Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 83. Bonus Chapter (TAMAT)


__ADS_3

Sapuan telapak tangan Kak Rey masih terasa di punggungku. Setelah merasakan kenikmatan dunia sepasang suami istri dalam malam pengantin kami, Kak Rey tak kunjung tidur. Dia masih memelukku, membawaku dalam dekapannya.


"Kak Rey," panggilku sesaat lelaki itu mendekapku.


"Heem, kenapa tidak tidur?"


Aku menggeleng. "Belum mau."


"Heem, apa masih mau lagi?" Dia bertanya dengan suara berat. Aku terlupa jika lelaki yang sedang mendekap tubuhku mudah sekali hasratnya bangkit meski hanya dengan sebuah perkataan.


"Bukan itu. Mengapa di kepalamu hanya memikirkan masalah itu?"


Dia terkekeh, melabuhkan satu kecupan hangat di keningku. "Kamu tahu, memelukmu seperti ini dengan tubuh kita menyatu adalah seperti mimpi. Aku merindukan masa-masa seperti ini."


"Benarkah?"


Terdengar helaan napas berat dari bibirnya. Tatapannya mengarah pada wajahku. "Heem, aku bersyukur karena Tuhan menyatukan kita lagi. Aku ingin kisah kita berakhir sampai maut memisahkan. Tidak ada lagi drama minta cerai. Aku tidak akan pernah mau melakukannya."


Aku menanggapi dengan senyuman. Kehangatan ini yang aku rindukan, juga perhatian dan ketulusannya. Setelah melihat Kak Rena telah bahagia, rasa bersalahku yang telah merebut Kak Rey darinya berangsur hilang. Perasaan memang tidak bisa dipaksakan. Di saat aku sudah lelah dan menyerah, membiarkan mereka kembali bersatu. Nyatanya, hubungan Kak Rey dan Kak Rena tidak juga berada dalam tahap perbaikan.


Aku menunduk, menyentuhkan keningku di dadanya. Otot perutnya masih terbentuk sempurna, bagaikan tatakan roti yang berbaris berdampingan. Tanganku mengusap lembut di bagian sana dan berhenti di bawah pusar.


Kudengar Kak Rey mendesis, menangkap tanganku yang tampaknya membuat dia geli.


"Bilang saja jika mau lagi." Tiba-tiba tubuhnya berguling dengan posisi di atasku. Kedua tangannya memerangkapku dengan meletakkan di sisi kanan dan kiri tubuhku. "Aku siap membuatmu ketagihan."


"Kak Rey!" Namun, aku belum sempat menanggapi dengan jelas perkataannya, dia membungkam bibirku dengan sebuah ciuman.


Malam itu tepat pukul satu dini hari, kami melakukannya lagi, mengarungi rasa rindu yang benar-benar menggebu, mengubahnya menjadi lautan cinta yang tak berujung.


***


Kelopak mataku mengerjap sedikit berat ketika kurasakan sesuatu yang basah dan lembab menyentuh bibirku. Harum sabun menguar menggelitik indra penciumanku. Begitu mataku terbuka barulah aku menyadari jika Kak Rey tengah menciumku.


"Sudah bangun?" ucapnya setelah pagutan bibir terlepas.


Dia terkekeh melihatku kebingungan. Aku membenarkan posisiku menjadi duduk, mempertahankan selimut yang hampir melorot.


Kulirik jendela kaca yang sedikit tersingkap tirainya, menunjukkan hari masih gelap. Mungkin hampir memasuki waktu Subuh. Semalam, kami melakukannya berkali-kali hingga menjelang pagi. Aku merasa baru tidur sekitar dua jam sehingga rasa kantuk jelas menjalar membuat mulutku menguap.


"Mandi dulu. Kita salat bareng," ucap Kak Rey lembut penuh maklum melihat tampilanku yang kelelahan.


"Heem," jawabku malas-malasan.


"Mau tetap begini, atau kugendong?"


Seketika mataku yang sejak tadi enggan terbuka membeliak sedikit melotot kepadanya. Bergegas kutarik selimut untuk beranjak dari ranjang, menapakkan kaki di atas karpet bulu yang lembut menerpa permukaan telapak kaki.


