
Semakin lama, keadaan Helena semakin parah. Wanita itu mulai bersikap dingin pada Arash. Mulai jarang bicara pada sang suami. Bahkan mulai menjaga jarak.
Hal ini tentu saja membuat Arash panik. Dia takut hal buruk akan terjadi pada Helena.
"Helena, katakan padaku, apa ada yang salah denganku. Jangan mendiamkanku. Aku tidak bisa begini terus."
Arash berucap suatu hari, ketika dia sudah tidak bisa mentolerir sikap Helena. Bukannya menjawab pertanyaan Arash, wanita itu malah dengan lantang berkata, "Kamu bisa menikah lagi jika sudah tidak tahan denganku."
Bak disambar petir, ucapan Helena membuat Arash membeku di tempatnya berdiri. Pria itu hanya bisa melihat punggung Helena yang menghilang di balik pintu.
Sejak hari itu, keadaan menjadi semakin kacau. Helena kembali ke style workaholic-nya. Tidak peduli pada Arash. Seperti dulu saat mereka belum saling jatuh cinta.
Arash jelas bingung bagaimana menghadapi sikap Helena. Pria itu sudah berusaha bicara baik-baik, tapi jawaban Helena semakin menyudutkan Arash.
"Aku hanya wanita mandul, aku tidak bisa memberimu anak. Jadi jika kau ingin anak, menikahlah lagi."
Sungguh, tidak ada pikiran untuk mencari wanita lain dalam benak Arash, meski Helena tidak bisa memberinya anak. Ditambah emosi Helena yang naik turun, membuat pria itu pusing tujuh keliling.
Namun Arash juga manusia biasa. Pria itu juga bisa rapuh dan putus asa, melihat sang istri yang benar-benar seperti orang frustrasi. Hingga air mata Arash, tak jarang luruh juga. Sama seperti Helena, yang semakin sering menangis. Menyalahkan diri sendiri.
Sampai akhirnya Valerie turun tangan. Dia mendapat laporan dari Shen. Wanita itu pun mengajak sang putri bicara. Sesaat Helena hanya terdiam ketika sang mama mulai bicara. Banyak hal yang Valerie sampaikan pada Helena.
Tapi inti dari semuanya adalah bahwa Arash sama menderitanya dengan dirinya.
"Arash sama sedihnya denganmu. Dia sama menderitanya denganmu. Jadi cobalah untuk saling mengerti. Cobaan ini untuk kalian berdua. Bukan untukmu, bukan untuk Arash. Hadapilah bersama-sama."
Tangis Helena pecah begitu mendengar perkataan Valerie. Perkataan sang mama membuat mata Helena terbuka. Nasihat mamanya membuat pikiran dan hati Helena sadar. Bahwa sikapnya selama ini salah.
Dia berpikir dengan menyuruh Arash menikah lagi, pria itu akan bahagia. Nyatanya itu justru melukai Arash. Pada akhirnya dia sadar, kalau dirinya juga tidak bisa hidup tanpa Arash.
Wanita itu pulang ke rumah mereka dengan pikiran terbuka. Helena tahu apa yang dia inginkan.
"Arash....."
Helena memanggil Arash yang ternyata sudah berada di rumah. Pria itu berdiri membelakangi Helena, sembari melihat pemandangan dari jendela apartemen mereka.
"Jangan memintaku untuk melakukan hal konyol lagi. Menikahi wanita lain, hanya untuk memiliki anak. Kau pikir aku mau....."
Perkataan Arash terhenti ketika Helena tiba-tiba memeluknya dari belakang. Pria itu terkesiap. Terlebih dia bisa mendengar tangis lirih Helena. Arah ingin berbalik, tapi Helena mencegahnya.
"Biarkan saja seperti ini sebentar."
Helena sudah lama tidak memeluk Arash. Merasakan kehangatan dan kenyamanan yang Arash berikan. Wanita itu bisa merasa aman saat bersama sang suami.
"Maafkan aku."
