
Aku terpaku di tempat melihat sosok yang beberapa hari lalu telah mengusirku dari rumah. Tiada yang berubah dari tatapan Mama, dia masih marah kepadaku atau bahkan saat ini teramat murka.
Aku memundurkan langkah, ketika wanita yang sangat aku hormati memaksa masuk ke dalam rumah. Pandangannya terlihat mengedar, menyapu ke segala penjuru ruangan, mengamati lekat-lekat rumah yang kini sedang aku tempati.
"Jadi begini, ya? Senang kamu?"
Aku menggeleng. Apakah Mama tahu jika Kak Rey yang membawaku kemari?
Kulihat wajahnya benar-benar dalam kemurkaan, meradang seolah apa yang aku lakukan adalah perbuatan yang sangat memalukan.
"Maksud Mama apa?" tanyaku dengan menunjukkan wajah kebingungan.
Saat itu juga Mama melayangkan pukulan di pipiku. Begitu keras hingga rasa panas menjalar hampir ke seluruh permukaan wajahku. Tanganku serta-merta mengusap bekas tamparan Mama. Apakah Mama sudah tahu bahwa Kak Rey yang membawaku kemari?
Aku tidak berani menatapnya. Kutundakkan wajah ini sambil mengusap pipi yang memanas. Aku tahu jika Mama masih menatapku tajam. Tubuhku tiba-tiba merasa gemetar.
"Begini caramu membalas budi? Aku sudah peringatkan, jauhi Reynan! Tapi, sekarang kamu malah tinggal seatap dengannya."
Aku masih menunduk. Rasa bersalahku semakin besar mendengar penuturan Mama. Tapi, aku tidak berniat melakukan apa yang Mama katakan. Sampai aku merasakan rambutku ditarik oleh Mama dengan kuat, membuat aku menengadahkan wajah menatapnya. Rasa sakit di pipi belum sepenuhnya hilang, tetapi Mama dengan kasar malah menjambak rambutku.
"Apa yang sudah kalian lakukan semalam? Kamu menggoda Reynan, suami kakakmu sendiri? Astaga, Alea! Wanita macam apa kamu?" Dia membentak di depan mukaku. Aku hanya memejankan mata, tak sanggup berkata apa pun. "Rena sangat menyayangimu, tapi kamu justru menggoda suaminya?"
Saat itu juga Mama mengempaskan rambut yang sejak tadi ia tarik. Perih. Aku merasakan perih yang teramat sangat. Bukan hanya perih dan luka di fisik, tetapi juga di dalam hati.
"Ma, aku ... tidak melakukan itu. Aku tidak mungkin tega mengkhianati Kak Rena."
"Cukup! Jangan memanggilku Mama. Kau bukan anakku!"
__ADS_1
Bibirku bergetar. Aku tergugu dalam tangis. Ya, Mama sudah tidak mau mengakuiku sebagai anak. Akan tetapi, bukankah tidak ada mantan ibu? Sampai kapan pun wanita yang telah melahirkanku akan tetap menjadi ibuku. Mungkin aku adalah anak paling durhaka sedunia karena sampai di usiaku yang beranjak dewasa belum juga bisa membuat Mama bahagia.
"Asal kamu tahu. Aku sangat kecewa dengan perilakumu. Aku sudah memperingatkanmu, Alea. Jauhi Reynan. Dia milik Rena. Milik Rena!" Mama berkata sangat keras hingga berdengung di telingaku.
"Maaf, Ma!" kataku lirih.
"Aku bukan mamamu! Tidak sudi aku memiliki anak sepertimu."
Aku tahu aku salah. Tapi, tolong, jangan mengatakan aku bukan anakmu. Meskipun sejak awal Mama memang lebih menyayangi Kak Rena, tapi aku tidak pernah merasa iri karena aku tahu bahwa Kak Rena memang layak disayangi. Dia cantik, cerdas, dan baik hati. Dia selalu membanggakan. Prestasinya luar biasa. Sangat berbeda denganku yang hanya memiliki otak pas-pasan. Namun, hatiku sakit jika mamaku sendiri tak mau mengakuiku sebagai anak.
"Katakan! Anak siapa yang ada di perutmu?"
Kembali Mama berteriak keras kepadaku. Tubuhku semakin gemetar melihat amarahnya. Aku belum sanggup mengatakan apa pun. Sampai pada akhirnya Mama membentakku lagi.
"Katakan, Alea! Jangan bilang kalau ini anak Reynan!"
Kulihat Mama memejamkan mata, mengusap mukanya secara kasar. Rona merah padam jelas tergambar di wajahnya, menunjukkan betapa ia sangat meradang.
