
"Bagaimana? Merasa lebih baik?" Arash bertanya pada Helena. Keduanya sedang berada di pantai. Memilih untuk tidak bekerja dulu setelah kejadian tadi pagi. Helena tidak menjawab, hanya mengulas senyum tipisnya. Entah kenapa, Helena menurut saja ketika Arash membawanya dari kantornya. Wanita itu juga tidak menduga kalau sang suami akan membawanya ke tempat ini.
Kredit Pinterest.com
Merasa lebih baik? Sepertinya pertanyaan itu terlalu cepat Arash ajukan. Menurutnya, perasaannya tidak akan membaik hanya dalam waktu satu kali dua puluh empat jam. Perbuatan Evan dan Brigitta menimbulkan luka cukup dalam hati Helena. Dan untuk kasus seperti itu, hanya waktu yang bisa menyembuhkan.
Helena melihat ke kiri dan kanannya, hatinya terasa tercubit melihat tempat itu. Beberapa waktu lalu, Helena ke sini bersama Evan, saat dia sedang bertengkar dengan Arash. Dan sekarang, dia ke sini bersama Arash. Saat dirinya sedang bermasalah dengan Evan. Sebuah kebetulan, yang membuat mata Helena berkaca-kaca.
"Bagaimana kau tahu aku suka pergi ke tempat ini?" tanya Helena. Keduanya kini berjalan di tepi pantai setelah melepas sepatu masing-masing.
"Aku ingin mengenalmu. Jadi aku tanya pada Shen," Arash menjawab pertanyaan Helena sembari tersenyum. Pun dengan Helena, wanita itu jadi merasa aneh mendengar seorang Arash Tan berkata ingin mengenal seorang wanita. Padahal pria itu dulunya tidak pernah melakukan hal itu. Sebab dia yang selalu menjadi incaran para wanita, maka para wanita itulah yang mencari tahu soal Arash.
"Terdengar aneh saat kau bilang ingin mengenalku," keduanya pun berhenti bersamaan. Lalu saling menatap. "Apa kau percaya dengan yang aku katakan beberapa hari lalu. Aku ingin memulai hubungan kita dari awal. Jadi aku akan mengawalinya dengan mengenalmu," Arash menjawab sambil menatap lurus wajah Helena.
Sesaat Helena terdiam mendengar perkataan Arash. "Aku tahu, mungkin waktunya tidak tepat. Tapi aku benar-benar ingin memulai hubungan denganmu," ucap Arash bersungguh-sungguh.
"Aku tidak tahu harus menjawab apa....."
"Jangan kau jawab sekarang. Aku tahu yang kau rasakan. Cukup biarkan aku berada di sisimu saat ini. Dan jangan sembunyikan apapun dariku. Jika kau sedih, menangislah. Jika kau kecewa berteriaklah....atau kau bisa melampiaskannya padaku," potong Arash cepat.
Kembali keduanya saling pandang untuk beberapa waktu. Arash yang mencoba meyakinkan Helena. Dan Helena yang mencoba mempercayai ucapan Arash.
__ADS_1
"Biarkan waktu yang menjawab. Tapi jika kau tidak sabar menunggu. Kau bisa pergi," jawab Helena pada akhirnya.
"Aku akan sabar menunggu," balas Arash yakin. Pria itu berpikir, kalau hatinya sudah menemukan wanita yang cocok untuknya. Jadi dia tidak akan melepaskan wanita itu kali ini.
*****
Evan pergi bekerja dengan wajah lusuh dan kuyu. Pria itu asal memakai pakaian. Tidak seperti biasanya yang selalu klimis dan rapi. Beberapa karyawan tampak berbisik melihat penampilan Evan. Pria itu mendesah panjang ketika mendudukkan diri di kursi kebesarannya. Meski belum sebesar Tan Group ataupun Liu Corp, tapi Evan adalah bos di kantornya sendiri. Perusahaan yang dia bangun dari nol dengan hasil jerih payah dan keringatnya sendiri.
Seorang wanita memberikan schedule Evan hari itu. Selanjutnya pria itu menarik nafasnya panjang. Dia ada meeting dengan klien di luar. Pria itu tengah malas untuk pergi ke mana-mana. Tidak mood untuk bernegosiasi tapi dia terpaksa pergi. Kliennya kali ini, seorang investor besar. Jadi dia tidak kehilangan kesempatan bekerja sama dengan orang itu. Sebuah kesempatan emas di depan mata, tidak boleh disia-siakan.
