
"Sakit tidak?"
Shan bertanya setelah melepaskan ciumannya pada Meisya. Sementara Meisya malah membeku. Merasakan sensasi ciuman Shan yang membuat otaknya berkelana ke mana-mana. Belum lagi dengan jantungnya yang seakan ingin melompat dari tempatnya. Ditambah tubuhnya yang langsung panas dingin dibuatnya.
"Malah bengong. Sakit tidak?"
Meisya menggeleng pelan. Gadis itu menyentuh bibirnya yang sudah tidak perawan lagi. "Enak kan?"
Shan kembali bertanya sembari menaikkan satu alisnya. Dia sendiri cukup terkejut, mendapati bibir Meisya yang mungil tapi manis dan lembut luar biasa. Bisa kecanduan dia, pikir Shan.
Meisya mengangguk menjawab pertanyaan Shan. "Mau lagi?" Goda Shan.
Meisya seketika mendelik mendengar pertanyaan Shan. Enak sih, sekalinya langsung bikin nagih. Tapi masak iya dia langsung iyain aja ketika Shan menggodanya lagi.
"Tidak usah malu. Kita sudah menikah. Kita bisa ciuman kapanpun kamu mau. Lebih dari ciuman juga boleh." Shan kembali menggoda Meisya. Dan sebuah bantal langsung menimpuk wajah Shan.
"Om mesum!"
"Mesum-mesum gini suamimu. Kamu yang maksa aku buat jadi suami kamu."
"Itu kan darurat Om." Dalih Meisya.
Shan berdecih kesal. Kapan sih istri kecilnya itu berhenti memanggilnya Om.
*
*
*
"Mau ke mana sih?"
Helena berusaha menarik tangannya dari genggaman Arash. Pria itu setengah menyeret dirinya. Masuk ke sebuah restauran mewah di kota mereka. Helena beberapa kali mengeluh. Tapi Arash seolah tidak mendengarnya.
Pria itu membawa Helena naik ke lantai lima. Masuk ke sebuah ruang VVIP. Begitu mereka masuk, dilihatnya Aldo dan Cia ada di sana. Dua orang terkejut dengan kedatangan Arash yang tidak mereka duga. Seolah mereka baru saja membicarakan hal penting.
Arash menarik sudut bibirnya. Pria itu meminta sang istri untuk duduk di sebelahnya, berhadapan dengan Aldo dan Cia. Jelas terlihat, kalau Cia tidak menyukai kehadiran Helena.
"Kenapa aku harus ada di sini?" bisik Helena kesal.
__ADS_1
"Aku akan menyelesaikannya sekarang. Di sini. Di hadapanmu."
Arash melihat lurus ke depan. Ke arah Aldo dan Cia yang juga balik memandangnya. Pada akhirnya Helena hanya bisa duduk diam. Menyimak apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Kenapa dia ada di sini?" Judes Cia.
"Dia istriku, jadi dia berhak tahu semua."
Cia mengepalkan tangannya mendengar jawaban Arash. Arash sendiri tidak tahu, sejak kapan perasaaanya pada Cia berubah. Dulu, bisa dikatakan kalau Cia adalah prioritas Arash. Pria itu menempatkan kebahagiaan Cia di atas segalanya. Meski dia harus bertengkar dengan William sekalipun.
Tapi sejak dia menikah dengan Helena, semua mulai berubah. Sifat Helena yang sangat keras kepala di awal pernikahan mereka. Membuat Arash melihat sisi wanita dari arah yang berbeda. Helena mandiri, tidak seperti Cia yang semua harus dilakukan dengan bantuan Arash.
Helena liar, judes, kasar tapi bisa menempatkan semua itu. Dia memperlakukan orang lain sesuai porsinya. Dia jahat, Helena jahat. Mereka baik, Helena akan jauh lebih baik memperlakukan mereka.
Tidak seperti Cia, yang terkesan arogan pada semua orang. Pada awalnya Arash tidak menanggapi serius perbedaan itu. Tapi sejak kasus Evan dan Brigitta. Arash mulai memilah, dia tahu betul bagaimana Helena berjuang melawan sakit hati dan kecewa yang dia rasa.
Arash tahu, kemarahan Helena pada dua orang itu tidak akan bertahan lama. Sebab Arash mulai paham dengan hati wanita itu. Pemaaf, satu sifat itu Helena memilikinya. Meski Arash cukup terkejut ketika sampai sekarang sang istri belum juga memaafkan Evan.
Sedang untuk Brigitta, begitu wanita itu minta maaf. Habis rasa marah dan kesal Helena. Seperti sekarang, hubungan keduanya mulai membaik. Terlebih setelah Brigitta menikah dengan Rian. Meski sampai sekarang Arash masih mencurigai kalau Helena dan Rian mempunyai hubungan.
