
Helena merasa aneh sejak dia lepas dari masa kritisnya. Ada rasa nyeri di perutnya, selain rasa perih di area tulang rusuknya. Dia tahu tulang rusuknya dipasangi platina. Tapi kenapa perutnya juga terasa aneh.
Terlebih dia selalu pembalut, dia kan sedang hamil. Jadi dia tidak mengalami yang namanya datang bulan. Hingga akhirnya kecurigaan itu semakin membuat Helena penasaran.
"Aku merasa ada yang aneh dengan perutku. Kenapa aku tidak bisa merasakan pergerakan bayiku?"
Tanya Helena pada Arash. Untuk sesaat Arash terdiam. Dia masih bingung bagaimana menjelaskan hal tersebut pada sang istri. Dia saja masih sering sedih jika teringat sang putra.
Namun Arash juga teringat pesan David. Helena berhak tahu apa yang sudah terjadi, akan bagus jika wanita itu mengetahui hal ini secepatnya. Dilema mendera Arash. Dia takut hal ini akan membuat Helena sedih berkepanjangan.
"Sebenarnya...."
Helena tampak sabar menunggu apa yang akan dikatakan oleh Arash. Hatinya mengatakan kalau sesuatu yang buruk sudah terjadi. Sementara Arash tampak berpikir bagaimana caranya mengatakannya pada Helena.
"Katakan saja. Aku siap mendengarnya."
Helena berusaha kuat. Hingga tak berapa lama, air mata wanita itu mengalir. Bersamaan dengan Arash yang juga menangis. Lantas tak berapa lama dua orang itu saling berpelukan.
Semua orang hanya bisa melihat adegan itu, sembari mengusap air mata di pipi masing-masing.
*
*
Dua minggu berlalu, bekas operasi Helena sembuh. Baik operasi caesar atau operasi pemasangan platina. Helena diperbolehkan pulang. Tentu setelah dokter memastikan kalau luka bekas operasi Helena sudah sembuh.
Sebulan berlalu, sikap Helena mulai berubah. Wanita itu sering terlihat murung. Terkadang melamun. Shen jadi serba salah dibuatnya. Pengantin baru itu tentu bingung menghadapi sikap Helena. Ditambah wanita itu sering marah tanpa alasan.
Beberapa kali bahkan berteriak histeris. Sampai akhirnya, Shen melapor pada Arash. Sebenarnya Arash pun merasa sangat sedih. Tapi dibanding Helena, rasa sedihnya bukan apa-apa.
Arash teringat bagaimana tangis Helena yang tidak berhenti setelah mendengar ceritanya soal sang putra. Wanita itu merasa bersalah, tidak bisa menjaga kandungannya dengan baik.
Suami Helena itu langsung mendatangi kantor sang istri begitu Shen melaporkan keadaan Helena.
"By....."
__ADS_1
Arash segera memeluk tubuh Helena begitu pria itu melihat sang istri yang terlihat menangis sambil menutupi wajahnya. "Aku bukan ibu yang baik. Aku tidak becus menjaganya."
Kata Helena berulang-ulang. Sudah jelas jika Helena mengalami stres. Meski hubungan antara sepasang suami istri itu terlihat harmonis. Tapi Arash tahu, ada yang disembunyikan Helena darinya.
"Bukan seperti itu. Justru kamu ibu paling hebat yang pernah ada."
Arash berkata sambil berjongkok di depan sang istri. Hati Arash perih melihat kesedihan di bola mata sang istri. Padahal justru Arashlah yang merasa paling tidak berguna di sini. Dia tidak bisa melindungi anak dan istrinya. Terlebih dia yang terlambat mengetahui kehamilan Helena.
"Helena, aku tahu kamu sangat sedih. Tapi aku mohon jangan menangis. Dia tahu kamu sudah berusaha sebaik mungkin untuk menjaganya. Dia akan datang lagi, percayalah. Kita akan berusaha untuk memilikinya lagi."
Helena menatap bola mata Arash. Berusaha mencari kebenaran, berusaha mencari kekuatan untuk keluar dari rasa terpuruk yang tengah menguasai hatinya. Pada akhirnya, Helena hanya mampu memeluk erat tubuh sang suami.
"Jangan menangis lagi. Kamu membuatku tersiksa dengan air matamu." Bujuk Arash.
*
*
"Bawalah Helena ke psikiater untuk berkonsultasi."
