
Sebuah kecupan hangat berlabuh di dahiku tatkala pagi menjelang. Aku ketiduran lagi dan bangun kesiangan. Kak Rey tampak sudah rapi dengan pakaian kerjanya dan kini tersenyum kepadaku. Aroma sabun mandi masih menguar dari balik pakain kerjanya. Dia terlihat semakin tampan dari hari ke hari. Apalagi saat mengenakan stelan rapi seperti saat ini.
"Mengapa tidak membangunkanku?" Suaraku terdengar lirih dan sedikit serak. Althaf kini berumur tiga minggu dan dia cukup merepotkan ketika malam. Aku sering bergadang karena waktu tidurnya masih belum bisa normal.
Terkadang Kak Rey membantu dengan menggantikanku menjaga Althaf, tetapi sering kali aku tolak. Dia sudah teramat lelah bekerja sehingga aku tak ingin menyusahkannya dengan menjaga Althaf saat malam hari. Meskipun begitu, Kak Rey tidak benar-benar menyetujui keinginanku. Dia masih sering kedapatan mengganti popok Althaf ketika bayi mungil itu buang air kecil saat tengah malam.
"Aku tidak tega. Kamu pulas sekali." Telapak tangannya mengusap rambutku. "Aku mau berangkat," ucapnya.
Aku menghela napas dalam. Ada perasaan bersalah pada Kak Rey. Aku tidak bisa mengurus keperluannya sejak Althaf lahir. Tapi, dia sama sekali tidak pernah mempermasalahkannya. Suamiku itu benar-benar sangat pengertian.
"Kakak sudah sarapan?" Aku bertanya dengan mengubah posisiku menjadi duduk. Sesekali menahan kuapan di bibir yang memang rasa kantuk masih menyelimutiku.
"Sudah. Kamu yang belum. Nanti jangan lupa makan, ya!"
Kak Rey mengajak dua orang asisten rumah tangga yang biasa bekerja di kediaman orang tuanya untuk membantu pekerjaan rumahku. Paling tidak sampai aku bisa mandiri pasca persalinan.
"Heem, Kakak hati-hati."
Dia mengangguk. Aku tak lagi mengantarkannya sampai depan rumah karena Kak Rey tidak mengizinkanku. Katanya lebih baik aku beristirahat daripada mengantarnya sampai depan.
Kami berpisah setelah Kak Rey kembali melabuhkan kecupan di keningku dan juga Althaf. Sebelumnya dia berpesan bahwa Bunda dan Ayah akan datang hari ini, ingin menjenguk cucu kesayangannya. Aku tinggal menunggu saja agar mereka bisa disambut dengan baik.
__ADS_1
Aku bersiap diri, segera bangun untuk membersihkan tubuh mumpung Althaf masih tertidur. Bayi mungil itu yang sebelumnya keriput dan sangat kurus, kini sudah tampak berisi. Pipinya terlihat gembul dengan hidung mancung menjulang. Jika diamati lebih jelas, aku seperti sedang melihat Kak Rey masih bayi. Dia benar-benar mirip dengannya. Apalagi matanya, seolah Tuhan sengaja menunjukkan jika Althaf benar-benar anak Kak Rey.
Sekitar dua jam berlalu, saat Althaf baru saja aku mandikan, sebuah ketukan di pintu kamar mengalihkan perhatianku.
"Masuk!" jawabku sambil mengaitkan kancing baju new born pada Althaf.
Seorang pelayan masuk, berjalan mendekat dan berhenti tepat di sampingku.
"Nyonya, ada Tuan Sean dan Nyonya Salwa di bawah."
"Oh, ya. Siapkan minum. Aku akan turun."
Aku mencium pipi gembul Althaf, lalu mengajak bayi tampanku menemui kakek-neneknya.
