
Baik Rafael, Valerie dan Hugo langsung terkejut, mendengar hasil pemeriksaan Helena, yang menunjukkan kalau wanita itu tengah mengandung. Apalagi Helena, wanita itu langsung menganga tidak percaya. Meski detik berikutnya, tangisnya pecah. Wanita itu lantas mengusap perutnya yang masih rata.
"Aku hamil. Aku hamil anak Arash."
Helena membatin, antara bingung dan bahagia.
"Umurnya baru satu bulan, masih sangat kecil dan rentan. Jadi tolong diusahakan untuk menjaganya dengan baik. Terlebih ini diluar perkiraan kami. Selamat, ini membuktikan kalau prediksi kami meleset."
Seorang dokter kandungan mengucapkan selamat pada Helena yang membeku di tempatnya.
"Di mana Arash?"
David bertanya. Rafael dengan cepat menarik tangan David menjauh. Pria itu membulatkan matanya, setelah Rafael menceritakan soal Helena dan Arash.
"Tapi dia berhak tahu. Dengar, mereka belum bercerai. Jadi dia harus tahu."
"Tolong David. Lihatlah keadaan Helena. Sekarang yang penting keadaan Helena dulu. Soal Arash mau diberitahu atau tidak. Kita tunggu keputusan Helena."
David akhirnya hanya bisa menarik nafasnya. Dia cukup paham. Mendengar cerita Rafael, dia tahu kalau Helena tertekan. Benar, sekarang yang penting adalah menstabilkan psikis Helena. Mengingat kehamilan Helena boleh dibilang sebuah keajaiban.
Valerie langsung memeluk Helena, wanita itu menangis bahagia. Tidak perlu waktu lama bagi Helena untuk bisa hamil.
"Aku hamil, Ma. Anak Arash."
Lirih Helena, wanita itu masih tidak percaya. Sang Mama mengangguk mengiyakan.
"Selamat ya, Sayang. Kamu akhirnya bisa hamil. Sekarang kamu tidak boleh stres, tidak boleh banyak menangis. Ingat, ada bayi kecil di sini. Dia perlu kamu untuk tumbuh besar."
Helena mengangguk. Dia harus bisa bangkit sekarang. Sementara Rafael dan Hugo tampak gelisah. Mereka jelas senang dengan kehamilan Helena. Tapi mereka juga khawatir, jika Arash tahu. Sebagai ayah dan suami Helena, Arash berhak membawa Helena.
Dua pria itu tidak masalah jika Arash ingin membawa Helena. Tapi yang mereka inginkan adalah selesaikan dulu masalah Arash dengan masa lalunya. Baru mereka bisa merelakan Helena bersama Arash.
Setelah dua jam ditahan di sana. Akhirnya Helena diizinkan pulang. Helena harus menjalani serangkaian pemeriksaan juga USG untuk memastikan kalau keadaan janin Helena baik-baik saja
"Aku akui kecebong Arash hebat. Dia bisa membuat kakakku hamil."
Gumam Hugo tanpa filter, hasilnya sebuah keplakan dia dapat dari sang papa. Hugo mendelik, mendapat keplakan dari Rafael.
"Kenapa sih Pa, Hugo kan sudah 22 tahun. Itu bukan hal aneh buatku."
__ADS_1
Protes Hugo. "Masalahnya ini tempat umum."
Desis Rafael penuh peringatan. Hugo hanya bisa menggaruk kepalanya yang habis dikeplak sang papa.
"Pakai mantelmu, Helen."
Valerie memakaikan mantel ke tubuh Helena. Wanita itu tersenyum, lalu mengangguk ketika Valerie pergi ke kantin untuk membeli minum. Mereka masih menunggu Rafael dan Hugo yang sedang mengurus administrasi dan bicara dengan David.
Saat itulah dia melihat Aldo melintas. Cukup tergesa-gesa hingga pria itu tidak melihat Helena di lobi. Tidak tahu kenapa, kaki Helena begitu saja mengikuti Aldo. Beberapa kali berbelok di lorong rumah sakit. Hingga akhirnya langkah Helena terhenti ketika melihat Aldo masuk ke sebuah ruangan. Bisa dipastikan kalau itu ruang rawat inap Cia.
Kaki Helena seperti terkena magnet, perlahan berjalan menuju ruangan itu.
"Maaf lama. Klienku ingin bernegosiasi denganku."
Suara Aldo terdengar. Tak lama suara Arash terdengar.