Namun, aku merasakan hal yang tak biasa. Bagian intiku terasa mengganjal dan tak nyaman. Aku bahkan harus menahan sakit saat melangkah ke depan. Mungkin selama lima tahun tak pernah disentuh, dan semalam Kak Rey malah melakukannya berkali-kali sehingga membuatku kesulitam berjalan.


Hanya dua langkah sempat aku lakukan sampai kurasakan tubuhku melayang bersamaan jeritan bibirku lantaran terkejut.


"Kak Rey!"


Lelaki itu terkekeh, tak peduli tatapan kesalku. "Aku baru ingat kalau semalam habis menggempurmu," ucapnya setelah menghentikan tawa. Dengan mimik jahil dia membuang selimut yang membalut tubuhku, lantas mengayunkan langkah menuju kamar mandi.


***


Aku tidak menyangka takdirku di negara sakura berakhir sampai di sini. Sebagai seorang istri aku akan menurut ketika suami mengajak pergi. Dan kini, kami bersama-sama menaiki sebuah jet pribadi milik orang tua Kak Rey menuju ke tanah air kembali.


Seumur hidup, baru kali ini aku merasakan naik kendaraan super mewah. Interior dalamnya memukau, hampir mirip hotel yang mana kursinya dibuat berhadapan dan ada ruang khusus yang digunakan untuk tidur.


Aylin dan Althaf tak pernah berjauhan dengan kedua mertuaku. Mereka dijaga dengan baik. Sepertinya Ayah dan Bunda sangat merindukan kedua cucunya yang tak pernah mereka jumpai. Mataku berkaca-kaca memandang penuh haru pertemuan antara Kakek, Nenek, dengan cucu-cucu mereka.


Aku merasakan sebuah tangan yang tiba-tiba menyelip, melingkar di pinggangku. Tubuhku dirapatkan ke arah pria di sampingku yang tak lain adalah Kak Rey. Dia tersenyum saat mataku memandangnya.


Wajah yang dulu selalu bersikap dingin dan angkuh, sekarang berubah menjadi murah senyum. Sikap Kak Rey ini jelas begitu mirip dengan Ayah mertua. Beliau selalu menunjukkan wajah dingin tak bersahabat dengan orang lain, tetapi berubah lembut ketika dihadapkan pada istrinya.


"Kenapa senyum-senyum?" tanyaku yang melihatnya aneh.


Dia menggeleng, mencium pipiku tanpa malu-malu. Padahal di belakang kami ada Mama dan juga kedua mertuaku. Aku melotot kepadanya.


"Tidak ada. Aku hanya sedang senang." Dia menjawab sembari menangkup kedua pipiku dan melabuhkan satu kecupan hangat di bibir.


Hari ini adalah hari pertama aku berada di Indonesia. Kak Rey telah menjual rumah kami sebelumnya. Menurutnya rumah itu terlalu banyak kenangan pahit saat kami sedang bersama. Bagaimana tangis dan pertengkaran hebat dan berakhir sebuah talak yang membuat hidupnya kacau. Dia memilih menjual semua hal yang bisa mengingatkan akan kenangan buruk itu.


Dan kini, sebuah rumah baru dan lebih besar menjadi tempat tinggal kami berlima. Aku, Kak Rey, Althaf, Aylin, dan Mama. Tentu Mama akan terus ikut bersamaku mengingat hanya aku lah keluarga Mama satu-satunya.


Kak Rey mengajak anak-anak melihat kamar baru mereka. Aku tidak menyangka dia ternyata sudah menyiapkan ini jauh-jauh hari. Bahkan, semuanya terlihat indah dan sempurna.


Kamar mereka terpisah tidak seperti biasanya. Aku sangsi akan bisa membuat Aylin dan Althaf berani untuk tidur sendiri.


"Ini kamar Kakak. Kakak bilang kan ingin jadi astronot, pengen ke luar angkasa. Papa sudah menyiapkan kamar sesuai keinginan Kakak." Pintu kamar Althaf dibuka lebar, dan saat itu juga langkah kecil Althaf melebar dengan sedikit berlari ke dalam penuh kegirangan.


