagia. Aku mendadak malu karena seringnya menangis. Andai aku lebih bersyukur, pasti bisa lebih bahagia dari mereka.
Setelah puas menyendiri, aku bergegas kembali ke rumah Mbok Narti. Mungkin, sebaiknya aku pulang ke kota dan bertemu Mama untuk menanyakan hal terkait ibuku. Meski kutahu sulit untuk mendapatkan informasi dari keluarga Hinata, tetapi aku tetap akan berusaha mencari tahu kebenaran tersebut.
Bersemangat aku mengayunkan langkah, kembali ke rumah Mbok Narti untuk mengemasi barang-barangku. Aku sudah memantapkan diri untuk pulang hari ini. Hanya butuh sepuluh menit dengan berjalan kaki santai aku sudah berada di rumah yang tertutup itu.
"Assalamualaikum."
Walaupun kutahu rumah itu tidak berpenghuni, aku tetap mengucapkan salam. Kubuka pintu rumah lebar, membiarkan sinar matahari masuk menerangi rumah tersebut. Tas ransel yang berisi pakaian kukemasi, memasukkan barang-barang yang sempat kukeluarkan. Tepat ketika tanganku sibuk dengan menata perlengkapan pribadiku, aku mendengar pintu depan ditutup oleh seseorang.
Deg!
Jantungku tiba-tiba berdetak keras. Antara takut juga ngeri. Ruangan yang semula terang oleh cahaya matahari mendadak gelap karena pintu yang tertutup. Hingga ketika aku hendak beranjak dari tempatku, ingin membuka pintu kembali, sebuah tangan menarik dan mendekap mulutku.
__ADS_1
Mataku melebar dengan pupil mata menajam. Meskipun ruangan itu gelap, aku bisa dengan jelas dan memastikan siapa sosok yang sudah mendekap mulutku.
"Pak Raka!" gumamku dalam hati dengan menunjukkan wajah ketakutan.