
Hari berlalu, sebuah kabar gembira datang pagi itu. Cia terbangun dari komanya. Wanita itu terbangun setelah Sassy menangis di dada Cia. Seperti terkena sengatan listrik, wanita itu langsung membuka matanya dan menangis. Melihat sang putri yang berada di atas tubuhnya.
Tim dokter langsung memeriksa Cia, dan well, semua oke. Wanita itu bangun setelah kurang lebih tiga bulan mengalami koma. Sebuah keajaiban bagi dunia medis terjadi lagi.
Aldo hanya bisa menangis haru, melihat wanita yang dia cinta bisa membuka matanya kembali.
"Selamat datang kembali."
Hanya itu yang keluar dari bibir Aldo saat dia diizinkan masuk, setelah tim dokter selesai memeriksa Cia. Melihat Aldo yang ada disisinya, Cia langsung mengembangkan senyumnya. Dia tahu pria inilah yang selalu ada untuknya selama dia sakit.
"Terima kasih."
Ucap Cia terbata. Dia masih merasa kaku pada rahangnya. Setelah ini dia akan menjalani fisioterapi untuk melemaskan tubuhnya yang tiga bulan ini sama sekali tidak bergerak.
Setelah menjalani observasi selama 1×24 jam, Cia akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap. Kali ini Sassy juga ikut berada di sana. Mengingat bayi mungil itu dinyatakan sudah sehat.
Melihat putrinya, Cia menangis haru. Bayi yang dulu sempat dibencinya, bahkan wanita itu berulangkali berpikir ingin menggugurkan janin itu. Kini dia merasa bersalah, melihat bagaimana menggemaskannya sang putri.
"Maafkan, Mama."
Satu kalimat yang berulangkali terucap dari bibir Cia. Aldo yang melihat itu lantas mendekat. Pria itupun berkata, "Lupakan yang lalu, mari mulai lagi semuanya dari awal. Kita bertiga. Aku harap kamu tidak lagi berpikir untuk mengejar Arash."
Mendengar nama Arash, Cia tertegun. Ya nama itu, membuat dirinya terlihat buruk di masa lalu. Dibutakan oleh obsesi ingin memiliki Arash, membuat Cia mau melakukan apapun untuk mencapai tujuannya.
"Aku tidak akan berhubungan lagi dengan Arash. Aku ingin hidup bersama putriku."
Batin Cia, kembali tersenyum melihat tingkah Sassy yang berbaring di sampingnya.
Helena dan Arash mulai masuk kantor seperti biasa. Kembalinya Helena ke kantor disambut antusias oleh seluruh stafnya. Mereka merindukan Helena, sebab kepemimpinan Helena lebih santai. Tidak seperti Hugo, tampan tapi seperti kulkas 17 pintu.
"Memangnya kenapa dengan Hugo?"
Helena bertanya setelah mendudukkan dirinya di kursi. Shen mengekor dengan membawa berkas dan schedule untuk Helena. Kembalinya Helena membuat Hugo langsung balik ke kantor pusat.
"Kamu kan tahu Hugo kayak kulkas 17 pintu. Dia ramah sama Lira doang. Sama yang lain, hadeuuuhh bikin illfeel. Semua staf bilang...untung ganteng."
Mendengar nama Lira, Helena langsung terdiam. Dia teringat bagaimana Hugo terang-terangan mengakui menyukai adik Lendra itu.Helena menghembuskan nafasnya kasar. Dia pikir, Lendra sudah tahu masalah ini atau belum ya.
"Kenapa?"
__ADS_1
Shen bertanya dan Helena menggeleng. Hingga Shen pun ikut menarik nafasnya pelan.
Di satu sisi, terlihat Hugo yang mengekor Lira masuk ke ruang kerjanya. Gadis cantik berambut panjang itu langsung berbalik dan mendelik tajam ke arah Hugo.
"Kenapa kamu melakukannya?"
Todong Lira langsung. Sementara Hugo bukannya menjawab, malah berjalan mendekati sang kekasih. Benar, dua orang itu akhirnya memutuskan untuk berpacaran meski harus sembunyi dari semua orang.
"Kenapa masih bertanya. Aku melakukannya karena aku rindu padamu, Ra. Berapa hari kita tidak bertemu. Dan kamu malah protes ketika aku menciummu. Kamu ingin aku membuatmu hamil, agar papamu mengizinkan kita menikah."
Lira seketika membulatkan matanya mendengar perkataan Hugo. Pria di depannya ini terkadang memang gila. Terlebih menyangkut status hubungan mereka yang backstreet.
"Ya tapi jangan melakukannya di mobil. Nanti kalau ada orang lihat...."
