Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Kencan Low Budget


__ADS_3

Helena membuka matanya ketika mendengar suara pintu yang dibuka. Saat itu, dia melihat Arash yang masuk ke kamarnya. Helena langsung menoleh ke arah kiri. Ini bukan kamarku. Helena lalu melihat ke arah Arash yang masuk membawa sebuah nampan.


"Merasa lebih baik?" tanya pria itu. Helena menggeleng pelan. Wanita itu jelas tidak baik-baik saja. Kejadian tadi sungguh membuatnya merasa....kecewa. Rasa marah itu masih terasa di hati Helena. Begitupun dengan pertanyaan, kenapa mereka melakukannya?


"Apa aku berbuat kesalahan hingga mereka melakukannya padaku? Atau aku sudah menyakiti mereka hingga mereka membalasku dengan cara seperti ini?" Helena bertanya dengan mata berkaca-kaca.


"Tidak...kau tidak melakukan keduanya. Mereka saja yang tidak tahu diri. Melakukan hal itu di antara hubungan kalian." Arash merengkuh tubuh Helena dalam pelukannya. Wanita itu tidak menolak. Kala wajahnya tenggelam dalam dekapan Arash. Beradu dengan dada bidang sang suami, Helena mulai menangis lirih.


"Jangan berpikir kalau kau melakukan kesalahan. Kau sudah cukup berbaik hati pada mereka," tambah Arash lagi.


"Tapi tetap saja. Kenapa mereka melakukan ini padaku. Apa aku tidak cukup baik pada Brigitta? Atau aku kurang perhatian pada Evan? Kenapa? Kenapa mereka melakukannya padaku?" Tangis Helena semakin kencang.


"Jangan menyalahkan dirimu. Berhenti bertanya kenapa mereka melakukan itu padamu. Sekarang, cobalah untuk melupakan kejadian tadi. Buatlah dirimu merasa lebih baik. Aku tahu semuanya tidak akan mudah. Tapi percayalah, kalau aku akan selalu ada di sampingmu," ucapan Arash seolah hujan yang turun di tengah kemarau panjang. Menyirami hati Helena yang tengah kering karena kecewa.


Untuk sesaat, Arash membiarkan Helena menangis dalam pelukannya. Membiarkan sang istri menumpahkan segala isi hati dan kegundahannya. Membiarkan Helena mengurangi beban di hatinya. Hingga ketika tangis Helena mulai reda. Sebuah ciuman hangat mendarat di pucuk kepala Helena. Arash seperti ingin Helena bergantung padanya. Pria itu ingin Helena tahu kalau dirinya sungguh-sungguh ingin memulai semuanya dari awal.


"Makanlah dulu. Ini hanya sereal. Shen bilang kau hanya mau makan ini kalau lagi ngambek," ucap Arash setengah bercanda. Helena memandang Arash sambil mengerutkan dahinya. "Ooohh salah ya?" kata Arash kikuk.


"Tidak juga. Hanya saja aku tidak suka makan di kasur. Kayak orang sakit," jawab Helena ketus.


"Ya turun atau makan di sofa," tawar Arash.


Akhirnya Helena turun dari kasur. Duduk di sofa Arash lantas mulai memakan serealnya. Melihat Helena yang mulai makan. Arash menarik nafasnya lega. Setidaknya Helena tidak mogok makan. Pria itu lantas masuk ke kamar mandi, bermaksud mencuci muka dan mengganti baju. Ketika Arash keluar dari walk in closetnya, dilihatnya Helena yang kembali melamun.


"Masih kepikiran?" tanya Arash santai.


"Kenapa aku di sini?" Helena mengalihkan pembicaraan. Enggan membahas soal Evan dan Brigitta. Arash sejenak terdiam. Cukup tahu kalau Helena tidak ingin membahas hal menyakitkan itu.

__ADS_1


"Kau lupa? Kamarmu hancur berantakan," sindir Arash. Helena mencebik kesal mendengar ledekan Arash.


"Jadi malam ini kau tidur sini," putus Arash. "Jangan aneh-aneh kamu ya?" tolak Helena. Arash terkekeh mendengar penolakan sang istri.


"Terserah kau sajalah," balas Arash pada akhirnya.


******


Hari berganti malam. Ketika Helena turun ke ruang tengah, tampak Shen dan Shan yang duduk sofa. Melihat Helena, dua saudara itu langsung menghentikan pekerjaan masing-masing. "Helen....." Shen berkata sambil menatap cemas pada sang sahabat.


"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir," Helena berusaha meyakinkan kalau dia memang baik-baik saja. Wanita itu duduk di samping Shen. Memandang lurus ke depan dengan tatapan kosong. Hal itu membuat Shen dan Shan saling pandang. Kejadian tadi pasti jadi sebuah pukulan telak bagi Helena. Evan yang sangat dia cinta dan Brigitta yang sangat dia percaya. Keduanya menusuk Helena dari belakang bersamaan. Wanita itu pasti merasa sedih.


