Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Kamu Ke Mana Helena?


__ADS_3

Sejak Arash mengungkapkan isi hatinya pada Helena. Ditambah sikap pria itu yang mulai berubah, membuat Helena sedikit demi sedikit membuka hatinya. Wanita itu mulai mengurangi level mulut petasannya. Tidak lagi sepedas dan segalak dulu. Helena mulai menunjukkan sikap manisnya pada Arash.


"Mau makan apa?" tanya Arash melalui ponselnya. Helena seketika melebarkan senyumnya. Seperti anak muda yang sedang kasmaran, Helena benar-benar bertingkah aneh di mata Shen.


Ketika mereka berkumpul di akhir pekan. Ketiga asisten itu hanya bisa melongo melihat sikap manis dan romantis pasangan pengantin lama itu.


"Mereka nggak lagi kesambet setan sebelah kan?" bisik Ang.


"Kenapa jadi kelihatan aneh dan mengerikan begitu ya?" timpal Shan.


"Aku takutnya tiba-tiba ada bom yang meledak. Dan mereka kembali seperti kemarin," Shan dan Ang kali ini manggut-manggut mendengar ucapan Shen.


Helena dan Arash terus saja bersikap manis satu sama lain. Meski Helena masih berhubungan dengan Evan tapi keduanya bersikap seperti biasa saat bertemu. Helena juga tetap bersikap manis pada Evan. Hal ini membuat Shen dan yang lainnya bingung. Sebenarnya perasaan Helena itu bagaimana? Atau sebenarnya siapa yang wanita itu cinta?


"Helen, aku pikir kau harus menentukan sikapmu," Shen berkata suatu ketika. Wanita itu ingin Helen tegas dengan perasaannya sendiri.


"Kenapa? Memangnya ada yang salah dengan sikapku?" tanya Helena santai.


"Tentu saja salah, Helen. Kau harus memilih satu di antara Arash dan Evan," saran Shen.


Helena terdiam, memikirkan ucapan Shen. Tapi dia sendiri tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Dengan Evan, wanita itu jelas mencintai kekasihnya. Sedang dengan Arash dia tidak tahu apa yang tengah dia rasakan pada suaminya tersebut.


"Jangan jadi orang plin plan, Helen. Jika begini terus, kau sama saja dengan mempermainkan perasaan mereka. Berpikirlah dan pilihlah satu. Meski kau adalah istri Arash tapi cinta dan tidaknya kau pada suamimu, kau sendiri yang tahu," Shen berkata tegas pada Helena.


Helena terdiam mendengar ucapan Shen. Dia sendiri masih bingung dengan perasaannya. Keduanya tengah makan di sebuah restauran. Ketika Helena dan Shen akan beranjak pergi dari sana. Mereka melihat Arash yang tengah makan berdua dengan Cia.

__ADS_1


Arash tampak tersenyum manis pada Cia. Begitupun sebaliknya. Keduanya terlihat sangat bahagia. Hati Helena mencelos melihat hal itu. Ada rasa tidak suka saat tahu Arash bersikap baik pada Cia. Cemburukah dia?


Dari tempat mereka berdiri, samar keduanya bisa mendengar pembicaraan Arash dan Cia. Karena penasaran, dua wanita itu pun mendekat dan duduk di meja sebelah Arash.


Kursi yang tinggi membuat Arash tidak menyadari kehadiran Helena dan Shen. Hal itu menguntungkan kedua wanita itu. Mereka bisa mendengar pembicaraan Arash dan Cia. Awalnya tidak ada yang aneh dengan pembicaraan dua orang itu.


Hingga sebuah kalimat dari Cia, membuat Helena hampir tersedak teh yang dia pesan. "Minggu depan ada pemeriksaan USG, kau bisa pergi menemaniku kan?" tanya Cia manja.


Helena dan Shen sontak saling pandang. USG? Maksud Cia, USG apa? "Tentu saja aku akan menemanimu. Dia kan anakku," jawab Arash.


Jawaban Arash membuat Helena seketika ngeblank. Perlu beberapa saat untuk mencerna perkataan Arash. "Wanita itu hamil anak Arash, begitu?" Perkataan Shen langsung memenuhi kepala Helena.


Arash dan Cia akan punya anak. Kalimat itu terus berputar di kepala Helena. "Sebaiknya kau tanyakan baik-baik pada Arash. Setelah itu baru kau putuskan, tindakan apa yang akan kau ambil," Shen memberi saran. Saat mengantarkan Helena kembali ke apartemen Arash sepulang mereka bekerja.


