Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Ketahuan


__ADS_3

"Jangan tinggalkan aku."


Aldo dan Arash saling beradu pandang. Melihat Cia yang terus menggenggam tangan Arash. Mereka sedang menuju ruang operasi. Hari ini, sebulan sejak kelahiran Sassy, anak Cia dan Aldo. Cia akan menjalani operasi pengangkatan kanker di kepalanya.


"Kami akan selalu berada di sini."


Arash menjawab, menenangkan Cia. Wanita itu tersenyum. Hingga brankar itu menghilang di balik pintu operasi. Dengan lampu operasi segera berubah merah.


Aldo dan Arash menarik nafasnya secara bersamaan. "Pergilah." Aldo berkata sembari mendudukkan diri di ruang tunggu.


Arash pun berlalu dari hadapan Aldo. Sebab operasi Cia akan berlangsung dalam dua jam atau tiga jam bahkan bisa lebih. "Hubungi aku jika terjadi sesuatu."


Aldo mengangguk mendengar pesan Arash. Pria itu tahu benar kalau Arash melakukan ini semata-semata untuk menolong Cia.


Sesampainya di kantor, Arash sudah disambut protes dari Shan dan Ang. Mereka menggerutu bagaimana bisa dia lebih memilih Cia daripada Helena.


"Kau gila Rash. Bagaimana kalau Helena benar-benar meninggalkanmu." Shan memulai aksi protesnya.


"Sudah kukatakan berkali-kali kalau ini hanya sementara."


Shan dan Ang mendengus kesal. Ya, Arash sudah berulangkali menjelaskan. Kalau ini sampai Cia sembuh. Setelahnya dia akan menata kembali rumah tangganya. Semoga saja dia belum terlambat.


Selanjutnya mereka pun melanjutkan pekerjaan mereka. Meski Arash tidak bisa fokus sepenuhnya. Beberapa kali dia melirik ponselnya. Dia cukup khawatir mengenai operasi wanita itu.


Hingga peringatan dari Shan mengembalikan fokus Arash. Aldo akan menghubunginya jika operasi sudah selesai atau terjadi sesuatu.


*


*


Sementara itu di tempat lain, di sebuah villa yang terletak di tepi pantai. Seorang wanita tengah duduk di teras depan, sambil menikmati sepiring buah-buahan segar sembari menggunakan laptopnya.



Kredit Pinterest.com

__ADS_1


Wanita itu tengah melakukan meeting online dengan seorang investor dari negara tetangga. Cukup lama berlalu hingga seulas senyum tercipta di bibir wanita itu, ketika dia berhasil menggaet investor itu untuk bekerjasama dengan perusahaannya.


Meeting selesai dan kini layar laptopnya sudah menampilkan seorang pria berwajah tampan dengan rahang tegas dan hidung mancungnya.


"Apa masih sering mual?"


Hugo bertanya pada Helena. Wanita itu adalah Helena, dia sudah dua minggu berada di villa milik Rian. Pria itu dengan senang hati meminjamkan villanya pada Helena. Setelah Brigitta memberi izinnya. Terlebih setelah Rian tahu kalau Helena tengah hamil.


"Wah anak kita akan sepantaran nanti."


Brigitta berseru senang. Apalagi tes DNA kehamilannya menunjukkan kalau bayi dalam kandungannya adalah anak Rian bukan anak Evan. Padahal Rian dulu sempat ragu kalau itu anaknya.


"Tidak, dia tidak rewel sekarang. Tahu sekarang tidak ada yang diganggunya."


Hugo melengos mendengar ledekan sang kakak. Dia sendiri heran, calon ponakannya itu suka sekali mengerjainya. Saat di dekat Hugo, Helena akan terus menempel pada sang adik. Hugo jelas risih. Tapi rasa mual yang Helena rasakan langsung hilang jika berada di dekat Hugo. Aroma sang adik bisa menenangkan sang anak.


"Dia memang menyebalkan seperti papanya."


Sahut Hugo cepat. Meski begitu, Hugo merasa lega melihat sang kakak baik-baik saja. Wanita itu terlihat lebih bahagia. Tidak seperti waktu dia ada di rumah mereka. Wajah Helena tampak lebih segar.


Setelah menyelesaikan pekerjaannya. Helena melanjutkan aktivitasnya dengan berjalan-jalan di tepi pantai. Membiarkan kaki telanjangnya basah oleh air pantai. Dia sangat menyukai pantai.


"Aku akan menjemputmu begitu semua selesai."


