
Helene terus manyun sejak bangun tadi pagi. Bagaimana tidak manyun, wanita itu kembali terbangun dalam dekapan Arash, sang suami. Tidak tahu bagaimana, bantal yang ia susun cantik sebagai pagar, bisa melarikan diri dari tempatnya. Ketika dia menuduh Arash pelakunya, pria itu malah dengan sombong menantang Helena. Bahwa pria itu punya bukti, kalau sang istrilah yang sudah menerobos pagar bantal itu.
Helena langsung melotot melihat rekaman ponsel Arash. Pria itu sengaja menghidupkan perekam video pada ponselnya. Arash iseng, ingin tahu siapa yang nantinya akan membobol pagar pembatas itu.
Helena masih saja cemberut bahkan ketika Arash sudah meminta maaf. Bukannya Helena yang minta maaf tapi justru sebaliknya. "Ayolah, aku kan sudah minta maaf. Padahal kamu yang salah," ucap Arash ketika mereka tengah sarapan. Helena kekeuh ingin bekerja. Katanya biar tidak galau, melow, terus. Melihat hal itu Arash tidak bisa mencegahnya. Helena mendengus kesal mendengar ucapan sang suami.
"Aku bisa jamin kalau dia akan mencarimu hari ini," Shan berkata sambil mengunyah rotinya. "Maka aku akan menghadapinya," geram Helena.
"Perlu bantuan, hubungi kami," Arash menambahi. "Aku tidak perlu bantuan kalian. Shen sudah cukup kalau untuk acara mengamuk. Satu kampung langsung kabur dengar lengkingan suara dia yang kayak suara Mariah Carey, yang berapa oktaf itu tingginya," jawab Helena santai.
"Aku tidak seseram itu," sanggah Shen.
"Yang bilang seram siapa? Mariah Carey kan seksoy, masih cantik meski sudah tuwir," celetuk si abang kembar, Shan.
"Kakak......" rengek Shen manja. "Kenapa? Di samain sama Mariah Carey kok mewek," tanya Arash.
"Seksoy ma cantiknya sama suaranya aku oke. Tapi pakai bawa-bawa tuwir itu lo. Aku baru 25, Bro," lanjut Shen.
"Gue juga tahu elu baru 25, orang kita satu tanggal rilisnya," sahut Shan. Selanjutnya dua beradik kembar itu sibuk melanjutkan debatnya. Arash beberapa kali mencuri pandang ke arah Helena. Wanita itu sesekali kali mengulum senyumnya. Mendengar perdebatan absurd kakak adik itu.
Arash cukup bersyukur, suasana hati Helena pulih dengan cepat. Sepertinya lain kali dia perlu mengajak sang istri untuk kencan low budget lagi. Murah dan efektif mengusir kegalauan Helena. Meski dia tidak akan berani naik kora-kora lagi. Komedi putar sama bianglala masih okelah tidak masalah.
*****
__ADS_1
"Aku akan makan siang dengamu," ucap Arash ketika Shan menurunkan keduanya di kantor Liu Corp. Helena hanya ber-hmmmm ria menjawab ucapan Arash. Shan tersenyum samar mendengar jawaban Helena. Wanita itu masih belum mau move on.
"Kau perlu usaha ekstra untuk mendapatkannya," kata Shan melajukan mobilnya menuju kantor mereka. "Aku tahu. Barang bagus tentu akan susah untuk mendapatkannya," sahut Arash sambil tersenyum. "Padahal aku sudah dapat jackpotnya," batin Arash senang.
Helena baru saja akan masuk ke kantornya ketika Evan memanggilnya. Wanita itu langsung memutar matanya malas. Apa yang dikatakan Shan ternyata benar. "Helena....." Evan memanggil.
"Apalagi?" tanya Helena judes. Dia tidak percaya jika Evan masih berani menemuinya. "Helen....dengarkan aku kali ini saja. Brigitta menggodaku. Dia yang mengajakku check in waktu itu," jelas Evan. Helena dan Shen saling mendengar penjelasan Evan.
"Benarkah Brigitta yang menggodamu? Yang aku lihat justru kau yang sangat agresif menyerangnya," cibir Helena. Evan seketika salah tingkah. Pria itu jelas tengah merutuki kebodohannya sendiri. "Helen...itu...itu...tidak seperti yang kau lihat. Kami hanya terbawa suasana,"
"Alah sudahlah. Jangan terlalu dipikirkan. Sekarang yang penting, pergi dari hadapanku. Dan jangan menemuiku lagi. Sudah kubilang kan kalau kita sudah putus," tegas Helena.
"Tapi Helen, aku tidak mau putus denganmu. Aku cinta padamu,"
Evan tercenung mendengar perkataan Shen. "Kau benar, Shen. Aku memang bersalah telah mengkhianati Helena. Tapi setidaknya beri aku kesempatan untuk berubah. Berikan aku waktu untuk membuktikan kalau aku mau berubah. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi, please Helen," Evan berujar sembari menatap dalam wajah Helena. Tidak bisa Evan pungkiri, rasa cintanya pada Helena sangatlah besar. Kemarin-kemarin, dia berbuat kesalahan karena kalah pada hasrat sesaatnya.
