
Arash mengulum senyumnya, melihat Helena yang menuruti permintaannya. Mereka akan tidur dalam satu ranjang mulai malam ini. Sama seperti kebiasaan banyak pria, Arash juga mengikuti trend itu, tidur tanpa baju alias topless. Helena sendiri tidak terlalu terkejut ketika tahu soal itu. Ya, dia sudah biasa melihat pria topless bahkan naked di klub malam.
Berbeda dengan Arash, pria itu langsung ngiler ketika Helena tidur memakai kemeja longgar miliknya. Separuh paha mulus Helena terpampang di depan mata Arash. Panas dingin gak tu, 🤣🤣
"Kenapa kau melihatku seperti itu?" ledek Helena. Arash langsung menghilangkan wajah pengennya. "Kenapa ya perempuan tu selalu terlihat seksi kalau pakai kemeja pria," kata Arash terus terang.
"Nggak mempan ya," lagi Helena berkata dengan nada mengejek. "Aku tidak sedang merayumu, Nyonya Tan," bisik Arash. Keduanya sudah duduk di atas ranjang king size Arash. Pria itu baru tahu kalau Helena memakai hot pants sewarna dengan kulit putihnya. "Aku pikir dia sudah siap tempur. Ternyata masih ada benteng penghalangnya. Bikin repot saja!" gerutu Arash dalam hati.
"Lalu, berapa perempuan yang sudah kau lucuti kemejanya?" tanya Helena acuh. "Astaga, pertanyaanmu begitu amat,"
"Lalu?" lanjut Helena. "Aku belum pernah melucuti kemeja cewek manapun, sebab mereka bersedia melepas pakaian mereka .....aduh Helen sakit......" Arash menahan bantal yang Helena pukulkan padanya. "Tu mulut disekolahin dulu, kalau ngomong biar berpendidikan," salak Helena.
"Dengarkan aku, aku belum selesai bicara. Kalau aku memintanya....busyet dah malah makin keras mukulnya," keluh Arash, ketika Helena semakin membabi buta memukulinya. "Jadi bekasmu sudah banyak, hiiiii....." Helena bergidik ngeri.
"Tapi aku tidak pernah memintanya," kata Arash cepat. "Ha?" Helena melongo. "Satu-satunya perempuan yang aku robek paksa bajunya ya cuma kamu! Soalnya kamu seorang yang menolakku! Bikin penasaran saja!" kata Arash penuh penekanan. Helena menghentikan pukulan bantalnya. Wanita itu langsung teringat bagaimana Arash merobek kemeja dan gaun pengantinnya. "Sudah ingat?" tanya Arash sembari menaikkan satu alisnya.
"Eerrrr......" Helena seketika kehilangan kata balasannya. "Bahkan Cia saja yang memaksaku waktu itu," tambah Arash. Helena mendelik mendengar perkataan Arash. "Ehhh kucing garong, di mana-mana kalau kucing di kasih ikan asin ya langsung di embat," balas Helena.
"Maksudnya?" tanya Arash tidak paham. "Maksudnya, elu kucing garongnya, si Cici ikan asinnya, ya langsung elu embatlah, enak gitu," cibir Helena.
__ADS_1
"Lalu kalau sekarang? Kalau aku kucing garongnya, lalu ikan asinnya siapa?" goda Arash.
"Mampus gue!" maki Helena dalam hati. Niat hati ingin mengerjai Arash, malah dirinya sendiri yang kena. "Ehh....mau apa kamu?" Helena mendorong jauh dada polos Arash yang mulai mendekatinya. "Ngembat ikan asinlah. Siapa suruh ikan asinnya ada depan mata," balas Arash.
"Woiii, gue bukan ikan asin....awwww Arash...jangan gigit!" Helena meronta ketika sang suami mengendus ceruk lehernya. Lantas menggigitnya. Kaki Helena menghentak-hentak kasur Arash menahan geli sekaligus mencari cara lepas dari tindihan Arash.
"Makanya jangan sembarangan ngomong kucing garong sama ikan asin, aku embat beneran, nangis lagi kamu nanti," kata Arash lantas membaringkan tubuhnya di samping Helena. Menyembunyikan wajahnya di lengan sang istri. Sementara tangan pria itu memeluk erat perut rata Helena. Membuat wanita itu tidak bisa bergerak.
