
Helena termenung melihat pemandangan kota dari jendela kantornya. Dia teringat perkataan Arash saat tengah bercinta dengannya. Pria itu menginginkan anak darinya. Bukannya dia tidak mau. Tapi ada satu hal yang Arash tidak tahu soal Helena. Dirinya menuruni gen susah memiliki anak dari sang Mama. Bukan tidak bisa, tapi susah. Perlu waktu yang lumayan lama untuk Helena bisa hamil.
Mengingat sang Mama dulu juga mengalami hal yang sama. Valerie, sang Mama perlu empat tahun menunggu, untuk mendapatkan dirinya. Karena itulah, dia dan Lendra berbeda empat tahun. Padahal kedua orang tua mereka menikah di tahun yang sama. Untungnya Rafael, sang papa sabar menunggu. Nasib baik setelah dirinya lahir, tiga tahun kemudian, Hugo sang adik menyusul lahir. Lengkap sudah kebahagiaan Rafael dan Valerie kala itu.
Helena menarik nafasnya. "Haruskah aku jujur padanya? Tapi aku takut dia akan kecewa," gumam Helena pelan.
"Kenapa kamu?" tanya Shen yang tiba-tiba muncul di belakangnya. Helena hanya mengedikkan bahunya. Tidak ingin menambah masalah Shen, yang masih ribut soal kakak ipar abege-nya.
"Belum beres?" tanya Helena. Giliran Shen yang menggelengkan kepalanya. "Mereka masih bertengkar hingga pagi ini," jawab Shen. Dia jelas pusing harus jadi penengah antara Shan dan Meisya. Yang abege Meisya, tapi Shan tidak kalah ke-TK-TK-annya. Ditambah Meisya sangat pendek pemikirannya.
Gadis itu ngambek karena Shan menarik paksa dirinya pulang sebelum perlombaan selesai. Hingga Meisya gagal mendapatkan hadiah utamanya. Ketika ditanya hadiahnya berapa, Shan langsung meledakkan tawanya. "ATM yang kau pegang itu saldonya seratus kali lipat dari hadiah yang kau perebutkan," kata Shan meledek.
Tapi Meisya malah mencak-mencak tidak karuan, dengan Shan yang tidak mau mengalah. Hingga akhirnya Shen harus memisahkan keduanya. "Gue pusing Helen, mereka kapan sadarnya kalau sudah waktunya bersikap dewasa. Okelah gue tahu Meisya masih abege labil, lah kakak gue dah abege tua gak sadar diri lagi," gerutu Shen.
Helena mengulum senyumnya. Bukan dia sendiri yang sedang bermasalah.
Seminggu sejak adu jotos antara Arash dan Brigitta. Memar di wajah Arash sudah hilang sepenuhnya. Kini pria itu tengah duduk menghadap Cia yang tengah tersenyum manis padanya. Arash mulai muak dengan sikap Cia. Sebab dari laporan anak buahnya, Cia masih terus bertemu Aldo. Bahkan saat memeriksakan kandungan Cia, Aldo yang menemaninya. Hal itu semakin menguatkan keyakinan Arash kalau bayi yang dikandung Cia adalah anak Aldo.
"Ada apa kau ingin menemuiku?" tanya Arash dingin. Senyum Cia menghilang mendengar dinginnya ucapan Arash padanya. "Arash kenapa sekarang kau berubah? Apa kau tidak mencintaiku lagi?" tanya Cia.
"Cinta? Sepertinya aku dari dulu tidak sungguh-sungguh mencintaimu," batin Arash. Sebab saat Arash bersama Cia, itu hanyalah pelarian dari rasa frustrasi Arash karena Faya terus menolak cintanya.
(Faya Ayunda dari novel Menikah Tanpa Cinta, kepoin ya)
__ADS_1
"Karena sekarang aku mencintai istriku, Helena," tangan Cia di bawah meja mengepal mendengar jawaban Arash. Padahal dulu Arash selalu bersikap manis sekarang. Tapi sekarang, pria itu berubah dingin dan sinis padanya.
"Tapi aku mengandung anakmu," kata Cia cepat. Arash menyeringai mendengar ucapan Cia. Meski belum mendapatkan bukti valid soal siapa ayah anak yang dikandung Cia. Tapi Arash cukup yakin, itu bukan anaknya.
