Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
One Step Closer


__ADS_3

Saat Helena dan Arash tengah menikmati kencan low budget jilid dua mereka. Di sisi lain, asisten masing-masing tengah menggerutu sebal. Bagaimana tidak, jika sang atasan tidak ada. Tentu saja semua pekerjaan jadi mereka yang handle. Seperti sekarang ini, Ang baru saja keluar dari meeting room. Mewakili Arash, pria itu mau tidak mau harus menemui klien mereka.


"Anna, kau kembalilah ke kantor dulu. Schedule-ku sudah selesai, kan?" tanya Ang pada sekretarisnya. Wanita itu mengangguk lantas berlalu dari hadapan Ang. Pria itu pikir akan mencari udara segar. Mengingat tempat meeting mereka bersatu dengan sebuah mall. Bisalah buat sekedar cuci mata.


Ang mulai melangkahkan kakinya menyusuri mall tersebut. Cukup lama, Ang mulai bosan dengan pemandangan di mall itu. Yaelah, di mall ya gitu-gitu aja yang dilihat, Bang. 🤣🤣


Hingga ekor matanya melihat sesuatu yang membuat dua sudut bibir pria kutub itu tertarik aka tersenyum. Ang melihat Shen yang tengah berjalan seorang diri. Di lihat dari wajahnya, bisa dipastikan kalau wanita itu juga tengah jenuh. "Mereka enak lagi dating. La aku, dua meeting aku handle sendiri. Mana yang satu negosiasinya susah banget lagi. Kayaknya aku harus minta bonus deh sama Helen,"


Ang tersenyum mendengar gerutuan asisten Helena itu. "Apa kau sedang bosan Nona Shennia?" Shen hampir melompat mendengar seseorang berbisik di telinganya. "Alamak, Angelo! Kau mau bunuh aku ya? Sengaja bikin aku jantungan, begitu maumu?" cerocos Shen tanpa rem.


Ang terbahak mendengar perkataan Shen. Adik Shannon ini benar-benar bisa jadi moodbooster untuk Ang. Melihat Ang tertawa, giliran Shen yang terpana. Pria itu menjadi lebih tampan berlipat-lipat dari biasanya saat menjadi pria kutub utara.


"Malah melongo. Kamu ngapain di sini?" tanya Ang, lamunan Shen buyar seketika. "Aku menggantikan Helena meeting di kantor sebelah. Aku bosan jadi mau cari hiburan di sini. Kamu?" tanya Shen balik.


"Ya, sama. Aku habis meeting di lantai atas." Dua orang itu menarik nafas bersamaan. Keduanya lantas berjalan beriringan. "Mau ke mana sekarang?" tanya Shen. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Shen teringat bagaimana sang kakak getol sekali mempromosikan Ang padanya. "Top brand, jaminan mutu. Plus jaminan rekening tebal. Dapat bonus wajah tampan sekelas Li Hong Yi."


Begitulah Shan selalu melambungkan nama Ang di depan Shen. Adik Shan itu bahkan sampai curiga, apa mungkin sang kakak disogok oleh Ang untuk menjodohkannya dengannya. "Kamu maunya ke mana?"...."Malah balik nanya!" geram Shen dalam hati. Inilah yang dia tidak suka dari Ang. Irit banget bicaranya. "Katanya sudah ditatar sama Shan. Mana hasilnya. Masih sama saja tuh kayak kutub utara pindah di mari," gerutu Shen lirih.


"Kalau nonton mau nggak?" tanya Ang tiba-tiba. Shen seketika mengembangkan senyumnya. Ada kemajuan juga nih orang, pikir Shen. "Mau dong," jawab Shen antusias. Dia memang sudah lama tidak menyalurkan hobinya itu. Kesibukan kerja ditambah masalah Helena akhir-akhir ini, membuat Shen nyaris kehilangan waktu untuk dirinya sendiri. Keduanya lantas mengantri di loket tiket. "Mau nonton film apa?" tanya si petugas


"Romantis!"

__ADS_1


"Action!"


Dua orang itu menjawab bersamaan. Ang langsung nyengir melihat ke arah Shen. "Kamu aja deh yang pilih," pasrah pria itu. "Nanti kamu gak suka film pilihanku," kata Shen.


"Tidak apa-apa. Kalau aku tidak suka. Aku tinggal tidur saja. Yang penting kan sudah nemenin kamu," balas Ang. Shen seketika membulatkan matanya. "Kelas kilat Shan ternyata ada hasilnya juga," kekeh Shen dalam hati.


