
"Helena dengarkan aku, aku mulai mencintaimu. Dan aku tidak suka, kau menjalin hubungan dengan Evan. Putuskan hubungan kalian. Dan kita mulai lembaran baru dalam pernikahan kita," Arash berkata penuh penekanan.
"Lalu bagaimana dengan Cia? Dia mengandung anakmu. Apa kau mau lari dari tanggungjawabmu?"
"Urusan Cia, aku akan mengurusnya nanti. Aku curiga kalau itu bukan anakku,"
"Kau ini keterlaluan sekali. Berani berbuat harus berani bertanggunjawab,"
"Akan aku buktikan kalau itu bukan anakku,"
"Bagaimana caranya? Sudahlah Arash, jangan membuatku jadi wanita jahat. Aku tidak mau menjadi perebut ayah dari anaknya. Aku mundur. Aku tidak mau berebut dengan anakmu,"
"Helen....Helen...."
Helena menarik nafasnya dalam. Sepotong pertengkarannya dengan Arash kembali terlintas di kepalanya. Wanita itu telah memutuskan untuk memberi ruang pada sang suami untuk bertanggungjawab pada kehamilan Cia. Tidak peduli pada ucapan Arash yang menduga kalau bayi yang dikandung Cia bukanlah anaknya.
“Aku akan tetap menjalani hidupku seperti ini. Yang lain aku tidak peduli.” Pikir Helena.
Wanita itu menatap pemandangan langit malam dari jendela kamarnya di apartemen Arash. Helena menghela nafasnya, baru juga ingin memulai langkah baru dalam rumah tangganya. Ada saja masalah yang menghadang. Mungkin dia dan Arash memang tidak berjodoh. Untuk selanjutnya dia akan pasrah, bagaimana nasib rumah tangganya nanti.
Helena sebenarnya tidak ingin mengalami perceraian dalam hidupnya. Tapi mau bagaimana lagi, jika dia tidak bisa mempertahankan pernikahan ini. Dia bisa apa.
Malam semakin larut. Dan suara Arash tidak lagi terdengar mengetuk pintu kamarnya. Berarti pria itu sudah pergi dari depan kamarnya.
****
“Brigitta, tunggu dulu!” Evan menahan tangan Brigitta yang hendak berlalu dari hadapannya.
__ADS_1
Hari itu keduanya bertemu, setelah memastikan kalau Helena sedang ada di kantornya. Awalnya, keduanya baik-baik saja. Hingga Brigitta menanyakan ke mana Evan hari Minggu kemarin.
“Jadi kau masih berhubungan dengan Helena?” tanya Brigitta marah. Begitu Evan memberitahu kalau dirinya bersama Helena.
Mendengar pertanyaan Brigitta, Evan langsung mengerutkan dahinya. Bukankah status Evan masih kekasih Helena. Jadi wajar saja jika dia dan Helena bertemu.
“Tunggu dulu. Apa maksud pertanyaanmu? Aku dan Helena masih sepasang kekasih. Kita belum putus,” jawab Evan bingung.
“Lalu selama ini kau anggap aku apa? Pelarianmu? Pelampiasanmu kalau kau kesepian?” todong Brigitta.
“La, bukannya yang selalu mengajak bertemu dan berakhir di ranjang itu kan dia,” batin Evan lagi.
Apa Brigitta tidak sadar jika selama ini, wanita itulah yang selalu menghubunginya. Meminta bertemu. Dan ujung-ujungnya mereka berakhir di ranjang.
“Kenapa malah diam? Jadi yang kukatakan benar? Kau hanya menjadikanku pelarianmu saja?” kembali Brigitta menanyakan hal yang sama.
“Jadi benar? Aku hanya pelarianmu saja. Kau keterlaluan Evan. Aku pikir kita melakukannya karena cinta. Aku pikir kau mencintaiku,” Brigitta kesal sekali dengan jawaban Evan.
Gantian Evan yang membelalakkan matanya. Bagaimana bisa Brigitta berpikir seperti itu. Sejak awal, Evan sudah mengatakan kalau dirinya sangat mencintai Helena. Dan saat itu, Brigitta tidak masalah. Bagaimana menjelaskan pada Brigitta kalau begini keadaannya. Pria itu hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“ Ta, dengarkan aku. Aku pikir kau salah paham dengan hubungan kita. Kita tahu sejak awal, kalau hubungan kita ini hanyalah untuk bersenang-senang. