Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Terungkap


__ADS_3


Kredit Pinterest.com


Brigitta memperhatikan Rian dengan telaten mengoleskan salep itu disekitar telapak kakinya.


"Pria mawar merah."


Mawar merah yang diberikan oleh Rian bahkan masih ada sampai sekarang. Brigitta mengeringkan mawar itu. Lalu menempatkannya di sebuah vas. Dengan sebuah kotak kaca transparan untuk melindunginya dari kotoran.


Dia jelas tidak percaya jika Rian adalah orang yang sudah memberinya kebahagiaan sejak mereka bertemu pertama kali.


Rasa perih terasa saat salep itu sudah disapukan ke kulitnya. Terlihat kalau kakinya sedikit memerah.


"Sudah."


Rian berkata, lalu melihat ke wajah Brigitta. Rian tidak percaya pertemuannya dengan Brigitta saat kelulusan gadis itu membawanya pada suatu rasa yang asing menurut Rian. Rasa asing namun menimbulkan sensasi merindu di dalam hati Rian. Dia ingin bertemu Brigitta.


Setelah dia dan Helena memutuskan untuk berpisah, dia sama sekali tidak ada niat untuk menjalin kasih. Padahal orang tuanya sangat menginginkan dia menikah. Hal itu tentu membuat Papa Rian kelabakan. Hingga Papa Rian membuat perjanjian dengan sang putra.


"Papa akan mewariskan Wijaya Group padamu. Jika kamu sudah menikah."


Syarat dari ayahnya tentu membuat Rian kebingungan. Dia hanya ingin menikah dengan wanita yang dia cinta dan bisa memberinya keturunan.


Hingga ketika dia diturunkan ke bagian Marketing. Di sanalah dia menemukan Brigitta. Seolah takdir berpihak pada Rian. Mulai hari itu dia mulai mencari tahu soal Brigitta. Semua hal, tanpa terlewat. Termasuk, Brigitta yang menyukai Evan, kekasih Helena saat itu.


Pria itu selalu mengawasi Brigitta, bahkan ketika gadis itu sering keluar masuk ke klub malam. Rian tak jarang mengikutinya.


"Aku mengikutimu sejak lama. Aku tahu kau hanya dimanfaatkan oleh si brengsek Evan itu."


Brigitta memundurkan tubuhnya. Dia cukup terkejut dengan ucapan Rian. Wanita itu memicingkan matanya. Menatap Rian penuh kecurigaan.


"Kau mematai-mataiku. Karena kau ingin mengambil keuntungan dariku kan. Kalian sama saja!"


Brigitta melipat tangan di depan dada. Rasa marah itu terasa menyesakkan di hatinya. Dia ingin menangis tapi dia tidak akan melakukannya di depan Rian. Dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan pria itu.


"Awalnya iya...."


Dan Brigitta hampir menendang tubuh Rian. Tapi pria itu sigap menahan kaki sang istri.


"Jangan menendang nanti kakimu sakit. Dengarkan dulu ceritaku, setelah itu kamu boleh menilainya."


Brigitta memalingkan wajahnya, dia enggan melihat wajah Rian.


"Menikahimu dan mendapat warisanku. Itu adalah tujuan awal aku mengawasimu. Aku belum berani mendekatimu waktu itu."


Kenang Rian. Semua berjalan seperti biasanya. Hingga desakan dari sang papa semakin menjadi. Pada akhirnya, Rian mulai mendekati Brigitta tepat setelah skandal Brigitta dan Evan terkuak.

__ADS_1


Dan rumor kehamilan Brigitta mulai beredar di divisinya. Ditambah, papa Rian mengancam akan menjodohkan Rian kalau dia tidak segera menikah.


Satu hal yang membuat Rian harus segera menikahi Brigitta adalah kehamilan wanita itu.


"Apa kamu pikir, kamu hamil anak Evan?"


"Tentu saja. Kau pikir aku murahan apa, melakukan hal itu dengan banyak pria."


Sentak Brigitta. Rian mengulas senyumnya. Wanita di hadapannya benar-benar tidak mengingat kejadiannya malam itu.


"Bagaimana jika aku bilang kalau anak ini milikku?"


Rian mengusap lembut perut Brigitta. Agak sedikit membesar dari perut Brigitta yang selalu rata. Brigitta membulatkan matanya tidak percaya pada apa yang dikatakan Rian.


"Jangan mengada-ngada. Aku belum pernah bercinta denganmu sebelum kita menikah."


Sangkal Brigitta. Rian mengulas senyum tipisnya. Pria itu lantas memeluk pinggang Brigitta.


"Apa kau ingat pernah mabuk berat setelah kamu melihat Helena dan Evan berciuman hari itu?"


Ingatan Helena melayang ke dua minggu sebelum dia dan Evan bercinta karena pengaruh alkohol. Saat itu dirinya benar-benar frustrasi. Dia ingin melupakan perasaannya pada Evan dengan mabuk.


