Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Terbongkar Juga


__ADS_3

Helena terlihat menangis tersedu-sedu. Dengan Arash yang terus menghiburnya tanpa henti. Memeluk wanita itu sembari menciumi puncak kepala Helena. Helena jelas shock dengan apa yang baru dia lihat beberapa waktu lalu. Keduanya sudah ada di kamar wanita itu. Sedang Shen dan Shan ada di ruang tengah.


"Evan dan Brigitta benar-benar keterlaluan!" maki Shan sedari tadi. Sedang Shen sejak tadi hanya memandang pintu kamar Helena sambil beberapa kali menarik nafasnya.


"Dia pasti benar-benar terkejut dengan hal ini," sambung Shan.


"Bukan hanya terkejut. Shock...jantungan....kecewa. Aku harap Arash bisa menenangkan Helen. Kau tahu kan dia itu seperti apa jika sudah kecewa dan sedih," timpal Shen.


"Bagaimana bisa mereka melakukan itu di belakang Helen. Tanpa sepengetahuan kita," pria itu kembali berucap kesal.


"Kalau aku ingat wajah mereka tadi. Rasanya pengen tak bejeg-bejeg sampai hancur kayak kremesan,"


"Loh kok kremesan?"


"Asal aja," jawab Shen acuh. Ingatan keduanya kembali ke beberapa jam sebelumnya.


Flashback on


"Tunggu Shan datang. Kita akan masuk dengan kunci duplikat," Arash menahan tangan Helena yang ingin mengetuk pintu kamar Evan dan Brigitta.


"Memangnya bisa?" Shen yang bertanya.


"Hotel ini milik Wang Enterprise. Aku sudah menghubungi Andrew Wang. Kolegaku. Dia memberikan akses penuh pada kita," jelas Arash.


"Kolega apa teman nguber cewek!" sarkas Helena.


"Itu dulu Helen. Sekarang kami kolega bisnis," sahut Arash sambil nyengir. Dia pikir kenapa Helena bisa tahu kalau dia dan Andrew dulu mengincar satu gadis yang sama. Sampai akhirnya dia ingat, papa Helena kan berteman dengan ayah gadis incarannya dulu. Pasti Rafael yang cerita pada Helena.


Padahal tidak, Helena memang tahu cerita itu dari yang bersangkutan langsung. Helena berteman dengan gadis incaran Arash dan Andrew, Clara Huang.


Tak berapa lama Shan datang dengan seorang manager mengekor di belakang kakak Shen itu. Setelah membuka kunci pintu kamar. Manager itu berlalu dari sana. Mempersilahkan Arash dan yang lainnya menyelesaikan masalahnya. Dengan jaminan tidak ada keributan yang akan mengganggu kenyamanan tamu hotel lainnya.


"Kau siap?" tanya Arash. Helena menarik nafasnya dalam. Sebelum menghembuskannya kembali. Lantas mengangguk yakin pada sang suami. Helena berusaha menyiapkan mental dan hatinya. Wanita itu terlihat tenang padahal dadanya berkecamuk hebat.


Perlahan pintu, Arash buka. Pria tersebut masuk lebih dulu. Diikuti Shan di belakangnya. "Apa aku boleh merekam apa yang akan terjadi?" bisik Shan lirih pada sang adik.

__ADS_1


Shen langsung mendelik tajam pada Shan. "Jangan aneh-aneh kamu!" ketus sang adik. Shen pikir bagaimana bisa Shan bisa kepikiran untuk melakukan hal itu. Padahal dia sudah berdebar sejak tadi, rasanya seperti masuk rumah hantu. Dan Shen yakin, perasaan Helena tak akan jauh beda dengan dirinya. Bahkan mungkin lebih parah.


Masuk ke ruang tamu. Mereka tidak menemukan apa-apa. Hal itu semakin menguatkan dugaan kalau Evan dan Brigitta memang ada apa-apa di belakang mereka. Kalau mereka sadar dengan posisi mereka yang hanya teman. Tentu Evan dan Brigitta akan bertemu di ruang tamu saja. Tidak akan lebih.


Memasuki ruang tengah dan dapur, kembali kosong. Satu-satunya tempat yang belum mereka masuki adalah kamar. Hotel yang dipesan Evan memang tipe suit yang komplit ruangannya.


Arash dan Shan langsung menuju kamar. Tanpa menunggu lama, pria itu langsung membuka pintu. Dan sebuah pemandangan panas langsung menyambut mereka. Helena dan Shen seketika membekap mulut masing-masing. Tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.


Di hadapan mereka, Evan dan Brigitta sedang berciuman panas. Dengan pakaian yang sudah separuh terbuka. Bahkan Evan saat itu sudah menindih tubuh Brigitta. Dua orang itu seolah tidak sadar tengah menjadi tontonan empat pasang mata. Eh salah, tiga pasang mata. Sebab Arash lebih tertarik untuk melihat reaksi Helena. Melihat perbuatan busuk sang kekasih dan sahabatnya sendiri.


Evan dan Brigitta masih terus melanjutkan aksinya. Hingga akhirnya suara Arash membuat keduanya berhenti.


