
Rian menjabat tangan papanya, sebagai bukti kalau perusahaan itu sudah sah dialihkan padanya. Papa Rian, benar-benar menepati janjinya. Begitu Rian menikah, dia langsung mengadakan rapat direksi untuk mengumumkan perubahan pucuk kepemimpinan di kantor itu.
"Papa berharap kamu akan melakukan yang terbaik demi kantor ini dan juga rumah tanggamu."
Senyum Rian sedikit memudar mendengar perkataan sang Papa. Seolah pria itu tahu ada yang tidak beres dengan pernikahannya.
Meski begitu, Rian mengiyakan permintaan sang Papa. Sepeninggal sang ayah, Rian langsung mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. Ambisinya tercapai.
Pria itu tersenyum puas. Baginya tidak ada yang lebih membahagiakan selain menduduki kursi tertinggi di kantor itu.
"Kantor ini adalah milikku. Wijaya Grup adalah milikku."
Batin Rian sembari menyeringai. Tiba-tiba dia meraih ponselnya. Lalu menghubungi seseorang. Tak berapa lama seorang pria masuk membawa setumpuk berkas. Rian akan langsung bekerja hari ini.
Soal etos kerja, Rian memang juaranya, dia memiliki semangat kerja tinggi. Satu nilai plus yang dia punya. Setelah mengirim pesan pada Brigitta kalau dia akan pulang untuk makan siang.
Pria itu harus bersikap manis di depan sang istri. Meski dia akui, Brigitta mulai punya tempat di hati Rian. Wanita itu perlahan mengubah pandangan Rian, dari awalnya yang hanya ingin memanfaatkan Brigitta. Menjadi sebuah perasaan yang mulai membuat pria itu merasa nyaman saat bersama sang istri.
Terlebih Brigitta berhasil mengandung anaknya. Pria itu tersenyum. Mengingat dokternya mengatakan kalau kemungkinan dia bisa memiliki anak sangat kecil. Tapi lihatlah sekarang, Brigitta bisa mengandung darah dagingnyà.
*
*
Arash memandang bingung pada Aldo yang bersujud di hadapannya. Cia baru saja sadar, wanita itu langsung berteriak senang melihat Arash di depannya. Cia merasa kalau Arash kembali padanya. Padahàl dia baru saja mengalami shock yang membuat otaknya blank.
"Aku mohon, tetaplah di sini. Sampai operasinya selesai dilakukan."
Mohon Aldo. Keduanya baru saja keluar dari ruangan dokter dan mendapati kenyataan mengejutkan soal Cia.
"Ada tumor di otaknya. Sudah cukup besar. Dan kita harus mengambilnya. Tapi mengingat dia tengah hamil. Kita harus menunģgu sampai dia melahirkan, baru bisa mengoperasinya. Jika kita melakukannya sekarang. Itu sangat beresiko."
Penjelasan dokter itu membuat Arash tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin pergi dari sana. Dia ingin mencari Helena, sang istri. Dia ingin menjelaskan semua.
Namun keadaan Cia membuatnya dilema. Terlebih, wanita itu memintanya untuk berada di sana. Menungguinya. Cia sering mengalami sakit kepala yang hebat. Hal itu membuat Arash merasa kasihan. Terlebih tim dokter tidak bisa memberikan sembarang obat pada Cia, mengingat kehamilan wanita itu.
__ADS_1
Jika Arash harus menunggui Cia sampai operasinya dilakukan. Berarti itu tiga bulan lagi. Arash mengusak rambutnya kasar. Apa yang harus dia lakukan.
Di tengah kebingungannya itu, William sang papa meminta untuk bertemu. Singkat kata, dalam hitungan menit, Arash sudah berada di hadapan William.
"Jadi apa yang terjadi?"
Satu pertanyaan singkat dari William, mampu membuat Arash kehilangan kata untuk menjawab. Dia yang tengah dilanda kebingungan tidak tahu harus berkata apa.
"Pilih satu diantara mereka. Dan lepaskan yang lain."
Arash seketika memberanikan diri menatap wajah tegas William.
"Arash tidak akan pernah melepaskan Helena. Tidak akan pernah menceraikan Helena sampai kapanpun. Tapi untuk sekarang ada hal yang harus Arash urus."
William menaikkan satu alisnya. "Kau ingin memiliki keduanya. Atau anak itu adalah anakmu?"
Arash jelas membantah. Dia sangat yakin kalau anak Cia bukanlah anaknya. Hingga pada akhirnya di depan sang papa, Arash mengambil keputusannya. Dia akan berada di sisi Cia sampai operasi itu selesai di lakukan. Soal anak Cia, dia akan melakukan tes ulang, begitu anak itu lahir.
