Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Terjadi Kembali


__ADS_3

Hubungan Arash dan Helena benar-benar membaik setelah mereka sering tidur berdua. Bicara soal banyak hal, mulai mengenal karakter masing-masing. Mulai saling terbuka, soal apa yang diinginkan dan apa yang dirasakan. Arash menjadi seorang suami yang pengertian pada Helena. Sedang Helena berusaha menjadi istri yang baik untuk Arash. Wanita itu sudah tidak lagi pergi ke klub malam. Setelah bekerja, Arash sering menjemputnya. Kecuali jika pria itu harus lembur.


Wanita itu mulai biasa menyiapkan keperluan Arash. Bahkan beberapa kali mereka terhanyut dalam romantisme seperti pasangan yang sedang dimabuk cinta. Helena akui, hatinya mulai terisi oleh Arash. Perlahan menghapus nama Evan dari sana. Helena memang sudah bersikap selayaknya seorang istri bagi Arash, tapi soal urusan ranjang, mereka belum pernah melakukannya lagi sejak Arash memaksanya malam itu.


Kadang Arash seperti orang gila harus menahan hasrat yang melambung tinggi ke angkasa. Tapi dia takut jika memaksa Helena lagi. Bisa hancur proses rekonsiliasi yang tengah mereka jalani sekarang. Mengingat hal itu, Arash sekuat tenaga menahan diri untuk tidak menerkam Helena, saat wanita itu tidur memeluk dirinya hanya memakai kemeja longgar tanpa bra. Bisa dibayangkan dong pusingnya kepala Arash atas sama bawah.


Mood baik kedua bos itu, berdampak baik pada para asisten mereka. Mereka ikut tersenyum lebar melihat tingkah malu-malu Helena saat berduaan dengan Arash. "Gitu amat yak orang lagi kasmaran," bisik Shen. "Kayak situ kagak aja," judes Shan.


"Kok aku?" tanya Shen blank. "Masih nanya, situ kan sering jalan sama Ang kalau free," jawab Shan ketus. Ada sebabnya kakak beda wajah Shan itu manyun beberapa hari ini, yaa iyalah dia doang yang jomblo. Sekarang giliran Shan yang sering uring-uringan tidak jelas. "Ngapa tu botu?" tanya Arash. Ang seketika menaikkan satu alisnya. "Botu apaan?" tanya Ang cengo.


"Botu, bocah tua," jawab Arash asal. Ha? Setelahnya ledakan tawa Ang terdengar di ruangan Arash. "Kenape lu?" tanya Arash heran. "Bagaimana bisa kau menyebutnya bocah tua?" kata Ang di sela tawanya. Arash tidak menanģgapi pertanyaan Ang. Dia sedang dikejar waktu. Dia harus menjemput Helena sejam lagi. Dan tumpukan berkas yang harus dia periksa masih banyak.


"Mau jemput Helen?" Shan bertanya. Melihat Arash yang bersiap untuk pulang. Tinggal empat dokumen lagi, dia bisa mengerjakannya besok pagi. Terlebih tubuhnya lelah sekali. Dia ingin segera tidur dalam pelukan Helena yang nyaman.


****


Mobil Arash masuk ke area kantor Liu Corp. Sebuah pemandangan langsung membuat amarah Arash meroket naik. Pria itu melihat Evan yang masih mencoba membujuk Helena untuk memaafkannya. "Sudah aku katakan padamu, jangan muncul di hadapanku. Kau membuatku muak, Evan!" Bisa Arash dengar teriakan Helena menggema di tempat itu. Dua security sudah berada di belakang Helena.

__ADS_1


"Kau datang lagi?" tanya Arash. Langsung berdiri di depan Helena, menjadi penghalang antara Evan dan Helena. "Aku ingin minta maaf padanya...."


"Lalu memintanya kembali padamu, jangan mimpi kamu!" potong Arash dingin. Evan menelan ludahnya seketika. "Jangan pernah muncul dihadapanku lagi. Kalau kau ingin minta maaf, aku bisa pertimbangkan itu nanti. Tapi kembali padamu, impossible, tidak mungkin!" tegas Helena.


"Helen....."


"Stop Evan! Stop daripada kau sibuk kuusir terus kenapa kau tidak mencoba tahu keadaan Brigitta. Aku melihatnya beberapa hari lalu. Dan kupikir keadaannya tidak baik-baik saja," kata Helena. Lantas menggandeng lengan Arash. Menjauh dari Evan menuju mobil pria itu. Meninggalkan Evan yang hanya bisa tersenyum kecut melihat kemesraan Arash dan Helena.


