
Brigitta menarik nafasnya, sebelum masuk ke mobil Rian. Wanita itu sedikit takut kalau ada yang tahu, dia masuk ke mobil atasannya. "Kenapa wajahmu begitu?" tanya Rian.
"Saya takut ada staf lain yang lihat saya sama Bapak," jawab Brigitta takut. Rian tersenyum tipis mendengar jawaban Brigitta. Jujur, apa adanya. "Memangnya salah kalau kita bersama? Kita kan sama-sama single. Kamu sudah tidak berhubungan dengan ayah bayi itu kan?" tanya Rian. Brigitta sejenak terdiam. Cukup bingung untuk menjawab.
"Saya sedang mencoba melupakannya. Saya yang salah dalam hal ini," Brigitta menunduk saat menjawab pertanyaan Rian.
Pria itu ikut terdiam. Dia memang sudah lama menyukai Brigitta. Wanita cantik, pekerja keras. Mandiri, semua yang ada dalam diri Brigitta memiliki nilai lebih di mata Rian. Cukup bersabar hingga dia mendapat kabar kalau Brigitta terlibat skandal dengan kekasih sahabatnya sendiri. Rian bukannya tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya. Hanya saja dia memilih diam. Sampai kesempatan itu datang padanya. Saat Brigitta memeriksakan diri ke dokter kandungan, dia ada di sana. Dia tahu kehamilan Brigitta.
Ingin menolong sekaligus menumpahkan rasa cintanya, Rian berniat menikahi Brigitta. Meski wanita itu tengah mengandung anak pria lain.
"Setiap orang pernah berbuat kesalahan. Itu manusiawi, tinggal kita mau belajar dari kesalahan itu atau tidak," balas Rian tenang. Brigitta terpana melihat bagaimana dewasanya Rian, berbeda dengan Evan. Padahal usia mereka sama.
"Kamu tidak keberatan dengan keadaanku? Rian aku mengandung anak orang lain. Bagaimana jika keluargamu tahu," cemas Brigitta.
"Ya jangan diberitahu. Atau katakan saja itu anakku. Aku jamin mereka akan langsung menikahkan kita," cengir Rian.
Ha? Brigitta melongo. Melihat Rian yang biasanya serius bisa jadi manusia receh juga. "Malah bengong. Makan dulu yuk. Lapar, tu si baby memang gak lapar apa. Betah amat maknya gak makan dari tadi siang," Brigitta semakin melebarkan matanya. Atasannya ini bukan seperti Rian yang biasanya.
"Jangan kaget dengan sikapku. Aku yang asli ya begini," kata Rian lagi, melihat keheranan di mata Brigitta. Wanita itu seketika menggaruk kepalanya. Perlahan Rian melajukan mobilnya. Keluar dari kantor Brigitta. Wanita itu tersenyum, dia merasa nyaman saat bersama Rian.
****
Shan keluar dari kantornya sembari memaki. Kesal bukan main. Bagaimana dia tidak kesal. Si Angelo, mentang-mentang Arash tidak ada, seenaknya saja pulang duluan. Dengan dalih mau kencan dengan sang adik.
__ADS_1
"Sial! Karena aku jomblo, kalian bisa seenaknya ngerjain aku. Menyuruhku menyelesaikan semua pekerjaan sedang kalian asyik berduaan," umpat Shan. Siapa lagi jika bukan untuk Arash dan Ang semua makian itu.
Pria itu baru saja akan masuk ke mobilnya ketika seorang wanita memeluk lengannya. Shan jelas terkejut. Apalagi melihat wanita itu memakai....gaun pengantin. Ha? Shan menatap tidak percaya pada wanita cantik tapi berantakan itu.
"Om, tolong saya ya, please...." kata si wanita itu.
"Tolong? Tolong apa maksudnya?" tanya Shan.
"Nikahin saya!" kata si wanita itu enteng.
"What?" Dua bola mata Shan seakan mau melompat keluar dari tempatnya, saking terkejutnya. "Jangan gila kamu! Saya gak kenal kamu, kamu gak kenal saya. Tiba-tiba kok ngajak nikah. Kagak!" tolak Shan langsung. "Kenalannya nanti aja Om, sekalian di kamar" jawab wanita itu eh ralat kayaknya lebih enak disebut cewek deh.