Helena dan Shen saling pandang. Ada sedikit rasa iba pada Evan. Helena pun tidak menampik kalau sisa cinta itu masih ada untuk Evan. Wanita itu hanya tengah kecewa dengan perbuatan Evan kemarin. Helena hampir saja membuka mulutnya untuk memberi jawaban, ketika Arash dan Shan tiba-tiba muncul dari samping Helena.
"Aku pikir, tidak akan ada kesempatan kedua bagi seorang pengkhianat," kata Arash tegas. Pria itu berdiri di hadapan Helena dengan Shan berdiri di samping Arash. Menutupi Helena dari pandangan Evan.
"Jangan ikut campur urusan kami!" kesal Evan. Bukankah pria ini tadi sudah pergi dari Liu Corp. Kenapa kembali lagi, pikir Evan jengkel.
"Tentu saja aku akan ikut campur. Helena adalah istriku. Kami sudah menikah, apa kau tidak ingat?" Arash berucap untuk menekankan posisi Helena saat ini, Nyonya Arash Tan. Evan jelas semakin kesal. Melihat Arash di depannya sudah pasti akan membuat berantakan rencananya. Helena memang tegas dalam urusan pekerjaan. Tapi soal hati, wanita itu sunggguh lemah. Hatinya yang mudah tersentuh dan terharu menjadi titik kelemahan Helena. Evan tinģgal menunjukkan wajah bersalah dan penuh penyesalan, dan Helena akan segera memaafkannya.
__ADS_1
Tapi jika Arash ikut campur, bisa ambyar semua usaha dan rencananya. "Aku yakin Helena punya jawabannya sendiri. Aku juga yakin jika masih ada cinta di antara aku dan Helena," jawab Evan berusaha terlihat percaya diri. Arash tersenyum mendengar jawaban Evan. "Apa begitu Helena?" tanya Arash, menoleh pada sang istri. Pasalnya semalam Helena sudah berkata tidak akan memaafkan Evan. Bagaimanapun pria itu membujuknya atau merayunya. Pengkhianatan adalah hal yang paling Helena benci. Boleh dikatakan, tidak ada kata maaf dalam kamus Helena untuk hal yang satu itu.
"Aku sungguh tersentuh kau benar-benar berusaha membujuk dan meminta maaf padaku...."
Evan mengembangkan senyumnya mendengar ucapan Helena. Apa dia bilang, Helena itu susah susah gampang untuk dijinakkan. Tapi kuncinya sebenarnya sangat mudah. Evan memandang remeh pada Arash yang terlihat tidak paham pada ucapan Helena. "Apa maksud perkataannya?" batin Arash.
"Tapi pengkhianatan tetap pengkhianatan. Perselingkuhan tetap perselingkuhan. Dan aku sendiri menangkap basah kalian bercumbu di depanku. Jadi semua sudah jelas. Aku tidak akan memaafkanmu. Kalian maksudku," putus Helena. Evan ternganga mendengar jawaban Helena.
Sementara Shen, Shan dan Arash tersenyum mendengar keputusan Helena. "Kau dengar itu? Sekarang pergilah. Jangan muncul lagi di hadapan kami," kata Shan tajam.
"Helena....jangan lakukan ini padaku. Aku mohon, mari bicara lagi. Kita pasti bisa mengambil jalan lebih baik dari ini," bujuk Evan.
"Tidak Evan. Keputusanku sudah bulat. Aku tidak akan mengubahnya. Lebih baik kau cari Brigitta saja. Melihat cara kalian kemarin, aku pikir itu bukan kali pertama kalian melakukannya bukan. Kalian sudah berkali-kali berselingkuh di belakangku kan? Kau tahu Evan, itu sangat menyakitkan untukku, terlepas dari banyaknya kesalahan yang aku pernah buat padamu, tapi membalasku dengan meniduri temanku sendiri...itu sangat keterlaluan...." Helena menarik nafas panjang untuk menyelesaikan ucapannya.
Air mata itu kembali berlinang seiring rasa sesak yang mulai memenuhi dadanya. Detik berikutnya, wanita itu sudah menangis di dada Arash.
"Helen aku tidak pernah berniat melakukan itu padamu...."
"Tapi kau melakukannya!" teriak Helena. "Cukup Helen, cukup...." bujuk Arash. Tangis Helena semakin kencang dalam pelukan Arash.
"Pergilah Evan. Kau lihat betapa kau menyakiti Helena terlalu dalam. Pergi dan jangan pernah kembali lagi," Shen berkata lantas berbalik. Mengikuti Arash yang membawa Helena masuk ke kantornya.
****
__ADS_1