Satu kalimat dari Helena mampu menggetarkan hati Arash. Bisa pria itu rasakan jika punggungnya basah oleh air mata Helena. Tidak....Arash tidak suka melihat Helena menangis. Pria itu dengan cepat membalikkan badannya. Menatap cemas pada sang istri. Dia pikir emosi Helena benar-benar tidak bisa ditebak belakangan ini.
"Maafkan aku sudah menyakiti hatimu. Maafkan aku sudah mengabaikanmu. Maafkan aku sudah menyuruhmu menikah lagi. Aku hanya ingin kamu bahagia."
Helena berkata sembari menundukkan wajahnya. Dia tidak berani menatap wajah Arash.
"Lalu bagaimana jika jawabanku...aku hanya bahagia saat bersamamu."
Helena sontak mengangkat wajahnya. Sepersekian detik, pandangan keduanya bertemu. Hingga tangan Arash terulur, mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi Helena.
__ADS_1
"Jangan pernah berpikir untuk lari atau pergi atau meninggalkanku. Aku tidak bisa hidup tanpamu Helen. Kamu membuatku seperti orang gila saat aku melihatmu menangis. Lalu apa jadinya aku jika kamu menyuruhku menikahi wanita lain. Aku pikir aku pilih jadi duren sawit saja."
"Ha? Duren sawit apaan?"
Helena malah salfok dengan istilah yang digunakan oleh Arash.
"Makanya update, nangis mulu dipojokan. Duren sawit...duda keren sarang duit."
Helena membulatkan matanya. Dia serius dan Arah malah bercanda. "Arash aku serius."
Helena berucap kesal. Namun Arash yang tahu kalau sang istri sudah kembali ke keadaan biasanya malah semakin getol untuk menggodanya.
"Jadi boleh nih aku kawin dua?" Goda Arash.
Helena mendelik mendengar godaan Arash.
"Kawin dua sono....nanti aku potong milikmu, biar kita sama-sama nyengir gak dapat apa-apa."
Helena menjawab ketus. Sementara Arash langsung meledakkan tawanya. Melihat tawa Arash, Helena semakin kesal saja. Wanita itu berbàlik, tapi baru saja akan melangkahkan kakinya menuju dapur. Tubuh Helena tiba-tiba saja ambruk, tanpa Arash sempat menahannya. Beruntung lantai karpetnya cukup empuk.
Pingsannya Helena membuat Arash panik. Hingga tak berapa lama, Arash sudah mondar-mandir menunggu di depan ruang pemeriksaan.
"Bagaimana?"
Arash menyonsong David yang keluar dari ruang pemeriksaan. Semua kesehatan Helena memang dihandle oleh sang Paman.
"Aku pikir tidak ada yang salah dengannya. Kelelahan dan stres bisa saja memicu Helena menjadi begini."
Percakapan itu terputus ketika seorang perawat melaporkan kalau Helena mengalami kram perut. Pria itu masuk kembali. Lima belas menit kemudian, David kembali dengan wajah sumringah.
Arash tentu heran dengan perubahan raut wajah David. Tadi cemas sekarang senang. Moodian juga ni dokter, gerutu Arash dalam hati.
Arash mengerutkan dahinya. Obgyn? Kenapa jadi ke obgyn. David terkekeh melihat wajah kebingungan Arash. Hingga kemudian, pria itu menepuk pelan bahu sang ponakan.
"Ada kemungkinan Helena hamil."
Senyum Arash reflek mengembang. Berita itu benar-benar membuat pria itu bahagia. Tak berapa lama, seorang perawat datang menyerahkan selembar kertas. David sejenak melihatnya, dan wajah bahagia David semakin terlihat nyata.
"Selamat Arash, sekali lagi kamu membuat kami terkejut. Helena hamil."
Arash rasanya ingin melompat setinggi yang dia bisa. Helena hamil. Helena hamil anaknya.
*
*
Arash manyun, ketika semua orang berebut ingin masuk untuk melihat Helena yang akan di-USG. Untuk lebih memastikan kalau kehamilan Helena adalah benar. Maka pemeriksaan USG dilakukan. Parahnya kedua orang mereka ingin ikut melihat cucu perdana mereka yang sebentar lagi akan dilaunching.
