Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Malam Pertama Yang Tertunda


__ADS_3

Semua orang khawatir dengan hilangnya Helena. Valerie, Mama Helena, jelas terlihat begitu cemas. Yang lain pun sama. Lana hanya bisa membantu dengan menenangkan Valerie. Bersama dengan Vivian, Mama Arash. Mereka semua berkumpul di sebuah ruangan yang disediakan oleh pihak hotel.


Tidak berapa lama Rafael dan William masuk ke dalam ruangan itu. "Bagaimana Helen?" tanya Valerie.


"Kami mengurus wartawan. Kami belum tahu bagaimana Helena," jawab Rafael. Di belakangnya berdiri Vi dan anggota keluarga yang lain. Tak berapa lama, Hugo masuk dengan nafas tersengal.


"Kak Arash sudah menemukannya," kata Hugo. Langsung duduk lalu menerima minum yang disodorkan oleh Lira.


Semua orang menarik nafasnya lega. Mendengar perkataan Hugo. Padahal Kenzo dan Alex, sepupu Rafael baru akan turun tangan ikut mencari sang ponakan.


"Gadis itu benar-benar membuat kepalaku mau pecah. Apa dia tidak berpikir soal nama kita?" gerutu Rafael.


"Bukan Kak Helen namanya kalau nggak bikin ulah," seloroh Hugo yang sudah melepas jasnya. Lira langsung mencubit perut sang sepupu. Hugo seketika mendelik marah ke arah gadis cantik itu. "Jangan sembarangan dulu kalau ngomong," desis Lira. Bisa gadis itu lihat, suasana sedang tegang menantang, sepupunya malah ngomong waton mangap aja. Hugo langsung kicep melihat tatapan penuh intimidasi dari Lira.


"Kalau bukan sepupu sendiri, sudah habis kucium bibirmu, Ra," batin Hugo. Menatap bibir pink menggoda milik adik Lendra itu. Tidak tahu kenapa, Hugo sejak dulu sudah tertarik dengan Lira. Satu hal yang aneh. Padahal keduanya sepupu jauh. Karena itulah sampai sekarang pria itu masih betah menjomblo. Padahal ia dan Lira tinggal di kota yang berbeda. Oleh sebab itu juga, untung mencegah perasaannya tumbuh tidak terkendali. Hugo selalu bersikap dingin. Menciptakan kesan kalau dia tidak menyukai Lira.


"Ya, Arash," William menerima panggilan dari Arash.


"Mereka sudah pergi?" tanya Arash dari seberang.


"Naiklah. Mereka sudah bubar dari tadi," William juga merasa kesal. Meski dia berusaha menutupinya. Bagaimanapun pernikahan paksa ini adalah idenya dan Rafael.


Tak berapa lama, Arash ikut bergabung dengan keluarga besar itu. Wajah pria itu terlihat kesal, frustrasi tapi juga lelah. Penampilan Arash pun sudah berantakan. "Di mana dia?" tanya Rafael.


"Masih jalan-jalan," jawab Arash masih terdengar santai. Pria itu mengambil air mineral lantas menenggaknya sampai habis. Arash berharap air itu bisa memadamkan bara kemarahan di hatinya.


"Bagaimana kau bisa setenang itu?" tanya William. Sedang Valerie sudah terlihat pucat mendengar sang putri belum kembali.


"Shan dan Ang terus mengikutinya. Kalian jangan cemas. Sebentar lagi aku akan menjemputnya,"


"Biarkan Lendra ikut denganmu. Dia bisa ikut membujuk Helen," saran Rafael.

__ADS_1


"Ogah ah. Biarkan mereka menyelesaikan rumah tangga mereka," tolak Lendra. Pria itu sudah ikut duduk di samping Lira.


"Tolonglah Ndra," mohon Lana.


"Gak Ma, nanti kalau Helen lihat aku dia makin menjadi bagaimana?" Lendra benar-benar ingin memberikan ruang pada Helena dan Arash untuk menyelesaikan masalah mereka. Lendra melihat, kalau Arash bisa mengatasi Helena.


Pria itu seolah memberi dukungan penuh pada Arash. Sekilas suami Helena itu tersenyum tipis. Melirik jam tangannya. Lalu melangkah keluar dari sana.


"Aku akan membawanya pulang. Jadi kalian jangan khawatir. Semua bisa beristirahat. Maaf untuk hari ini," Arash membungkukkan badannya. Lantas memberi kode pada sang Papa untuk membubarkan keluarga mereka. Sementara dirinya langsung menghilang di balik pintu.


*****


Helena berjalan gontai tanpa arah. Membiarkan kakinya berjalan ke mana saja. Masih tanpa alas kaki. Wanita itu tidak peduli pada tatapan aneh orang lain atau bisik-bisik mereka takkala melihat dirinya.