"Ya ampun, Mas, dia mirip sekali dengan Rey!" Bunda Salwa mengambil alih Althaf dari gendonganku. Dia menimang-nimang seperti anak sendiri. Sejujurnya meskipun usia Bunda sudah hampir kepala lima, tetapi beliau masih sangat pantas memiliki bayi.
Kulihat wajah Ayah yang biasanya dingin berubah hangat. Beliau memang tidak pernah bicara padaku, tetapi aku tahu di balik sikapnya yang dingin, Ayah mertua adalah sosok penyayang.
"Mungkin Rey sangat bernaf su saat membuatnya." Ayah berkata tanpa peduli aku di depannya. Sontak tangan Bunda Salwa mencubit pinggangnya, seolah tidak enak padaku akan perkataannya yang vulgar. Ayah hanya meringis menerima serangan itu tanpa berniat menghalau atau membalas perlakuan Bunda.
"Bukannya ketiga putra kita semuanya lebih mirip denganmu. Aku sama sekali tidak kebagian. Apa bedanya Rey dengan kamu."
__ADS_1
Bunda menggeleng setelah mengatakan hal itu. Namun, lagi-lagi Ayah mertua menjawab asal sehingga membuat Bunda tampak kesal setelahnya.
"Ya, karena aku juga naf su banget sama kamu."
Wajah Bunda memerah, menatap Ayah dengan mata melotot. Aku yakin jika saat ini beliau sangat malu, apalagi Ayah mengatakan itu di depanku. Sekarang aku tahu kemesuman Kak Rey menurun pada siapa. Ternyata anak dan bapak tidak ada bedanya.
Aku tersenyum. Mereka sangat manis. Usia boleh tua, tetapi sikap romantis dan kompaknya mengalahkan pasangan muda. Aku jadi iri. Apakah aku dan Kak Rey akan bisa seperti mereka? Saling mencintai dan mengasihi hingga maut memisahkan kami.
Untuk sesaat aku merasakan hidupku sangat sempurna. Melihat ibu mertuaku menimang-nimang Althaf penuh sayang dan Ayah juga beberapa kali mengambil gambar mereka dengan smartphone-nya, cukup menunjukkan kebahagian yang nyata.
Aku sebelumnya memimpikan ini. Tapi, aku tidak menyangka jika ini semua bisa menjadi kenyataan.
Kami masih membincangkan tentang bagaimana perkembangan Althaf dan sesekali menanyakan kondisiku pasca operasi persalinan. Bunda banyak memberikan wejangan padaku, bagaimana menidurkan bayi, mengurus bayi agar tidak rewel, dan tentu juga bagaimana jika tiba-tiba terjadi demam, batuk, dan pilek.
Sebagai orang tua pasti akan merasa panik jika anak kesayangan mendadak sakit. Bunda memberikan banyak ilmu parenting padaku tanpa aku meminta. Beliau sangat baik dan perhatian.
Sampai ketika di tengah pembicaraan kami, terdengar suara pintu diketuk dari luar. Aku izin untuk membukanya. Tidak biasanya ada tamu jam segini. Tapi memang di rumahku jarang ada tamu, tetapi saat ini tiba-tiba ada yang datang.
Tepat ketika pintu itu aku buka, sosok wanita yang sangat aku kenal berdiri dengan kondisi berbeda. Penampilannya yang biasanya terlihat cantik dan glamour kini justru terlihat pucat dan sederhana. Bahkan, tiada riasan yang sengaja diaplikasikan pada wajahnya. Aku sempat tak mengenalinya, tetapi aku tentu segera sadar siapa dia.
"Kak Rena?"
__ADS_1
Sungguh kemunculan Kak Rena yang tiba-tiba di rumahku setelah insiden di gedung pengadilan, cukup membuatku terkejut. Mengapa Kak Rena tiba-tiba datang, apalagi penampilannya kini sudah berubah drastis.
"Alea, aku ingin bicara," ucapnya sembari menatapku dengan tatapan sendu.