"Jadi kamu mau melakukannya di sini. Oke, tidak masalah."
Hugo memotong perkataan Lira lantas dengan segera mendorong tubuh lira ke tembok, tak lama dua bibir itu sudah menempel satu sama lain. Tubuh Lira berjengit seolah arus listrik jutaan volt menyengat dirinya. Hugo benar-benar pakar dalam berciuman.
Sempat menolak ciuman sang kekasih. Tapi dalam hitungan detik, Lira sudah terhanyut dalam permainan bibir Hugo yang memabukkan. Dua orang itu berpagutan lembut. Dengan tangan Lira yang sudah melingkar di leher kokoh Hugo.
Sementara pria itu semakin menghimpit tubuh ramping namun berisi milik Lira ke dinding. Hingga tubuh bagian depan keduanya saling menempel. Hugo menggeram dalam ciumannya. Merasakan dada Lira yang menekan dada bidangnya. Hasrat pria 22 tahun itu seketika meroket naik.
Satu lenguhan lolos dari bibir mungil Lira. Saat Hugo menciumi leher jenjang nan miliknya. Gila! Hugo hampir meledak dibuatnya. Terlebih Lira yang meremas rambutnya membuat pria itu semakin kalang kabut.
"Lira....."
Bisik Hugo ketika pria itu menciumi telinga Lira. Tubuh Lira menegang seketika. Terlebih tangan Hugo yang mulai merayap di punggung wanita cantik itu.
Keduanya terus bercumbu, hingga sebuah teriakan keras membuyarkan aksi keduanya. "Hugo Amadeo Liu!"
*
*
Lira hanya bisa meremas jarinya sendiri. Takut, sementara di sampingnya, Hugo terlihat santai. Tidak ada raut wajah bersalah atau ketakutan setelah dia kepergok berciuman dengan Lira. Pria itu terlihat begitu rileks.
Sementara di depan mereka. Rafael berulangkali menarik nafas dan menghembuskannya. Dia sangat shock dengan apa yang baru saja dilihatnya. Putra bungsunya berciuman dengan Lira, putri Lana dan Vi.
"Astaga."
__ADS_1
Akhirnya kata itu yang terucap dari bibir Rafael. Dia sudah kehabisan kata untuk mengomentari perbuatan sang putra.
"Apa sih Papa ini. Memangnya ada yang salah kalau kami berciuman. Itu menunjukkan kalau aku normal."
Baik Lira maupun Rafael melotot mendengar jawaban santai Hugo.
"Masalahnya bagaimana Papa menjelaskan pada tantemu, Lana. Kalau kalian saling mencintai."
"Yaelah, tinggal bilang aja. Kalau Hugo mau nikahin Lira. Masalah selesai."
Lira langsung mencubit paha Hugo begitu mendengar perkataan gila yang keluar dari bibir Hugo.
"Tu bibir kalau sudah beraksi memang tidak ketulungan gilanya. Gak ngomong, gak nyium."
Batin Lira kesal sekaligus takut melihat wajah marah Rafael.
"Bisa gak sih kalau ngomong dipikir dulu. Jangan asal mangap aja."
"Pa, Hugo gak asal mangap ya. Hugo gak bakal main adu bibir kalau Hugo gak ada niatan mau serius."
Lira dan Rafael kali ini kehilangan kata untuk menanggapi ucapan pria yang terlihat cool di luar tapi ternyata somplak di dalam.
Dua orang itu saling pandang sembari memijat pelipis masing-masing. Lira jelas malu karena tertangkap basah berçiuman dengan Hugo. Sementara Rafael bingung bagaimana menjelaskan hubungan dua anak mereka pada Lana.
Kedekatan Lana dan Rafael sudah seperti kakak adik. Bagaimana reaksi Lana jika tiba-tiba Rafael datang memimang Lira untuk Hugo. Ah..kepala Rafael serasa mau pecah. Di saat itu, tiba-tiba saja ponsel Rafael berbunyi.
Sebuah panggilan dari Valerie, pria itu segera mengangkatnya.
"Iya, Sayang...."
Untuk sesaat, Rafael terdiam mendengarkan perkataan sang istri. Hingga kemudian, ponsel pria itu meluncur begitu saja dari tangan Rafael.
"Pa ada apa?"
Hugo langsung mendekat, menyambar ponsel sang ayah.
"Kenapa ini terjadi pada Helen? Setelah dia hampir mendapatkan apa yang dia impikan. Kenapa semua terjadi sekarang."
Batin Rafael. Sementara di depannya, Hugo langsung membeku mendengar suara sang mama dari seberang. Dia baru saja terciduk oleh sang papa dan sekarang sebuah berita mengejutkan dia terima dari mamanya.
__ADS_1
*****