"What?" sekali lagi hanya kata itu yang keluar dari bibir Shan. "Apaan sih what...whet....whot...ayo cepetan. Penghulunya sudah nunggu," cewek itu menarik paksa Shan, menuju sebuah gedung pernikahan yang ternyata cuma di seberang kantor Tan Group.
Shan berusaha menolak. Gila aja ketemu cewek syarap minta dikawinin. "Stop! Stop! Eh elu cewek sakit jiwa, siapa juga yang mau nikahin elu. Gue gak mau ya," bahasa Shan langsung berubah ke elu gue setelah melihat wajah cewek itu yang seperti anak belasan tahun.
Mulut Shan langsung melongo mendengar ocehan cewek bergaun pengantin itu. Pria itu kehabisan kata menjawab perkataan cewek itu. Hingga tidak sadar, Shan sudah diseret oleh cewek itu ke venue pernikahan. "Nih Pa, calonnya Meisya, oke kagak. Daripada sama kakek tua itu. Meisay ogah. Kalau sama yang ini Mei mau banget," kembali cewek yang mengaku bernama Meisya itu berceloteh. Sementara Shan langsung terkejut melihat siapa papa Meisya. "Tuan Darmawan?" ucap Shan tanpa sadar.
"Tuan Shannon Andrew, wah saya tidak menyangka jika pacar Meisya adalah Anda. Tahu begitu, saya nikahkan dari dulu-dulu,"
"Alamak, ini bapak sama anak beneran syarap semua," batin Shan nelangsa.
"Ayo Om cepetan. Penghulunya sudah nunggu dari tadi," Meisya menyeret Shan menuju meja dimana seorang penghulu sudah menunggu.
__ADS_1
"Tunggu dulu, saya tidak mau menikah sekarang. Saya tidak bawa apa-apa," Shan bermaksud menolak. Tapi hal itu malah dianggap lelucon. "Tuan Andrew tidak perlu bawa apa-apa. Kehadiran tuan di sini sudah apa-apa buat kami," jawab Tuan Darmawan sembari mengedipkan matanya.
"Eh busyet, beneran tidak waras semua ni orang," batin Shan lagi. Semua orang menggiring Shan ke meja penghulu. Penampilan Shan yang masih memakai pakaian formal lengkap dengan dasinya. Membuat semua orang percaya kalau dialah pengantin sebenarnya. Bukannya kakek tua yang duduk dengan wajah ditekuk di seberang sana. Sudah berkeriput ditambah muka dilipat habis deh kaya kertas lipat origami.
"Pak, eh Tuan Barma...eh bwuehhhh....ampe keserimpet lidah saya....saya ...bukan pacar siapa nama elu...?" tanya Shan. "Meisya Om Meisya," sahut Meisya dongkol. "Kalau Om ganteng ini nolak nikah sama gue, apes banget hidup gue mesti nikah ma aki-aki bau tanah itu," batin Meisya hampir menangis.
"Bukan pacar tapi calon suami, bentar lagi resmi jadi suami. Bener gak Mei?" tanya Tuan Darmawan.
"Bener tu Pa. Papa sih gak percaya kalo calon suami Meisya seganteng ini," sahut Meisya bangga. Jantung Shan melorot sampai ke dengkul. "Astaga apa dosaku ya Tuhan, kenapa kau tempatkan aku dalam situasi rumah sakit jiwa begini. Maafkan aku Rash, Ang kalau aku tadi mengumpat kalian. Tapi tolong keluarkan aku dari kepungan orang syarap ini," doa Shan berharap ada yang lagi online terus membaca doanya.
Shan mencoba mencari celah untuk lari. Hingga satu bisikan dari tuan Darmawan membuat Shan pasrah menerima nasibnya malam ini.
"Tolong selamatkan nama baik keluarga kami Tuan Shan. Lain, kita urus belakangan."
Shan menarik nafasnya dalam, tak lebih dari lima menit, statusnya berubah dari jones aka jomblo ngenes, langsung naik level jadi suami tanpa perlu lewat proses pacaran, kencan dan segala keribetan lainnya.
"Ini anugerah atau bencana?" batin Shan melihat ke arah Meisya yang tersenyum lebar padanya. "Mana istri gue kayaknya syarap lagi," keluh Shan.
*****
Bab ini kita intermezo bentar ya guys...mumpung hilal jodohnya Shan nongol....cocok bener kocaknya Shan ma muka Jason Fu...🤣🤣🤣🤣
__ADS_1
Kredit Pinterest.com
******