Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Tekad Evan


__ADS_3

Cia langsung menekan tombo lift. Setengah menyeret Aldo bersamanya. "Ada apa sih? Bukannya kamu pusing terus pengen istirahat dulu," tanya Aldo bingung.


"Diamlah," desis Cia. Wanita itu celingak celinguk begitu sampai di lobi. Takut jika ada yang mengenalinya.


"Sekarang katakan ada apa?" desak Aldo begitu keduanya sudah keluar dari hotel. Masuk ke mobil Aldo.


"Aku tadi melihat Arash dan Helena di hotel itu," jawab Cia sambil menarik nafasnya lega.


"Apa masalahnya? Mereka kan suami istri. Sah sah saja jika mereka ngamar berdua," balas Aldo enteng. Cia langsung mendelik mendengar jawaban Aldo.


"Bukan itu masalahnya. Aku takut Arash akan tahu soal kita,"


"Bukankah bagus kalau dia tahu soal hubungan kita. Soal kebenarannya. Cia sudahlah. Berhentilah mengejar Arash. Dia sudah punya istri," Aldo mencoba menasehati Cia.


"Tidak. Pokoknya Arash harus jadi milikku. Titik!" Cia berkata tanpa mau dibantah. Aldo hanya bisa menarik nafasnya pelan. Dia tidak bisa berdebat dengan Cia. Itu bisa menaikkan tensi darah bumil di sampingnya ini.


"Untung saja, aku bisa lolos dari Arash hari ini. Kalau tidak...aku tidak tahu harus mencari alasan apa kalau Arash sampai menangkap basah aku bersama Aldo," batin Cia lega.


Cia dan Aldo keluar setelah Cia melihat Arash masuk ke kamar hotel itu. Aldo melajukan mobilnya menuju apartemen Cia sesuai permintaan wanita itu.


*****


"Bagaimana bisa kau menyalahkanku atas semua yang terjadi?" Brigitta bertanya marah pada Evan. Keduanya sejak tadi tidak berhenti bertengkar. Saling menyalahkan tiada henti.


"Bukankah ini memang salahmu. Jika kau tidak menggodaku. Aku tidak mungkin berselingkuh denganmu. Aku dan Helena tidak mungkin bertengkar," balas Evan sengit.


"Jadi semua ini salahku? Kau memang brengsek Evan!" teriak Brigitta kalap. Wanita itu mulai menyerang Evan. Tidak terima di salahkan dalam hal ini. Evan yang terlanjur emosi, ikut lepas kendali. Hingga sebuah tamparan mendarat di pipi Brigitta. Sesaat keduanya tergugu dengan apa yang baru saja terjadi.

__ADS_1


"Kau menamparku Evan?" tanya Brigitta lirih. Wanita itu memegangi pipinya yang terasa perih dan panas. Menatap pada pria yang selama ini selalu berlaku lembut padanya. Brigitta masih tidak percaya jika Evan baru saja menamparnya.


"Ta.....aku tidak sengaja. Aku minta...."


"Cukup Evan. Kau menyakitiku. Kau menamparku. Kau menyalahkanku atas semua yang terjadi hari ini. Aku akui....aku bukan Helena yang cantik, baik, pintar. Kaya...aku bukan apa-apa dibanding dia. Tapi setidaknya aku punya perasaan!" Brigitta mulai meninggikan oktaf suaranya.


"Ta...bukan seperti itu maksudku," Evan berusaha menggenggam tangan Brigitta. Tapi wanita itu menepisnya. "Kau cinta pada Helena. Bahkan aku pikir kau membayangkan dia saat bersamaku. Betul? Aku seharusnya sadar diri. Siapa aku....siapa Helena," Brigitta berucap sedih.


"Semua memang salahku. Salahku yang iri pada Helena. Salahku yang jatuh cinta padamu. Semua salahku..." lanjut Brigitta.


"Brigitta...."


"Jadi pergi dan tinggalkan aku sendiri!" teriak Brigitta lantang. Setelahnya, wanita itu langsung masuk ke kamar mandi. Mengunci diri di sana. Sementara Evan hanya bisa mematung melihat sikap Brigitta.


Evan seketika meraup wajahnya kasar. Menjambak rambutnya kesal. Lantas mendudukkan diri di ranjang. Keduanya masih berada di hotel. Pria itu jelas frustrasi dengan apa yang baru saja terjadi. Dia tertangkap basah oleh Helena. Dan lebih parahnya lagi. Helena memutuskan dirinya.