"Jadi apa yang ingin kau bicarakan?"
Aldo membuka suaranya. Arash seketika menatap tajam pada Aldo. Karena pria inilah semua rencananya gagal total.
Aldo terdiam sejenak. "*Aku mohon bantulah aku. Kesaksianmu akan membuat Arash menikahik*u."
Permohonan Cia terngiang di telinga Aldo. Pria itu sangat mencintai Cia dan anak yang ada dalam kandungan Cia. Karena itulah dia terpaksa mengambil keputusan ini. Di bawah sana, tangan Cia menahan tangan Aldo, memperingatkan.
"Anak itu adalah anakmu. Bahkan tes DNA sudah dilakukan. Apa kau masih meragukannya?"
Helena ingin bangkit dari duduknya. Tapi Arash dengan cepat menahannya. Bagi Helena, dia berpikir dirinya tidak sepatutnya ada di sana. Tapi melihat cekalan tangan Arash, wanita itu hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar.
"Kalau begitu keputusanku juga sama. Aku menolak menikahimu."
Ucap Arash tegas, memandang Cia yang wajahnya langsung memerah menahan amarah.
"Untuk anak itu, aku akan bertanggungjawab. Dia akan mendapatkan margaku tapi dengan syarat setelah dia lahir, dia ikut denganku."
Helena dan yang lainnya langsung membulatkan matanya. "Apa maksudmu Arash? Kau ingin memisahkan anak dengan ibunya. Kau keterlaluan!"
__ADS_1
Helena langsung protes. Begitupun Cia, dia tidak mau berpisah dengan anaknya. Sementara Aldo sudah seperti orang linglung. Jika Arash mengambil anak Cia maka dia tidak akan bisa bertemu dengan anaknya sendiri.
"Siapa bilang dia akan berpisah dengan ibunya. Dia akan mendapat seorang ibu yang akan merawatnya dengan baik."
Arash seketika menatap wajah Helena. Pun dengan Helena, wanita itu melihat dalam dua bola mata Arash. Mencoba mencari tahu apa yang tengah Arash lakukan.
"Aku tahu ini tidak adil bagimu. Tapi aku mohon, rawatlah anakku. Aku tidak mau berpisah denganmu. Aku tidak mau bercerai denganmu. Aku mencintaimu Helen. Jadi aku mohon dukunglah keputusanku ini."
Arash mengusap lembut pipi Helena. Hati Helena sesaat menghangat, mendengar ungkapan cinta dari sang suami. Sedang Cia, langsung panas hatinya melihat sikap manis Arash pada Helena.
"Aku tidak terima, anakku di rawat orang lain!"
Cia langsung menunjukkan protesnya. Dia jelas tidak setuju. Jika anaknya di rawat Helena. Otomatis dia tidak akan mendapat apapun. Status Nyonya Tan yang sangat dia impikan tidak akan pernah menjadi nyata.
"Kalau kau tidak mau ya sudah. Tidak masalah."
Arash membalas enteng. Sementara dilema melanda Helena. Batin wanita itu berperang sendiri. Dia mencoba menempatkan diri di posisi Cia. Hingga satu kesimpulan diambil Helena. Tidak ada seorang ibu yang ingin berpisah dengan anaknya. Tidak dirinya ataupun Cia.
"Kau benar-benar keterlaluan Arash. Nikahi aku! Aku hanya ingin status untuk anakku. Supaya dia tidak dianggap anak haram."
Cia memohon, tangis Cia terdengar pilu. Sementara Aldo hanya bisa diam sembari menenangkan Cia. Dia sama sekali tidak berani bicara.
Hingga suara Helena tiba-tiba membuat semua bungkam. "Aku tidak setuju."
Arash dengan cepat menoleh ke arah sang istri. Pria itu tidak percaya jika Helena akan menentang keputusannya.
"Helen, aku melakukannya demi kamu. Demi kita."
"Dengan memisahkan ibu dan anaknya. Tidak Arash, andai itu terjadi padaku. Aku akan melakukan apapun untuk bisa merawat anakku sendiri. Meski kalau aku, aku lebih memilih status anak haram melekat pada anakku."
Senyum Cia yang tadi sempat terukir langsung menghilang. Dia tahu Helena setengah menyindirnya.
"Lepaskan aku dan rawatlah anakmu. Aku tidak apa-apa."
Helena lantas keluar dari ruangan itu. Mengabaikan teriakan marah Arash. Sementara Cia langsung melengkungkan senyumnya. Ternyata kehadiran Helena, malah memuluskan rencananya.
"Aku berhasil. Kau tidak akan bisa lari lagi."
Sementara rasa bersalah langsung menyergap Aldo. Pria itu kini menyadari kalau Helena seorang wanita yang baik.
__ADS_1
"Aku melakukan kesalahan besar."
****