
Berita pernikahan dadakan Shan dan Meisya merebak dengan cepat seperti virus corona kemarin, bedanya yang ini tidak perlu vaksin untuk menangkalnya. Cukup tutup telinga jika tidak mau mendengarnya. Shan sendiri langsung "disidang" oleh Arash, Helena dan Ang. Tiga orang yang kini jadi orang terdekat pria itu. Mengingat dua orang tua duo S itu tinggal di luar kota.
"Jadi, berita itu benar?" tanya Arash antusias. Shan hanya menunjukkan jari di mana sebuah cincin terpasang di sana. "Katanya dadakan, terpaksa kok cincinnya bisa pas gitu," selidik Ang. Pria itu jelas tidak terima dilangkahi Shan. Dia yang pacaran dulu kenapa Shan yang finish duluan. Tinggal nyetak gol lagi.
"Mana eike tehe, lu nanya ndirilah ma bibi gua," jawaab Shan sebal. "Kata Shen, istrimu masih abege?" giliran Helena yang menginterogasi.
"18 tahun, Nyonya Tan. Dan kalian tahu hobinya apa?" Shan balik bertanya. "Naik Ducatti plus balap liar tengah malam," Shen yang menyahut.
Haaaa??? Semua orang langsung melongo mendengar ucapan Shen, mereka seketika menatap tidak percaya pada Shan yang mengusak rambutnya frustrasi. Benar kata Shen, pernikahan dadakan plus paksaan ini hanya akan membuatnya bertambah puyeng. Siang, malam ada saja yang bikin dia mumet.
"Ini namanya apa terusan? Elu disuruh jadi bodyguardnya dia waktu balapan apa gimana?" Ang seketika merasa iba pada nasih rekan kerjanya itu. "Maksud bapaknya, si Mei dinikahkan biar kalau malam dia dikelonin ma lakiknya biar gak ke mana-mana. Masalahnya, si Mei ma Kakak gue yang songong ini tadi padi buat kesepakatan kagak ada tidur bareng sampai tu anak lulus SMA, pertimbangan mereka kalau si Mei melendung bisa kacau sekolah tu anak," jelas Shen panjang kali lebar plus tinggi. Mewakili si kakak yang terlihat stres berat dengan status barunya yang kayak bengkel ketok magic. Cliiinngģ langsung berubah.
"Kalau dia melendung kan ada elu, suaminya. Susahnya di mana. Kalau dia gak lulus SMA bisa ujian kejar paket. Lagian bini elu kagak bakalan susah, hidup sama elu. Orang rekening elu good kayak muka ma body elu," Arash ikut memberi pertimbangan. Shan menghela nafasnya berat.
"Gue gak tahu deh. Mumet pala gue. Mana tadi pagi bini gue udah nodong ATM gue. Katanya nafkah buat dia sama buat jajan," curhat Shan.
"Kalau bini elu minta nafkah duit, lu kudunya minta hak elu dong. Kalian kan sudah resmi," kompor Ang. Dia kasihan dengan Shan, masak cuma diminta uangnya tapi tidak diberikan haknya. Shan seketika mengangkat wajahnya. Melihat sang sahabat. Benar juga ya, masak sudah resmi tidak boleh indehoy, lagian kan yang maksa Meisya, buat nikahin tu anak.
"Lu bener juga. Enak aja minta ATM gue. Guenya gak dapat apa-apa. Bodo amat kalau dia melendung, entar gue tanggung jawab," Shan menyeringai hingga keplakan Shen menghentikan angan Shan.
"Jangan aneh-aneh ya Kak. Mending kalian jangan sampai kebobolan deh. Kalian pengenalan dulu aja. Kalau kalian cocok tidak masalah. Kalau tidak cocok, terus kalian bercerai, kasihan anak kalian," Shen memberi pertimbangan.
__ADS_1
"Betul kata Shen, jalani dulu aja. Karena kalian sudah terlanjur menikah. Kalau kalian misalnya mau begituan mending pakai pengaman dulu. Kasihan juga si Meisya kalau umur segitu elu hamilin," Helena menambahkan.
"Kan gue lakinya, Helen," Shan ngeyel.
"Gue tahu elu lakinya. Tapi elu jangan main terkam aja. Elu musti tahu juga perasaan dia gimana. Kalau elu maksa dia, nanti dia malah benci sama elu. Terus dia minta cerai, terus elu jadi duda, mau lu?" tanya Arash melirik ke arah Helena. Sebab mereka pernah di fase itu.
