Ternoda Sebelum Akad

Ternoda Sebelum Akad
Bab 44. Listrik Padam


__ADS_3

Aku berjalan lunglai, masuk ke dalam rumah dengan perasaan yang kurang puas. Berharap mendapatkan solusi, tetapi otakku justru tercemari dengan hal-hal tabu yang aku sendiri belum bisa membayangkannya.


Kuempaskan tubuh ini pada sofa panjang di ruang tamu, lalu menilik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kiriku. Sudah pukul empat sore, itu artinya dua jam lagi Kak Rey akan pulang.


Gegas aku pergi ke kamar untuk berganti pakaian, lalu memasak untuk menu makan malam. Untungnya Kak Rey bukanlah tipe pemilih. Meskipun dia dibesarkan oleh keluarga kaya, tetapi lelaki itu selalu menandaskan makanan yang kubuatkan tanpa tersisa sedikit pun.


Hampir satu jam aku berkutat di dapur, menyelesaikan acara masak-memasak sore ini. Sampai sebuah pesan masuk di ponselku membuat perhatianku teralihkan.


"Aku pulang terlambat. Jangan menungguku!"


Kuhela napas dalam, sedikit kecewa karena Kak Rey tidak akan makan malam di rumah. Memang akhir-akhir ini pekerjaannya begitu banyak. Dia sering lembur sampai menjelang pagi demi menyelesaikan tugasnya. Sampai-sampai kantung mata Kak Rey terlihat menghitam lantaran kurangnya jatah tidur.


Karena hanya makan sendiri, aku tidak perlu menatanya di meja makan. Cukup disimpan di pantry dapur, dan akan dihangatkan ketika aku ingin memakananya.


Tepat pukul sepuluh malam, Kak Rey belum juga pulang ke rumah. Dia menyuruhku tidak perlu menunggu, tetapi entah mengapa aku tetap menunggunya. Ingin menghubungi rasanya segan. Apakah dia baik-baik saja?


Sebuah compact disc yang kudapatkan dari konseling menjadi perhatianku. Wajahku memanas ketika melihat cover pada benda pipih tersebut. Kepalaku menggeleng pelan, lalu segera menyimpan benda tersebut di laci. Namun, rasa penasaranku tiba-tiba menggebu. Bukannya aku sudah cukup umur? Seharusnya menonton adegan dewasa tidak jadi masalah, bukan?


Mengambilnya kembali, aku berniat memutarnya di dalam kamar. Kebetulan terdapat televisi sekaligus pemutar CD di sana sehingga aku tidak perlu repot-repot melihatnya di ruang tengah. Aku cukup menutup pintu agar tiada orang yang masuk melihatku.


Sepertinya itu juga tidak perlu dilakukan. Aku tinggal sendiri, memang siapa yang akan masuk dan melihatku? Kak Rey juga entah pulang atau tidak.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan memutar film yang berada dalam compact disc tersebut.


Kumatikan lampu kamar, berganti hanya dengan lampu tidur dan nyala cahaya dari televisi yang sudah mulai memutarkan film tersebut. Segera kurebahkan tubuhku di kasur, lalu memasukkan ke dalam selimut.


Awal adegan sepertinya film biasa. Tidak ada yang spesial. Aku hanya menonton dengan sedikit bosan. Hingga tepat di saat ada adegan seorang wanita sedang menggoda pria, listrik di rumah tiba-tiba padam dengan sendirinya.


"Aaaargh!" Jelas aku terkejut. Suasana malam menjadi begitu gelap dan pekat. Tiada cahaya yang menerangi untuk menolong penglihatanku.

__ADS_1


Kugapai smartphone yang tadinya berada di atas nakas, lalu menyalakannya.


Sial! Dayanya tinggal lima persen.


Kulihat sekeliling dengan berbekal cahaya ponsel, tetapi yang kulihat hanyalah kengerian saja. Rumah sebesar ini hanya aku yang menempati. Begitu gelap dan sunyi.


Sejak kejadian malam itu aku selalu merinding jika berada dalam kegelapan seperti ini. Ingatanku tentang sosok yang mengintipku di rumah Mbok Narti masih terekam jelas.


Aku takut. Tubuhku rasanya menggigil. Baterai ponsel yang tinggal sedikit kupaksakan melakukan panggilan. Kak Rey, hanya lelaki itu yang saat ini berada di kepalaku untuk bisa kumintai bantuan.


Hujan turun dengan lebat. Guntur tiba-tiba terdengar menggelegar. Kupeluk tubuhku sendiri dengan menekuk lutut di bawah ranjang sembari melakukan panggilan kepada Kak Rey.


"Kak Rey!" Bibirku gemetar memanggilnya. "Cepat pulang! Aku ... takut."


Belum sempat dia menjawab, ponselku mati.


Suara guntur bersahut-sahutan semakin membuat suasana malam ini semakin menakutkan. Kupejamkan mata, memeluk tubuhku sendiri. Berharap listrik segera menyala setelah ini.


Aku benar-benar membutuhkannya.


