Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Membahagiakan Lo Rasanya


__ADS_3

"Aahhh, stooppp! Arash stop!"


Helena berteriak, kala Arash terus menghentaknya. Memberikan serangan fajar, sejak pagi buta hingga kini matahari sudah meninggi. Padahal semalam, pria itu tidak henti menggempur dirinya. "Satu kali lagi, Baby," bisik Arash di telinga Helena. Sembari mempercepat tempo permainannya. Hingga pria itu menggeram di ceruk leher sang istri saat lahar putih menyembur ke rahim Helena.


Nafas keduanya tersengal sebab saat Arash mencapai puncaknya, hal sama juga terjadi pada Helena. Dua orang itu terbaring lemas di atas kasur besar Arash, yang keadaannya benar-benar definisi kapal pecah. Dengan pakaian mereka bertebaran di karpet kamar itu.


"Kau benar-benar brengsek!" maki Helena. Wanita itu sedikit menyesal sudah memberi lampu hijau pada Arash untuk menidurinya. Lihatlah sekarang hasilnya. Seluruh tubuh Helena remuk redam, dengan area pribadinya terasa perih.


"Terima kasih atas pujiannya," balas Arash tersenyum sembari menaikkan satu alisnya. Wajah Arash menampilkan binar kepuasan yang tidak terhingga.


"Aku memakimu, bukan memujimu," ketus Helena menaikkan selimut untuk menutupi tubuh polosnya.


"Kenapa ditutupi? Kamu terlihat seksi dan hot tanpa baju," lagi, Arash sambil tersenyum menggoda. "Seksi apanya? Yang ada pinggangku patah. Kau ini keterlaluan, sekali testing langsung digeber semalaman," sungut Helena.


Arash seketika meledakkan tawanya, mendengar gerutuan Helena. "Alah, kau juga menikmatinya. Bibirmu itu tak berhenti mendesah asal kau tahu," skak mat. Ketahuan kau Helen! Wajah Helena langsung memerah mendengar ucapan Arash.


Wanita itu langsung menyembunyikan wajahnya di balik selimut. "Ha..ha..ha....dia malu. Ketahuan kalau dia bohong," ledek Arash. Helena memanyunkan bibirnya dalam selimut. Hingga tiba-tiba Arash menyibak selimut di wajah Helena. "Ngapain lagi?" judes Helena. Karena kini, tubuh polos Arash berada di atas tubuhnya. Hanya selimut tebal Arash yang menjadi penghalang mereka.

__ADS_1


"Bilang saja kalau kau menyukainya. Sebentar lagi kau akan ketagihan dengan permainanku," bisik Arash. Helena mencebikkan bibirnya. "Kau tidak percaya, kita buktikan nanti. Sekarang ayo kita tidur," kata Arash merebahkan diri di samping Helena. Tengkurap tanpa memakai bajunya kembali. Hingga punggung lebar nan kokoh itu terpampang di depan mata Helena.


"Hei, memangnya kita tidak bekerja?" tanya Helena. "Aku sudah menghubungi Shan dan Shen. Biar duo kembar itu yang bekerja plus Ang," jawab Arash setengah tertidur. Baguslah pikir Helena. Tidak bisa dibayangkan kalau dia harus bekerja hari ini. Dia pasti akan kesusahan berjalan, ditambah rasa perih yang mendominasi di bawah sana. Plus bekas hicky yang bertebaran hampir di seluruh tubuhnya. Arash benar-benar buas.


"Tidur, jangan melamun. Kalau tidak tidur aku makan lagi kau!" ancam Arash. Helena memutar matanya malas. Lantas memejamkan mata. Setelah memiringkan tubuhnya. Tak berapa lama, wanita itu berjengit kaget kala tangan Arash memeluk tubuhnya. Ditambah dada bidang Arash yang menempel di punggungnya. "OMO" tubuh Helena panas dingin kembali dibuatnya. "Bisa habis harga diriku jika sampai ketahuan kalau aku menyukai tubuhnya," rutuk Helena dalam hati.


"I Love you, Helena Amara Tan," bisik Arash di telinga Helena. Pria itu lantas mencium belakang kepala sang istri dan bahu polos Helena. Diam-diam Helena mengulum senyumnya mendengar penyataan cinta Arash.


******


"Huwekkkkkk," suara muntah itu belum juga berhenti terdengar dari kamar mandi Brigitta. Wanita itu sudah merasa lemas dengan wajah pucat. Dia pikir tidak akan sanggup bekerja hari ini. Tapi jika dia tidak bekerja, dia bisa dipecat.


