
Hari pernikahan tiba, sebuah hotel yang merupakan salah satu properti milik keluarga Tan menjadi venue pernikahan Arash dan Helena. Hotel terbesar di kota itu. Ball roomnya sudah disulap menjadi sebuah tempat pernikahan yang sangat cantik. Dekorasinya di dominasi warna biru lembut. Warna kesukaan Helena.
Rona kebahagiaan terlihat jelas di wajah dua keluarga itu. Dari keluarga Tan, formasi lengkap telah datang. Bahkan Kakek Arash pun bisa menghadiri pesta pernikahan sang cucu. Meski mendadak, tapi tidak masalah.
Yang heboh, jelas dari pihak Helena. Bahkan Kaizo Aditya dan Natasya Arianna, Kakek dan Nenek Helena, pun bisa datang. Sepupunya, Paman dan Tantenya. Semua bisa berkumpul hari itu.
Satu kejutan yang membuat Helena hampir melupakan rencana ingin membuat onar adalah kedatangan Tante Lana dan Om Vi-nya beserta putra mereka Lendra dan sang adik, Lira.
"Tante Lana!" Helena berteriak melihat Lana yang tersenyum padanya. Helena memang dikenal dekat dengan tantenya yang satu itu. Seperti Lana yang dekat dengan Rafael, papa Helena.
"Ooo cantiknya Tante, akhirnya menikah juga," seloroh Lana. Helena langsung menghilangkan senyum di wajahnya. Menggantinya dengan wajah cemberut.
"Jangan mengganggunya Ma, nanti dia ngambek gak ada obatnya," satu suara membuat Helena mendongak. Mencari sumber suara. Syailendra Yue Aditama, putra pertama Lana dan Vi. Pria tampan itu terlihat tersenyum ke arah Helena. Berjalan perlahan ke arah Helena, pria itu langsung memeluk erat tubuh sang sepupu. Tanpa mereka tahu, Arash menatap tidak suka pada kejadian itu. Terlebih Arash harus mengakui, kalau sepupu Helena itu benar-benar tampan dan berkharisma.
Kredit Pinterest.com
Introducing Syailendra Yue Aditama,
"Selamat atas pernikahanmu," bisik Lendra di telinga Helena.
"Jangan ucapkan itu padaku," sungut Helena. Lendra langsung mengerutkan dahinya. "Kenapa? Apa yang kau ceritakan padaku itu benar?" tanya Lendra. Helena mengangguk samar. Lendra tersenyum kecut. Pria itu mengedarkan pandangannya. Mencari sosok Arash, suami Helena. Di ruang make up itu, tinggal Helena, Lendra, dan Lira. Yang lain sudah berada di venue pernikahan. Helena sendiri memang tidak mengundang banyak teman. Semua yang dia undang hanyalah teman dekatnya saja.
"Lalu kekasihmu Evan bagaimana?" tanya Lendra. Ikut duduk di samping Lira.
"Ya marahlah. Tahu-tahu aku sudah resmi menikah dengan Arash," jawab Helena. Membiarkan sang MUA menyelesaikan hair do-nya. Satu hal yang Helena minta soal rambutnya. Wanita itu ingin rambutnya digulung tinggi. "Biar gak ribet waktu aku melarikan diri," batin Helena.
"Lagian bagaimana ceritanya, Kak Helen bisa menikah dengan suami Kakak?" tanya Lira.
"Ssstttt anak kecil tahu apa sih, sudah main sama Hugo sana," usir Lendra pada Lira.
"Aku tu dah gedhe Kak, 21 tahun....kalo suruh main sama Kak Hugo, suruh main apa coba...orang Kak Hugo sudah 24 tahun," balas Lira cepat. Helena dan Lendra saling pandang. Lira dan Hugo tidak akur dari dulu. Entah kenapa.
"Katanya kemarin kamu minta pisah?" tanya Lendra.
"Dia menolak, padahal awalnya dia setuju untuk menceraikanku. Tapi tiba-tiba dia berubah pikiran. Bikin kesal saja!" gerutu Helena. Wanita itu kini sudah berganti dengan gaun pengantinnya.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
Gaunnya Helena ya guys,
"Pantas saja Arash berubah pikiran. Tidak jadi menceraikanmu. Kau cantik sekali Helen," Lendra memuji sekaligus mengejek Helena.
"Diam kau!" kesal Helena. Sepasang heels cantik sudah disiapkan. Helena tinggal memakainya. Si MUA sedang memakaikan kalung dan aksesoris lainnya. Veil dan juga tiara di atas kepala Helena juga sudah siap.
Helena baru saja akan memakai heelsnya ketika Evan menerobos masuk. "Kita harus bicara," ucap Evan cepat.
Tapi di saat bersamaan, Arash juga masuk ke dalam ruangan itu. Sesaat Evan dan Arash terpesona pada kecantikan Helena. Gaun pengantin simple itu membalut tubuh ramping Helena dengan sempurna. Meski simple tanpa ekor yang panjang, gaun itu tetap menunjukkan kualitasnya juga harganya yang pasti mahal.
"Tidak ada yang perlu kalian bicarakan lagi," Arash berkata cepat. Sesaat mata Arash bertemu pandang dengan tatapan tajam milik Lendra. Pria itu terlihat santai, tidak terganggu sama sekali dengan ketegangan di ruangan itu.