Aku masih menenggelamkan wajahku di atas lutut, menekuk kaki dan mendekapnya di lantai. Rasa takut melihat sekeliling membuatku enggan membuka mata. Setidaknya dengan begini aku tidak perlu melihat hal-hal aneh yang bisa membuatku semakin ketakutan.


Hingga sayup-sayup kudengar suara memanggil namaku, tapi enggan kujawab. Aku masih diam dan bergeming dengan posisiku. Cahaya kecil menerangi kamarku. Pendarannya merasuk di pelupuk mataku. Aku merasakan sebuah tangan menyelip di antara lipatan kakiku. Tubuhku melayang dan barulah aku berani membuka mata.


"Kak Rey!" kataku setelah menyadari siapa yang datang. Ternyata Kak Rey pulang. Dia tidak mengabaikanku.


Lelaki itu membawaku naik ke atas ranjang, merebahkanku di sana. "Jangan panik! Tubuhmu berkeringat dingin," ucapnya setelah menutupi tubuhku dengan selimut.


"Jangan pergi! Aku mohon! Malam ini saja, temani aku!"

__ADS_1


Aku tidak berniat apa-apa. Aku hanya tidak mau sendiri. Aku masih trauma dengan kegelapan. Setidaknya jika Kak Rey ada di sampingku, aku merasa aman.


"Pakai ini!" Dia menyodorkan ponselnya kepadaku. "Aku mandi dulu," imbuhnya.


Ponsel menyala itu aku terima. Setidaknya ini bisa membantuku meredakan rasa takut akan gelapnya malam yang sempat membuatku sesak. Kak Rey pergi setelahnya. Aku tidak tahu bagaimana lelaki itu akan mandi jika ponselnya diberikan kepadaku. Karena malam ini cahaya rembulan pun tertutup awan mendung sehingga ketika listrik padam semuanya mendadak gulita dan menakutkan.


Hampir sepuluh menit berlalu, dari cahaya ponsel yang dayanya juga tinggal sedikit, aku melihat siluet Kak Rey masuk ke kamarku. Lelaki itu mengenakan jubah tidurnya, mempertunjukkan dada bidangnya yang kokoh sembari menenteng laptop pada tangan kirinya.


Kami berada di atas ranjang yang sama. Namun, posisi kami berbeda. Aku tidur dengan mendekap selimut, sementara Kak Rey duduk bersandar pada kepala ranjang dengan laptop berada di atas pangkuan.


"Kak Rey lembur?" tanyaku setelah meletakkan ponsel lelaki itu dan mematikan senternya.


"Hem, tidurlah! Sudah malam. Aku akan di sini."


Aku mengangguk mengiakan. "Maaf, mengganggu waktumu." Kupejamkan mata. "Terima kasih," ujarku.


Dengan ditemani seperti ini, aku merasa lebih nyaman. Rasa takut yang sebelumnya mendera perlahan sirna. Akhirnya aku bisa tidur dengan nyeyak.


Aku tidak tahu sudah berapa lama aku tertidur. Sayup-sayup aku mendengar suara erangan serta de^sahan yang menggebu. Mataku masih terkatup rapat, tetapi suara itu terus-menerus mengganggu tidurku. Dengan terpaksa, aku berusaha membuka mata.


Begitu kesadaran telah merasuk dalam diriku, pandanganku disuguhkan sebuah tayangan seorang wanita yang menunjukkan ekspresi aneh. Dia seolah kesakitan, tetapi juga keenakan. Aku menelan ludah ketika menonton adegan yang tanpa sensor tersebut.


Oh, ya, ampun. Aku baru teringat ketika sebelum listrik padam, aku sedang menonton film. Tapi, .... Kulirik sosok yang berada di sampingku.


Kak Rey sudah mematikan laptopnya. Posisinya pun tak lagi duduk seperti saat aku belum tidur, tetapi berbaring miring menghadapku. Kutolehkan wajahku ke arahnya, dan kulihat dia menatap ke depan di mana televisi itu menyala dengan mempertontonkan adeagan dewasa.


"Kak Rey, belum tidur?" tanyaku sambil meringis.


Tatapan yang sebelumnya mengarah pada televisi beralih kepadaku. Sorot matanya tak biasa, tampak sayu dan berkabut. Aku tak pernah melihat ekspresi Kak Rey yang seperti itu. Suara itu masih terdengar kian menggebu, membuat tubuhku mendadak merinding karenanya.

__ADS_1


Tangan Kak Rey terulur, menyentuh wajahku, membelai pipiku. "Mengapa menonton film seperti itu?" Napas hangatnya menyapu wajahku. Aku bahkan bisa dengan jelas melihat garis wajah tegasnya pada jarak kami yang teramat dekat. "Apa yang sedang kamu pikirkan?"


Aku bingung harus menjawab apa. Ingin mencari alasan pun sepertinya sudah kepalang malu. Namun, belum sempat aku menjawab pertanyaannya, di detik itu juga Kak Rey ... menciumku.


__ADS_2