
Kredit Pinterest.com
"Ini rumah siapa?"
Pertanyaan itu seketika meluncur dari bibir Helena. Begitu mobil Arash masuk ke sebuah bangunan rumah, seperti villa. Bangunan yang terbilang cukup mewah.
"Turun!"
Perintah Arash. Meski lembut tapi nada bicara Arash masih terdengar tinģgi. Hal itu membuat Helena tidak suka. Wanita itu memilih diam di tempatnya ketimbang segera menuruti perintah Arash. Melihat reaksi Helena, Arash seketika mengeratkan rahangnya. Emosinya mencuat naik.
"Helena, ayo turun!"
Arash membuka paksa seatbealt sang istri. Lantas menariknya keluar. Helena jelas berontak.
Dia tidak mau Arash memaksanya lagi. Dia tidak mau keadaan bertambah kacau.
Melihat Helena yang melawan, kemarahan Arash tidak terbendung lagi. Pria yang terkenal mudah marah dan temperamental itu, menarik paksa tubuh Helena. Masuk ke dalam villa tersebut.
"Aku mau pulang!"
Teriak Helena. Tidak menjawab, Arash malah menggendong tubuh Helena. Wanita itu terus melawan, dia memukul dada Arash. Menggoyang-goyangkan kakinya. Agar Arash menurunkannyà.
"Diam Helen!"
Desis Arash penuh penekanan. Helena tidak menggubrisnya. Wanita terus bergerak. Hingga sebuah ciuman mendarat di bibir Helena. Dia terkesiap, terkejut. Helena tidak menyangkal, dia sangat merindukan ciuman sang suami.
Arash mendorong sebuah pintu menggunakan tubuhnya. Tak berapa lama, tubuh Helena sudah terbaring di sebuah ranjang besar. Dengan Arash terus ******* bibirnya.
Rindu yang wanita itu rasakan membuat Helena dengan cepat masuk ke dalam permainan bibir Arash. Bertukar saliva, saling membelit lidah. Menyalurkan kerinduan yang selama ini terpendam di antara keduanya.
Helena hampir meloloskan lenguhannya ketika Arash mulai mencumbu dirinya. Pria itu menciumi leher Helena. Hingga tiba-tiba kesadaran Helena kembali. Dia mendorong tubuh Arash, hingga pria itu terguling ke sampingnya.
"Helena!"
Geram Arash. Pria itu segera menyusul Helena yang hampir mencapai pintu. "Aaarrggh" Helena meringis ketika Arash menarik tangannya lalu menghimpit tubuhnya ke tembok. Lagi, Arash meraup bibir Helena. Kali ini gerakannya kasar dan menuntut.
"Hentikan! Arash hentikan!"
Helena berteriak, ketika sang suami mulai menciumi dadanya. Dua tangan Helena ditahan Arash di atas kepalanya. Sementara satu tangan Arash mulai liar menjamah tubuh Helena.
"Arash berhenti!"
Helena pikir, dia tidak boleh bercinta lagi dengan Arash.
"Kenapa? Kita masih suami istri. Kamu harus melayaniku jika aku menginginkannya. Dan aku sangat menginginkannya sekarang."
Baik, status mereka memang masih suami istri. Tapi Helena tidak mau melakukannya saat Arash emosi.
__ADS_1
"Aku tidak mau, kau sedang emosi. Aku tidak mau.....aaww...Arash sakit."
Arash tidak peduli. Pria itu menggigit leher putih Helena. Hingga bekas merah langsung tercetak di sana.
"Aku tidak peduli! Aku menginginkannya dan kamu harus mau!"
Gerakan Arash semakin liar. Pria itu sudah membuang jasnya. Menyusul mantel Helena yang lebih dulu teronggok di lantai. Pria itu berusaha melucuti gaun Helena. Sementara Helena terus menahan gerakan tangan Arash.
"Kamu melawan?"
"Sudah aku bilang, aku tidak mau melakukannya kalau kamu sedang emosi. Kamu hanya akan menyakitiku!"
Arash mengabaikan ucapan Helena. Pria itu hampir merobek paksa gaun Helena. Ketika tiba-tiba, dia merasa pergerakan Helena semakin lemah.
Helena sendiri tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Rasa pusing seketika menghantam kepalanya. Kegelapan itu mulai melahap kesadarannya. Tubuh Helena mulai merosot, saat itulah Arash menyadarinya.
"Helen! Helena..."
Arash menahan tubuh Helena. Pria itu teringat, terakhir kali Helena pingsan karena maag akutnya. Apa kali ini sama.
Dengan segera, Arash membawa tubuh Helena ke ranjang. Tanpa mempedulikan penampilannya, pria itu kembali turun. Sesaat mencari tas Helena. Pria itu menuangkan seluruh isi tas Helena. Tapi pria itu tidak menemukan obat seperti yang terakhir kali sang istri minum.