__ADS_1


"Ini kamar Al?" tanya Althaf sedikit tidak percaya.


Kak Rey berjalan mendekat, membungkukkan tubuh untuk mengatakan sesuatu kepada bocah lelakiku. "Heem, Al suka?"


Wajah tampan Althaf mengangguk senang. "Al enggak tidur sama Ay lagi?"


"Kamar Ay ada di sebelah. Kalian punya kamar sendiri-sendiri."


"Papa, Ay mau lihat kamar Ay sendiri!" Aylin terlihat tak sabar ingin mengetahui kamar pribadinya. Kak Rey menegakkan badan, mengusap kepala gadis kecilku yang merengek.


Dengan tangan kekarnya, Kak Rey menggendong Aylin, mengajak putri bungsu kami ke kamar sebelah.


Sebuah ruangan dengan nuansa pink dan putih menyambut kami begitu pintunya dibuka. Aylin bergerak menuntut untuk segera diturunkan ketika matanya terfokus pada ruangan yang diklaim sebagai miliknya. Gadis kecilku berlari, lantas menaiki ranjang berlapis kasur empuk. Lalu, dia bergerak merebahkan tubuh kecilnya di sana.



"Ini buat Ay?"


"Heem," gumam Kak Rey menanggapi. Kami berjalan beriringan, duduk di kasur Aylin dengan gadis kecil kami masih dalam posisi terlentang. "Ay suka?"


"Suka." Dia beranjak dari posisi tidur, lalu menatapku dan Kak Rey secara bergantian. "Tapi, apa Ay akan tidur sendiri?"


"Ay kan sudah besar, harus tidur sendiri. Kak Al juga sudah punya kamar sendiri. Jadi, Ay dan Kak Al sudah tidak perlu berbagi tempat lagi." Kak Rey menjelaskan dan ditanggapi anggukan oleh Aylin.


"Kamar Mama yang mana, Pa?" Mata yang sedikit sipit itu mengerjap, menatap dengan antusias.


"Ay mau lihat?" Gadis kecilku mengangguk. Aku pun juga belum melihat kamar utama karena sibuk menemani kedua anakku memperkenalkan kamar mereka. "Mama juga mau lihat?" tanya Kak Rey kepadaku.


"Boleh."


Dia menggendong Aylin di punggungnya ketika si kecil mengulurkan kedua tangan. Aku mengekor di belakang, merasa tak sabar melihat kamar yang akan kami tempati.


Sebuah ruangan yang cukup besar menyambut ketika pintu kamar terbuka. Nuansa biru muda hadir menyegarkan mata. Aylin turun dari gendongan, berlari menaiki kasur yang membentang luas. Sementara Kak Rey memosisikan diri dengan berdiri di belakangku.


Kurasakan tangannya memelukku, lalu dagunya menempel pada bahuku. Aku tersenyum saat bibirnya memberi satu kecupan pada pipi kiriku.


"Kamu suka?" tanyanya kemudian.


"Heem, kamarnya indah. Aku suka."


"Bagus. Aku juga sudah menyiapkan banyak gaun tidur di lemari pakaian."


Wajahku mungkin sudah merona mendengar perkataannya yang terlampau jujur. Aku hanya menggeleng menanggapi. Tapi, aku senang.


***


Langkahku terayun menuju taman belakang sembari berhati-hati agar makanan yang kubawa tidak tumpah. Begitu kakiku menginjak tatakan batu hias yang digunakan sebagai pijakan menuju ke tempat Al dan Ay, mataku disuguhkan dengan pemandangan yang mengharukan.


Di sana Kak Rey tampak dikerubungi oleh kedua malaikat kecilku, tertawa renyah dengan saling memeluk.


"Pa, Papa beneran papa Al, kan?" Althaf tiba-tiba berkata di sela tawanya.


"Tentu saja. Papa adalah papa Al dan Ay selamanya."


