Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Rahasia Arash


__ADS_3

Selama beberapa hari, Arash begitu sibuk dengan pekerjaan kantornya. Hingga komunikasinya dengan Helena sedikit terhambat. Mereka akan bertemu di tempat tidur ketika Helena sudah terlelap. Meski begitu, hal itu tidak mengurangi olahraga panas mereka. Kalau malam terlalu lelah. Maka pagi menjadi pilihan kedua bagi Arash untuk menyerang sang istri.


Seperti pagi itu, Helena kesal setengah mati. Dia sudah setengah menyelesaikan make up-nya ketika tiba-tiba Arash menyerangnya. Lima menit yang dijanjikan Arash melar jadi satu jam.


Alhasil perempuan itu tidak berhenti mengomel ketika dia harus mandi lagi. Harus make up lagi. Sementara yang diomeli memasang tampang tidak bersalah sembari memainkan ponselnya. Dengan tubuh masih polos, pria itu dengan santai menyandarkan tubuhnya di headboard ranjang.


"Harusnya aku tidak percaya dengan janji lima menitnya," gerutu Helena. Ya, dia seharusnya tahu kalau Arash tidak mungkin selesai dalam waktu lima menit.


"Tidak bareng aku, Baby," tanya Arash santai.


"Kagak! Jadi apa nanti meetingku kalau aku ikut kamu yang berangkatnya nanti siang," sahut Helena cepat. Meski begitu, Helena masih sempat mencium bibir sang suami sebelum menghilang di balik pintu. "Sekarang saja mengomel kayak kereta api, gak ingat apa tadi mendesah keenakan tidak berhenti," giliran Arash yang ngedumel.


Sebuah pesan masuk dari Helena, memberitahu kalau pakaian dan sarapan sudah dia sediakan. Senyum Arash mengembang sempurna. "Kau betul William Tan, pilihanmu tidak pernah salah!" teriak Arash.


Diujung sana, William langsung bersin, membuat Vivien heran. Wanita itu bertanya kenapa, dan William hanya menggeleng. Pasti si Arash sedang mengumpatku ini, batin William.


Arash baru saja menyelesaikan sarapannya atau entah apalah namaanya, ketika sebuah pesan masuk. Dua sudut bibirnya tertarik, saat membaca pesan itu. Tak lama, pria itu sudah melajukan mobilnya menuju sebuah restauran yang sudah dia pesan.


Saat Arash sudah sampai di sana, seorang pria sudah menunggunya. "Senang bertemu dengan Anda, tuan Aldo," sapa Arash.


Aldo jelas tertegun melihat bagaimana rupa Arash sesungguhnya. Selama ini pria itu hanya tahu Arash dari pemberitaaan di media dan televisi. "Pantas saja, Cia begitu tergila-gila padanya," batin Aldo.


Dia sendiri tidak tahu kalau yang akan bertemu dengannya adalah Arash. Sebab Arash tidak menyebutkan namanya ketika mengajaknya bertemu. Pria itu beralasan ingin membahas bisnis dengannya. Karena itulah Aldo tidak curiga sama sekali.


"Senang bertemu Anda juga, tuan Arash," Aldo menyambut uluran tangan Arash untuk berjabat tangan. Selanjutnya sebuah obrolan basa basi mengalir di antara keduanya. Ada kesan baik yang tersirat pada pertemuan mereka kali ini. Hingga akhirnya, Arash menyampaikan maksud dari dirinya mengajak Aldo bertemu.

__ADS_1


"Ada hal yang sebenarnya ingin aku bicarakan denganmu. Ini bukan soal bisnis tapi masalah pribadi," keduanya mulai bisa mengakrabkan diri.


"Soal?" tanya Aldo, meski pria itu sudah bisa meraba ke mana arah pembicaraan Arash.


"Ini soal Valencia," Arash menjeda ucapannya. Pria itu melihat Aldo tidak terkejut sama sekali dengan ucapannya.


"Apa hubungan Valencia denganku?" tanya Aldo.


Arash tersenyum lantas meneruskan ucapannya. "Aku tahu kau berhubungan dengan Cia. Aku tahu kalau hubungan kalian tidak sesederhana itu." Aldo menelan ludahnya kasar. Dia pikir Arash tidak menyelidikinya, ternyata dia salah.


"Aku tidak masalah kalau kalian ada hubungan. Sebab aku tidak ada niat untuk menikahinya atau sejenisnya. Kau tahu kan aku sudah menikah. Dan pernikahan kami berjalan baik akhir-akhir ini. Yang jadi masalahnya adalah ini...." Arash memberikan selembar kertas pada Aldo. Pria itu terdiam, tapi tak berapa lama raut wajah Aldo berubah kesal.