"Mau ke mana?" tanya Shan melihat Arash yang memakai jaketnya.


"Keluar....mau ikut?" tanya Arash balik. Ketiganya saling pandang. Saling mengkode. Tak berapa lama, keempatnya sudah berada dalam mobil Toyota Rush milik Shan. Arash manyun seketika, saat asistennya itu menolak untuk memakai satu dari mobilnya. "Mobilmu terlalu mencolok mata." Bukannya jalan-jalan nanti mereka malah sibuk meladeni tatapan kepo orang lain.



"Maka beli satu, mobil yang low profile," ledek Shen. "Mobil kok kayak watak orang, low profile," balas Arash sengit. Helena hanya diam mendengar ocehan kedua teman dan suaminya itu.


Perempuan itu melihat suasana langit malam yang bertabur bintang. Berkerlap kerlip bak permata di hamparan karpet berwarna hitam. Sudah lama dia tidak menikmati keindahan langit malam seperti ini. Pelan, Helena menarik nafasnya. Melihat betapa luasnya langit, dirinya merasa sangat kecil. Wanita itu seketika sadar...mungkin bagi Helena, masalahnya sudah sangat besar. Tapi bagi langit malam, kesusahan Helena tidak ada apa-apanya. Tertutup oleh luasnya wilayah langit.


"Mau ke mana?" tanya Shan yang malam itu jadi supir mereka. Melirik ke arah saudarinya, lalu sepasang suami istri yang duduk di bangku belakang melalui spion tengahnya. "Tempat yang ramai," jawab Helena ketika semua orang menatap dirinya.


"No klub malam, Helen!" Arash tegas menolak.


"Emang yang ramai diskotek doang. Cowok kok kuper," balas Shen tajam. Arash langsung mendengus kesal. Melihat kekesalan Arash, Helena mengulum senyumnya. Shan dan Shen memang selalu jadi moodbooster untuk Helena.

__ADS_1


Tak berapa lama, mobil low profile Shan masuk ke sebuah pasar malam. Mata Helena berbinar melihatnya. Sudah lama tidak pergi ke tempat seperti ini.


"Dari mana kau tahu tempat ini Shan?" Helena turun dari mobil. Sedang Arash terlihat ragu. Pria itu seumur-umur belum pernah ke tempat beginian.


"Ayo sultan turun. Sekali-kali jadilah rakyat jelata," ajak Shan. Melihat sang tuan yang menatap horor ke arah pasar malam yang ada di hadapannya.


"Are you kidding me?" tanya Arash tidak percaya. "Ayolah, lakukan ini demi Helen. Dia sangat suka ke sini. Anggap saja ini kencan pertama kalian," bujuk Shan. Arash langsung melihat ke arah Helena yang terlihat antusias menunjuk beberapa wahana permainan yang ada di sana.


"Aku tidak akan mati di dalam sana kan?" Arash bertanya lagi sambil menaikkan resleting jaketnya. Dia planning mau ke mana. Eh berakhir di mana. Semua jauh dari angannya.


"Kau pikir mau pergi ke medan perang?" ledek Shan lagi. Meski kalau dipikir, bagi Arash itu bisa jadi medan perang betulan.


Helena sedikit memicingkan mata, melihat tampilan Arash. Penampilan Arash akan sedikit menarik perhatian. Maklum ketampanan Arash memang di atas rata-rata.


"Tidak suka ya tidak usah pergi," Helena berkata lirih. "Tidak juga. Hanya belum pernah pergi ke tempat beginian," jawab Arash jujur.


Sang istri hanya bisa menarik nafas. Arash memang pria sultan yang selalu hidup mewah. Sedang dirinya sudah terbiasa dengan dua dunia. Sultan oke, kere ayo. Sebab sang Papa dan mamanya sering mengajaknya ke tempat piknik dan healing yang low budget alias murah meriah. Salah satunya ya pasar malam ini.


"Ayo kalau begitu. Kita mulai kencan pertama low budget kita." Helena sedikit terkejut ketika Arash menggenggam tangannya lantas menggandengnya masuk ke pasar malam itu.


"Dan kita yang akan jadi ATM berjalan mereka," Shen berbisik lirih. Sang kakak mengangguk pasrah. Sebab keduanya tidak yakin jika tuan mereka membawa uang. Kalaupun membawa dompet, Shan dan Shen ragu kalau ada di cash di dalamnya. Yang ada palingan deretan kartu sakti mereka. Di tempat beginian kartu sakti mana laku.


"Mereka yang kencan kita yang bangkrut," lirih Shan mengikuti Shen yang lebih dulu mengekor Arash dan Helena.



Yang mau kencan low budget, 🤣🤣🤣

__ADS_1


****


__ADS_2