Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Berhak Tahu


__ADS_3

Evan sangat marah, melihat Arash dan Helena terlihat bahagia. Tanpa pikir panjang lagi, pria itu melajukan mobilnya secepat yang dia bisa. Hingga terdengar bunyi benturan yang sangat keras. Baik Arash maupun Helena terlempar beberapa meter dari tempat mereka semula.


Keduanya jatuh berguling-guling di aspal depan rumah sakit. Jika Arash langsung bisa bangun meski kepalanya terluka. Namun tidak dengan Helena. Wanita itu langsung tidak bergerak begitu tubuhnya berhenti berguling.


Darah mengalir deras dari kepala dan.....terlihat dari dua belah kaki Helena. Arash panik, pria itu langsung minta tolong. Satu brangkar pasien langsung datang. Tubuh Helena langsung masuk ke ruang UGD. Meninggalkan Arash yang terduduk lemas di depan pintu UGD.


"Halo....Ma....."


*


*


"Bagaimana keadaannya?"


Rafael bertanya pada Valerie yang langsung menggelengkan kepalanya lemah. Melihat ke arah Arash yang hanya diam mematung. Menatap ke arah pintu UGD dengan tatapan kosong.


"Kak...aku sudah menemukan pelakunya. Dia sudah ditangkap."


Perkataan Hugo membuat kesadaran Arash terkumpul kembali. "Antarkan aku padanya. Aku akan menghajarnya."


Arash berucap penuh emosi. Pria yang kepalanya sudah dibalut dengan perban itu, berusaha memberontak dari cekalan Rafael dan William.


"Arash, tenanglah. Jangan bertindak gegabah. Sekarang yang penting adalah memastikan keadaan Helena."


Mendengar nama Helena disebut, Arash seketika menghentikan gerakannya. Mata pria itu berkaca-kaca. Bersamaan dengan itu, pintu ruang UGD terbuka. David keluar dengan raut wajah tidak terbaca.


"Arash, ada yang ingin aku bicarakan denganmu."


David berkata to the poin. Tanpa basa basi seperti biasanya. Dengan langkah gontai Arash mengikuti David masuk ke ruangan UGD. Meninggalkan yang lain dalam pikiran harap-harap cemas.


Suasana begitu hening mencekam. Tanpa ada satu pun yang berani mengeluarkan suaranya. Valerie dan Viviane tampak saling menggenggam tangan satu sama lain. Sementara para pria tampak kalut dengan benak masing-masing.


Dua puluh menit berlalu, pintu ruang UGD terbuka. Menampilkan Arash yang terlihat tidak mampu bergerak. Hingga Rafael dan Hugo harus memapahnya.


"Arash, apa yang terjadi?"


Viviane bertanya pelan, sangat pelan. Arash sesaat hanya diam. Hingga ketika matanya bertemu mata Valerie, yang mana mata Valerie diturunkan langsung pada Helena. Tangis Arash pecah. Pria itu jatuh bersimpuh di depan Valerie. Memeluk kaki Valerie, hingga wanita itu kebingungan.


"Arash....."


"Maafkan aku, Ma.Tapi aku memerlukan Helena di sampingku."

__ADS_1


Lagi, sebuah keputusan berat harus Arash ambil. Pria itu menangis untuk beberapa waktu. Sementara dua wanita itu hanya bisa memeluk Arash, berusaha menguatkan pria itu.


*


*


"Lepaskan aku! Lepaskan aku! Aku tidak bersalah!"


Teriakan Evan menggema di sel tahanan yang dia huni bersama tahanan lainnya. Suara berisiknya berkali-kali mendapat teguran dari teman satu selnya. Tapi pria itu mengacuhkannya. Dia tidak peduli. Yang dia inginkan hanyalah keluar dari tempat sempit dan pengap itu.


Seorang petugas yang berjaga di sana juga tampak tidak menggubris teriakan Evan. Petugas itu seolah sudah kebal dengan hal seperti itu.


Suara telepon yang berbunyi membuat petugas itu mengangkatnya. Tak berapa dia membuka pintu ruangan sempit itu.


"Evan Lim. Ada yang ingin menemuimu."


Evan jelas bersorak gembira. Itu pasti Nella, sang sekretaris yang datang menjemputnya. Atau setidaknya wanita itu membawa pengacara untuknya. Hati Evan sudah senang bukan kepalang.


Tapi begitu sampai di ruang kunjungan. Dia malah melihat tiga pria yang satu di antaranya adalah momok paling menakutkan bagi Evan. Rafael, pria itu langsung bangkit dari duduknya. Tidak peduli pada apapun, dia langsung menghantam satu sisi wajah Evan dengan bogem mentah full power.


Evan langsung meraung kesakitan, dengan sudut bibir berdarah. Sementara seorang polisi langsung menahan Rafael yang ingin menghajar Evan lagi.


Teriak Rafael. Suara pria itu menggelegar bak petir yang menyambar kala hujan deras melanda.