"Kalau begitu beritahu Helena. Beritahu dia soal keadaan Cia. Beri penjelasan pada istrimu tentang apa yang terjadi."
"Apa Papa tidak keberatan soal keadaan Helena. Akan lama bagi kami untuk memiliki anak, jika keadaan Helena benar seperti yang dikatakannya."
Akhirnya Arash memberanikan diri bertanya. Dua orang itu saling pandang. William akui, sejak bersama Helena, Arash banyak berubah. Pria itu lebih dewasa. Lebih banyak peduli pada apa yang terjadi di sekitarnya. Yang jelas, Arash sekarang mampu memilah mana yang baik, mana yang buruk. Mampu mengambil keputusan tanpa terburu-buru. Mempertimbangkan semua hal yang mungkin terjadi sebelum memutuskan sesuatu.
Satu perubahan yang membuat William merasa kalau memaksakan perjodohan mereka bukanlah sebuah kesalahan. Meski pada awalnya, dia dan Rafael sudah bersiap dengan kemungkinan terburuk, jika keduanya tidak bisa beradapatasi satu sama lain. Atau keduanya tidak bisa menerima karakter masing-masing. Hingga berujung pada perceraian.
"Sebelum Papa memutuskan menjodohkan kalian. Papa sudah tahu keadaan Helena. Tapi Papa pikir, mungkin Helena dan Valerie tidak akan sama. Siapa tahu kalian bisa lebih cepat memiliki anak. Kalaupun perkiraan kami meleset. Papa dan Mama rela menunggu untuk punya cucu."
Senyum Arash mengembang mendengar dukungan dari ayahnya. Arash lantas menceritakan kalau dirinya sudah berkonsultasi pada temannya yang dokter obgyn.
William manggut-manggut mendengar penjelasan Arash. Tidak ada raut kemarahan dalam wajah William. Kehadiran Helena bisa mengubah sang putra, William sudah sangat bersyukur dengan hal itu. Untuk hal lain, mereka bisa mengurusnya nanti.
*
*
__ADS_1
Arash beberapa kali menghubungi Helena, tapi ponsel sang istri tidak aktif. Arash berdecak kesal. Akhirnya dia menghubungi Shen, namun sebuah jawaban membuat Arash kembali menelan rasa kecewa. Shen juga tidak tahu di mana Helena. Pun dengan Ang dan Shan.
Pria itu memutuskan untuk mengunjungi rumah mertuanya. Sedikit takut karena temperamen Rafael lebih keras dari papanya. Pria dari klan Liu memang terkenal punya dua sisi. Sisi lembut kala bersama orang tercinta dan sisi menyeramkan jika berhadapan dengan orang yang sudah menyakiti keluarga mereka.
Ketika pintu dibuka, dilihatnya Rafael sendiri yang menyambutnya. Pria itu membawa Arash langsung ke ruang kerjanya. Semakin tidak karuanlah perasaan Arash. Terlebih raut marah Rafael terukir jelas di wajah tampannya. Wajah tampan yang diwarisi langsung oleh Hugo, adik Helena.
"Katakan!"
Kembali, Arash dihadapkan pada keadaan yang seolah menempatkan dirinya seperti seorang penjahat. Tersangka dengan tuduhan kejahatan paling berat dengan hakim seorang ayah. Menyakiti putrinya. Arash seketika menelan ludahnya susah payah. Tatapan Rafael seperti seekor singa yang siap mengoyah mangsanya. Mengerikan.
Rafael memiliki sifat persis seperti sang ayah. Kaizo Aditya. Penerus klan Liu yang terkenal tegas. Akan menghukum orang yang terbukti bersalah tanpa pandang bulu. Menolak dengan tegas apa yang tidak sesuai dengan keinginannya. Dan mampu menemukan celah soal kelemahan lawan.
"Aku tidak akan menceraikan Helena. Tapi untuk sementara ini ada hal yang akan aku urus lebih dulu."
Mata Rafael memicing. Satu jawaban dari Arash cukup membuktikan kalau Helena bukanlah prioritas Arash. Marah, rasa itulah yang kini Rafael rasakan. Pria itu sudah merasakan sesak di dada setiap melihat Helena menangis.
Tidak, dia tidak akan membiarkan sang putri menangis. Tapi Rafael belum membuka mulutnya untuk bicara. Ketika pintu terbuka dan masuklah seorang pria yang tanpa basa basi langsung menghantam wajah Arash dengan sebuah pukulan.
"Tinggalkan kakakku, jika kau hanya membuatnya menangis!"
Teriak Hugo marah. Pria 21 tahun itu menatap tajam pada Arash.
"Ini peringatan dariku. Jauhi kakakku!"
*****
Visual Rafael,
Visual Hugo,
All kredit Pinterest.com
__ADS_1
****