Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Keputusan Arash


__ADS_3

Seperti yang Arash perkirakan. Helena marah besar begitu pria itu mengirim pesan, kalau dia tidak ingin berpisah dengan wanita itu. Beberapa kali berpikir, Arash sepertinya ingin mencoba saran dari William. Pria itu mulai berpikiran sama dengan sang ayah. Bahwa ada alasan kenapa dia dan Helena akhirnya bisa menikah. Untuk urusan Cia, dia akan memikirkannya nanti. Sebab pria itu ragu, kalau bayi yang dikandung Cia adalah anaknya.


"Apa dia ada di dalam?" tanya Helena pada Ang. Pria itu mengangguk. Enggan menjawab dengan kata-kata, takutnya kemarahan Helena akan semakin besar.


"Apa maksudmu dengan kau menolak menceraikanku?" Tanya Helena, begitu wanita itu masuk ke ruang kerja sang suami. Arash langsung menatap ke arah Helena. Di mana, wanita itu begitu marah dengan wajah memerah.


"Apa masih kurang jelas? Aku tidak ingin berpisah denganmu," jawab Arash santai. Pria itu masih menyelesaikan beberapa berkas yang harus dia periksa.


"Tapi alasannya apa? Kita tidak punya dasar yang kuat untuk bisa bahagia dengan pernikahan kita," Helena menghentak-hentakkan kakinya saking kesalnya.


"Mungkin sekarang belum. Tapi siapa tahu nanti kita bisa saling mencintai," Arash berjalan mendekat ke arah Helena.


"Saling mencintai, yang benar saja. Kau tahu bukan. Kalau aku sangat...."


"Membenciku," potong Arash cepat. Sesaat keduanya terdiam. Saling memandang untuk waktu yang lumayan lama. Arash dengan rasa cinta yang mulai tumbuh di hatinya. Sedang Helena, masih dengan perasaan labilnya. Meski perasaan Helena saat ini, didominasi oleh rasa benci.


"Helena Amara Liu, ahh bolehkan aku sekarang mulai memanggilmu menggunakan margaku, Tan?" ucap Arash lembut, tepat di hadapan Helena.


"Jangan mengganti apapun tanpa persetujuanku!" desis Helena kesal. Sejujurnya hatinya beberapa kali berdebar kala berhadapan dengan Arash. Pria di hadapannya ini sungguh tampan. Tentu, tidak seorangpun akan menyangkalnya. Tapi kemampuan Arash dalam membuat tensi Helena naik drastis, harus diberi acungan jempol. Pria ini hanya bisa membuat dirinya marah, kesal, emosi dan seabrek rasa yang membuat hidupnya seperti di neraka. Jadi bagaimana mungkin, suatu hari nanti mereka bisa saling mencintai. Sepertinya itu tidak mungkin.


"Persiapan pesta pernikahan sudah hampir sempurna. Itu yang Papa beritahu padaku. Gaunmu akan tiba besok. Dan kita akan fitting bersama-sama....."


"Arash!" Helena berteriak memotong ucapan sang suami. Arash terdiam sambil menaikkan satu alisnya.


"Ada masalah?" Arash bertanya. "Aku ingin berpisah.....aku ingin bercerai!" Helena jadi histeris detik berikutnya. Bagaimana bisa Arash jadi bersikap sebaliknya. Menolak menceraikannya. Pria itu malah terlihat begitu antusias dengan pesta pernikahan mereka.


"Sudah aku katakan. Kalau aku berubah pikiran. Semua akan berjalan sesuai jadualnya. Dan pesta pernikahan kita akan tetap di gelar dua minggu lagi," jawab Arash tenang.


"Aku tidak menyetujuinya," tolak Helena. Sungguh dia ingin lari saja dari sini. "Kau tidak akan bisa menolaknya, kau tidak akan bisa menundanya," bisik Arash di telinga Helena. Pria itu semakin mendekat ke arah Helena. "Kenapa kau tidak pernah mencoba untuk menerimaku?" Arash bertanya lirih. Wajah Arash dan Helena hanya berjarak beberapa senti saja.

__ADS_1


"Seperti aku yang mencoba menerima dirimu. Bahkan mungkin mencoba mencintaimu," tambah Arash lagi.


"Jangan berpikir untuk bisa menggantikan tempat Evan di hatiku," desis Helena penuh peringatan.


"Kenapa tidak?" Mata Arash menatap dalam dua bola mata cantik Helena. Untuk sesaat, Helena terpaku. Menatap mata coklat milik Arash. Kali ini tatapan lembut dari pria itu membuat Helena terbuai. Hingga ketika Arash mulai menyatukan bibir mereka. Helena tidak menyadarinya.


Giliran Arash yang merasa takjub kala bibirnya mulai berlarian di atas bibir Helena. Dia tahu kalau Helena dan Evan sering berciuman. Tapi bagi Arash, rasa bibir Helena benar-benar manis. Seketika, pria itu semakin memperdalam ciumannya. Menekan tengkuk sang istri, hingga ciuman mereka bertambah intens. "Bibirmu bisa membuatku ketagihan, Helena!" pekik Arash dalam hati.


