Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Dilema


__ADS_3

Sementara Arash selesai berdiskusi dengan dokter obgyn dan sudah mengambil keputusan. Di tempat lain, Helena pun sama. Wanita itu menangis dalam pelukan Valerie. Sang Mama hanya bisa mengusap lembut punggung Helena. Berusaha menenangkan sang putri.


Pada akhirnya, Helena memilih mengadu pada mamanya. Pulang ke rumahnya. Tempat paling nyaman yang bisa dia pikirkan. Begitu melihat Helena, Valerie sudah menduga kalau masalah sedang menimpa rumah tangga mereka.


"Helen sudah memutuskan akan mundur, Ma. Aku tidak tega membiarkan anak itu lahir tanpa seorang ayah."


Perkataan Helena cukup membuat Valerie paham. Di samping soal masalah dirinya yang sulit untuk memiliki anak. Alasan itulah yang mendasari Helena untuk mengakhiri pernikahan mereka. Tujuh bulan pernikahan paksa mereka, Helena akan mengakhirinya.


"Kau sudah membicarakannya dengan Arash?"


Velerie bertanya.


"Aku sudah memberitahunya, tapi dia tidak mau melepasku. Dia mengingkari kalau anak itu anaknya."


Valerie menghela nafasnya. Tadi dia memang tidak membicarakan hal lain selain keadaan Helena, saat dia bertemu Arash.


"Kenapa kamu tidak mencoba percaya padanya? Dia suamimu. Sekarang kalian mencintai. Setidaknya berilah dia kesempatan untuk membuktikan."


Helena terdiam, selanjutnya wanita itu bercerita kalau anak itu sudah menjalani tes DNA dan hasilnya memang itu anak Arash. Arash sendiri memang mengakui kalau dirinya pernah bercinta dengan wanita itu.


Valerie kembali menghela nafasnya. Dia pikir masalah Helena tidak sesederhana yang dia pikirkan. Pada akhirnya, wanita itu hanya meminta Helena untuk memikirkan kembali keputusannya. Dia tidak ingin sang putri menyesal suatu hari nanti.


Di saat yang bersamaan, Rafael dan William rupanya juga bertemu. Mereka juga membahas soal Arash dan Helena.


"Aku minta maaf jika putraku sudah menyakiti putrimu. Tapi jujur saja, aku tidak mau wanita lain jadi menantuku."


"Tapi Will, kita tahu bagaimana keadaannya. Aku menyadari keadaan Helena. Kalian perlu penerus itu jelas."


"Bukankah kita pernah membahas ini. Sulit bukan berarti tidak bisa. Aku dan Viviane sudah sepakat akan menunggu. Kalian menunggu empat dan nyatanya kalian berhasil punya Helena dan Hugo. Sedang aku hanya bisa punya Arash."


Dua pria itu menarik nafas bersamaan.


"Biarkan saja mereka menjalani ini. Jika mereka sudah mengeluh pada kita, baru kita akan bertindak."


Sebuah pesan masuk ke ponsel Rafael. Sesaat pria itu terkejut. Hingga William menjadi heran.


"Helena memutuskan mundur."


William langsung memijat pelipisnya pelan. Helena, wanita yang mampu menakhlukkan putranya memilih mundur


"Lalu bagaimana jawaban Arash?"


"Val bilang kalau Arash menolak melepas Helena."

__ADS_1


"Bagus!"


William berseru senang. Hingga sebuah pesan kembali masuk. Kali ini amarah Rafael tersulut.


"Arash punya anak dari kekasihnya?"


William jelas terkejut mendengar perkataan Rafael.


"Tenang Raf, aku bisa menjelaskan soal itu."


Setelahnya, William menceritakan soal Cia yang adalah kekasih Arash di masa lalu. Dan benar wanita itu tengah mengandung sekarang, tapi dari mata-matanya, Arash menolak mengakui anak itu. Karena Arash tidak yakin itu anaknya. Meski hasil tes menyatakan kalau itu anak Arash.


"Lalu aku sekarang harus bagaimana?"


Rafael bertanya frustrasi. Dia jelas tidak ingin Helena terluka. Dia ayahnya, dia menunggu empat tahun untuk melihat Helena berada dalam pelukannya. Dia tidak akan membiarkan seorangpun menyakiti putrinya. Bahkan Arash sekalipun.


"Aku akan bertanya pada Arash kalau begitu."


William cukup paham dengan perasaan kesal Rafael. Siapa juga yang mau melihat putrinya disakiti. Dia juga akan marah kalau jadi Rafael.


