Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Terima Kasih


__ADS_3

Arash menatap tajam pada Cia dan Aldo. Wanita itu masih terisak di tempat duduknya. Tapi Arash benar-benar tidak peduli. Yang ada di pikirannya hanyalah membuat Helena tetap berada di sampingnya. Lain, dia tidak peduli.


"Aku tidak akan mengubah keputusanku. Kau setuju atau tidak. Aku akan mengambilnya darimu. Karena aku ayahnya. Dan kehidupannya jelas lebih terjamin bersamaku."


"Tapi aku ibunya."


"Kau menjadi ibunya, karena kau memilihnya."


Suara Arash meninggi. Pria itu bukan tipe penyabar, terlebih menghadapi Cia.


"Kau kejam, Arash."


"Kejam mana? Bukankah tujuanmu mengandung anakku adalah agar kau bisa menguasai hartaku. Kau ingin mengikatku lewat anak itu. Jangan mimpi!"


Deg,


Cia menelan ludahnya seketika. Bagaimana Arash tahu rencananya.


"Arash bagaimanapun Cia sedang mengandung anakmu."


Satu sudut bibir Arash tertarik.


"Kau pikir aku percaya? Dengar Cia, aku akan melakukan tes DNA ulang setelah bayi itu lahir. Dan aku yang akan memilih dokternya sendiri."


Cia membelalakkan matanya. Ketakutan kini terpancar jelas di wajah bumil itu. Dia akan ketahuan kalau Arash mengadakan tes ulang.


"Arash...tunggu....tunggu!" Cia berusaha menahan tangan Arash, saat pria itu akan keluar dari sana. Arash menepis kasar tangan Cia. Wanita itu hampir terjatuh jika saja, tidak ada Aldo yang menanģkap tubuh Cia.


Mengabaikan teriakan Aldo, Arash keluar dari tempat itu.


"Di mana dia?"


"Di apartemenmu."


Arash cukup lega ketika Helena kembali ke apartemennya. Mengingat sang istri adalah wanita nekad.


*


*


*


Brigitta melongo ketika Rian membawanya pulang ke "rumahnya." Sebuah rumah yang tergolong mewah kini berada di depan matanya. Dia pikir itu rumah orang tua Rian. Tapi ketika sang suami menegaskan kalau itu rumahnya sendiri, Brigitta langsung heran dibuatnya.


Rian hanyalah seorang manager marketing biasa. Gajinya Brigitta tahu jelas besarnya. Jadi adalah hal aneh ketika Rian mampu memiliki hunian mewah itu.



Kredit Pinterest.com


"Kamu lagi gak bohongin aku kan. Ayo pulang ke apartemenmu saja." Ajak Brigitta. Wanita itu tahu kalau Rian tinggal di apartemen.


"Mulai sekarang kita akan pulang ke sini. Masuklah, nanti akan kujelaskan sesuatu padamu."


Brigitta sedikit ragu, tapi tarikan Rian membuat Brigitta pasrah. Begitu masuk mereka disambut oleh dua asisten rumah tangga. Brigitta tersenyum kikuk, beluma pernah ada yang mengangguk hormat padanya.

__ADS_1


Setelah Rian mengenalkan ART-nya dan Brigitta. Keduanya melangkah masuk ke ruang keluarga. Semua yang ada di rumah itu membuat Brigitta terkagum-kagum. Belum pernah dia masuk ke rumah semewah itu. Meski rumah Helena juga besar dan mewah.



Kredit Pinterest.com


"Duduklah dulu." Rian mendudukkan Brigitta di sebuah sofa empuk. Tak lama seorang ART membawakan minum untuk mereka.


"Apa yang ingin kamu jelaskan?"


Rian menarik nafasnya sejenak. Lalu menatap dalam wajah Brigitta. Lalu mulailah pria itu bercerita soal siapa dirinya. Soal siapa orang tuanya. Dan juga soal masa lalunya.


"Jangan bercanda kamu!"


Respon Brigitta begitu Rian selesai bercerita. Rian tersenyum melihat reaksi Brigitta. Dia pikir Brigitta akan melompat saking senangnya menikah dengannya.


"Sudah jangan buat lawak. Itu gak lucu tahu. Manager ya manager aja. Gak usah ngaku-ngaku pewaris tunggal Wijaya Group buat nyenengin aku. Kamu mau menikahiku dengan keadaanku yang seperti ini saja. Aku sudah bahagia dan bersyukur. Tidak usah ngarang cerita yang bukan-bukan. Berasa kayak jadi Cinderella tahu."


Oceh Brigitta sembari menyeruput tehnya. Wanita itu berpikir Rian benar-benar sedang bercanda dengannya.


"Tidak percaya?" Rian bertanya sembari mengangkat alisnya. Pria itu lantas mengeluarkan KTP-nya. Menyerahkannya pada sang istri.


Brigitta sesaat terdiam. Hingga kemudian dia merasa tenggorokannya tercekat. Di sana tertulis dengan jelas kalau Rian Sebastian Wijaya adalah nama asli Rian. Setelahnya sebuah kartu nama sudah berada di atas meja.