"Duda kembang begini yang ngantri pasti banyak, duda rasa perjaka," Shan menjawab tengil.
"Songong lu, dinasehatin malah ngeyel," kesal Arash.
*******
"Apa yang terjadi?" tanya Helena cemas.
"Laki lu berantem," jawab Shan jengkel. Pria itu mengantuk bukan main, sebab semalam dia harus mencari Meisya yang berhasil lolos dan bisa ikut balapan liar. Meski pria itu sempat terperangah dengan kemampuan Meisya saat mengendarai Daddy-nya, tetap saja Shan harus menjewer kuping Meisya agar mau diajak pulang.
"Berantem sama siapa?" tanya Helena lagi.
"Siapa lagi, ya sama mantan pacarmulah," jawab Shan malas. Helena langsung membulatkan matanya. Tidak percaya dengan apa yang didengarnya. "Yang benar, Shan?" tanya Helena memastikan.
Hingga akhirnya Shan menceritakan kronologi bagaimana Arash dan Evan bisa adu jotos hingga berakhir di kantor polisi. "Mereka membuat kafe tempat mereka minum jadi hancur berantakan. Jadi pemilik kafenya melapor pada polisi," Shan mengakhiri penjelasannya. "Alah bilang saja mau minta ganti rugi," ejek Helena.
__ADS_1
Tak berapa lama, Arash terlihat keluar dari ruang tahanan sementara. Wajah pria itu babak belur dengan pelipis kirinya ditampal plester. "Kamu ini kurang kerjaan atau apa sih. Pakai acara adu jotos segala," omel Helena sembari menyentuh pelan wajah Arash. Memeriksa luka sang suami. Arash meringis lirih ketika Helena menyentuh pipinya. "Sakit, Helen," keluh Arash.
"Sudah tahu kalau berantem itu bakalan bonyok, sakit. Kenapa masih dilakukan?" marah Helena.
"Mantanmu tu yang mulai," Arash emosi saat mengingat perkataan Evan. "Akan kurebut Helena dari tanganmu, bagaimanapun caranya."
Arash mengepalkan tangannya. Lantas memandang Helena. Pria itu kini yakin kalau dirinya tidak sanggup berpisah dari sang istri. Tak lama Shan selesai mengurus surat penjaminan bagi Arash. Membayar ganti rugi pada pemilik kafe. "Dia bagaimana?" tanya Arash. Mereka perlu penjamin untuk mengeluarkan keduanya dari penjara. Juga jaminan yang jumlahnya lumayan.
Tapi uang tentu saja bukan masalah bagi Arash. Ditambah Helena menggunakan namanya untuk menjamin Arash. Sebagian polisi dan teknisi IT tahu siapa Helena. Sebab jaringan kepolisian terkadang memesan software mereka dari Liu Corp.
"Biarkan saja dia sampai besok. Kalau dia ingin bebas dia harus menandatangi surat itu," kata Arash melirik licik ke arah Shan yang mengibas-ngibaskan selembar kertas. "Surat apa itu?" Tanya Helena, tapi Arash hanya mengedikkan bahu. Tidak ingin menjawab.
"Kau pasti merencanakan sesuatu," Helena memicingkan matanya. Menatap curiga pada sang suami. "Astaga, curiga mulu perasaan," sungut Arash.
Ketiganya keluar dari kantor polisi. Meninggalkan Evan yang emosinya langsung naik, begitu tahu Helena datang menjadi penjamin Arash. Terlebih pihak kepolisian mengatakan kalau Evan ingin bebas, dia harus menandatangani surat pernyataan kalau dirinya tidak akan mengganggu Helena lagi.
Sementara itu di sisi lain, Cia tersenyum puas setelah membaca sebuah surat yang baru saja dia terima. "Dengan ini kau tidak bisa lari lagi Arash," batin Cia licik.
Wanita itu benar-benar menggunakan segala cara untuk mendapatkan Arash. Tidak peduli itu salah atau benar, yang penting tujuannya tercapai. "Arash adalah milikku, hanya milikku," ucap Cia lagi. Sepertinya Cia bukan mencintai Arash tapi terobsesi pada suami Helena itu.
*****
__ADS_1