Wanita itu keluar dari apartemennya dengan tergesa-gesa. Waktu masih longgar tapi jika dia terus bersantai, dia pasti terlambat. Brigitta baru saja sampai di tepi jalan raya. Ketika sebuah mobil melintas lantas berhenti tak jauh darinya.


"Ta......" seru suara itu. Brigitta tahu betul siapa yang memanggil. Enggan menanggapi, wanita itu hanya diam tanpa menjawab. Merasa diabaikan, Evan langsung keluar dari mobilnya. Benar kata Helena, wajah Brigitta tampak kusut dan kusam. Tubuh wanita itu juga terlihat kurus.


"Aku antar," ucap Evan. Brigitta masih terdiam. Tidak menyahut. "Ta......"

__ADS_1


"Cukup Evan. Jangan pernah menemuiku jika kau masih mengharapkan Helena kembali padamu," tegas Brigitta. Sebuah taksi melintas dan Brigitta langsung masuk ke dalamnya. Melihat Evan hanya diam tidak menjawab, berarti ucapannya benar. Evan masih berharap bisa kembali pada Helena. Sakit kembali Brigitta rasakan di hatinya. Evan, pria itu tidak pernah menganggapnya ada. Meski dia sudah menyerahkan hati dan raganya. Sepertinya akan sia-sia menunggu Evan untuk bertanggungjawab pada kehamilannya.


Wanita itu menghela nafasnya dalam. Mengusap perut yang masih datar. "Apa aku harus menerima tawaran Rian?" batin Brigitta bimbang. Dia memerlukan status dan perlindungan saat ini. Dan Rian mampu memberikannya. Taksi Brigitta sampai di kantor tepat pada waktunya. Wanita itu tidak perlu berlari untuk sampai ke ruangannya.


"Selamat pagi, Ta," sapa suara yang akhir-akhir ini mulai familiar di telinganya. "Pagi, Pak," jawab Brigitta gugup. Dia tidak menyangka akan bertemu atasannya di sini. "Kamu baik-baik saja?" tanya Rian. Pria itu ternyata perhatian juga.


Brigitta mengangguk ragu. Anehnya selama di dekat Rian, mual-mual Brigitta mulai mereda. Aroma musk yang menguar dari tubuh Rian membuat dirinya rileks. Wangi Rian memang berbeda dengan Evan yang cenderung beraroma tajam. Wangi Rian lembut, menenangkan.


"Bahkan bayinya saja sudah milih siapa bapaknya," gerutu Brigitta dalam hati. "Bisa kita bicara setelah pulang nanti? Ini soal tawaranku padamu," kata Rian lagi. Keduanya hanya berdua di lift bahkan ketika mereka berjalan menuju ruangan mereka.


"Aku tunggu di lobby setelah pulang kerja," kata Rian. Pria itu lantas masuk ke ruang kerjanya. Meninggalkan Brigitta yang hanya berdiri diam di sana. "Jawaban apa yang harus kuberi padamu," batin Brigitta semakin puyeng kepalanya.


"Cie, sudah berani go public ni," seru Nia heboh. Hanya Nia-lah sahabat dekat Brigitta di kantor itu. "Siapa juga yang go public. Apanya coba yang mau ditunjukin ke public. Kita kebetulan bareng dari lift sampai sini," jelas Brigitta.


"Oooo cuma kebetulan," Nia berkata setengah meledek. Dia tahu yang dikatakan Brigitta benar. Dia hanya iseng menggoda. Hari itu pekerjaan Brigitta ternyata sangat banyak. Dia bahkan hampir melupakan makan siangnya jika saja Nia tidak membawakan sebuah paperbag lengkap dengan isinya.


"Apa ini?" tanya Brigitta dengan matanya. "Dari calon pacar," bisik Nia. Brigitta langsung melirik ruangan Rian. Pria itu berkata tanpa suara, "makanlah." Brigitta tersenyum tipis. Baru kali ini dia merasa diperhatikan oleh seorang pria. Pacar terakhirnya adalah pria yang sangat cuek. Sedang dengan Evan, mereka jelas back street dari semua orang.

__ADS_1


"Diperhatikan orang yang sayang sama kita itu membahagiakan lo rasanya," ledek Nia sembari menjauh dari meja Brigitta. "Dimakan ya," tambah Nia sebelum benar-benar pergi dari hadapan Brigitta. Bumil itu kembali mengulum senyumnya. Benar kata Nia, rasanya membahagiakan saat ada yang tulus perhatian dengan kita.


****


__ADS_2