Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Keputusan Arash


__ADS_3


Kredit Pinterest.çom


Arash masuk ke kamarnya. Begitu masuk, dia disambut pemandangan yang membuat hatinya pilu. Sakit, dia benci melihat Helena menangis. Terlebih itu semua karena dirinya. Dia sendiri yang sudah membuat Helena menangis.


Wanita itu duduk bersandar di ranjang sembari memeluk lututnya. Bahunya bergerak naik turun. Ponsel Helena tergeletak di sampingnya.


Sungguh sebagai suami dia merasa gagal. Bukannya membahagiakan istri, dia malah membuat Helena ikut terseret dalam pusaran masalahnya. Terus saja membuat Helena menangis.


"Helen...."


Panggil Arash lembut. Pria itu berjongkok di hadapan sang Helena. Perlahan diusapnya kepala Helena. Helena dengan cepat menepisnya. Beberapa kali mencoba dan Helena terus menolaknya.


"Helen...."


Suara Arash mulai meninggi. Dia benar-benar mulai kehilangan kesabarannya. Entah kenapa, baginya Helena beberapa hari ini terus mendorong dirinya menjauh. Seolah dia benar-benar ingin berpisah darinya.


"Helena dengarkan, aku tidak mau berpisah denganmu hanya karena anak itu. Aku yakin itu bukan anakku....."


Plak,


Satu tamparan mendarat di pipi Arash. Emosi Arash meledak seketika. Dengan cepat ditangkupnya wajah Helena, detik berikutnya pria itu mencium kasar bibir Helena.


Helena tentu saja berontak. Dia tidak suka diperlakukan kasar. Helena memukul dada Arash, agar pria itu melepaskan ciumannya.


Bukannya mengurai pagutannya, Arash justru semakin liar ******* bibir sang istri. Hanya ketika perlawanan Helena mulai melemah, ciuman Arash mulai melembut. Pria itu ******* bibir Helena, lagi dan lagi. Seolah tidak ingin mengakhirinya.


Pria itu benar-benar ketagihan dengan kelembutan dan rasa manis yang bibir Helena tawarkan.


Cukup lama Arash menikmati ciuman itu. Hingga dirasanya Helena mulai tenang. Barulah dia melepaskan ciumannya.


"Kamu jahat."


Lirih Helena. Sementara Arash hanya terdiam. Diusapnya lembut bibir Helena yang basah, dihapusnya air mata yang masih mengalir di wajah sang istri.


"Dengarkan aku, lihat aku...."


Arash mengangkat wajah Helena agar menatap wajahnya. Bibir Helena terlihat bengkak karena ulahnya.


"Tinggalkan aku. Lepaskan aku. Setidaknya kamu akan memiliki anak dengan Cia. Denganku....."


*

__ADS_1


*


"Aku kemungkinan mewarisi gen mama yang susah memiliki keturunan. Siklus bulananku tidak teratur. Mama dan papa perlu menunggu empat tahun untuk memilikiku."


Arash mengusak rambutnya kasar. Dia cukup shock dengan penuturan Helena soal keadaan dirinya. Pria itu berdiri menghadap jendela besar di kantornya. Pagi tadi, dia tidak menjumpai sang istri di sampingnya saat dia bangun.


Beberapa kali menghubungi nomor Helena, tidak aktif. Dia ingin membicarakan soal perkataan Helena soal dia susah memiliki anak. Susah bukan berarti tidak bisa.


Meski begitu, ada satu hal yang membuat Arash ragu. Apa Helena tengah membohonginya, agar dia mau menikah dengan Cia.


Hingga satu nama terlintas di kepalanya. Dia pikir harus memastikan keadaan Helena lebih dulu, sebelum dia mengambil keputusan.


Sampai di sinilah dia berada. Duduk di hadapan seorang wanita yang berusia hampir kepala lima. Meski begitu dia masih terlihat cantik. Valerie Cassandra Liu, mama Helena. Kisah hidupnya cukup membuat orang sesaat menahan nafas saat mendengarnya.


Dia ditipu oleh mentah-mentah oleh ibu tirinya yang bekerjasama dengan sang Paman. Mengambil aset seluruh keluarganya. Lalu melempar Valerie dan ayahnya ke jalanan begitu sajà.


Valerie terpaksa bekerja di klub malam. Di mana dia terpaksa menjual kegadisannya untuk mendapatkan biaya guna operasi jantung sang papa. Dan yang membeli keperawanan Valerie adalah sang suami, Rafael Deandra Liu. Papa Helena.


Arash mendengar cerita itu dari sang Paman, David Tan. Dokter yang menangani operasi papa Valerie sekaligus sahabat mama Helena itu.


"Ada apa kamu ingin bicara dengan Mama?" Valerie bertanya lembut.