Yah, dia benar-benar mabuk malam itu. Teler berat, hingga dia tidak tahu apa yang terjadi dengannya setelah dia kehilangan kesadaran diri. Ketika dia terbangun keesokan hari. Dia membuka mata di sebuah hotel mewah. Dengan tubuh terasa sakit semua. Meski begitu, dia tidak curiga karena pakaiannya masih melekat di tubuhnya.


"Aku yang membawamu ke hotel itu. Waktu itu aku tidak mampu menahan diri, hingga aku mengambil mahkotamu malam itu."


"Kamu jangan mengada-ngada ya. Bagaimana bisa kita bercinta dan aku tidak menyadarinya?"


"Kamu teler berat, Nyonya. Untung saja anak buahku melapor, kalau tidak, habis kamu jadi keroyokan hidung belang di sana. Mau kamu? Meski begitu, aku menjamin kalau kamu menikmati malam panas kita malam itu."


Brigitta bergidik ngeri.


"Aku tidak percaya. Kau pasti merekayasanya!"


Brigitta masih belum percaya, kalau Rianlah yang sudah mengambil kesuciannya bukan Evan.


"Ooo, tidak percaya. Mau bukti?"


Rian mengambil ponselnya. Lalu memperlihatkan sebuah rekaman CCTV. Mulut Brigitta menganga. Melihat dirinya dan Rian benar-benar bercinta. Wanita itu langsung melemparkan ponsel Rian hingga jatuh di karpet.


"Menjijikkan!"


Satu kata yang keluar dari bibir Brigitta.


"Bagaimana bisa kamu menyimpan video me......itu di ponselmu."


"Sebagai kenangan dan sebagai bukti. Aku tahu suatu hari kau tidak akan percaya kalau kita pernah bercinta sebelum kita menikah."

__ADS_1


Wanita itu terdiam, berusaha mencerna kata-kata Rian. Jadi pemilik kehormatannya adalah Rian, bukan Evan. Dan dia sekarang mengandung anak suaminya sendiri, bukan Evan.


Brigitta langsung menyandarkan tubuhnya di punggung sofa. Tangannya reflek memijat pelipisnya.


"Awalnya aku menikahimu untuk mendapatkan posisi CEO itu. Tapi semakin ke sini, aku sadar kalau aku jàtuh cinta padamu. Terlebih ketika tahu kamu hamil. Aku yakin itu anakku."


Tambah Rian. Pria itu jelas bahagia dengan kehamilan Brigitta. Sebab dia memiliki sedikit masalah dengan kesuburan dan jumlah kecebong miliknya.


Tapi siapa sangka, hanya sekali percobaan dan Brigitta bisa mengandung benihnya. Ini luar biasa.


"Kalau kamu bertanya kenapa aku menidurimu malam itu. Itu karena aku yakin kamu tidak akan hamil. Aku punya masalah dengan kesuburan. Sama dengan Helena."


Brigitta langsung memandang wajah Rian. Dia cukup terkejut dengan ucapan Rian.


"Apa maksudmu?"


"Salah satu alasanku dan Helena berpisah adalah itu. Kami berdua mempunyai masalah reproduksi. Jika kami menikah, bisa dipastikan kalau kami akan kesulitan untuk memiliki keturunan. Karena itu dokter menyarankan kami untuk menikahi pria atau wanita yang benar-benar prima kondisinya. Yah, dan aku menemukanmu. Untuk Helena, Arash adalah pilihan tepat. Dilihat dari segi fisik dan lainnya. Dia pasti punya kecebong kualitas premium....."


Rian meringis ketika Brigitta mencubit lengannya.


"Apa sih? Aku bicara fakta, itu penting untuk orang seperti kami. Terima kasih kamu sudah mau mengandung anakku."


"Hei, belum tentu ini anakmu!"


Bentak Brigitta. Dia masih ragu soal siapa ayah bayi yang sedang dikandungnya.


"Kita akan tes DNA untuk memastikannya. Dan aku yakin itu anakku."


Pria itu lantas menatap wajah Brigitta lama.


"Aku tahu tujuan awalku salah. Tapi sekarang, aku cinta padamu. Jangan tinggalkan aku. Aku bisa mati kalau kamu pergi dariku."


Rian kembali memeluk pinggang Brigitta. Meletakkan kepalanya di pangkuan sang istri.


Sementara Brigitta hanya bisa terdiam. Dia sebenarnya sangat bahagia dengan pernyataan cinta dan kejujuran Rian. Sebab dia juga merasakan hal yang sama.


Tapi di satu sisi dia punya keraguan yang besar. Dia harus memastikan dulu siapa ayah dari anaknya.


"Jawabanku setelah kita melakukan tes pada bayi ini. Selama itu jangan pernah menyentuhku."


"Yahhh, Sayang kok begitu sih. Kalau nunggu tes masih bulan depan. Tesnya saja hasilnya 2 sampai 4 minggu nunggunya. Kelamaan."


"Bodo!"


Brigitta melipat tangannya kembali. Dia masih cukup kesal, meski Rian berani mengatakan yang sebenarnya. Hingga semua kini terungkap dengan jelas.


****

__ADS_1


__ADS_2