
Kredit Pinterest.com
Dua minggu berlalu. Hari ini, tim dokter akan melahirkan anak Cia, terpaksa mereka harus melakukannya. Menghindari agar bayi itu tidak semakin tercekik tali placentanya sendiri.
Operasi caesar tidak lama. Kalau biasanya operasi caesar hanya menggunakan bius epidural (bius yang disuntikkan melalu tulang ekor). Tapi kali ini, Cia dibius total.
Ditambah, bukan hanya dokter obgyn yang berada di sana. Dokter dari bagian neurologi (syaraf) dan bedah onkologi (bedah khusus kanker). Semua stand by di sana.
Aldo dan Arash menunggu di luar operasi. Aldo terlihat cemas. Tapi Arash biasa saja. Pria itu lebih memikirkan Helena ketimbang proses persalinan Cia.
Dua puluh menit berlalu, dan suara tangisan bayi terdengar. Aldo langsung terlihat terharu. Tapi mereka tidak bisa langsung melihat bayi Cia. Karena kelahirannya prematur, maka bayi itu akan masuk inkubator langsung.
Setelah operasi selesai, tim dokter itu keluar. Mereka memberi tahu kalau persalinan Cia lancar. Mereka akan menunggu sebulan lagi, agar luka jahitan di perut dan rahim Cia mengering. Setelahnya mereka akan mendiskusikan bagaimana langkah selanjutnya.
Dua pria itu langsung mengangguk paham. Meski yang membiayai semua perawatan Cia adalah Aldo, tapi nama walinya adalah Arash. Arash berpendapat, dengan menggunakan marganya, Cia akan mendapatkan perawatan dan pelayanan terbaik.
Cia sudah dipindahkan kembali ke ruang perawatan. Kelas satu, sebab Aldo hanya mampu menanggung biaya untuk kelas satu. Toh tiap malam, hanya dia yang akan menunggui Cia. Arash selalu pulang ke apartemennya begitu Cia tidur.
Arash sudah menawarkan bantuannya jika Aldo kekurangan soal biaya. Untuk sementara Aldo masih menolak. Pria itu masih bekerja dari rumah sakit. Untuk rapat dengan klien diwakilkan pada asisten Aldo.
"Dia cantik bukan?"
Guman Aldo, melihat ke arah sebuah kotak. Di mana seorang bayi perempuan tampak bergerak aktif.
Mendengar perkataan Aldo, Arash menoleh melihat ke arah Aldo yang mengusap air mata yang mengalir di wajahnya.
"Dia putriku."
Lagi Aldo berkata. Arash tidak terlalu terkejut. Dia sudah menduganya dari awal. Kali ini Aldo balik menatap Arash.
"Kau tidak terkejut? Kau tidak marah?"
Arash hanya menghela nafasnya pelan. Apa gunanya itu sekarang. Di saat, semua terungkap. Helena sudah pergi darinya.
"Marah....aku marah sekarang. Tapi apa itu akan berguna. Dia bersikeras menyuruhku bertanggung jawab pada anak itu. Dia lebih memilih pergi dariku."
Bibir Arash bergetar saat dia mengingat sang istri.
"Maaf...maafkan aku dan Cia. Aku harap kalian bisa bersatu kembali."
"Aku akan membuatnya kembali padaku. Tidak peduli bagaimana caranya. Kalau aku harus memaksanya lagi. Aku akan melakukannya."
Aldo terdiam. Kini dia tahu, betapa besar cinta Arash pada Helena.
__ADS_1
"Jadi mari selesaikan semuanya. Dan kembali ke kehidupan masing-masing. Aku harap kau tidak keberatan jika setelah ini aku akan lepas tangan pada kalian."
"Tentu saja. Mereka tanggungjawabku mulai sekarang."
Kedua pria itu saling berjabat tangan. Seulas senyum terukir di bibir masing-masing.
"Hubungi aku jika kau ingin aku bicara pada istrimu. Aku akan menjelaskan semuanya."
"Tentu saja. Kau berutang penjelasan pada Helena. Satu lagi, beritahu aku jika kau mengalami kesulitan."
"Tentu saja. Kupikir aku perlu pekerjaan baru setelah semua ini selesai. Aku bisa saja kehabisan modal."
Arash tersenyum mendengar candaan Aldo. Dia tahu, Aldo cukup kaya. Hingga bisa dipastikan jika materi pria itu cukup berlimpah.
*
*
Kredit Pintereat.com
"Brigitta tunggu dulu. Jangan berlari di tangga. Hati-hati dengan kandunganmu!"
