Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Helena Amara Liu


__ADS_3

Arash menjambak rambutnya kasar. Pria itu tidak habis pikir dengan tindakan Aldo. Dia bertanya kembali pada Aldo dan jawabannya tetap sama. Anak Cia adalah anaknya. Arash seperti kehabisan cara untuk membuktikan kalau dirinya bukan ayah bayi itu.


Di sisi lain, Cia bersorak gembira setelah dia tahu kalau Helena juga ada di sana saat Aldo mengatakan kalau anaknya adalah anak Arash. Cia mencibir, perempuan itu pasti sangat marah. Lalu meminta cerai. Dan jalannya menjadi nyonya Tan akan semakin mulus. Cia tertawa sendiri menikmati angan indahnya.


Sedangkan Aldo di depannya, hanya bisa diam. Sesaat dia menyesali telah mengikuti permintaan Cia. Hati kecilnya berkata kalau dia membuat kesalahan dengan membantu Cia. Tapi mau bagaimana lagi, dia terlalu takut dengan ancaman Cia. Pria itu tidak ingin terjadi apa-apa dengan anaknya.


"Apa kau tidak merasa bersalah telah merusak rumah tangga orang lain?"


Cia menghentikan tawanya begitu mendengar pertanyaan Arash. "Tempat itu sejak awal adalah milikku. Jadi Helena yang seharusnya mundur, bukan aku." Tegas Cia. Aldo menarik nafasnya pelan mendengar jawaban Cia. Sifat keras kepala Cia sangat susah dilawan.


"Mereka terlihat saling mencintai, apa kau tega melakukannya. Terlebih anak itu anakku bukan anak Arash.Biarkan aku yang bertanggungjawab."


Cia mendelik mendengar perkataan Aldo. "Jangan ikut campur urusanku. Aku tidak peduli mereka saling mencintai atau tidak. Yang penting, Arash jadi milikku." Cia kembali menegaskan ketidakpeduliannya pada orang lain.


Aldo kembali menarik nafasnya. Dia benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang Cia lakukan. "Tugasmu selesai. Sekarang biarkan aku menjalankan rencanaku selanjutnya."


Aldo menatap intens pada Cia. "Jangan berbuat yang tidak-tidak." Aldo memperingatkan Cia. Tapi perempuan itu seolah tidak peduli. Dia pikir harus sedikit memberikan tekanan pada Helena, agar wanita itu segera meninggalkan Arash.


*****


Helena kembali melamun setelah Shen keluar dari ruangannya. Sejak perselisihannya dengan Arash dan berakhir dengan sesi panas keduanya. Baik Arash maupun Helena semakin jarang bicara. Helena sendiri terlanjur muak dengan sikap pengecut Arash. Sementara Arash berpikir akan sia-sia mengajak bicara Helena yang masih emosi.


Wanita itu pikir apa yang harus dia lakukan sekarang. Arash menolak hasil tes DNA anak Cia, sementara dirinya percaya pada kertas sialan itu. Begitu Arash menyebutnya.


Lamunan wanita itu buyar ketika ponselnya berdering. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang dia tidak tahu siapa. "Halo."

__ADS_1


Helena membulatkan matanya mendengar siapa yang sudah menghubunginya.


"Ada apa kau ingin menemuiku?" sinis Helena. Sementara wanita yang ada di hadapannya langsung tertawa mengejek. Silahkan bersikap sombong sekarang, tapi sebentar lagi terimalah kehancuranmu. Wanita itu yang tak lain adalah Cia membatin penuh kebencian pada Helena. Wanita yang sudah dia anggap merebut Arash dari tangannya.


"Kau pasti sudah tahu tujuanku." Kata Cia sembari mengusap perutnya yang terlihat membesar. Ludah Helena tercekat, kehamilan adalah kelemahan. Seberapa tegarnya Helena kalau dia sudah dihadapkan dengan urusan hamil, sudah... dia menyerah. Dia angkat tangan.


"Maksudmu?" Helena ingin menegaskan ucapan Cia. Satu sudut bibir Cia tertarik. Wanita ini tidak mudah dihadapi rupanya. Pikir Cia.


"Pergi dari sisi Arash. Tempat itu adalah milikku dan anakku." Cia berbisik penuh penekanan. Satu kalimat dan itu cukup membuat hati Helena sakit. "Kalau aku tidak mau?"


"Maka cap perempuan tidak tahu diri akan melekat padamu." Kali ini seringai terukir di bibir ibu hamil itu.