"Memang kau masih peduli pada Brigitta?" tanya Arash ketika mereka sudah melaju di jalan raya yang masih padat dengan kendaraan. "Aku dan Shen hanya melihatnya, dia terlihat pucat dan kurus," jawab Helena lantas melemparkan pandangannya ke luar mobil.


Arash tersenyum kecil melihat sikap Helena. Pria itu mulai mengenal Helena. Garang di luar tapi melow di dalam. Itulah Helena. "Tidak usah gengsi untuk mengakui kalau kau masih peduli padanya," kata Arash.


*******


"Aku benar-benar lelah hari ini. Proyek di hotel X membuat kepalaku puyeng," keluh Arash sembari memijat pelipisnya. Sementara Helena baru selesai melakukan ritual malamnya. Memakai skincare yang banyaknya memenuhi meja rias lebar itu. Arash menggelengkan kepalanya, saat Helena memindahkan semua peralatan make up-nya ke kamarnya.


"Jangan mengeluh soal konstruksi, properti dan rombongannya, aku tidak paham. Kita ini satu laptop beda server. Kagak bakalan nyambung kalau ngomongin bisnis," yah malah Helena lebih panjang nyerocosnya. Arash mengulas senyum tipisnya. Benar sekali, mereka berdua sama-sama pebisnis. Tapi beda bidang. "Aku gak nyuruh kamu buat bantuin aku merampungkan pekerjaanku. Kamu bisa membantuku dengan membuatku rileks," kata Arash. Pria itu bermaksud ingin segera tidur di pelukan sang istri. Tapi Helena malah berpikiran lain.

__ADS_1


"Oh iya sini deh," seru Helena. Menempatkan bantal di depannya. Lantas meminta Arash untuk berbaring di sana. "Buat apa?" Mau apa?" tanya pria itu.


"Diam saja. Katanya pengen rileks tak bantuin ini," kata Helena. Tangan wanita itu mulai memijat pelipis Arash. Pria itu jelas terkejut dengan tindakan sang istri. Meski tak urung, pria itu menikmatinya juga. Tangan halus Helena memberi sentuhan lembut pada pelipis dan bahu pria itu. "Kau pandai memijat Helen, ini enak sekali," puji Arash. Pria itu bahkan memejamkan matanya, menikmati pijatan Helena yang mengendurkan semua syarafnya yang tegang. Tapi ketika semua urat di tubuhnya mulai mengendur. Satu syaraf lain malah menegang.


Yap, Arash merasakan gairahnya naik ketika kulit lembut Helena bersentuhan dengan kulitnya. Plus aroma mawar lembut yang menguar dari tubuh sang istri. Ditambah posisi Helena yang beberapa kali menunduk membuat pria itu sedikit merasakan buah dada Helena menyentuh wajahnya. "Ahhh sial! Yang lain off dia on pula!" gerutu Arash dalam hati. Hal yang sama sebenarnya terjadi pada Helena, tubuh wanita itu panas dingin melihat tubuh shirtless sang suami, terlihat begitu menggoda. Beberapa kali Helena menggigit bibirnya. Ya kali, dia yang nyuri start duluan.


"Helen....." panggil Arash saat wajah Helena menunduk. Hingga mata mereka saling menatap. Tanpa kata, Arash mencium bibir Helena. Lembut dan intens. Di luar dugaan, Helena membalas setiap ciuman yang Arash lakukan. Hingga tak lama aksi bertukar saliva itu semakin panas.


"Bolehkah?" tanya Arash. Sebenarnya pria itu hanya iseng bertanya. Helena sesaat terdiam. Sampai pada akhirnya, sang istri menggangguk. Sebuah bom seolah meledak dalam diri Arash. Letupannya membuat Arash seperti kehilangan kendali diri. Pria itu segera menarik tubuh Helena, mengubah posisi wanita itu. Tanpa jeda, Arash langsung mencumbu tubuh Helena. Memuja setiap jengkal tubuh mulus wanita itu.


Kali ini, dalam keadaan sadar, Helena sangat menikmati sentuhan sang suami. Mereka begitu terhanyut dalam situasi panas itu, hingga tanpa sadar keduanya sudah polos. Tanpa mengenakan apapun. "Aku masuk," satu bisikan dari Arash, membuat Helena waspada. Dan benar saja, detik berikutnya wanita itu kembali meringis.


"Masih sakit?" tanya Arash. Wanita itu mengangguk. "Aku akan pelan-pelan," setelahnya pergumulan panas itu terjadi. Dan terjadi lagi malam panas kedua bagi pasangan suami istri itu.


*****


Bonus trio ASA....Arasah, Shan dan Ang.... Moga gak salah ketik, bisa berabe kalau sampai kejadian....

__ADS_1



*****


__ADS_2