Dengan susah payah, Evan berhasil meyakinkan sang klien untuk berinvestasi di perusahaannya. Pria itu bisa tersenyum, meski hatinya terasa sakit. Berjalan keluar dari tempat pertemuan mereka. Evan langsung menghentikan langkahnya. Melihat Brigitta yang juga keluar dari tempat itu. Keduanya saling pandang seketika. Tidak tahu apa yang dipikirkan oleh dua orang itu.
Pada akhirnya, Evan menarik tangan Brigitta, masuk ke sebuah private room di sebuah restauran. Seminggu sejak kejadian itu, inilah kali pertama mereka bertemu. Evan sedikit mengerutkan dahinya, melihat penampilan Brigitta. Wanita itu terlihat pucat dengan tubuh lebih kurus dari terakhir kali Evan lihat.
"Yang kau lihat bagaimana?" sarkas Brigitta. Evan langsung menelan salivanya susah payah. Pria itu teringat bagaimana pertengkaran mereka waktu itu.
"Ta, aku minta maaf. Aku salah....."
"Sekarang kau mengaku salah padaku, tapi di depan Helena kau melimpahkan semua kesalahan padaku!" marah Brigitta. Sepertinya wanita itu benar-benar menumpahkan amarahnya pada Evan.
"Karena itu aku minta maaf sekarang, Ta," mohon Evan. Entah perasaan apa yang Evan punya untuk Brigitta setelah kejadian itu. Masih menganggap Brigitta teman atau ada rasa lain yang mulai tumbuh.
"Aku tidak sudi menerima maafmu. Kau mengabaikanku di depan Helena. Kau sama sekali tidak menganggapku ada, saat bersama Helena. Aku sudah letih menjadi cadangan. Jadi mulai hari ini jangan pernah menemuiku lagi. Kalau kita kebetulan bertemu, anggap saja kita orang asing." Brigitta berkata tegas, lalu berlalu dari hadapan Evan. Meninggalkan pria itu dengan perasaan bingung di hatinya. Kini, siapa yang harus dia utamakan. Helena dan Brigitta, dua wanita yang punya kedudukan sama tapi porsi berbeda di hatinya. Sama-sama penting. Tapi tentu saja, porsi Helena lebih banyak.
__ADS_1
"Apa yang harus aku lakukan pada kalian berdua?" gumam Evan bingung.
Sementara itu, Brigitta langsung masuk ke toilet. Lantas membekap mulutnya sendiri, ketika tangis itu semakin keras terdengar. Kenapa rasanya begitu sakit, mencintai seseorang yang tidak pernah menganggapmu ada. Sesakit inikah rasanya mencintai dalam diam?
Tubuh Brigitta merosot ke lantai, saat rasa putus asa itu menderanya. Ditambah rasa kecewa, sedih, marah, rasa bersalah dan tentu saja sakit hati. Semua rasa itu sukses membuat hidup Brigitta terasa hancur seminggu ini.
Rasa bersalah pada Helena paling mendominsasi di antara semua rasa di hati Brigitta. "Oohh, aku bisa meledak dengan semua rasa ini menjadi satu di hatiku," batin Brigitta frustrasi.
Wanita itu berjalan gontai setelah membasuh mukanya. Sekedar mengurangi sembab di wajahnya. Jam kerjanya sudah selesai, jadi dia bisa langsung pulang ke rumahnya. Ketika dia melihat pedagang rujak, tiba-tiba saja wanita itu ingin memakannya. Air liur Brigitta hampir menetes melihat jajaran buah di depan penjual rujak itu.
"Bang banyakin mangga mudanya kalau ada, pengen makan yang asem-asem," pinta Brigitta tanpa sadar. Si abang rujak langsung melihat ke arah Brigitta. "Neng lagi ngidam ya...berapa bulan?"
Pertanyaan si abang rujak membuat Brigitta melongo. Ha ngidam? Hamil? Brigitta lantas teringat kalau siklus bulanannya belum datang bulan ini. Wanita itu memundurkan langkahnya. Dirinya dan Evan memang sering berhubungan intim, tanpa pengaman. Brigitta ingat betul kalau Evan selalu membuang benihnya di dalam.
Satu kenyataan pahit harus Brigitta hadapi jika dirinya sampai hamil anak Evan. Hancur sudah duniaku, hidupku juga persahabatanku. Semua gara-gara rasa cinta tak berbalas yang Brigitta rasakan pada Evan. Menyesal? Semua sudah terlambat untuk disesali.
****
Evan dan Brigitta,
*****
__ADS_1