*****


Wanita itu mendudukkan dirinya di bangku taman yang ada di tepi jalan. Menengadahkan kepalanya, Helena berusaha menghalau air mata yang hampir menetes dari matanya. Meski pada akhirnya, Helena tidak mampu lagi menahannya. Wanita itu menangis tersedu di pinggir jalan. Tidak peduli pada orang yang lalu lalang menatap aneh padanya.


Cukup lama wanita itu menangis, sampai akhirnya dia menghapus air matanya. Lantas berlalu dari sana.


"Shen apa Helena masih di kantor?" tanya Arash pada asisten sang istri. Sebuah jawaban mengecewakan Arash dapat dari Shen. Arash menggelengkan kepalanya. Dia tidak menemukan Helena di kamarnya. Dan wanita itu tidak ada di kantornya. Di tambah Shen memberitahu kalau Helena sudah keluar kantor sejak jam dua siang.


"Ke mana kamu?" batin Arash cemas. Dia memang belum menemukan celah untuk membantah tes DNA itu. Tapi apapun itu, dia bertekad tidak akan melepas Helena.


Pria itu menyambar jasnya kembali, lantas keluar dari apartemennya. Melajukan mobilnya di tengah padatnya jalanan kota itu. Helena meninggalkan mobilnya di kantor. Berarti wanita itu pergi menggunakan taksi.


Arash beberapa kali memukul kemudinya. Beberapa kali menghubungi ponsel Helena tapi tidak aktif. Hal itu membuat Arash semakin frustrasi.

__ADS_1


Di waktu yang sama, tapi situasi berbeda. Senyum Helena terlihat mengembang setelah melihat Brigitta keluar dari ruang ganti. Ya, hari itu Helena menemani sang sahabat yang telah mendapat maafnya, untuk fitting gaun pengantin. Secara mengejutkan, Brigitta memberitahu kalau Brigitta akan menikah minggu depan. Sebuah berita yang membuat mulut Helena ternganga.


Wanita itu bahkan tidak percaya pada awalnya. Tapi Rian, calon suami Brigitta meyakinkan Helena kalau dirinya tidak salah dengar. Pria itu berdalih kalau orang tuanya akan segera kembali ke kampung halamannya. Jadi keduanya meminta Rian untuk mempercepat pernikahannya. Brigitta tidak masalah jika tidak ada pesta pernikahan untuknya. Meski Rian menjanjikan akan memberinya grand wedding setelah persalinan wanita itu.


"Kau benar-benar pintar menyembunyikan dirimu, tuan Wijaya."


Helena tersenyum penuh arti pada Rian. Pria itu seketika tersenyum. Helena tahu benar siapa Rian. "Kau benar-benar memiliki mata yang jeli Helen."


Helena terkekeh mendengar perkataan Rian. "Aku anggap itu pujian." Giliran Rian yang tertawa. "Di mana Arash Tan. Aku dengar kau mengacaukan pestamu?" Satu alis Rian terangkat saat pria itu bertanya.


"Sedikit insiden akan membuat semuanya lebih seru bukan?"


Rian menggelengkan kepalanya, dia tahu benar bagaimana sifat Helena. Mengingat mereka pernah bersama selama 8 bulan. Rian adalah kekasih Helena saat wanita itu masih kuliah


"Suamimu akan membunuhku jika dia tahu kita berduaan di sini."


"Kita bertiga dengan Brigitta dan banyak staf lain di sini." Rian menatap lekat wajah Helena. Pria manapun akan menyesal telah melepas wanita seperti Helena. Termasuk dirinya.


"Aku harap kau tidak mengulangi kesalahanmu. Bri, dia cukup menderita selama ini," Pesan Helena.


Rian melihat ke arah ruang ganti. Rian berpikir kalau Helena begitu peduli pada Brigitta setelah apa yang Brigitta lakukan pada Helena. Pria itu sudah tahu semuanya. Kisah antara Helena, Evan dan Brigitta. Tapi kemudian Rian teringat, kalau Helena adalah wanita yang sangat baik. Hatinya seluas samudera. Hingga semua perbuatan salah akan tenggelam seperti tak berbekas di hati Helena.


"Kau terlalu baik Helen Amara Liu. Bahkan pengkhianatan sahabatmu pun, kau mampu memaafkannya." Batin Rian masih melihat ke arah ruang ganti. Tidak berani melihat ke arah Helena yang tengah memainkan ponselnya.


****

__ADS_1


__ADS_2