Evan tertunduk. Dia pikir yang dia lakukan hanya menyerempet dua orang itu. Takkan mereka terluka parah. "Aku hanya menyerempet mereka."


Jawaban lirih Evan membuat Hugo yang naik darah kali ini. Pria muda itu merangsek maju, mencengkeram kerah Evan. Dua orang polisi berusaha menghentikan aksi brutal Hugo itu.


"Aku tidak peduli jika setelah ini aku dipenjara. Tapi aku ingin sekali membunuhmu, baj*****. Kau tahu....gara-gara kau, kakakku harus kehilangan bayinya. Kau membunuh anak kakakku!"


Teriak Hugo keras. Tubuh Evan mendadak lemas mendengar ucapan Hugo.


"Anak? Helena sedang hamil? Tidak...itu tidak mungkin!"


Batin Evan ikut meronta. "Dan kini dia kritis, dua tulang rusuknya patah. Kau kejam, tidak punya hati, Evan!"


Suara Rafael semakin membuat dunia Evan runtuh.


"Dia kritis?"


Saat cekalan Hugo dilepas paksa. Tubuh Evan langsung jatuh terduduk. Pria itu tidak mampu bersuara. Bahkan sekedar untuk minta maaf. Lidahnya kelu tidak mampu bicara.

__ADS_1


Tanpa sadar bulir bening mengalir di sudut mata Evan. Bahkan ketika Willian mengajukan tuntutan padanya, Evan tidak menolak, tidak merespon.


"Kandungan Helena tidak bisa diselamatkan. Benturan itu mengakibatkan kantong ketubannya pecah. Dan bayinya harus dilahirkan paksa. Dengan usia kandungan di bawah enam bulan. Putra Helena tidak mungkin bertahan dengan alat bantu medis apapun. Sebab seluruh organ vital dalam tubuhnya belum terbentuk dengan sempurna. Lebih tepatnya belum matang."


Arash menangis pilu di depan makam sang putra. Pria itu sempat melihat sang putra untuk beberapa waktu. Putra Arash dan Helena lahir hidup. Tapi semakin lama, tubuhnya semakin melemah, hingga pada akhirnya bayi itu menyerah dan menghembuskan nafas terakhirnya setelah menghirup udara dunia luar selama enam jam.


William dan Rafael hanya bisa menepuk pelan bahu Arash. Berusaha menguatkan hati sang putra, meski hati mereka sama hancurnya dengan hati Arash.


Penyesalan bertubi-tubi datang menerpa Evan. Pria itu tidak lagi berteriak histeris minta dikeluarkan. Kini Evan hanya duduk diam di sudut. Memeluk lututnya sendiri, sembari menangisi kebodohannya.


William benar-benar berniat memenjarakan Evan. Pria itu memakai jasa pengacara terbaik di negeri ini. Semua bukti dan saksi sudah siap. Dan semua memberatkan Evan.


Evan sendiri tidak mengelak dari tuduhan yang dilayangkan padanya. Tiap kali dia menjawab pertanyaan dari petugas kepolisian, dia selalu menjawab dengan derai air mata mengalir di pipi. Dia sangat menyesali perbuatannya.


Satu minggu kemudian, keadaan Helena membaik. Masa kritis berhasil dia lewati setelah tiga hari berjuang. Sekarang tinggal menunggu masa penyembuhan bekas operasi caesar dan pemasangan platina pada dua tulung rusuknya.


Wanita itu belum banyak bergerak. Lebih tepatnya belum bisa. Suaranya pun masih terdengar lirih. Dalam waktu itu dia belum tahu kalau bayinya sudah dilahirkan dan meninggal.


Semua orang berusaha tampil ceria saat di hadapan Helena. Hingga wanita itu berpikir semua baik-baik saja.


Hingga di suatu pagi, dua minggu setelah kejadian mengerikan itu. Helena merasa aneh dengan perutnya. Ada rasa nyeri dan perih sekaligus dia rasakan di area bawah perutnya. Ditambah dia tidak lagi merasakan pergerakan sang bayi dalam kandungannya. Wanita itu mulai mencurigai sesuatu.


"By...."


"Hemmm...."


Arash yang tengah mengupaskan apel untuk Helena hanya berhmmmm ria menjawab panggilan Helena.


"Apa ada yang terjadi ketika aku terluka? Maksudku kenapa aku tidak merasakan bayi kita menendang seperti biasanya."


Deg, gerakan Arash mengupas apel terhenti.


"Semua akan terungkap cepat atau lambat. Kita tidak bisa menyembunyikan ini semua dari Helena terlalu lama. Terlebih dia ibunya. Dia berhak tahu."


****


Sedikit info,


Kasus seperti Helena pernah dialami oleh saudara author...tapi bayinya lahir normal, umur kandungan 5,5 bulan dan meninggal enam jam setelah dilahirkan. Dan penjelasan dokter kandungan sama seperti diatas. Bayi belum mampu bertahan hidup di luar kandungan karena organ vitalnya belum matang terbentuk.


****

__ADS_1


__ADS_2