Helena menarik nafasnya setelah membaca pesan Arash. Dia tidak yakin kalau semua akan berjalan seperti yang mereka inginkan. Entahlah, perasaan Helena tidak enak saja.


Kembali ke rumah sakit, operasi Cia ternyata melar sampai enam jam. Ada banyak kendala yang dihadapi oleh oleh tim dokter yang menangani operasi Cia. Seperti detak jantung Cia yang tiba-tiba berhenti atau tekanan darah Cia yang turun drastis. Hingga tim dokter dibuat sedikit kelabakan di dalam ruang operasi.


Meski pada akhirnya operasi itu sukses dilakukan. Aldo langsung menhubungi Arash begitu operasi selesai. Pria itu bergegas menuju rumah sakit. Setelah pekerjaannya tinggal sedikit. Meninggalkan Shan dan Ang yang langsung menggerutu tidak jelas.


"Aaiihh, kalau aku jadi Arash, sudah kubuang jauh-jauh wanita yang bernama Valencia itu. Toh anak itu jelas bukan anak Arash."


Shan meluahkan kekesalannya di depan Ang dan Shen, sang adik. Mereka telah berkumpul di sebuah kafe. Menikmati suasana malam dan mengobrol bersama. Hal yang sudah lama tidak mereka lakukan. Sejak masalah Arash dan Helena tak kunjung selesai.


"Ya, kita tidak tahu apa pertimbangan Arash. Mungkin saja, dia dan Helena sudah membicarakannya."

__ADS_1


Ang mencoba melihat dari sisi lain. Tapi duo kembar itu terlihat tidak puas dengan pembelaan Ang.


"Tapi kan tidak harus sampai pisah rumah kali. Apalagi Helen sedang hamil.....uupppssss aku keceplosan..."


Shen langsung menutup mulutnya, sedang Shan dan Ang jelas terkejut.


"Ahh, aku hanya bercanda...itu tidak mungkin....."


Shen menghentikan ucapannya melihat tatapan penuh intimidasi dari dua pria di hadapannya. Shen menghela nafasnya. Sekali dua pria itu mendengar sebuah rahasia, maka telinga mereka tidak bisa dibohongi.


Pada akhirnya Shen terpaksa memberitahu rahasia itu. Padahal Helena sudah berpesan untuk merahasiakan ini sampai dia siap untuk memberitahu Arash sendiri.


"Akhirnya Helen bisa hamil juga." Shan berkata. Dalam hati turut memuji kehebatan Arash. Dua pria itu mengangguk ketika Shen meminta mereka untuk merahasiakan hal ini lebih dulu. Mereka cukup paham dengan kondisi Helena. Selebihnya mereka ingin melihat Arash marah dan mencak-mencak karena akan menjadi orang terakhir yang tahu soal kehamilan istrinya.


Akhirnya kehamilan Helena ketahuan oleh Ang dan Shan.


Di sisi lain, ketika Arash sampai ke rumah sakit. Dia mendapati Aldo yang duduk dengan wajah frustrasi. Pria itu masih berada di depan ruang operasi.


"Katamu operasinya sudah selesai. Kenapa masih ada di sini?"


Aldo langsung mengangkat wajahnya begitu mendengar suara Arash. Wajah Aldo bertambah sendu. Pria itu lalu menjelaskan kalau setelah operasi utama selesai, ternyata mereka menemukan pendarahan sekunder di otak Cia. Makanya tim dokter kembali memeriksa pendarahan itu.


Arash menarik nafasnya dalam. Dia pikir masalah operasi sudah selesai. Nyatanya belum. Pria itu lantas mendudukkan diri di samping Aldo. Arash juga baru saja menengok Sassy di ruang inkubator. Ketika melihat Sassy sedang tidur, maka Arash tidak menganggunya lagi.


Menatap ke arah ruang operasi, lampu merah itu masih menyala. Tindakan operasi masih berlangsung di dalam. Arash pun meraih ponselnya.


"Ada masalah dengan operasi Cia. Tidak tahu itu serius atau tidak."


Satu pesan, Arash kirim pada Helena. Pria itu kembali menarik nafasnya dalam. Melihat deretan pesaan yang dia kirim kepada sang istri hanya dibaca saja, tanpa dibalas.


Arash tidak tahu kalau semua orang sudah tahu soal Helena yang hamil. Bisa dibayangkan jika suatu hari dia tahu, dia adalah orang terakhir yang tahu soal anaknya.


*****


__ADS_1


Arash dan Helena,


****


__ADS_2