"Kamu kenapa lagi?"
Pria itu mengusap lembut wajah Helena. Penampilan Helena sama berantakannya dengan dirinya. Rambut panjang Helena acak-acak-an. Bibir wanita itu bengkak dengan leher terlihat beberapa bekas kissmark.
Arash menghela nafasnya. Menatap wajah Helena yang sedikit pucat. Wanita ini, ya hanya Helena yang mampu membuat emosi Arash naik turun tidak jelas.
Apa yang bisa Arash lakukan jika Helena bersikukuh menjauh darinya. Mencegahnya? Bagaimana caranya?
Beberapa pertanyaan itu berputar di kepala Arash. Hingga dering ponsel Helena terdengar. Tertera nama Hugo, sang adik ipar di sana.
"Halo....."
Hugo langsung membulatkan matanya, mendengar suara Arash yang menjawab ponsel sang kakak.
*
*
"Sekali lagi kau membawa kakakku tanpa izin, aku hajar kau!"
Hugo langsung berbalik. Masuk ke dalam mobilnya, di mana Helena yang menatap nanar pada Arash. Berat bagi keduanya untuk menjalani. Helena dengan cepat memalingkan wajahnya, menghindari tatapan penuh permohonan dari Arash.
"Kenapa Kakak bersikeras ingin berpisah kalau Kakak masih mencintainya?"
Hugo protes, dia sebenarnya sangat benci melihat keadaan sang kakak. Begitu mobil Hugo menghilang dari pandangan Arash. Pria itu langsung menyandarkan tubuhnya ke tembok. Sekali lagi, dia tidak mempunyai daya untuk mencegah kepergian Helena.
"Apa cintaku tidak cukup untuk menahanmu di sisiku?"
__ADS_1
"Cintanya terlalu besar untuk Kakak, jika Kakak tidak pergi. Dia tidak akan mau melepaskan Kakak."
"Aku jamin dia tidak akan menceraikan Kakak."
Sahut Hugo cepat. Hugo pikir sebagai pria mereka harus berjuang untuk mempertahankan cintanya. Bagaimanapun caranya.
"Ahhhh, kenapa aku bisa berpikir seperti ini. Padahal aku sendiri tidak melakukan apapun untuk memdapatkan cintanya. Kau sama saja dengan kakak iparmu, Hugo."
Batin Hugo. Sampai saat ini, Hugo belum berani menghubungi Lira lagi, setelah insiden keduanya yang berciuman panas hari itu.
"Lama-lama, aku bisa gila jika tidak bisa mengatasi perasaanku sendiri."
Tambah Hugo dalam hati. Lamunan pria itu terganggu ketika mendengar suara sang kakak yang ingin muntah.
"Kakak kenapa? Maag Kakak kumat lagi?"
Sang kakak menggeleng. Dia pikir selama dia di rumahnya, sang mama selalu memastikan Helena makan tepat waktu.
"Kakak pikir, tidak pernah telat makan. Mama selalu mengawasi pola makanku."
Terdengar lagi suara ingin muntah Helena. Semakin lama semakin sering. Hingga Hugo menghentikan mobilnya di tepi jalan. Membiarkan sang kakak memuntahkan seluruh isi perutnya.
"Kita ke rumah sakit. Kakak harus diperiksa."
Putus Hugo. Helena tidak menyahut, dia pikir dirinya memang perlu ke rumah sakit. Dia merasa lemas.
Begitu sampai, Hugo langsung menghubungi dokter David, dokter keluarga mereka yang bertugas di rumah sakit itu.
"Kamu tidak telat makan kan?"
David bertanya, pria itu adalah sahabat papa dan mamanya. Hugo dan Helena saling pandang. Melihat heran ke arah David.
"Memang kenapa Om?" tanya Hugo.
"Asam lambungnya normal." David berkata sembari melihat hasil lab Helena.
"Kalau bukan maag, apa aku masuk angin. Aku memang baru makan pizza pagi ini. Rasanya aku ingin sekali makan itu. Jadi aku makan saja."
Cerita Helena membuat David sedikit terkejut. Hingga pria itu curiga tentang satu hal.
"Apa siklus bulananmu sudah datang?"
"Om kenapa bertanya. Om kan tahu kalau "tamuku" itu tidak bisa diprediksi kapan datang."
"Kalau begitu, Om akan melakukan satu tes lagi padamu. Om curiga satu hal."
"Jika dugaanku benar. Arash selamat, kau hebat. Tidak sampai setahun, semua prediksi medis meleset karenamu."
Tanpa Hugo dan Helena tahu, David adalah adik William, papa Arash.
__ADS_1
******