Pada akhirnya keduanya memilih film yang bisa memenuhi keinginan dua orang itu. Atas saran dari penjual tiket bioskop. Dua jam melihat layar besar di hadapan mereka, membuat stres keduanya sedikit berkurang. Kencan dadakan itu masih berlanjut ketika Shen teringat harus membeli heels baru untuk pergi ke sebuah makan malam minggu depan.


"Undangan dari Wang Group?" tanya Ang. Shen mengangguk. Pria itu mengembangkan senyumnya seketika. Dia dan Arash juga akan pergi ke undangan itu. Pria itu hanya diam sembari duduk di sofa tunggu sebuah outlet sepatu ternama. "Bagus tidak?" tanya Shen menunjukkan stiletto berhak 10 senti.


"Sesuaikan saja dengan warna bajunya. Dan....jangan tinggi-tinggi heelsnya...nanti aku tenggelam kalau berdiri di sampingmu," jawab Ang. "Wow" kutub utara sudah benar-benar mencair, teriak Shen senang. Sambil mengulum senyumnya, wanita itu akhirnya memilih satu stiletto dengan hak 7 senti. Sangat rendah bagi Shen. Tapi tidak mengapa, dia akan menghormati saran dari kutub utara yang sudah meleleh itu.


"Kalau begini perwujudannya, aku akan mempertimbangkan lagi bagaimana ke depannya," batin Shen sembari melihat ke arah Ang yang tengah memesan makan malam mereka. "Tidak buruk juga," tambah Shen. Ang sudah tidak sekaku dulu, seperti saat mereka pertama bertemu. Di tambah pria itu ternyata begitu gentle. Stiletto miliknya yang membayar adalah Ang. "Kau kan ke sini bersamaku. Jadi biarkan aku yang bayar. Kalau kau ke sini sendiri, nah itu baru kau bayar sendiri," kata Ang mengambil kartunya lalu meraih paperbag berisi stiletto itu dari tangan Shen.


"Siapa bilang yang bisa kencan cuma pak bos dan bu bos. Aku juga bisa," kekeh Shen dalam hati.


*****


Arash dan Helena sudah pulang ke apartemen mereka ketika senja mulai berubah menjadi gelap. Pasutri itu juga baru saja menyelesaikan makan malam mereka. Kali ini Helena yang masak. Kembali, Arash dibuat takjub dengan masakan sang istri. Helena benar-benar menyembunyikan harta karun dalam keliaran dan mulut petasan yang dia miliki.


"Ada masalah?" tanya Helena, melihat Arash malah terdiam. Tidak segera menyantap makan malamnya.

__ADS_1


"Tidak ada. Aku benar-benar surprise dengan dirimu Helen," kata Arash terus terang.


"Memangnya kenapa?" wanita itu sedikit tersipu dengan ucapan Arash. Keduanya makan malam dalam diam. Sesekali Arash mencuri pandang ke arah Helena.


"Kau pikir, Papa akan sembarangan memilihkan wanita untukmu. Kau belum mengenal Helena. Jika kau sudah mengenal dia. Papa jamin kau akan tergila-gila padanya,"


Arash tersenyum simpul mengingat ucapan sang papa saat dirinya menolak perjodohan mereka. Ternyata perkataan papanya ada benarnya juga. "Malam ini dan seterusnya tidurlah di kamarku," pinta Arash. Helena langsung menghentikan acara makannya. Menatap penuh selidik pada sang suami. "Apa maksudmu?"


"Kenapa masih bertanya, kita kan sudah menikah. Jadi buat apa kita tidur terpisah," balas Arash. "Kau tidak sedang merencanakan sesuatu kan?" cecar Helena.


"Semisal?" Arash menaikkan satu alisnya. Membalas tatapan sengit dari Helena. "Seperti...."


"Seperti aku memaksamu malam itu?" Helena mendelik mendengar perkataan Arash. Wanita itu jelas masih malu untuk membahas hal paling intim dalam hubungan dua manusia itu.


"Tenang saja. Aku tidak akan melakukannya tanpa seizinmu," kata Arash lagi. "Sudah aku katakan, mari mulai semuanya dari awal lagi. Salah satunya ya kita mulai tinggal di satu kamar, bagaimana?"


"Jika kau setuju, maka semakin mudah jalanku untuk meraihmu, one step closer," batin Arash. Dia semakin yakin kalau hatinya sudah benar-benar terpaut pada Helena.


*****


Visual Ang dan Shen....

__ADS_1



*****


__ADS_2