*


*


Rian tersenyum melihat Brigitta yang masih terlelap di kasur besar mereka. Padahal hari sudah siang. Tapi Rian tidak ingin membangunkan Brigitta. Pria itu akan pergi ke perusahaannya. Kantornya yang sesungguhnya. Sesuai janji sang papa. Rian akan langsung mendapatkan jabatan CEO jika dirinya sudah menikah.


Rian lantas keluar dari kamar besarnya yang didominasi warna putih. Kamar yang mewah dan luas.



Kredit Pinterest.com


Kamar yang berada di lantai dua. Dengan balkon yang langsung menghadap ke alam terbuka sebagai viewnya.


Rian berjalan menuruni tangga rumahnya. Wajah pria itu terlihat puas. Dia bisa mendapatkan jabatannya plus bisa puas di ranjang. Tubuh Brigitta benar-benar membuat hasrat dan gairah Rian menggila tiap kali mereka bersama.


"Antarkan sarapan untuk, Nyonya. Tapi jangan sampai membangunkannya."


Perintah Rian pada ART-nya. Dua orang itu hanya tersenyum setelah Rian berlalu dari hadapan mereka. Mereka tentu tahu apa maksud perkataan tuannya. Nyonya mereka pasti kelelahan setelah dihajar sang tuan.


"Pasti panas ya, Bik."


Seloroh seorang dari mereka.

__ADS_1


"Kalau pengen sana praktek sama suami kamu."


Yang lain langsung mencebik kesal. Mana boleh mereka indehoy ketika masih bekerja. Hingga akhirnya dua orang perempuan itu menyiapkan sarapan komplit untuk sang Nyonya.


Setelah meletakkan sarapan di meja, keduanya langsung kabur dari sana. Takut membangunkan majikan mereka. Aroma makanan menggoda hidung Brigitta. Wanita itu membuka matanya, sedikit kecewa mendapati Rian tidak ada di sampingnya.


Tapi senyumnya mengembang ketika pesan masuk ke ponselnya.


"Makanlah jika sudah bangun. Aku harus ke kantor hari ini. Maaf."


Aahhh begini amat dicintai oleh suami. Senyum Brigitta semakin lebar. Bahagia itu sudah pasti. Brigitta melilitkan selimutnya. Lalu berjalan ke sofa. Wanita itu mulai menikmati sarapannya. Sembari menikmati keindahan pemandangan balkon.


Sedetik kemudian, Brigitta mengusap lembut perutnya. Sejak bertemu Rian, Brigitta tidak pernah merasakan mual dan muntah lagi.


*


*


Arash masuk kembali ke rumah sakit. Setelah mengirim pesan pada Aldo. Di mana dia berada. Begitu sampai di ruang yang dimaksud, Arash masuk ke dalamnya. Di sana dilihatnya Aldo yang tengah menunggui Cia. Wanita itu tampak lemah, berbaring dengan selang infus di tangannya. Perut wanita itu tampak besar mengingat kandungan Cia sudah masuk trimester dua. Jalan enam bulan lebih tepatnya.


"Arash kau di sini"


Aldo terlihat sangat bersyukur saat melihat Arash.


"Ada apa dengannya?"


Arash bertanya dingin. Aldo seketika menelan ludahnya kasar. Dia tahu betapa marahnya Arash padanya dan juga Cia. Tapi dia juga tidak punya pilihan. Arash harus tahu keadaan yang sesungguhnya.


Aldo lantas mulai bercerita, kalau Cia pingsan setelah Arash pergi. Dokter yang memeriksa Cia curiga, sebab keluhan sakit kepala Cia tidak pernah berhenti. Karena itulah pihak dokter memutuskan untuk melakukan CT Scan pada Cia.


"Hasilnya?"


"Sebentar lagi keluar."


"Lalu kenapa kau memanggilku. Dengar ya, aku tidak punya hubungan apa-apa lagi dengan dia."


Tegas Arash. Aldo kembali menelan salivanya.


"Arash.... ada kemungkinan dia terkena tumor atau kanker atau sejenisnya."


Arash tentu terkejut mendengar perkataan Aldo. Pria itu menggeleng pelan, sembari melihat iba ke arah Cia.


"Aku bisa membiayai pengobatannya. Tapi sejak kemarin dia hanya menyebut namamu. Aku mohon Arash, berbaik hatilah padanya sedikit."

__ADS_1


Dilema seketika mendera Arash. Mana yang harus dia pilih sekarang. Helena sang istri tercinta atau Cia yang pernah jadi bagian masa lalunya. Tapi demi alasan kemanusiaan, bisakah Arash meninggalkan Cia begitu saja.


****


__ADS_2