Sedang Evan, langsung menggeram marah mendengar perkataan Arash.
"Aku adalah orang yang Helena cinta....."
"Dan aku suami sahnya," potong Arash cepat.
"Tidak! Mulai sekarang aku minta kalian untuk tidak lagi bertemu," Arash menatap Helena dan Evan bergantian.
"Kami tidak bisa melakukannya," jawab Helena dan Evan kompak.
"Kalau begitu jangan salahkan aku, jika aku melakukan hal di luar perkiraanmu," ancam Arash. Evan langsung mengeratkan rahangnya. Menahan emosi yang sudah merayap naik ke ubun-ubun.
"Jangan menggunakan ancaman untuk menekanku," desis Evan.
"Aku akan melakukan apapun untuk mempertahankan pernikahan ini," sahut Arash cepat.
"Kau memang serakah Arash. Kau ingin membuat Helena tetap berada di sampingmu, sekaligus memiliki kekasihmu di sisimu," ujar Evan.
"Itu terserah padaku. Sekarang keluar kau dari sini!" usir Arash pada Evan. Akhirnya Evan mengalah. Berlalu keluar dari sana. "Jangan melihatku seperti itu," Arash berkata lembut pada Helena. Wanita itu langsung memalingkan wajahnya. Enggan melihat Arash yang terlihat tampan dengan tuksedo hitamnya.
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
Pengantin prianya,
Lendra hanya terdiam melihat semua kejadian itu. Hingga seorang staf memberitahu, kalau waktunya sudah tiba. "Ayo," Arash mengulurkan tangannya. Ingin membantu Helena berjalan. Tapi wanita itu menepisnya.
"Helen....," suara Lendra yang penuh penekanan membuat Helena mendengus kesal. Mau tidak mau menerima uluran tangan dari Arash, sang suami.
Keduanya berjalan menuju venue pernikahan. Dengan Lendra mengikuti langkah keduanya. Wajah Helena benar-benar masam. Perlu waktu lumayan lama sebelum keduanya sampai ke pintu ballroom.
"Jangan bertindak aneh-aneh," Lendra berbisik penuh peringatan.
"Aku tidak janji," balas Helena.
Saat pintu ballroom terbuka. Suara tepuk tangan riuh menyambut pasangan pengantin baru itu. Kilatan kamera langsung mengarah pada Helena dan Arash. Mereka ingin mengabadikan moment itu sebanyak-banyaknya. Hampir semua orang memuji keserasian Arash dan Helena. Tapi tidak dengan Evan, Brigitta dan Cia. Tiga orang itu, langsung pergi meninggalkan tempat itu. Begitu melihat Arash dan Helena yang berjalan masuk menuju pelaminan.
Untuk sesaat semuanya berjalan lancar. Helena bisa melihat wajah bahagia seluruh keluarganya. Ada rasa tidak tega dalam hati Helena. Tapi melihat Arash yang selalu tersenyum, membuat wanita itu kesal.
"Maafkan Helen, semuanya," Wanita itu menghentikan langkahnya tepat ketika baru menempuh separuh perjalanan mereka. "Ada apa?" tanya Arash melihat ke arah Helena.
"Aku tidak bisa meneruskan ini. Maaf," Detik berikutnya wanita itu melepaskan tangannya dari lengan Arash. Sedikit mengangkat gaunnya. Lantas berlari keluar dari sana. Sesaat Arash melongo dengan tindakan Helena. Hingga kemudian pria itu tersenyum kecut. Helena sedang mempermalukannya.
"Helena Amara Liu! Shan, Ang kejar dia!" perintah Arash. Dua asisten Arash itu langsung melesat keluar dari sana. Diikuti Lendra dan Hugo. Sementara yang lain tetap tinggal di sana. Mencoba mengatasi situasi yang mulai tidak terkendali.
"Kalian menyebar, cari Helena sampai ketemu!" perintah Shan melalui ponselnya. Hal yang sama juga dilakukan oleh Ang. Sedang Lendra dan Hugo langsung keluar dari hotel itu. Mencari keberadaan Helena.
Sementara yang dicari tengah terengah-engah menuruni tangga darurat. Wanita itu lebih memilih membuang heelsnya. Membiarkan kakinya berjalan bebas tanpa alas kaki. Dia pikir sudah memilih gaun paling simple, ringan...tapi nyatanya gaun itu tetap membuatnya kerepotan.
Belum lagi dengan veil yang mulai membuat kepalanya tambah pusing. Helena tertawa melihat dirinya sendiri.
"Akulah Runaway Helena," kekehnya pelan. Lantas membuka pintu tangga darurat. Berjalan menjauh dari hotel itu. Tanpa Helena tahu, Arash melihat semua itu.
"Ikuti saja dia, aku akan menjemputnya setelah aku menyelesaikan keributan di dalam sana," Arash memberi perintah pada Shan dan Ang. Dua pria itu mengangguk patuh. Lalu berlalu dari hadapan Arash. Mengikuti Helena dari kejauhan.
"Kau menemukannya?" Tanya Lendra dan Hugo bersamaan. Arash mengangguk, Lendra dan Hugo seketika menarik nafasnya lega.
"Runaway Helena," gumam Arash pelan.
__ADS_1
****