Deg,
Helena memundurkan langkahnya, jadi Arash ada di dalam. Helena langsung mengusap air mata yang hampir mengalir di pipinya. Dia seharusnya tahu, apalagi yang akan Arash lakukan selain menemani Cia.
Tak berapa lama Helena berlari kecil, bersembunyi di sudut lorong. Ketika Arash tiba-tiba keluar dari sana. Seorang perawat ikut bersama Arash.
Kali ini, air mata Helena mengalir tidak terbendung ketika melihat Arash menggendong seorang bayi. Pria itu terlihat begitu luwes saat menggoyangkan bayi kecil itu.
Helena mengusap perutnya lagi. "Kamu lihat, nak. Dia papamu. Dia yang sangat menginginkan kehadiranmu. Tapi entahlah, Mama tidak yakin bisa memberitahu soal kehadiranmu padanya."
Helena menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar. Tangisan Helena berubah menjadi teriakan ketika sebuah tangan membawa Helena menjauh dari tempat itu.
"Hugo...."
"Ngapain Kakak ada di sana? Mau menyiksa diri sendiri?"
"Hugo...."
Helena menangis di depan Hugo. Sesaat Hugo terdiam. Hingga kemudian, pria tinggi itu memeluk tubuh sang kakak.
"Jangan menemuinya jika itu hanya membuat Kakak menangis. Dia di sana untuk menemui anaknya."
"Tapi ini anaknya juga. Dia sangat menginginkannya. Dia berkali-kali bilang ingin punya anak dariku."
__ADS_1
"Itu kita bicarakan nanti, sekarang ayo kita pulang. Istirahat dulu. Baru kita bahas soal ini."
Hugo melepaskan pelukannya pada Helena. Lalu menggandeng tangan Helena. Mengajaknya untuk pergi dari sana. Namun, Helena baru saja berbalik. Ketika suara Arash terdengar di belakang mereka.
Hugo dengan cepat berbalik, menyembunyikan Helena di balik punggung lebarnya. Pria itu memberi waktu pada sang kakak untuk mengusap air matanya.
"Kenapa kalian ada di sini? Apa yang terjadi Hugo?"
Arash langsung mencecar Hugo dengan berbagai pertanyaan. Arash jelas cemas melihat Hugo ada di rumah sakit.
"Tidak ada apa-apa. Hanya memeriksa keadaan kakak." Hugo menjawab.
Mendengar kata Kakak, Arash langsung mendekat. Saat itulah, dilihatnya Helena yang berada di balik tubuh Hugo.
"Kamu tidak apa-apa?" Arash bertanya panik. Terlebih melihat wajah sembab Helena.
"Aku tidak apa-apa. Jangan khawatir."
Helena berusaha bersikap biasa. Helena tidak berani memandang wajah Arash saat bicara. Wanita itu terus menunduk.
"Jangan bohong padamu. Aku tahu kamu tidak baik-baik saja."
"Asam lambungnya hanya naik. Kau tidak perlu cemas seperti itu."
Hugo menjawab sengit. Sementara Helena tidak bisa berkata apa-apa. Hal itu semakin membuat Arash curiga. Dia merasa kalau mereka tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Tapi melihat keadaan Helena, dan dia teringat salah satunya karena ulahnya. Maka pria itu memutuskan tidak akan memaksa Helena untuk bercerita.
"Minggir. Kami mau pulang. Kakakku perlu istirahat. Biar dia gak stres."
Hugo menarik Helena dari hadapan Arash. Untuk sesaat, dua pasang mata itu saling bertemu pandang. Bisa Arash lihat kalau ada hal yang ingin Helena bicarakan padanya.
Tidak ingin menambah ketegangan antara dirinya dan Hugo, Arash membiarkan keduanya berlalu dari hadapannya. Dia bisa menemui Helena kapan saja dan bertanya.
"Hugo....."
"Jangan pernah menemuinya lagi kalau dia belum menyelesaikan masalahnya. Terutama soal kekasih dan masa lalunya. Dia harus memilih satu. Kakak atau masa lalunya."
Tegas Hugo. Helena seketika terdiam. Dia juga menginginkan hal itu. Dia ingin....entahlah apa yang sebenarnya Helena inginkan. Dia ingin terus bersama Arash tapi dia juga tidak mungkin membuat anak Cia kehilangan sosok ayah.
Kepala Helena pusing dibuatnya. Pusing karena ulahnya sendiri.
__ADS_1
****