Arash sedikit terkejut. Valerie seorang wanita lemah lembut, tapi kenapa Helena begitu badas dan liar.


"Apa kalian ada masalah?" Lagi Valerie bertanya.


"Setiap rumah tangga pasti ada masalah. Tapi setiap masalah itu bukannya tidak dapat diselesaikan. Pasti ada jalan keluarnya."


Arash seketika mengangkat wajahnya. Ditatapnya wajah Valerie yang tengah tersenyum padanya. Cantik, senyum wanita itu mengingatkan Arash pada senyum sang istri. Senyum Helena adalah senyum Valerie.


"Sebenarnya rumah tangga kami memang tengah bermasalah. Arash tidak akan menampiknya, semua salah Arash. Tapi menjadi pertimbangan Arash adalah keadaan Helena....."


Valerie menarik nafasnya pelan, saat mendengar Arash bercerita. Hingga sebuah helaan nafas terdengar dari bibir Valerie begitu Arash selesai bercerita.


"Yang dikatakan Helena benar. Keadaannya membuat dia susah untuk memiliki anak."


Arash mendesah frustrasi mendengar kenyataan itu.


"Apa papaku tahu?"


Arash bertanya dan Valerie mengangguk. Rafael sudah menceritakan semua pada William. Saat pria itu melontarkan ide untuk menjodohkan putra putri mereka.


Jika papanya sudah tahu, berarti papanya tidak masalah jika harus menunggu lama untuk memiliki penerus Tan Group.

__ADS_1


"Semua keputusan ada padamu. Kami cukup sadar diri dengan keadaan Helena. Karena itu tidak masalah jika kalian ingin......"


Arash mengangkat tangannya untuk berhenti bicara. Valerie pun paham.


*


*


"Susah memang iya. Tapi susah bukannya tidak bisa. Lagipula sekarang kemajuan teknologi benar-benar mengagumkan. Semua masalah sepertinya bisa diatasi dengan mudah. Seperti masalahmu. Haid tidak teratur, kita bisa mengakalinya. Asalkan seorang wanita itu masih mengalami datang bulan. Berarti tubuhnya masih menghasilkan sel telur. Selama sel telur masih dihasilkan. Kemungkinan untuk hamil itu selalu ada. Tidak bisa dengan cara konvensional, kalian bisa menempuh program bayi tabung. Ada banyak cara untuk bisa hamil."


Penjelasan panjang lebar dari teman Arash yang seorang ahli kandungan membuat keputusan Arash semakin bulat. Dia tidak akan melepaskan Helena.


"Kenapa kamu susah? Bukankah solusinya cuma satu, kalian disuruh lebih sering bercinta. Sebab masa subur untuk wanita seperti Helena tidak dapat diprediksi kapan. Hingga jalan keluarnya ya itu tadi."


Arash hampir menabok lengan temannya. Dokter kandungan kok cabul. Dan temannya langsung menjawab. "Kamu yang pikirannya sempit. Kami dokter kandungan berhadapan dengan vag*** dan milik pria hampir tiap hari. Kami sudah biasa membicarakannya."


Giliran Arash yang menggaruk kepalanya. Salah tingkah. Lingkup pekerjaan dokter obgyn kan memang begitu ya. Kenapa jadi dia terlihat parno.


Arash berjalan dengan wajah sumringah. Dia sudah memantapkan keputusannya. Sekarang tinggal meyakinkan Helena. Arash sadar kalau ini adalah hal tersulit yang harus dia lakukan.


Mengubah sudut pandang Helena adalah hal paling berat untuknya. Tapi ya itu tadi, sulit bukan berarti tidak bisa.


Arash baru saja keluar dari rumah sakit. Dia berniat mencari Helena ke kantornya. Meski tadi ketika dia menghubungi Shen, wanita itu mengatakan kalau Helena tidak masuk hari ini. Tapi Arash tidak percaya. Bisa saja, Helena menyuruh Shen untuk melakukannya.


Mobil Arash siap melandas di jalan raya. Saat itu ponselnya berbunyi. Arash mengerutkan dahinya melihat nama si pemanggil.


"Ngapain sih dia menghubungiku," batin Arash kesal


Detik berikutnya, sebuah pesan masuk ke ponsel pria itu. Arash semakin mengerutkan dahi.


"Datanglah ke rumah sakit XX, ini soal Cia. Aku mohon, ini penting."


"Memangnya apa yang terjadi?"


Gumam Arash. Pria itu sejenak berpikir, rumah sakit yang dimaksud Aldo adalah rumah sakit yang kini ada di hadapannya.


"Ckkk, merepotkan saja!"


Gerutu Arash. Akhirnya pria itu turun kembali dari mobilnya. Masuk ke rumah sakit lagi untuk menemui Aldo.


*****


__ADS_1


Kredit Pinterest.com


*****


__ADS_2