
Kredit Pinterest.com
Mentari pagi masih mengintip dari balik peraduannya. Si penguasa siang itu masih malu-malu untuk menunjukkan wujud keseluruhannya. Semua penghuni villa masih terlelap. Dengan para pria yang tidur berjejer di ruang tamu. Mereka menggelar kasur lantai lalu beramai-ramai tidur di sana. Tidak peduli jika nanti mereka akan merasa pegal di seluruh badannya.
Meski begitu, tidak bagi Helena. Bumil itu sudah terlihat rapi, memakai gaun putih transparan di bagian bawah dan sleeveless. Tapi wanita itu melapisinya dengan mantel panjang.
Di usia kehamilannya yang memasuki lima bulan, perut Helena belum terlihat besar. Hanya tampak lebih besar dari perut Helena yang biasanya rata.
Wanita itu menikmati udara pagi sembari berjalan di bibir pantai. Bermain dengan air yang membasuh kaki Helena yang telanjang.
Bersamaan dengan itu mobil Arash mulai memasuki kawasan villa Rian. Arash yakin dia tidak salah tempat. Hanya ada dua villa di wilayah itu. Dan ditempat itu penuh dengan deretan mobil yang tengah diparkir. Salah satunya mobil Hugo dan Shan.
Dada Arash berdebar kencang. Hampir empat bulan berpisah dengan Helena, dia sangat merindukan sang istri. Dengan langkah penuh semangat, Arash masuk ke dalam villa itu.
Kredit Pinterest.com
Mata Arash memicing melihat Shan, Ang dan Hugo juga sang papa mertua, Rafael tidur di sofa.
"Kalian ini benar-benar keterlaluan!"
Teriak Arash. Hingga empat pria itu langsung bangun terduduk. Keempatnya mengucek mata masing-masing. Lalu melihat ke arah Arash.
"Ini pasti mimpi Ang. Arash mana mungkin ada di sini."
Gumam Shan lirih. Keempatnya lalu tidur lagi. Hingga teriakan Shan membuat ketiganya bangun lagi.
"Aku bukan mimpi, kampret!"
Maki Arash. Mereka seketika membulatkan matanya. Tidak percaya jika Arash ada di depan mereka.
"Mana Helena?"
Arash bertanya keras. Semua menunduk takut pada Arash, kecuali Rafael yang langsung berdiri dan menghadapi Arash, sang menantu.
"Kenapa kamu ada di sini?"
"Aku ingin bertemu Helena, Pa. Aku rindu padanya."
Kata Arash dengan mata berkaca-kaca. "Aku mohon, biarkan aku bertemu dengannya, Pa." Mohon Arash.
Rafael melihat Arash begitu tersiksa. Tubuh Arash tidak terurus. Wajah pria itu ditumbuhi bulu-bulu halus. Tidak ada lagi Arash yang klimis. Tubuh kurus, wajah kuyu dengan mata sayu, lelah.
Arash menunduk, menanti keputusan Rafael. Saat itu semua orang sudah berkumpul di ruang tamu setengah outdoor itu. Hingga satu suara membuat Arash mengangkat wajahnya.
"Siapa Pa?"
__ADS_1
Tanya Helena ragu. Meski dari belakang dia bisa menebak postur tubuh Arash. Mendengar suara Helena, Arash langsung menoleh. Detik berikutnya pria itu sudah berlari menubruk Helena. Memeluk erat sang istri.
Untuk sesaat, Helena membeku di tempatnya berdiri. Dia tidak percaya kalau Arash akan mencarinya sampai ke sini.
"Helena, aku sangat merindukanmu. Jangan pergi lagi dariku."
Bisik Arash lirih. Mendengar perkataan Arash, air mata Helena tidak lagi bisa dibendung. Wanita itu menangis tersedu-sedu dalam pelukan sang suami.
Di dalam ruang tamu, semua orang hampir bersamaan mengusap air mata di pipi masing-masing. Mereka terharu melihat pertemuan Arash dan Helena. Hanya Rafael saja yang menghembuskan nafasnya kasar. Hingga usapan dari Valerie di llengannya, berhasil menenangkan Rafael.
"Yah, mungkin sudah waktunya mereka bertemu."
*
*
"Mana dia?"
Hugo bertanya. Pria itu masih tiduran di kasur lantai. Shan dan Ang pun sama.
"Tidur."
Helena menjawab singkat. Wanita itu tengah berbalas pesan dengan Brigitta. Sahabatnya itu menceritakan bagaimana Arash tengah malam menggedor pintu rumahnya, untuk bertanya soal dirinya.
Patut saja, Arash langsung tidur begitu membaringkan tubuhnya di kasur. Padahal Helena menyuruhnya sarapan dulu. Pria itu pasti mengantuk setelah semalam tidak tidur.