Mereka sibuk berdebat, hingga akhirnya David menyalakan TV besar yang sudah tersambung dengan layar monitor USG. Helena sendiri sejak tadi beberapa kali mengusap air matanya. Dia tidak percaya kalau dia akhirnya bisa hamil lagi.
"Itulah jawaban dari semua emosiannya Helena. Dia mengalami mood swing ibu hamil."
David bicara saat si dokter mulai menggerakkan trandusernya di atas perut Helena. Sesaat semua terdiam mengamati layar hitam yang ada di depan mereka.
"Oke....ini positif hamil....kita bisa melihat ada kantong rahim yang terbentuk di sini."
__ADS_1
Bisa Arash dan Helena dengar betapa hebohnya keluarga mereka mendengar perkataan dokter obgyn itu.
"Usia kehamilan sekitar 8 minggu."
Sambung dokter itu lagi. Pantas saja, Helena bersikap tidak jelas beberapa waktu belakangan ini. Jadi ini sebabnya. Arash dan Helena saling menggenggam tangan masing-masing. Masih tidak percaya jika mereka akan memilik anak. Sementara si dokter masih terus menggerakkan alat itu di atas perut Helena.
"Ada apa?"
David menangkap ada yang tidak beres dengan tingkah dokter itu.
"Sebentar....ada kemungkinan ini kehamilan kembar, lihat ada dua kantong rahim yang terbentuk."
David mendekat ke arah monitor sejenak mengamati titik hitam di layar itu. Hingga dua dokter itu mengangguk bersamaan. Senyum lebar David seolah mengiyakan perkataan dokter itu.
"Selamat, ada kemungkinan Helena mengandung bayi kembar."
Semua orang bahkan berteriak kencang saking bahagianya. Sedang Arash seketika memeluk sang istri yang langsung terisak. Dua tahun menanti, akhirnya mereka mendapatkan ganti putra mereka yang pergi. Tidak hanya satu, tapi dua.
Tidak bisa dilukiskan bagaimana bahagianya Arash dan Helena beserta keluarga besarnya. Pewaris keluarga Liu dan Tan akan segera lahir, bersamaan dengan Hugo yang resmi menikahi Lira.
Dua tahun berjuang akhirnya Vi merestui hubungan Hugo dan Lira. Tak lama setelah, kakak Lira, Lendra menikah dengan Livia. Wanita yang telah memberi Lendra seorang putri cantik.
"Kita akan menjaganya bersama mulai sekarang."
Arash dan Helena saling melempar senyum bahagia. Tangis dan air mata mereka berakhir sudah. Perjuangan mereka sejak awal pernikahan keduanya berbuah manis.
Pernikahan paksa yang mereka jalani kini berujung pada kebahagiaan yang tidak henti menyapa.
"Aku pikir tidak ada ruginya terpaksa menikah denganmu."
Satu keplakan Arash dapat dari Helena. Sementara yang dikeplak malah tersenyum manis, membuat Helena mendelik tajam. Meski detik berikutnya, Helena dibuat kalang kabut ketika Arash tanpa malu mencium bibirnya di depan David dan dokter obgyn.
"Arash....."
"I love you, Helena Amara Liu. Aku mencintaimu, sekarang dan selamanya."
Blush, wajah Helena merona merah. Sementara David dan si dokter obgyn kompak menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kemarin lu ke mana aja, Bang. Baru cinta sama kakak gue sekarang."
Celetukan Hugo membuyarkan suasana romantis di ruang pemeriksaan USG itu.
"Hugo kamu minta dilempar sandal ya?"
Teriak Arash tidak terima. Momen romantisnya kacau akibat ulah si adik ipar yang semakin ke sini, semakin ke sono...somplaknya.
"Kagak mau ditimpuk sandal. Lagian kagak ada yang pake sandal. Timpuk gue pakai duit dong. Itung-itung buat hadiah gue nikah."
"Siapa bilang gak ada yang pake sandal."
Tak lama teriakan Hugo terdengar. Menambah kemeriahan ruang USG itu.
END
****
__ADS_1
Arash dan Helena, sudah end ya guys....