Wajah Althaf yang semula bertanya dengan menunjukkan mimik muka serius berubah sumringah. "Jadi, tidak akan ada yang menghina kami lagi, kan?"


Menghina?


Aku mendekatkan diri tanpa banyak bersuara, ingin mendengar apa yang sedang Althaf bicarakan.


"Teman-teman selalu bertanya di mana Otôsan? Setiap liburan mereka selalu diajak Otôsan pergi ke suatu tempat. Mereka mengatakan, Althaf-kun tidak memiliki Otôsan. Mengapa anak-anak lain memiliki Papa, Al dan Ay tidak punya Papa? Mama selalu marah saat ada seseorang yang kami panggil Papa. Tapi, Mama juga tidak mau mengatakan di mana Papa kami."


Aku tahu. Pasti perasaan Al dan Ay sangat tertekan saat itu. Bukannya aku tidak mau mengatakan hal yang sesungguhnya, tetapi aku tidak ingin memberikan harapan palsu kepada mereka. Aku takut apabila saat itu ternyata Kak Rey sudah melupakan kami.


Kulihat Kak Rey mengangkat tubuh mungil Althaf, meletakkan di atas pangkuan. Sementara Aylun duduk di depan mereka. "Althaf dan Aylin adalah anak-anak Papa yang hebat. Papa akan selamanya menjadi papa kalian, mengajak kalian jalan-jalan, melindungi kalian. Al dan Ay tidak boleh merasa takut jika ada yang mengganggu. Bilang saja kalau Papa akan menghukum anak-anak yang sudah mengganggu kalian. Mengerti?"


Air mata kebahagiaan menetes tanpa sadar di pipiku. Aku bersyukur keinginan Althaf dan Aylin untuk memiliki keluarga yang lengkap telah terwujud. Kulihat senyuman dan tawa mereka kembali setelah Kak Rey membisikkan sesuatu yang belum bisa kudengar. Aku datang menghampiri mereka.


"Hayo, sedang main apa?"


Aku menegur dan segera ditanggapi dengan kekehan mereka. Salat aku letakkan di sana, dengan beberapa piring kecil dan garpunya sekali. Tak lupa juga air minun untuk membasahi tenggorokan.


"Wah, Mama bawa makanan. Makasih, Mama." Kak Rey berkata sambil mencium pipiku dan diikuti oleh Ay dan Al. Mereka sabar menantiku mengisikan salad sayur di piring masing-masing, sebelum memakannya menggunakan garpu di tangan.


Kami saling bercengkerama sore itu di bawah teduhnya pohon palem yang berdaun lebat di taman belakang. Suasana hangat yang sejak lama kuimpikan akhirnya bisa kurasakan saat ini.


***


Kak Rey tersenyum ketika anak-anak telah tidur di kamar masing-masing. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Dia sejak tadi sudah menungguku di kamar dengan mengenakan jubah tidur berwarna hitam legam. Wajahnya tampak berseri saat kakiku baru saja menapaki lantai kamar utama, menjentikkan satu jari sebagai isyarat agar aku mendekat.


Ritual malam yang acapkali telah lama kami lewatkan. Aku mengayunkan kaki untuk mendekat, dan saat itu juga dia menunjukkan sesuatu padaku. "Ganti pakaianmu!" Dia berkata sembari menunjukkan deretan gigi putih yang berjajar rapi.


Jelas saja aku sudah ngeri setelah membuka benda apa yang Kak Rey tunjuk. Ini bahkan tidak bisa disebut sebagai pakaian dalam. Tidak bisa menutupi apa pun. Astaga, buat apa juga Kak Rey menyuruhku mengganti pakaian kalau pada akhirnya kami berakhir tanpa busana.


Aku menghela napas dalam-dalam, menatap wajahnya yang sudah teringin melakukan itu. Okey, aku menurut. Menyambar jubah tidur dan segera membawanya ke kamar mandi untuk berganti pakaian.

