Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Lupa Umur


__ADS_3

Arash membantu Aldo berdiri, pria itu langsung terduduk lemas. Operasi Cia tidak berjalan sesuai rencana. Setelah kankernya berhasil diangkat. Lalu terjadi perdarahan kedua, tapi hal itu bisa diatasi. Masalahnya setelah itu, terjadi pecah pembuluh darah.


Tim dokter berusaha keras menyelamatkan nyawa Cia. Semua usaha itu berakhir dengan keadaan Cia yang mengalami koma. Dan dokter tidak bisa menjamin kapan Cia akan bangun dari komanya.


Bisa dibayangkan bagaimana kesedihan Aldo. Pria itu berulangkali menciumi tangan Cia. Meminta wanita itu untuk bangun. Tapi ibu Sassy itu tidak kunjung membuka matanya. Wanita itu menempati ICU untuk kesekian kalinya.


Arash hanya bisa menarik nafasnya dalam. Beberapa kali menepuk bahu Aldo agar pria itu kuat. Hingga Aldo mengangkat wajahnya lalu memandang Arash.


"Aku akan kuat, demi Sassy dan Cia."


Perkataan Aldo membuat Arash mengembangkan senyum. Dia tahu, Aldo pria yang tabah. Jauh lebih baik dari dirinya.


Beberapa waktu berlalu, dan keadaan Cia masih sama saja. Berita baiknya, Sassy, bayi kecil itu tumbuh sehat. Sassy masih dalam pemantauan tim dokter anak rumah sakit itu. Arash dan Aldo sesekali melihat bayi mungil di ruang inkubator. Beberapa kali mereka bergantian memberikan susu formula pada Sassy.


Dari situlah, perasaan ke-bapakan Arash semakin kuat. Dua bulan umur bayi Sassy, berarti tiga bulan umur kandungan Helena.


Hari ini dia akan dijemput Hugo, wanita itu akan menjalani pemeriksaan USG untuk bayinya. Di rumah sakit dekat villa Rian fasilitasnya belum secanggih rumah sakit kota.


Satu jam perjalanan, cukup membuat Helena sakit pinggang. Padahal, Hugo sudah melapisi kursi Helena dengan spons khusus, biar lebih empuk. Tapi ternyata, sang kakak masih mengeluh pegal.


"Tiga bulan, ngeluhnya sudah kayak orang mau lahiran saja."


Ledek Hugo. Pemeriksaan berjalan lancar. Hasil USG juga bagus. Hanya saja, berat badan Helena yang turun drastis. Sebab wanita itu sama sekali tidak mau makan karbohidrat. Helena hanya mau makan buah dan sayur. Susu ibu hamil, si baby juga menolak. Begitu minum langsung muntah.


"Anakmu ngajak ngirit. Padahal bapak ibunya orang tajir melintir."


Seloroh Hugo. Helena mendengus geram. Hingga di lorong berikutnya, Helena menyembunyikan diri di balik tubuh Hugo. Hugo awalnya tidak tahu. Tapi begitu melihat ke depan sana. Pria itu ikut menyembunyikan diri.


"Malah ikutan ngumpet."


Desis Helena kesal. "Dia akan nguber aku kalau lihat aku." Hugo berbisik di telinga sang kakak. Dua adik beradik itu menarik nafasnya lega. Setelah melihat Arash berbelok ke kanan. Tidak melewati koridor tempat Helena.


"Dia pasti pusing sekarang. Cia koma."

__ADS_1


Hugo langsung melihat wajah sang kakak. Binar kerinduan itu jelas nampak di wajah tirus Helena. Helena kehilangan hampir lima kilogram bobot tubuhnya.


"Mau melihatnya?" Tawar Hugo. Helena menggeleng. Hugo langsung menggeram kesal. Kenapa sih kakaknya ini sok gengsian banget. Kalau rindu mbok ya bilang rindu. Toh Hugo mendengar cerita dari Shen, kalau Arash benar-benar sekedar membantu Aldo mengurus Cia dan anaknya. Tidak ada rasa cinta dalam hati Arash untuk Cia.


Selanjutnya, Helena menarik tangan Hugo untuk pergi dari sana. Sepanjang perjalanan pulang, Helena hanya diam ketika Hugo. Bercerita kalau Arash beberapa kali datang ke rumah. Ingin bertemu dirinya. Tapi Rafael mengatakan kalau Helena sedang bertugas ke luar kota dalam beberapa waktu ini.