Helena hanya mengangguk lemah. Pikiran wanita itu tidak fokus sama sekali. Ketika dia masuk ke dalam apartemen, wanita itu disambut Arash yang sudah menunggunya. Seperti biasa Arash akan bersikap manis padanya.


Percakapan Arash dan Cia tadi siang membuat tanda tanya besar di kepala Helena. "Makanlah. Aku harap kau menyukainya," ucap Arash setelah mempersilahkan Helena duduk di meja makan.


Helena memandang Arash yang terlihat bahagia malam ini. "Apa yang sebenarnya pria ini sedang lakukan?" batin Helena, mulai menatap sengit pada sang suami.


"Kenapa kau tidak makan?" tanya Arash, melihat Helena hanya mendiamkan makanannya. Sang istri sejenak terdiam.


"Aku ingin bertanya?" Helena bertanya sambil melihat Arash tajam. Pria itu mengerutkan dahinya mendengar nada bicara Helena.


"Apa yang ingin kau tanyakan?" tanya Arash sambil memasukkan makanan ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Apa Cia sedang mengandung anakmu?" Pertanyaan Helena membuat Arash menghentikan kegiatan makannya. Sedikit terkejut. Pria itu melihat wajah Helena yang sudah berubah kesal.


"Itu...." Arash menjawab ragu. Wajah Helena semakin kesal saja. "Itu benar. Cia sedang mengandung anakku," jawab Arash pada akhirnya.


Amarah Helena meledak seketika. Wanita itu merasa Arash sudah membohonginya. "Kau keterlaluan Arash! Aku pikir sikapmu padaku tulus. Ternyata kau sama seperti dulu. Tukang bohong!" Helena membanting sendoknya.


"Tunggu Helena. Aku tidak pernah berniat membohongimu. Aku bermaksud memberitahumu," Arash mencekal tangan Helena. Mencegah wanita itu untuk pergi dari sana.


Helena menepis tangan Arash. "Aku tidak ingin mendengar apapun darimu!" Helena berlalu naik menuju kamarnya. Membanting keras pintu kamarnya. Setelahnya, tubuh Helena merosot ke lantai. Tangisnya tidak lagi bisa dibendung. Kenapa ketika dia berusaha memberi kesempatan pada Arash, kejadian lain membuat semuanya berantakan. "Aku harus melakukan apa?" gumam Helena di tengah derai tangisnya. Rasa kecewa dan sakit hati membuat Helena merasa sangat marah pada Arash.


******


"Helen....bangunlah. Ini sudah siang," Arash mengetuk pintu kamar sang istri. Keesokan harinya. Beberapa saat berlalu, tidak ada jawaban dari dalam.


Merasa aneh dengan sikap Helena, Arash pun mendorong pintu kamar Helena. Sepi, tidak ada tanda-tanda Helena ada di sana. Apa dia sudah pergi bekerja? Arash berpikir, kemudian dia teringat kalau ini weekend, akhir pekan. Jadi seharusnya Helena libur.


Arash kemudian menghubungi Shen untuk bertanya apa Helena ada schedule bekerja. Dan jawaban Shen membuat Arash khawatir. Helena tidak ada pekerjaaan di kantor. Yang membuat Arash bertambah khawatir adalah ponsel Helena tidak bisa dihubungi sejak tadi.


Pergi kemanakah Helena? Seketika rasa panik dan cemas menyerang Arash. Pria itu takut, sesuatu terjadi pada sang istri. Mengingat sifat Helena yang nekad dalam mengambil tindakan dan keputusan.


Pria itu sudah menyuruh Shan dan Ang untuk menghubungi beberapa teman dan kenalan Helena. Tapi mereka semua tidak tahu di mana Helena. Arash bahkan secara khusus menghubungi Valerie, mama Helena untuk bertanya apa Helena pulang ke rumah mereka. Dan jawaban tidak dari Valerie, membuat rasa cemas Arash semakin besar.


Dia benar-benar takut hal buruk terjadi pada Helena. Oohh, bukan itu saja, Arash juga takut kalau Helena pergi meninggalkan dirinya. Dia takut kehilangan Helena. Pria itu berjalan mondar mandir di ruang tengah apartementnya. Sesekali pria itu menggigit jari. Kebiasaan kalau kepanikan melanda dirinya.


"Aku harus mencarimu ke mana? Helen kamu di mana?" tanya Arash dalam hati. Pria itu benar-benar kebingungan dan ketakutan sekarang.

__ADS_1


*****


__ADS_2