
Helena melempar kertas hasil tes DNA anak Cia ke arah Arash. Dia sudah tidak bisa menahan diri lagi. "Jelaskan!" Satu patah kata dari Helena, membuat Arash mengerutkan dahinya. Pria itu memungut kertas itu, lantas membacanya. Raut wajah Arash seketika menggelap marah. Dia yakin kalau Cia yang sudah mengirimkan kertas terkutuk itu pada Helena.
"Dia mulai berani macam-macam denganku rupanya," batin Arash marah.
Di depan sana, sang istri terlihat menunggu dengan tidak sabar. Sesuai saran Shen, dia akan mendengar penjelasan yang keluar dari mulut sang suami. Ya, pada akhirnya Helena memberitahu Shen soal tes DNA itu.
"Helen, ini tidak seperti yang kamu duga. Ini semua rekayasa Cia. Aku bukan ayah dari anak itu. Aku berani bersumpah."
"Kau masih saja menyangkalnya! Kau ini keterlaluan, brengsek! Ayah model apa yang tidak mengakui anaknya sendiri."
Helena pada akhirnya meledak juga. Apalagi melihat Arash yang terus menyangkal soal anak Cia. "Helen, sudah aku katakan. Berikan aku waktu untuk membuktikan kalau aku bukan ayah bayi itu."
"Apa kertas ini belum cukup untuk membuktikan semua?" suara Helena mulai meninggi. Wanita itu mulai terisak pelan. Hingga Arash tidak berani untuk menjawab perkataan Helena.
"Helena dengarkan aku....."
Arash menghentikan ucapannya saat Helena mengangkat tangannya. "Apa kamu juga akan mengingkarinya jika aku hamil?" tanya Helena lirih.
"Tentu saja tidak. Aku jelas yang pertama bagimu. Tapi Cia tidak. Lagi pula aku sudah menemukan ayah kandung anaknya Cia." Kata Arash cepat.
Wajah Helena berubah terkejut mendengar perkataan Arash. "Kamu jangan coba menipuku."
Arash mendekat ke arah sang istri. Perlahan memeluk Helena. "Aku tidak pernah menipumu. Semua yang kukatakan benar."
Helena tidak bisa berkata apa-apa. Pelukan Arash membuyarkan semua amarah wanita itu. Terlebih ketika sang suami mengatakan kalau dia akan mengajak Helena saat menemui ayah anak Cia. Helena akui, dia sudah mencintai Arash. Hingga ada rasa takut akan kehilangan pria itu.
__ADS_1
"Aku harap yang kamu katakan benar, Arash. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya."
******
Helena meremas ujung blazerya, gugup. Rasa itulah yang kini ia rasakan. Dia dan Arash tengah menunggu pria, yang Arash katakan sebagai ayah anak Cia. Sebuah genggaman tangan membuat Helena mengangkat wajahnya. Melihat wajah Arash yang tersenyum padanya. Seolah mengatakan kalau semua akan baik-baik saja.
Hingga suara pintu terbuka membuat keduanya menoleh ke sumber suara. Aldo masuk dengan raut wajah tidak terbaca. Pria itu cukup terkejut mendapati Helena juga ada di sana.
"Senang bertemu denganmu kembali, tuan Aldo. Perkenalkan istriku, Helena."
Arash mengenalkan keduanya. Sementara Aldo jadi bimbang, melihat Helena yang terlihat baik. Tidak seperti Cia, yang Aldo tahu benar seperti apa. Sebagai pembuka, Arash berbasa basi soal kontrak kerja sama yang akan mereka tanda tangani minggu depan.
Mengingat hal itu, Aldo semakin bingung. Keputusan apa yang akan dia ambil. Hingga perkataan Arash, membuat Aldo kembali ke alam sadarnya.
"Jadi aku pikir sudah cukup basa basinya. Bagaimana keputusanmu?" Arash bertanya tanpa ragu.
****
Helena masuk ke kamarnya sembari membanting pintu. Rasa marah dan kecewa jelas terlihat di wajah cantiknya. "Hasil tes DNA itu benar. Arashlah, ayah dari bayi itu."