"Aku tahu. Aku tahu ini akan terjadi. Kamu benar-benar anak tidak tahu diri. Aku menyesal. Aku menyesal telah merawatmu sejak bayi." Dia menggeleng dengan meneteskan air mata. Aku pun tak sanggup membela diri. Ini juga bukan kemauanku.
"Dan sekarang kau malah menghancurkan kebahagiaan anakku. Anakku satu-satunya."
Mataku yang merah dan basah akan air mata menatap Mama dengan tidak percaya. Bagaimana bisa Mama mengatakan bahwa dia hanya memiliki satu orang anak. Meski sesakit hatinya dia, bukankah tidak pantas mengatakan hal itu? Bukankah aku juga dilahirkan olehnya?
"Ma!"
"Aku bukan mamamu! Dengarkan, Alea, untuk yang terakhir kali agar perkataanku melekat kuat di kepalamu yang kosong itu! Aku bukan mamamu. Kau hanyalah anak haram dari seorang pelayan."
__ADS_1
"A-apa?" Aku ternganga mendengarnya. Apa maksud Mama mengatakan hal itu? Anak haram? Siapa anak haram?
Mama menatapku dengan sinis di sela air mata yang berderai. "Kau pikir kau adalah anak bungsu keluarga Hinata? Apa kau pikir dirimu seterhormat itu? Asal kamu tahu, Alea! Kau hanya dipungut dari seorang pelayan yang hamil diluar nikah." Dia berdecih. "Ibumu gila setelah melahirkan karena tidak ada yang mau mengakuimu sebagai anak. Sementara suamiku yang sangat baik, malah memungutmu dan memberikan namanya di belakang namamu."
Aku menggeleng. Hatiku seperti sedang ditikam kuat. Kenyataan ini teramat menyakitkan. Selama ini aku terus bersabar akan sikap Mama karena aku menghormatinya, menyayanginya, berharap suatu saat Mama menoleh kepadaku. Meskipun aku menyadari jika sangat sulit mendapatkan perhatian dari Mama karena Kak Rena terlalu berkilau, tetapi aku tidak pernah mengenal putus asa. Aku selalu menurut apa pun perintahnya, bahkan aku tidak protes ketika Mama tidak mau memakai tenagaku di perusahaan keluarga.
Namun, baru kali ini aku mengerti dan menyadari bahwa selama ini usahaku untuk mengambil hati Mama adalah perbuatan sia-sia. Aku tidak akan mendapatkan kasih sayangnya sampai kapan pun karena aku ... bukanlah anak kandungnya.
"Kesalahan terbesarku adalah tidak menghentikan maksud baik suamiku. Dia ternyata memasukkan duri dalam keluargaku. Kau hanya racun hina yang dengan tega membalas kebaikan kami dengan pengkhianatan memalukan!"
Raga ini benar-benar gemetar. Aku ... tidak sanggup menerima kenyataan yang ada. Ini terlalu sakit kurasakan. Tamparan di pipi serta tarikan di rambutku yang sebelumnya terasa perih, kini beralih ke hatiku. Perasaanku teramat remuk, pikiranku mendadak kosong. Aku tergugu di sana, dalam amarah wanita yang selama ini kuanggap sebagai "Mama"."
"Di mana ibuku? Apakah masih hidup?" tanyaku lirih di sela tangisku. Aku mencoba sekuat tenaga menerima kenyataan yang ada. Siapa aku? Dari mana asal-usulku?
"Aku tidak tahu. Aku tidak mau menampung orang gila." Dia berkata dengan tidak memikirkan perasaanku. Aku menatapnya dengan rasa yang tak bisa kuterjemahkan. Rasa kecewa, marah, tetapi juga tak berdaya telah bercampur menjadi satu.
"Kenapa menatapku begitu?" Dia mendorongku. Tubuhku yang lemah karena masih syok dengan apa yang terjadi hanya bisa pasrah dan tidak melawan. "Sekarang kau tahu, bukan? Kau dan anakmu sama-sama anak haram! Kau dan anakmu adalah makhluk paling menjijikkan."
Wanita itu terus-menerus mengata-ngataiku sambil mendorongku. Sampai sebuah suara yang penuh tekanan membuatnya menghentikan perlakuan buruknya kepadaku.
"Cukup!"
Ekor mataku menatap ke samping, di mana suara yang terdengar menggelegar itu mengejutkan kami berdua.
Di sana, di ambang pintu, Kak Rey telah berdiri sambil menatap aku dan Mama secara bergantian dengan menunjukkan wajah geram yang tertahan.
Sejak kapan Kak Rey di sana?
__ADS_1
Apakah Kak Rey mendengar semua yang kami bicarakan?