"Ini tidak benar," satu sanggahan keluar dari bibir Aldo tanpa sadar. Arash menyeringai mendengarnya. "Lalu yang benar seperti apa?" tanya Arash. Aldo seketika dibuat kelabakan dengan pertanyaan Arash. "Aku masuk jebakannya," batin Aldo.


Aldo terbelalak mendengar ucapan Arash. "Jadi ancaman Cia tidak main-main. Tapi anak itu adalah milikku. Cia sendiri mengakuinya. Ini tidak bisa dibiarkan. Aku tidak bisa membiarkan Cia menikah dengan Arash, aku juga tidak mau kehilangan anakku."


"Aku tidak memaksamu untuk mengambil keputusan sekarang. Aku tahu anak itu, anakmu. Meski dalam tes itu disebutkan kalau itu adalah anakku," kata Arash. Selanjutnya pria itu berlalu dari hadapan Aldo. Meninggalkan Aldo dalam dilema yang cukup membuat kepalanya puyeng.


"Dan satu lagi, terlepas dari apapun keputusanmu. Aku akan tetap berinvestasi di perusahaanmu. Karena aku melihat prospek cerah di sana." Arash benar-benar pergi kali ini.


Aldo tersenyum lega mendengar perkataan Arash. "Dia pria baik, kenapa Cia sampai menggunakan cara kotor untuk mencoba menjerat Arash," batin Aldo.


******


Helena mendudukkan dirinya di kursi Arash. Wanita itu secara mengejutkan mampir ke kantor sang suami. Bermaksud mengajaknya untuk makan siang. Ternyata Arash belum kembali dari meeting dengan klien di luar. Helena ditinggalkan sendirian di ruang kerja Arash. Wanita itu tersenyum. Teringat bagaimana mereka bertemu untuk pertama kalinya.

__ADS_1


Bagaimana dia begitu marah saat teringat Arash yang mencoba melecehkannya. "Dulu saja benci setengah mati kalau mau disentuh. Sekarang aku ketagihan dengan sentuhannya," batin Helena malu dengan dirinya sendiri.


Wanita itu tidak bisa menolak jika Arash sudah mulai menyentuhnya, menciumnya, dan jika sudah seperti itu, bisa dipastikan kalau mereka akan berakhir dengan pergulatan panas. Yang tidak hanya perlu waktu 30 menit atau satu jam untuk menyelesaikannya. Wajah Helena merona merah mengingat setiap sesi panas yang dia lalui bersama Arash.


Beberapa waktu berlalu, dan Helena mulai bosan. Arash belum kembali juga. Sedang Shan tengah memimpin meeting menggantikan sang suami. Shen, jangan ditanya. Wanita itu pasti sedang berduaan dengan Angelo, sang kekasih.


Helena iseng membuka-buka berkas milik Arash. Dia terus melalukannya, hingga berkas itu habis. Ketika akan menutup kembali berkas itu. Mata Helena menangkap sebuah kertas yang menarik perhatiannya. Wanita itu mengambilnya, membacanya sekilas dan....dada Helena bergemuruh seketika. Nafas Helena mulai memburu dengan mata mulai berkaca-kaca.


Bersamaan dengan itu, terdengar suara Arash dari luar ruangan. Helena langsung menggunakan kamera ponselnya untuk mengambil gambar kertas itu.


"Aku tidak tahu kalau kamu mau mampir, By," kata Arash sumringah. Sementara Helena pura-pura merapikan meja Arash. "Kamu kenapa?" tanya Arash, melihat wajah merah Helena dengan mata berkaca-kaca.


"Habis nangislah, nonton drakor. Kelamaan nungguin kamu," jawab Helena bersandiwara.


"Alah sok-sok-an nonton drama. La wong hidupnya sendiri sudah drama," ledek Arash. Helena melengos mendengar ejekan sang suami. Pikiran Helena masih tertuju pada kertas yang baru saja dibacanya.


"Kenapa Arash bohong padaku?" batin Helena kecewa. Wanita itu jelas masih penasaran dengan isi kertas itu. Tadi dia hanya membacanya sekilas. "Rahasia apa yang sedang kamu sembunyikan?" Kecurigaan Helena pada Arash mulai tumbuh di hati wanita itu.


*****



Arash dan Helena,


*****

__ADS_1


__ADS_2