__ADS_1


Mataku tertuju pada cermin panjang yang terletak di atas wastafel. Tubuhku lebih berisi dari sebelumnya. Pakaian yang Kak Rey pilihkan terasa begitu kecil, tak mampu menopang benda pribadiku yang terlihat bulat dan padat. Aku semakin malu ketika memperhatikannya. Seperti biasa, Kak Rey tak sabar menungguku ganti pakaian. Dia sudah mengetuk pintu kamar mandi.


Segera kubalutkan tubuhku dengan jubah tidur. Setidaknya ini akan mengurangi rasa malu saat mata Kak Rey memandangku. Aku keluar dari kamar mandi dan disambut senyuman nakal olehnya.


"Lama sekali." Dia semakin mendekat kepadaku. Bahkan, kini tiada jarak lagi di antara kami. Tubuhnya mengimpitku. "Boleh dibuka?" tanyanya meminta izin.


Aku mengangguk malu-malu. Meski kami sebelumnya pernah melakukannya, tetapi tetap saja sikap Kak Rey yang seperti ini membuatku tak sanggup menatapnya.


Jemarinya begitu piawai ketika menarik simpul yang aku buat pada jubah tidur sampai terlepas. Hanya dengan gerakan satu tangan, jubah yang menutupi tubuhku jatuh ke lantai. Telapak tanganku segera menutupkan ke matanya agar tak melihat bentuk tubuhku yang menonjol. Aku ... malu.


Kak Rey terkekeh. Perlahan menurunkan tanganku dari matanya. "Apa yang ingin kamu tutupi?" Dia semakin mengimpitku. Tangan besarnya menangkup wajahku, sedikit melakukan gerakan membelai di sana. Aku tergiring menengadah. Dan saat itu juga dia ... menciumku.


Dalam posisi seperti itu kurasakan tubuhku melayang. Dia tak melepaskan pagutan bibirnya padaku, hingga akhirnya tubuhku diletakkan di atas ranjang dengan Kak Rey turut naik di sana.


"Matikan lampunya!" Aku memohon. Setidaknya jika nuansa gelap tak mengurangi rasa malu saat bersamanya dengan kondisi seperti ini.


Dia tersenyum. Tanpa mengalihkan perhatian pada tubuhku, tangannya mengambil remote kontrol untuk mematikan lampu utama dan menggantikan bias lampu tidur yang remang-remang.


"Apa sudah boleh?" tanyanya kemudian.


"Hemm, kenapa bertanya lagi?"


"Jadi, aku harus apa?"


"Kak Rey!" Aku melotot. Bagaimana bisa dia menanyakan apa yang harus dilakukan dalam posisi seperti ini. Aku yakin dia hanya menggodaku.


Dalam suasana hening, tanpa lagi mengucapkan sepatah kata lagi, Kak Rey mulai mencumbuku. Jemari kami saling terpaut, mengisi di antara sela-sela yang membuat sebuah dorongan akan hasrat kian menggebu. Setiap sentuhannya, ciumannya, selalu terasa memabukkan. Dia begitu piawai menuntunku untuk mencapai sebuah kenikmatan ragawi yang tersalurkan satu sama lain.


Sampai ketika Kak Rey sudah tidak bisa lagi menahannya, ingin menuntaskan semuanya, terdengar ketukan menggebu di pintu bersamaan suara Althaf dan Aylin.


"Mama, Papa, bukain!"


"Shiiiiit!" Kak Rey sempat mengumpat karena pencapaiannya terganggu oleh kedua anak kami.


Aku tersenyum, mengecup bibirnya sekilas. "Buruan pakai baju!" ucapku sambil menahan tawa.


Dengan mimik muka tak rela dan kesal, Kak Rey melepaskan miliknya dariku, lalu beranjak mengambil jubah tidurku yang sebelumnya terlempar ke lantai. Aku segera mengenakannya pun dengan Kak Rey melakukan hal yang sama.


Segera kubuka pintu kamar dan saat itu juga Althaf dan Aylin menerobos masuk. Mereka langsung menaiki ranjang kami dan meutup tubuh mereka dengan selimut.


"Ada apa?" tanya Kak Rey dengan mengusap kepala Aylin dan Althaf bergantian.