Rian berteriak cemas, ketika melihat sang istri berlari menuruni tangga. Wanita itu tampak marah. Dia merasa dibohongi, dimanfaatkan oleh Rian.
Wanita itu shock ketika dia mendengar Rian berkata, kalau dia menikahinya agar bisa mendapatkan posisi CEO di Wijaya Group. Saking terkejutnya, cangkir teh itu langsung terlepas dari pegangan Brigitta.
Rasa panas yang terasa di kakinya tidak dia hiraukan. Juga panggilan dari Rian. Brigitta berlari dari ruang kerja Rian. Menuruni tangga dengan cepat.
Hatinya sakit, saat dia tahu kalau Rian hanya memanfaatkan dirinya. Dia menangis, dia marah. Dia ingin berteriak. Kenapa lagi-lagi nasib tidak berbaik hati padanya.
"Ta, tunggu! Aku bisa menjelaskan semua. Kamu belum mendengar keseluruhan ceritanya."
"Lepaskan aku!"
Brigitta menepis cekalan tangan Rian. Wanita itu berusaha keluar dari rumah itu. Tapi gerakannya kalah cepat dengan Rian. Pria itu sudah lebih dulu menahan tangannya. Lalu merengkuh tubuh Brigitta.
Brigitta memukul dada Rian berkali-kali. Dia ingin lepas dari pelukan sang suami. Hanya ada rasa marah dalam hatinya.
"Dengarkan aku, Brigitta."
"Aku tidak mau dengar apapun. Kamu pembohong, kamu penipu. Aku tidak mau bersamamu. Aku ingin berpisah. Aku...kau hanya memanfaatku. Kau hanya....mmppphhh."
Kemarahan Brigitta menghilang kala Rian menyatukan bibirnya. Brigitta berontak, tapi Rian dengan cepat mengunci pergerakan tubuh sang istri.
__ADS_1
Beberapa waktu berlalu, amarah Brigitta menguar seiring dirinya yang hanyut dalam ciuman sang suami. Untuk sesaat, keduanya begitu menikmati penyatuan bibir mereka. Hingga Brigitta yang tersadar lebih dulu, langsung mendorong jauh tubuh Rian.
"Akan kuceritakan semuanya. Setelahnya terserah padamu. Mau marah padaku juga tidak apa-apa. Tapi, jangan mimpi untuk berpisah dariku."
Brigitta melengos mendengar perkataan Rian. Rasa marah itu timbul kembali. Detik berikutnya, Brigitta menjerit ketika Rian mengangkat tubuhnya. Membawanya naik ke kamar mereka.
"Turunkan aku, dasar penipu!"
Maki Brigitta. Sementara Rian hanya tersenyum mendengar umpatan sang istri.
"Makilah aku sepuas hatimu. Aku akui aku salah."
Balas Rian singkat. Pria itu menurunkan tubuh Brigitta di sofa. Dekat balkon. Angin bertiup membelai rambut Brigitta yang panjang terurai.
Wanita itu menatap tajam ke arah sang suami, yang tengah mencari sesuatu di laci meja riasnya.
"Mau apa?" Galak Brigitta.
"Kakimu kena air panas. Nanti tidak cantik kalau pakai heels."
Brigitta mendelik ucapan santai dari Rian. Pria itu lantas duduk bersila di bawah Brigitta. Perlahan, disapukannya salep luka bakar itu di kaki sang istri.
"Kamu tahu pertama kali bertemu?"
Tanya Rian mengawali ceritanya.
"Nggak!" Judes Brigitta.
"Saat kelulusan kalian. Aku datang memberi selamat pada Helena, meski kami sudah putus."
Brigitta membulatkan matanya, dia ingat hari itu. Begitu banyak orang yang datang untuk memberikan selamat pada Helena. Sang sahabat tampak bahagia, memeluk banyak buket bunga yang diberikan padanya.
Iri? Tidak. Brigitta cukup sadar diri. Toh di tangannya, sudah ada tiga buket peony. Bunga itu berasal dari Rafael, Valerie dan Hugo. Saat Brigitta terus menatap Helena yang tengah berfoto, tiba-tiba sebuah buket mawar merah berada di depannya.
"Selamat atas kelulusannya. Semoga sukses selalu."
Brigitta melongo, pria itu langsung melangkah pergi setelah meletakkan sebuket bunga mawar merah ke dalam pelukannya. Mawar merah itu terlihat kontras dengan bunga peony yang berwarna pink.
"Pria mawar merah."
Gumam Brigitta. Di depannya, Rian langsung mengangkat wajahnya.
"Kau menyebutku pria mawar merah?"
Rian tersenyum simpul mendengar perkataan Brigitta.
__ADS_1
*****