"Lalu apa keputusanmu?"
"Anak Cia bukan anak Arash tapi anak Aldo. Tes DNA ulang sudah dilakukan. Hanya saja, Cia masih koma sampai sekarang."
Sebuah pesan dari Rian masuk ke ponsel Helena. Wanita itu cukup terkejut. Jadi yang dikatakan Arash adalah benar. Helena terdiam, terhanyut dalam lamunanya.
Matahari sudah berada di puncaknya, ketika Arash mengerjapkan matanya. Sejenak dia terdiam. Mengumpulkan ingatannya kembali. Hingga kemudian dia berlari keluar kamar.
"Helena! Helen!"
Pria itu berteriak, membuat seantero villa bergema. "Apa sih?"
Helena hampir berteriak balik mendengar teriakan Arash. Tapi teriakan Helena tertelan kembali ketika Arash kembali memeluknya.
"Aku takut kamu pergi lagi. Aku takut."
Pria itu menempatkan wajahnya di ceruk leher Helena. "Aku tidak akan ke mana-mana, sementara ini..."
Arash segera melepaskan pelukannya. Menatap dalam wajah Helena yang terlihat lebih kurus. "Apa dia menyusahkanmu?"
Tiba-tiba Arash bertanya, sambil mengusap perut Helena. Wanita itu tentu terkejut. Bagaimana Arash bisa tahu kalau dirinya hamil.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Kamu hamil, Helen. Kamu hamil anakku. Yang ini benar-benar anakku."
Kali ini Helena kehabisan kata untuk menyangkal. Dia tidak bisa mengingkari ucapan sang suami.
"Jangan membohongiku lagi."
Pria itu mendekap tubuh Helena. Lalu menceritakan semuanya. Tanpa ada satu pun yang terlewat.
"Lalu Sassy bagaimana? Kasihan sekali dia."
Arash pun menjelaskan kalau sementara ini Sassy akan diasuh perawat dari rumah sakit itu. Mengingat Aldo full time merawat Cia.
"Beri aku kesempatan, oke? Aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku sudah bicara pada Aldo. Dia juga memintaku kembali padamu."
"Jadi jika bukan karena Aldo, kamu gak bakalan ada di sini."
Duh.....salah ngomong. Arash menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Pria itu kelabakan harus menjelaskan bagaimana pada Helen. Sampai akhirnya, Arash harus bersusah payah membujuk Helena.
"Aturan itu dari dulu sama saja. The women is always right. Wanita itu selalu benar."
"Ayolah Helen...krruuuukkkkk,"
Perut Arash berbunyi menghilangkan semua momen manis yang tercipta di antara keduanya. Tak berapa lama, senyum Arash terukir jelas di wajah pria itu. Saat Helena duduk di depannya menemaninya makan. Sudah lama keduanya tidak makan bersama. Ada rasa haru sekaligus bahagia di hati Arash. Meski rasa bersalah tetap ada dalam diri pria itu.
Helena sedikit menjauh ketika Arash mulai acara makannya. Hingga suara Hugo terdengar.
"Menjauhlah kalau makan nasi. Anakmu bule. Bau nasi saja muntah."
Seloroh Hugo tanpa rasa bersalah. Dan benar saja, Arash bahkan belum sempat menelan makanannya, Helena sudah berlari menuju wastafel.
Pria itu langsung menyusul Helena. Membantu memijat tengkuk sang istri.
..."Kenapa tidak bilang kalau dia gak suka nasi."...
Helena menggeleng lemah. Wanita itu menyuruh Arash untuk menghabiskan makanannya. Sementara dirinya menjauh, duduk di ruang tamu bersama Hugo.
"Jangan nempel lagi ma gue. Nooohh bokapmu dah datang."
Seloroh Hugo melihat Helena yang duduk di depannya. Wanita itu tidak menggubris perkataan sang adik.
Dari kejauhan terdengar yang lain masih bermain dengan air di pantai itu. Mereka terdengar sangat bahagia. Tawa Ang dan Shan mendominasi di antara jeritan Shen dan Meisya.
"Jadi sudah ada keputusan?"
Hugo bertanya. Dan Helena kembali menggeleng. Dia masih bingung dengan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Kembalilah. Dia cukup tersiksa belakangan ini."
Helena dan Hugo saling tatap. Ketika tahu Arash dan Helena memutuskan berpisah waktu itu, Hugo sangat marah. Dia menyalahkan Arash atas semua yang terjadi. Tapi belakangan dia menyelidiki semuanya. Kesimpulan terakhir Hugo, Arash tidaklah seburuk seperti apa yang dipikirkannya. Sebab itu dia menyarankan sang kakak untuk kembali pada Arash.
__ADS_1
****