"Tidak bisa tidur. Kami ingin tidur sama Mama."


Terdengar helaan napas berat dari bibir Kak Rey. Dia sepertinya mencoba bersabar meladeni dua buah hati kami. "Tapi kan Al dan Ay sudah besar. Harusnya tidur sendiri. Masak enggak malu tidur minta ditemenin Mama."


Dengan suara mungilnya Aylin menyela. "Tapi Papa sudah tua malah tidur minta ditemenin Mama. Papa harusnya malu juga."


Kak Rey hanya ternganga mendengar penuturan lugu gadis kecil kami. Sementara aku hanya menipiskan bibir menahan tawa.


Terpaksa malam ini Aylin dan Althaf tidur bersama kami. Kak Rey berada di tepi kanan, sementara di antara kami ada Aylin dan Althaf. Beberapa kali dia melirik ke arahku, mengarahkan telapak tangannya membelai kepalaku.


"Aku menagihnya besok. Okey!"


"Heem," jawabku.


"Ternyata lebih sulit mencari waktu saat anak-anak sudah besar." Tangannya yang lain memeluk Althaf yang berada di sampingnya. "Tapi aku senang karena kita bisa bersama-sama seperti ini. Terima kasih sudah memberikan kebahagiaan sempurna untukku. I love you."


Perkataan Kak Rey membuatku haru. Perkataan sederhana, tetapi sarat akan makna. Aku pun merasakan kebahagiaan itu. Sebuah keluarga lengkap dengan saling mengasihi dan melindungi. "Love you too!"


Mungkin, pertemuan kami awalnya adalah kesalahan. Kami bukanlah manusia sempurna yang luput dari dosa. Sepenggal kisah kami yang ditorehkan pada sebuah tinta hitam di atas kertas putih menunjukkan bagaimana perjuangan kami dalam membangun keluarga yang sempat tercerai-berai untuk menjadi utuh kembali.


Segala keegoisan dalam diri membuatku sadar, aku hanyalah wanita biasa yang tak sanggup hidup sendiri. Aku membutuhkan Kak Rey untuk melengkapi kehidupanku serta kebahagiaan anak-anakku. Bibirku boleh berkata bahwa aku bisa bahagia hanya hidup bersama kedua anakku. Namun, hati kecilku mengakui bahwa kami membutuhkan sosok pria yang mau menyayangi dan melindungi kami dengan sepenuh hati.


Terima kasih, Tuhan, sudah mempersatukan kami. Aku ... bahagia.


...☆ T A M A T ☆...


...****************...


Hallo, apa kabar semua? Semoga selalu baik-baik saja dan berada dalam lindungan-Nya.


Babnya kepanjangan ya. Ini 3 bab yang dijadikan satu.


Sebelumnya saya meminta maaf kepada Kakak semua yang sudah menunggu POV Rey di sini. Rupanya saat saya mengajukan ke admin, ternyata tidak diperbolehkan karena dua novel dengan tokoh yang sama dilarang. Padahal meskipun tokoh sama, tetapi beda jauh karena fokus sama Rey. Berhubung ini sudah peraturan, sy tidak bisa apa-apa selain menyetujui. Karena novel ini sudah ada label tamat, jd gk bisa dilanjutkan juga di sini.


Dengan sangat terpaksa saya akan memindahkan POV Rey di aplikasi yg sama dengan "Dinikahi Tuan Arthur"


Terima kasih yang sudah memberikan dukungan. Tadinya mau memberi semacam give away untuk pendukung terbanyak, tetapi karena sy sendiri dr sini belum mendapatkan apa-apa, sehingga hanya bisa mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Semoga kebaikan Kakak dibalas sama Tuhan Yang Maha Esa. Amiin.


Untuk informasi selanjutnya, bisa add IG (AleeNa_Anonymous) dan FB (AleeNa) atau Fanspage (Cerita Novel Online) karena pengumuman novel terbaru akan di update di sana.


Tapi kalau ada novel baru di NT akan sy umumkan di novel ini juga.


Terima kasih atas dukungannya.

__ADS_1


Salam sayang


__ADS_2