"Apa kau punya buktinya?" tantang Arash. Giliran Cia yang tertawa menang. Dia mengeluarkan amplop coklat dari tasnya. Mendorongnya ke depan Arash. Sesaat pria itu terdiam, lantas membukanya. Satu detik, dua detik, mata Arash membulat membaca surat itu.
"Kau pasti memanipulasinya!" tuduh Arash segera. Tidak mungkin jika yang tertulis di sana adalah benar. Cia melebarkan senyumnya, dia sudah menduga kalau Arash pasti akan menyangkalnya. "Terserah kau mau percaya atau tidak. Bawalah surat itu. Siapa tahu kau ingin menyelidiki keaslian surat itu. Aku tunggu kabar baik darimu," Cia berkata lalu pergi dari hadapan Arash.
"98,9% sesuai dengan sample DNA atas nama Tuan Arash Davendra Tan."
Arash ingin sekali merobek kertas itu, tapi urung dia lakukan. Dia harus menyelidik keaslian juga kevalidan surat ini. Pria itu langsung mengusak rambutnya kasar. Hubungannya dengan Helena baru juga membaik, dan sekarang gangguan itu datang.
Suami Helena itu melipat kertas hasil ujian DNA itu, memasukkannya kembali ke dalam amplop lantas menyimpannya di saku jasnya. Dia tidak ingin Helena tahu, jika dia tahu, wanita itu pasti akan meminta cerai darinya.
******
"Apa ini?" tanya Ang dan Shan bersamaan. Arash mendengus geram, mendengar pertanyaan dua asisten somplaknya itu. Somplak-somplak begitu selalu jadi dewa penolongmu, Rash.
"Bisa baca gak sih tulisan segede gitu," gemas Arash. Dua pria beda status itu lalu membaca lagi "caption" dari surat itu. "Hasil Tes DNA"
"What?! Kapan elu tes DNA, buat apaan?" seru Ang. Arash meremas dua tangannya ntuk meredam amarahnya. Kenapa mereka jadi bloon begini, kemana otak super jenius mereka, pikir Arash.
"Itu hasil tes DNA anaknya Cia denganku," akhirnya Arash memilih menggunakan kesabaran ekstra dengan menjawab pertanyaan Ang dan Shan. Ha? Dua pria itu melongo. "Dan hasilnya......dia beneran anak elu. Kapan elu nanam sahamnya, kok gue gak tahu."
__ADS_1
Plakkkkk!
Shan meringis kala Ang mengeplak lengannya. "Emangnya elu mau nonton dia tanam saham. Daripada nonton mending elu praktek ndiri ma bini abege elu, secara situ yang sudah ada lawan," ucapan Ang bernada sendu pada akhirnya.
"Bini gue belum bersedia gue bobol gawangnya," curhat Shan.
"Lah...lah...malah ngomongin apa sih. Gue lagi puyeng ini...puyeng. Bantuin napa," pinta Arash memelas. "Soal pusing mah sama, Rash. Guenya sampai diubun-ubun eh dianya gak mau, status double tapi solo karier mulu," keluh Shan.
Arash dan Ang saling pandang. Sesama pria, mereka tahulah rasanya. Disuguhi makanan lezat tapi tidak boleh dimakan. Gimana coba rasanya, kalau gak puyeng kepala atas bawah.
"Dah, pikirin cara buat membuktikan kalau surat ini ilegal. Nanti aku kasih tahu caranya biar bini abege elu gak nolak lagi kalau elu lagi ngebet," Shan dan Ang melebarkan senyumnya.
"Elu, tidak termasuk di dalam kursus kilat gue. Dapetin dulu SIM elu," Ang langsung terduduk lesu. "Elu jangan pikir bisa main-main sama adik gue sebelum SIM elu turun," tegas Shan.
"Masak mainan bibir mulu. Next level dong," Arash dan Shan mendelik mendengar ucapan vulgar Ang. Kutub utara bisa omesh juga, begitulah yang ada di kepala dua pria berstatus suami itu.
"Sudah dibilangin tunggu SIM elu turun, baru elu boleh indehoy ma adik gue. Catat itu!"
"SAM, SIM, SAM, SIM emang apaan sih itu. SIM gue komplit dari A sampai Z gue punya. Tinggal SIM crane yang gue gak punya," cerocos Ang.
"SIM yang ini Surat Izin Menikah, Bro, alias buku nikah," Ang melongo, merasa dikerjai oleh rekan kerja dan atasannya.
"Sialan kalian!" umpat Ang.
__ADS_1
*****