Arash bahkan beberapa kali datang ke kantornya, memastikan kalau apa yang dikatakan oleh Rafael adalah benar. Sampai dia melihat sendiri, Hugo yang masih menduduki kursi Helena, barulah dia percaya.


"Ayolah Kak, jangan keras kepala begitu. Kau perlu dia untuk melewati masa kehamilan keponakanku yang super ini. Masak aku terus yang nememin kamu periksa. Aku adikmu bukan ayah anakku. Enak saja dia yang tanam saham, gue yang repot. Entar aku mau minta ganti rugi deh ke dia."


Oceh Hugo panjang dan lebar. Awalnya Helena tidak peduli tapi begitu dia mendengar kalau Hugo ingin minta ganti rugi pada Arash, barulah Helena buka suara.


"Jangan aneh-aneh ya kamu."


Hugo memutar matanya jengah. Hari itu, Hugo memutuskan untuk menginap di villa Rian. Sebenarnya tempat itu tidak pernah sepi. Ada saja yang berkunjung ke sana. Sang papa dan mama sering berkunjung di akhir pekan. Sekali atau dua Brigitta dan Rian yang berkunjung. Bahkan Helena sampai dibuat shock ketika Shan, Shen, Ang dan juga Meisya mengunjunginya beramai-ramai.


Jadi sebenarnya jika Arash peka dengan tingkah orang-orang di sekelilingnya. Dia harusnya tahu kalau dia sedang dibohongi oleh semua orang.


Ketika rombongan Shen tiba, wanita itu langsung mendapat tatapan sengit dari Helena.


Seloroh Shan tanpa dosa menggandeng sang istri masuk ke dalam villa Rian. Helena sendiri tersenyum manis ketika Meisya menyapanya sembari memeluknya.


"Selamat ya Kak, mau punya bayi."


"Jangan bilang suruh nyusul cepat ya."


Potong Shan segera.


"Sorry Helen. Aku keceplosan. Jadi gini deh."


Shen berkata dengan wajah penuh permintaan maaf. Sampai akhirnya, Helena hanya bisa menarik nafasnya dalam. Jika semua orang tahu, maka tinggal menunggu waktu saja sampai Arash tahu. Dan jelas itu tidak akan lama.


Suasana langsung berubah meriah. Begitu Helena dan Shen mulai memasak. Dibantu Meisya dan satu asisten rumah tanģga yang dibawa oleh Helena.

__ADS_1


Meisya pun mulai belajar mengenai urusan dapur. Sebab jika Shen menikah dengan Ang. Pria itu akan membawa Shen langsung pindah ke apartemennya. Helena membantu sebentar. Tapi ketika asistennya memberitahu kalau dirinya akan memasak nasi, wanita itu langsung kabur dari tempat itu.


"Ngapain?"


Ang bertanya heran, melihat Helena yang berlari dari arah dapur. "Aku gak bisa bau nasi." Bumil itu langsung melahap belimbing yang dia bawa dari dapur.


"Helen, itu kan asem."


Shan berkomentar. Melihat bagaimana rupa belimbing yang masih setengah hijau itu.


"Gak ingat apa sama asam lambung kamu?"


Ang menambahi. Helena menggeleng yakin sembari terus mengunyah belimbingnya. Dua pria itu bergidik ngeri melihat cara makan Helena.


"Ibu hamil memang ajaib ya."


"Ajaib lah, bisa lu bayangin kecebong kita ketemu sama punya mereka jadinya bayi."


Helena langsung mengeplak lengan Ang yang paling dekat dengannya.


"Jangan sembarangan dijabarin napa?" protes Helena.


"Emang kenapa, Bu? Kan memang caranya begitu. Apa perlu aku jelasin bagaimana merem meleknya kita waktu program bikin mereka."


Kali ini bantal sofa dari Ang yang melayang tepat ke wajah Shan. Kakak Shen itu langsung mengumpat kesal bukan main.


"Ada yang sudah punya lawan. Tapi belum dapat SIM, Pak. Mohon dimengerti. Nanti kalau aku gak tahan karena kau komporin terus. Noooohhh, adikmu bisa jadi korban."


Helena membulatkan matanya. Tidak percaya kalau mulut Ang sereceh itu sekarang. Es kutub utara mencair. Pikir Helena heran.


Sementara di depan Helena, dua calon ipar itu sudah mulai beradu mulut. Berdebat tanpa henti. Sampai suasana menjadi ramai dan heboh dengan aksi kejar-kejaran Ang dan Shan.


"Bener-bener pada lupa umur mereka."

__ADS_1


Seloroh Shen dari arah dapur.


*****


__ADS_2