Pria itu langsung keluar dari sana. Meninggalkan Brigitta yang masih menangis di dalam kamar mandi. Beberapa waktu berlalu. Tangis Brigitta mulai mereda. Mendengar suasana di luar kamar mandi sunyi. Wanita itu memutuskan keluar dari sana.


Begitu keluar, Brigitta langsung menarik nafasnya. Mendapati kamar hotelnya kosong. "Bahkan kau memilih pergi meninggalkanku. Setelah apa yang kuberikan padamu," air mata Brigitta mengalir kembali di pipinya. Kali ini benar-benar tertampar oleh kenyataan yang ada.


Dia mendamba seseorang yang mencintai dirinya apa adanya. Hal itu dia rasakan ketika dirinya melihat Evan. Yang terlihat begitu mencintai Helena. Selalu berlaku manis dan lembut pada sang sahabat. Lambat laun perasaan itu tumbuh menjadi cinta di hati Brigitta.


Brigitta mencintai Evan.Berpikir kalau Evan juga akan memperlakukan dirinya sama seperti Evan pada Helena. Hingga timbul ide gila dalam benak Brigita. Wanita itu ingin memiliki Evan. Demi hal itu, Brigitta bersedia melakukan apapun. Termasuk menyerahkan tubuh dan mahkotanya. Ketika Evan menyambut ajakannya untuk tidur bersama. Dia pikir, pria itu melakukannya karena juga memiliki rasa padanya.


Ternyata semuanya salah. Semua tidak seperti yang dia inginkan. Brigitta menangis pilu. Menangisi kebodohannya karena dibutakan oleh rasa cintanya pada Evan. Hingga dia sampai tega mengkhianati Helena, sahabatnya sendiri.


Perlu beberapa waktu bagi Brigitta untuk meredakan kembali tangisnya. Menyesali diri yang tentu saja, tidak ada gunanya. Penyesalan selalu datang di belakang.

__ADS_1


"Maafkan aku Helen. Aku memang bukan sahabat yang baik untukmu. Aku menyia-nyiakan kebaikanmu selama ini. Menukarnya dengan perbuatan paling hina dan kejam di muka bumi. Pengkhianatan dan perselingkuhan," batin Brigitta penuh sesal.


Wanita itu perlahan merapikan pakaiannya. Membenahi riasannya. Mengambil tasnya. Lantas keluar dari sana. Memakai topi lebar yang selalu dia bawa untuk menutupi wajah. Dan kali ini, menutupi mata sembabnya.


*****


"Katakan pada Helena, aku ingin bicara padanya," Evan menghubungi Shen. Memohon agar wanita itu mengizinkan dirinya bicara pada Helena.


"Apalagi yang perlu kalian bicarakan? Mau membahas bagaimana hotnya kalian saat bercinta?" bukan Shen yang menjawab, tapi Shan.


Evan menelan ludahnya seketika. Evan cukup tahu karakter Shan yang keras dan bermulut pedas. Lebih kurang Arash kalau sedang marah.


"Shan...berikan aku kesempatan untuk menjelaskan pada Helena. Ini tidak seperti apa yang kalian lihat,"


"Lalu apa yang kami lihat? Dua orang beda gender sedang berdiskusi soal pekerjaan. Kami tidak sebodoh itu Evan Lin. Kami cukup tahu apa yang sedang kalian lakukan. Jadi stop! Jangan hubungi Helena lagi. Jangan muncul di hadapan Helen. Lagipula Helen sudah memutuskan hubungan kalian bukan? Jadi menghilanglah dari hadapan kami!" sarkas Shan tajam.


Pria itu langsung memutuskan sambungan telepon. Lalu memblokir nomor Evan. Evan terkesiap mendengar ucapan dari Shan. Shan dan Shen adalah garda terdepan bagi Helena. Siapapun yang menyakiti Helena, akan berhadapan dengan dua saudara kembar itu.


"Aku tahu aku melakukan kesalahan besar. Tapi aku akan berjuang untuk mendapatkan maaf darimu. Aku tidak mau kehilanganmu, Helena. Aku masih sangat mencintaimu,"


Evan menatap bangunan kokoh yang berdiri di hadapannya. Pria itu berada di depan apartemen Arash. Menatap puncak bangunan itu. Karena disanalah penthouse Arash berada.


"Aku tidak akan menyerah sampai kau memaafkanku. Dan aku tidak akan berhenti sampai kau kembali padaku," tekad Evan.


Mengesampingkan semua yang telah terjadi antara dirinya dan Brigitta. Evan dengan egoisnya membuang Brigitta begitu saja. Pria itu lebih memilih memperjuangkan Helena kembali.


*****

__ADS_1


__ADS_2