"Rian Sebastian Wijaya, CEO Wijaya Group."


Gumam Brigitta.


"Masih kurang percaya. Akan kuambilkan KK di atas."


"Kenapa bohong padaku. Kau ingin mengujiku seperti di drama-drama itu."


Rian terkekeh mendengar protes sang istri. Sungguh lucu dan menggemaskan.


"Aku tidak bermaksud apa-apa. Tidak ingin membohongimu, menipumu atau sejenisnya. Justru untuk wanita sepertimu, kau akan menolak menikah denganku, setelah tahu siapa aku"


Brigitta mendelik tajam. Ujung bibirnya terlipat. Marah, dia sangat marah. Rian membohonginya soal identitasnya.


Sementara di hadapannya, Rian duduk sembari menatap lembut pada Brigitta. Melihat tatapan lembut Rian, otak Brigitta seketika teringat malam panas mereka. Di mana tatapan Rian sama dengan saat ini.


"Gila! Kenapa otakku malah terbayang tubuhnya yang seksi dan hot semalam?"


Rutuk Brigitta pada dirinya sendiri. Brigitta langsung melengos, menghindari tatapan Rian.


"Jadi jangan protes apapun soal siapa diriku. Itu hanya sekedar status yang kudapat karena aku lahir dari mereka. Selebihnya, aku adalah suamimu."


Pria itu menatap lurus melewati Brigitta. Wanita itu menoleh, dan nampaklah sebuah foto keluarga yang menampilkan Rian juga ayah dan ibunya.


"Tetap saja aku marah, kamu tidak jujur padaku!"


Brigitta menyandarkan tubuhnya di sofa. Melipat tangannya di depan dada. Dia masih tidak terima, Rian membohonginya.


Melihat sikap Brigitta, Rian tersenyum. Beginilah resiko menghadapi wanita yang tengah hamil. Perlahan Rian mendekat ke arah Brigitta. "Lalu kamu maunya bagaimana? Aku anak tunggal. Nggak mungkin dong aku meninggalkan papa dan mama."


"Isshhh siapa juga yang minta seperti itu."

__ADS_1


Balas Brigitta cepat. "Lalu, kamu maunya seperti apa?"


Rian mulai menempatkan dagunya di bahu Brigitta. Nafas hangat Rian menerpa telinga Brigitta. Wanita itu berjengit, merasakan hawa panas merayapi tubuhnya.


"Apa sih?"


Brigitta berusaha menghindari kecupan Rian di lehernya. Wanita itu berbalik dan melihat Rian yang menyeringai mesum padanya.


"Apa?"


"Maksudnya?"


Brigitta mendengus geram. Bagaimana bisa Rian memancingnya di ruang keluarga? Bagaimana jika ART mereka ada yang lihat.


"Kita di bukan di kamar. Jadi jangan aneh-aneh. Dan ingat, aku masih marah padamu!"


Tegas Brigitta.


"Oohh maunya di kamar. Ayo kita ke kamar kalau begitu." Ajak Rian tanpa malu.


Brigitta langsung memundurkan tubuhnya. Melihat Rian yang mendekat ke arahnya.


"Tapi bisa dong pemanasan di sini."


"Ehhhh apa sih. Jangan dekat-dekat. Aku masih marah padamu!"


Tapi protes Brigitta tidak membuat Rian menghentikan aksinya. Pria itu langsung membungkam bibir tipis Brigitta dengan ciuman. Rian akui dia mulai kecanduan dengan tubuh Brigitta.


Apalagi, tubuh wanita itu masih indah meski tengah mengandung. Tubuh Brigitta masih seperti seorang gadis yang belum pernah terjamah.


"Sayang, kita ke atas yuk."


Ajak Rian dengan suara seraknya. Brigitta seketika tersadar. Bagaimana dia bisa terhanyut dalam ciuman Rian. Dia kan masih mode marah.


"Gak mau! Aku masih marah."


Rian terbahak. Marah kok dicium langsung membalas.


"Yaa, marahnya kamu malah bikin tambah seksoy tahu." Goda Rian. Walhasil, detik selanjutnya Rian meringis ketika Brigitta mencubit dada sang suami.


"Kode tu, kode tu..."


"Rian Wijaya!"


Teriak Brigitta kesal bukan kepalang. Meski dalam hati, wanita itu benar-benar bersyukur. Dia seperti Cinderella di dunia nyata. Besar dan tingggal di panti asuhan. Lalu kerja keras banting tulang untuk kuliah dan hidup. Membuat sebuah kesalahan paling fatal dalam hidupnya.


Tapi kini, di hadapannya ada Rian, seorang pangeran yang bersedia menariknya dari genangan lumpur penuh derita. Padahal dalam rahimnya tumbuh seorang bayi yang bukan darah daging Rian.


Rian masih meringis, ketika tiba-tiba Brigitta menarik kerah baju Rian. Lantas tanpa ragu mencium bibir sang suami.


"Terima kasih. Terima kasih sudah hadir dalam hidupku."


Setitik air mata menetes dari sudut mata Brigitta.


*****

__ADS_1


__ADS_2