Seperti terkena sambaran petir, Helena langsung lemas. Meski dia sudah siap untuk hasil terburuknya, tapi tetap saja, dia cuma manusia biasa. Hatinya sakit, mendengar kalau bayi Cia adalah anak Arash, sang suami. Pertanyaan, aku harus bagaimana kini berputar di kepala Helena.
Ketukan di pintu membuat Helena mengangkat kepalanya. Arash masuk lantas berjongkok di hadapan sang istri. "Helen, aku bisa menjelaskan...."
"Nikahi dia," kata Helena lirih.
__ADS_1
"Apa?!" Arash bertanya, tidak percaya dengan apa yang dia dengar. Helena menatap wajah sang suami, sungguh dia kini tidak rela melepas Arash. Tapi dia juga tidak mau dicap sebagai wanita tidak tahu diri.
"Menikahlah dengannya. Anakmu butuh kamu," ulang Helena. Ada nada getir dalam ucapan Helena. Arash bergeming mendengar ucapan Helena. Pria itu lantas mengusap air mata yang mengalir di pipi sang istri.
"Ada banyak cara untuk bertanggungjawab. Tapi aku menolak untuk menikahinya. Anaknya, jika memang itu anakku....."
"Kau masih menyangkalnya?" Helena tidak percaya jika Arash bersikeras menolak anak itu. Wanita itu bangkit dari duduknya. Dia jelas terkejut dengan sikap Arash yang dia anggap pengecut. Berani berbuat tapi tidak mau bertanggungjawab.
"Helen, aku tahu siapa Aldo. Dia sangat dekat dengan Cia. Ada kemungkinan kalau Cia mengancamnya. Atau karena Aldo memang bekerjasama dengan Cia."
Helena menutup telinganya. Dia tidak mau mendengar ucapan apa pun dari Arash. "Aku yang mundur." Helena berkata tegas. Kembali Arash terkejut dengan ucapan Helen. "Jangan bercanda kamu."
Amarah Arash mulai merayap naik. Dia tidak meminta apapun dari Helena, selain menunggu. Dan dia akan mencari solusi bagi masalah ini. Tapi sepertinya Helena tidak cukup sabar untuk melakukan hal itu.
"Aku serius. Kamu tidak akan mau menikahi Cia jika masih ada aku." Kata Helena. Ditatapnya manik mata Arash. Dia sebenarnya tidak ingin berpisah dengan sang suami.
"Jangan mimpi kamu bisa lepas dariku. Kamu milikku, selamanya milikku." Pria itu mencium bibir Helena kasar. Melucuti pakaian sang istri dengan cepat. Lantas menindih tubuh Helena. Kemarahan dan emosi Arash jelas terasa saat dia meniduri Helena. "Akan kubuat kamu mengandung anakku. Hingga kamu tidak bisa lari dariku. Anakku akan mengikatmu padaku selamanya." Bisik Arash ditengah hentakan yang dia lakukan pada Helena.
Perkataan Arash membuat Helena menangis perih. Bagaimana jika Arash tahu kalau dirinya sulit punya anak. Apakah Arash akan bertahan atau malah pergi darinya. Air mata Helena meluncur turun, selama Arash menyalurkan hasrat dan kemarahannya sekaligus. Hingga pria itu melenguh puas setelah mencapai puncaknya untuk kesekian kalinya.
Pria itu merebahkan tubuhnya di samping Helena. Menyelimuti tubuh polos sang istri setelah mencium kening Helena. "Maaf jika aku menyakitimu." Kata Arash lirih. Meski dia tidak yakin kalau Helena mau mendengarnya. Bahu wanita itu bergetar pelan, menandakan kalau Helena masih menangis.
Tangis Helena mulai berhenti kala Arash ikut memiringkan tubuhnya. Memeluk tubuh Helena. Lantas mencium belakang kepala sang istri. "Maafkan aku...maafkan aku. Aku mencintaimu. Tolong jangan menyuruhku untuk memilih antara kamu dan dia. Bahkan kalau dia mengandung anakku, aku akan tetap memilihmu," Helena sudah tidak mendengar perkataan Arash. Pelukan sang suami sudah mengantarnya ke alam mimpi ketika Arash mulai bicara.
Dan petang itu, mereka lalui dengan tidur bersama setelah pergulatan panas yang Arash paksakan pada Helena. Helena lelah dan juga sedih.
__ADS_1
****