Tentu saja penampilan Helena dengan mudah menarik perhatian orang. Meski tampilan Helena santai, tapi tetap saja orang-orang tahu kalau itu gaun pengantin. Wanita itu berhenti sejenak, lantas melihat langit di atasnya yang mulai menggelap. Tidak, Helena tidak takut pada apapun. Bahkana kalau dia bertemu penjahat sekalipun, dia dengan senang hati akan melawan. Hitung-hitung menyalurkan kemarahannya.


"Kira-kira aku harus pergi ke mana ya?" Gumam Helena pelan. Tanpa Helena tahu, Shan dan Ang sejak tadi mengikuti istri atasannya itu.


"Dia betah banget sih jalan-jalannya," gumam Shan. Jujur dia lelah sekali. Hampir dua jam menjadi stalker bagi Helena.


Sementara di depan sana. Helena kembali melangkahkan kakinya menuju tepi jalan raya. Rambut wanita itu sudah tergerai indah. Akibat Helena yang menarik veil di rambutnya. Hingga sanggul di rambutnya ikut terlepas.


Kaki Helena baru saja menyentuh aspal jalanan. Ketika sebuah mobil berhenti tepat di hadapannya. Wanita itu berbalik sebab tahu itu mobil Arash. "Sial! Bagaimana dia bisa menemukanku?" gerutu Helena.


"Helena berhenti!" Arash berteriak ketika melihat Helena kembali berlari menjauh. Senyum Arash terbit ketika melihat Helena yang berbalik lagi ke arahnya. Melihat Shan dan Ang juga anak buah Arash yang mengepungnya.


"Kau brengsek!" Maki Helena.


"Baru tahu ya," jawab Arash enteng. Mendekat ke arah sang istri. "Ayo pulang. Kau membuat semua orang cemas," ajak Arash.


"Tidak mau!" Tolak Helena.

__ADS_1


"Helen.....!" Arash menaikkan satu oktaf suaranya. Tapi wanita itu tidak takut juga.


"Aku tidak mau pulang. Sudah kubilang aku ingin berpisah denganmu!" teriak Helena. "Jangan mimpi!" pria itu menarik paksa tubuh Helena masuk ke dalam mobilnya. Dibantu Ang dan Shan. Akhirnya Helena bisa dibawa masuk ke mobil Arash.


"Shan, Ang....aku akan membuat perhitungan dengan kalian!" teriak Helena. Bersamaan dengan mobil Arash yang meninggalkan tempat itu.


"Selesai juga. Akhirnya kita bisa beristirahat juga," ucap Shan yang diiyakan oleh Ang. Kemarahan Helena urusan besok.


*****


"Lepaskan aku!" pekik Helena. Arash terus menarik tubuh Helena masuk ke apartemen mereka. Kali ini tanpa ragu, pria itu membawa Helena masuk ke kamarnya. Begitu masuk ke kamar. Pria itu menyentak tubuh langsing Helena. Dengan Arash mulai melepaskan jasnya. Melemparnya ke sembarang arah.


"Kenapa kau membawaku ke mari?" tanya Helena. Wanita itu memaksa keluar. Tapi Arash dengan sigap menahan tubuh Helena. Tanpa kata, pria itu menghempaskan tubuh Helena ke atas ranjangnya.


"Kau mau apa?" Helena mulai panik ketika Arash melucuti kemejanya sendiri. Ada binar marah dalam mata Arash...namun di satu sisi ada hasrat yang mulai terbangun dalam diri pria itu.


"Menjauh dariku!" Helena benar-benar panik ketika Arash yang sudah bertelanjang dada mulai naik ke kasurnya.


"Aku sudah cukup bersabar selama ini. Tapi malam ini, aku pikir akan mengambil apa yang menjadi hakku sebagai suami," ucap Arash tepat di depan wajah Helena.


"Jangan pernah menyentuhku......" mata Helena membulat sempurna ketika Arash langsung mencium bibirnya tanpa aba-aba. Sekuat apapun Helena melawan. Kekuatannya tidak sebanding dengan Arash yang mulai dikuasai hasrat dan gairah. Pria itu semakin menggila. Apalagi ketika Arash dengan tidak sabaran merobek gaun pengantin Helena. Wanita itu seketika menjerit.


Hingga akhirnya, Helena berada di titik, di mana seluruh tubuhnya terasa lemah. Kekuatannya terkuras habis untuk memberontak. Yang bukannya menang malah membuat dirinya kalah. Helena mulai menangis ketika Arash benar-benar memasuki dirinya.


"Kau adalah milikku Helena Amara Liu," bisik Arash. Sementara sang istri menangis tersedu. Menahan sakit sekaligus rasa marah dan kesal pada sang suami.


"Dia masih virgin," batin Arash sesaat terdiam.


Jadi tuduhannya selama ini pada Helena adalah salah. "Maafkan aku," bisik Arash sambil mencium kening Helena. Tangan pria itu mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Helena.


"Aku membencimu Arash!" desis Helena.

__ADS_1


Tidak peduli dengan perkataan Helena. Arash mulai memacu diri di atas tubuh wanita yang kini benar-benar sudah dia miliki seutuhnya. Melewati malam pertama mereka yang tertunda sekian lama.


*****


__ADS_2