"Arash, tanganmu berat. Sesak!" kata Helena, mencari jalan keluar dari situasi canggung itu. Arash tidur topless memeluk dirinya yang kemejanya sudah naik ke perutnya. Menampilkan hot pants ketatnya yang memperlihatkan samar lekuk pahanya yang menggoda. "Aduuuhhhh, beneran jadi ikan asin aku kalau begini kondisinya."
"Arash...Arashhh...selimut....dingin," pinta Helena. Dia pikir harus segera menutupi tubuhnya. "Emmmm," gumam pria itu. "Ehh....kamu sudah tidur?" tanya Helena mendengar suara Arash. "Bayar utang, Nyonya Tan. Waktu kamu gelud sama Evan aku tidak tidur sama sekali. Takut kamu kenapa-kenapa," jawab Arash setengah sadar.
"Aku tidak tahu apa yang aku rasakan padamu. Tapi aku mulai merasa nyaman dengan keberadaanmu di sisiku," batin Helena kembali. Lalu ikut memejamkan mata.
*****
"Huwekkkkk," Suara Brigitta muntah. Ini sudah yang keberapa kalinya, dia sendiri tidak tahu. Wanita itu langsung bersandar di sisi wastafel setelah membasuh mulutnya. "Selamat, kehamilan memasuki bulan ke dua," ucapan seorang dokter kandungan yang memeriksanya kembali terngiang di kepala Brigitta.
Wanita itu terpaksa memeriksakan diri setelah dirinya mengalami morning sick yang cukup parah. Beberapa teman di kantornya mulai curiga kalau dirinya hamil. Tapi karena mereka kerap melihat Evan menjemputnya. Jadi mereka pikir kalau itu pasti anak pacarnya.
__ADS_1
Brigitta hampir saja meluruhkan air matanya, ketika dengan cepat wanita itu mengusapnya. Dia pikir, dia tidak boleh lemah sekarang ini. Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri saat ini. Evan sudah tidak peduli lagi padanya. Pria itu benar-benar menganggap hubungan mereka sebatas untuk bersenang-senang.
Wanita itu tidak ingin menyesali semua yang terjadi. Sekarang dia hanya ingin bertahan dan merawat bayinya kelak. Hal lain dia tidak peduli. Hanya saja dia masih punya keinginan untuk minta maaf pada Helena.
"Aku harus bertahan," tekad Brigitta. Wanita itu bangkit lantas merapikan penampilannya. Keluar dari toilet, wanita itu mendengar bisik-bisik. Dia tahu benar, mereka tengah membicarakan dirinya. Tapi wanita itu tidak peduli.
"Ta, dipanggil pak Rian tu," Nia temannya memberitahu. Brigitta menarik nafasnya dalam. Bisa dipastikan kalau masalah lain akan segera datang. "Selamat siang, Pak. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Brigitta, melihat pada seorang pria berwajah lumayan tampan. Pria itu berusia sekitar awal tiga puluhan.
"Begini, Brigitta ini soal gosip yang beredar....."
Brigitta menggigit kukunya, dia sedang bingung. Bumil itu dari tadi berjalan mondar mandir di apartemennya. Hatinya galau memikirkan pembicaraannya dengan Rian siang tadi.
"Saya tahu masalah yang sedang kamu hadapi. Karena itu, saya ingin menawarkan sebuah solusi padamu. Menikahlah denganku."
Ucapan Rian jelas seperti angin segar untuknya. Pria itu beralasan ingin menolak perjodohan yang sudah disiapkan oleh orang tuanya. Orang tua Rian akan membatalkan perjodohan itu jika Rian membawa calon istri ke hadapan mereka. Atasan Brigitta itu memang sedikit punya rasa padanya. Dia tahu dari Nia yang tidak sengaja mendengar pembicaraan Rian dengan sahabatnya.
"Tapi saya sedang hamil, Pak," kata Brigitta terus terang. "Dan dia tidak mau bertanggungjawab?" tanya Rian. Brigitta memberitahu kalau Evan bahkan tidak tahu dirinya hamil. Dan pria itu berkata agar jangan memberitahu Evan soal kehamilannya. Dia yang akan bertanggung jawab. Brigitta langsung mengerutkan dahinya.
"Apa masih ada pria sebaik Rian di muka bumi ini? Mau menerima anak yang bukan darah dagingnya sendiri?" Brigitta bertanya dalam hatinya. Bingung bagaimana menanggapi penawaran dari Rian, yang bisa jadi solusi bagi semua masalah yang sedang Brigitta hadapi.
__ADS_1
*****