David menyarankan hal itu ketika Arash menghubunginya untuk meminta saran. Pria itu menurut. Dan berita baiknya, Helena juga mau berkonsultasi. Wanita itu sadar, kalau dia harus keluar dari rasa sedih berkepanjangan yang dia rasakan.
Sampai beberapa waktu berlalu, dan kesehatan mental Helena pulih sepenuhnya. Wanita itu kini menjalani hidupnya dengan lebih bahagia. Dia dan Arash sering mengunjungi makan putra mereka. Bukan untuk menangis seperti yang sudah-sudah. Tapi mereka akan bercerita panjang lebar, tentang apa saja.
Arash bisa tersenyum melihat binar bahagia kini terpancar dari bola mata Helena. "Kami tersenyum bukan karena kami telah melupakan keberadaanmu. Kami tersenyum karena kami bangga bisa memilikimu. Meski papa hanya bisa melihatmu selama enam jam. Berbahagialah di sana, putraku."
Arash mengusap pelan pusara sang putra. Lantas beranjak dari sana, menyambut uluran tangan sang istri yang sudah lebih dulu berdiri.
"Kira-kira dia sebesar apa ya sekarang?"
"Pasti seumuran Sassy atau Brian."
Arash menjawab pelan pertanyaan Helena. Brian adalah anak Rian dan Brigitta. Keduanya berusia sepuluh bulan. Mulai merangkak. Dua bayi itu yang selalu menjadi pelipur lara bagi Helena.
Hanya saat bersama Sassy dan Brian, Helena bisa meluapkan kasih sayang yang dia punya untuk sang putra. Dua orang itu berjalan bergandengan tangan. Menikmati masa-masa berdua kembali. Menebus waktu yang pernah hilang setelah kejadian mengerikan itu.
__ADS_1
"Buat dia selalu bahagia. Itu bagus untuk kesehatan psikisnya. Tidak ada yang tidak mungkin. Helena masih bisa hamil meski kita tidak tahu kapan. Tetaplah berusaha dan berdoa."
Kembali saran dari David terngiang di telinga Arash. Pria itu tengah mendengarkan cerita Helena yang jadi membenci aroma bunga saat dia mengandung putra pertamanya.
"Padahal kamu suka sekali dengan bunga dulu."
Seloroh Arash. Dan Helena terkekeh. Wanita memeluk erat lengan sang suami. Pria itupun mengembangkan senyum melihat tingkah manis sang istri.
Dua tahun kemudian.
Helena menatap iri pada Brigitta yang tengah menggandeng tangan Brian. Keduanya berjalan menuju ke arahnya. Dua tahun dan belum ada tanda-tanda kalau Helena mengandung. Wanita itu mulai di dera rasa insecure.
"Tante Helen...."
Suara cedal Brian membuyarkan lamunan Helena. Wanita itu merentangkan dua tangannya. Menyambut bocah gembul yang tengah berlari ke arahnya.
"Beratnya, ponakan Tante, gemes deh liat pipi chubby-nya. Jadi pengen nyubit."
"Jangan Tante, sakit."
Helena terbahak mendengar jawaban tidak jelas Brian.
"Shen kerepotan ngurus si Kevin." Seloroh Brigitta. Bahkan putra Shen dan Ang sudah berusia enam bulan. Sedang putri Shan sudah satu setengah tahun. Wajah Helena seketika berubah mendung. Meski itu tidak lama.
Helena buru-buru menampilkan senyum terbaiknya ketika Brigitta melihat ke arahnya. "Kan bisa nyewa baby sitter."
Jawab Helena, berusaha terdengar biasa saja. Brigitta hanya mengedikkan bahu mendengar saran dari Helena.
"Kenapa aku belum juga hamil?"
Pertanyaan itu yang kini sering timbul di pikiran Helena. Padahal dia dan Arash hampir setiap malam bercinta. Rajin meminum vitamin dari dokter. Memakan makanan bergizi. Bahkan Helena sejak beberapa bulan ini sudah meminum susu ibu hamil. Saran dari dokter dan juga teman-temannya.
Semua hal sudah dia dan Arash lakukan, tapi kenapa dia belum datang juga dalam kehidupan mereka.
Rasa putus asa mulai mendera Helena. Berbagai pikiran buruk mulai masuk ke pikirannya. Apa dia tidak pantas untuk menjadi seorang ibu. Hingga sampai sekarang dia belum juga hamil.
__ADS_1
Tiap kali pikiran itu muncul, Helena hanya bisa menangis pilu di sudut kamarnya. Terisak sendiri dan sembunyi-sembunyi, agar Arash tidak mengetahui hal itu.
****