Untuk beberapa waktu, sepasang suami istri itu masih terhanyut dalam ciuman pertama mereka. Ya, ini adalah ciuman pertama mereka sejak keduanya resmi menikah. Arash begitu menikmati moment itu. Hingga tiba-tiba Helena mendorong jauh tubuh Arash. Ciuman itu baru terurai.


"Kau....bisa-bisanya mencuri kesempatan dalam kesempitan," maki Helena langsung. Wajahnya memerah, campuran antara malu sekaligus marah. Sedang Arash tetap bersikap santai, meski baru saja kena semprot Helena. Sepertinya, Arash harus mulai membiasakan diri dengan mulut petasan istrinya itu.


"Ada kesempatan, ya aku ambil. Lagipula kau tidak menolaknya. Aku pikir kita menikmatinya. Dan satu lagi, tidak ada yang salah dengan hal ini. Sebab kita, pasangan yang sudah resmi menikah, kita bebas melakukan apapun bahkan lebih dari sekedar berciuman," balas Arash penuh penekanan.


Helena seketika terdiam, bibirnya mendadak kelu, tidak bisa menjawab perkataan Arash. "Jangan berpikir untuk mengulanginya lagi. Ini akan jadi yang pertama dan terakhir bagi kita," Helena berkata tegas. Selanjutnya wanita itu berbalik dan melangkah keluar dari ruangan Arash.


"Tunggu dulu, aku tekankan sekali lagi. Tidak akan ada perpisahan di antara kita....." tegas Arash. Perkataan Arash membuat Helena langsung mendelik kesal ke arah pria itu. Apalagi ketika pria itu dengan sengaja mengusap bibirnya dengan jarinya. Seolah menunjukkan kalau dirinya mampu menjerat Helena dalam pesonanya.


Helena hanya bisa mendengus geram, mendengar permintaan Arash. "Lihat saja, akan kubuat kacau pesta pernikahanmu itu. Peduli amat dengan nama baik dan reputasi," batin Helena kesal.


****


Helena terus menekuk wajahnya selama bersama Arash. Pria itu benar-benar menepati janjinya. Menjemput Helena ke kantornya. Lalu pergi ke butik bersama-sama.


Helena hanya mengikuti ke mana Arash melangkah. Mereka baru saja keluar dari lift di lantai lima. Tempat butik mereka berada. Saat ekor mata Helena menangkap siluet Evan yang berada satu lantai di bawahnya. Wanita itu langsung berlari ke arah besi pembatas, untuk mencari penglihatan yang lebih jelas.


"Benar, itu Evan," Helena bergumam. Dia baru saja akan menghubungi sang kekasih. Ketika kembali dia mendapati Brigitta yang berjalan di samping Evan. Keduanya seperti sepasang kekasih yang sedang berkencan. Saling bergandengan tangan. Terkadang saling merangkul. Belum lagi senyum yang keduanya perlihatkan. Mereka terlihat begitu bahagia.


Helena seketika mengerutkan dahi, bukankah Evan tadi mengatakan kalau dia ada meeting. Kenapa dia malah berakhir jalan berdua dengan Brigitta, sang sahabat. Tidak! Kali ini Helena ingin sebuah kepastian. Dia bertekad ingin mencari tahu, apa yang sebenarnya tengah terjadi antara Evan dan Brigitta.

__ADS_1


Helena pikir, persahabatannya dengan Brigitta selama ini baik-baik saja. Memang beberapa bulan terakhir, Brigitta menjomblo karena dia putus dari pacarnya. Apa Evan sedang menghibur hati sang sahabat yang baru saja putus cinta. Mengingat dirinya yang sangat sibuk akhir-akhir ini, hingga tidak punya waktu untuk menemani Brigitta.


Mata Helena masih mengawasi Evan dan sang sahabat, hingga kemudian wanita itu memutuskan untuk turun melalui tangga eskalator di sisi kirinya. Berniat menemui Evan dan Brigitta. Meminta penjelasan untuk mematahkan kecurigaannya.


Tapi wanita itu baru saja berbalik, ketika Arash dengan segera menahan tangannya. "Mau ke mana kamu? Mereka sudah menunggu kita dari tadi," kata pria itu.


"Aku melihat Evan dan Brigitta di sana. Aku ingin menemui mereka," Arash mengikuti arah pandangan Helena. Tapi tidak menemukan siapapun.


"Mana mereka? Kau jangan bohong padaku ya?" tuduh Arash.


"Aku tidak berbohong. Aku benar-benar melihat mereka tadi di sana," kekeuh Helena. Dua orang itu kembali menyapukan pandangan mereka ke lantai empat di bawah mereka. Tapi tetap saja, jejak Evan dan Brigitta hilang begitu saja.


"Sudahlah, jangan mengarang cerita. Ayo pergi," Arash menarik Helena pergi dari sana. Berjalan menuju butik mereka.


"Aku tidak bohong! Aku tidak mengarang cerita. Aku benar melihat mereka!" teriak Helena.


"Sssttt diamlah. Mereka semua melihatmu," desis Arash pelan. Helena seketika menyembunyikan wajahnya di belakang punggung kekar Arash. Malu bukan kepalang.


"Kau bisa merasa malu juga ya," goda Arash.


"Diam!" gumam Helena kesal.


****


Visual Evan,



Kredit Pinterest.com

__ADS_1


*****


__ADS_2