"Jangan dilihat terus, jika itu hanya akan menyakitimu," ucap Arash ketika melihat mata Helena mulai berkaca-kaca. Dengan tubuh yang mulai lemas dalam pelukannya.


Betapa terkejutnya Evan dan Brigitta, begitu melihat empat orang berdiri di depan pintu. Menonton aksi panas mereka. "Helena....!" Evan langsung turun dari ranjang. Mendekat ke arah Helena.


"Plaaakkkkkk!" sebuah tamparan langsung Helena berikan pada Evan. Begitu pria itu dalam jangkauan tangan istri Arash.


"Jadi ini yang kalian lakukan di belakangku?!" teriakan Helena melengking di kamar tersebut. Wanita itu sudah sepenuhnya melepaskan diri dari pelukan Arash. Berjalan ke arah Brigitta yang sibuk membetulkan pakaiannya. Helena menatap garang pada sang sahabat.


"Helen....maafkan aku. Aku...aku....salah. Aku tergoda oleh Evan. Aku...."


"Dia yang menggodaku Helen," potong Evan cepat. Brigitta langsung melotot ke arah Evan. Bagaimana bisa Evan melimpahkan semua kesalahan padanya.


"Evan....bagaimana bisa kau mengatakan itu pada Helen?" Brigitta gantian yang marah.


"Memang benar begitu kan? Jika malam itu kau tidak menggodaku. Aku tidak mungkin terjerat padamu...."


"Evan.....!"


"Cukup!" Helena menatap tajam pada Evan dan Brigitta bergantian. Sebuah vas bunga sudah Helena banting untuk meluapkan kemarahannya.


"Helen sudah," Arash mendekat. Lantas memeluk sang istri. Evan langsung emosi melihat hal itu. Dia tidak rela Helena dekat dengan Arash.


"Menjauh dari Helena!" Evan merangsek maju. Ingin melerai pelukan sepasang suami istri itu. "Apa hakmu melarangku. Dia istriku!" balas Arash.

__ADS_1


"Tapi aku yang dia cinta!" sahut Evan. Brigitta langsung melayangkan tatapan tajamnya mendengar perkataan Evan.


Shen dan Shan kini berdiri, bersandar pada dinding sebelah pintu. "Kalau boleh aku ingin menhajar keduanya!" desis Shen penuh emosi. Ucapan sang adik langsung mendapat anggukan dari sang kakak. "Sama." Dua beradik itu hanya bisa menonton drama perselingkuhan Evan dan Brigitta.


"Cinta kepalamu! Kalau kau cinta padaku, kau tidak mungkin mengkhianatiku. Apalagi dengan dia!" Teriak Helena. Dada Helena naik turun menahan emosinya.


Evan seketika menundukkan kepalanya. "Semua berakhir sampai di sini Van. Kita putus. Dan kau.....aku tidak punya sahabat yang tidur dengan kekasih temannya," ucap Helena setelah diam beberapa waktu.


"Helen jangan lakukan ini. Aku tidak mau berpisah darimu," mohon Evan. Sedang Brigitta hanya bisa menangis tersedu mendengar perkataan Helena.


"Aku tidak pernah berniat mengkhianatimu....."


"Nyatanya kau melakukannya. Dan yang tidak masuk akal kau melakukannya dengan Brigitta. Bisa mikir tidak otakmu. Bagaimana kalau sampai Helena tahu tingkah kalian!" Suara Arash menggelegar di kamar itu.


"Jangan ikut campur! Ini urusanku dengan kekasihku!" sahut Evan tidak kalah kerasnya.


"Kita tidak ada hubungan apa-apa lagi. Kau tidak dengar ucapanku tadi. Kita putus. Kau tahu kan prinsipku. Aku tidak memaafkan pengkhianatan apapun bentuknya!" tegas Helena. Wajah wanita itu terlihat tegar meski air mata mulai membasahi pipinya.


Flashback off


"Bagaimana Helen?" tanya Shen. Wanita itu begitu khawatir dengan keadaan atasan sekaligus bosnya itu.


"Tidur," jawab Arash. Mengambil air mineral lantas menenggaknya. Penampilan pria itu cukup berantakan. Mengingat Helena langsung mengamuk begitu masuk ke kamarnya. Arash baru saja memindahkan Helena ke kamarnya melalui pintu penghubung (connecting door). Mengingat kamar Helena hancur berantakan karena istri Arash itu membanting semua benda di sana tanpa bisa dicegah dan dihentikan oleh siapapun. Helena kalau ngamuk serem.


"Aku sungguh tidak menyangka. Hari ini akan dapat kejutan dari Evan dan Brigitta," ucap Shan lirih.


"Kejutan apanya? Ini tragedi!" balas Shen dramatis.


"Kejutan atau tragedi ujung-ujungnya sama saja. Menyakitkan bagi Helen!" Salak Arash.


Dua beradik itu langsung kicep mendengar ucapan Arash. Arash sendiri langsung memijat pelipisnya. Dia pun tidak menyangka jika Evan dan Brigitta sudah sejauh ini mengkhianati Helena.


"Terbongkar juga kebusukanmu, Evan Lin," batin Arash.


****

__ADS_1


__ADS_2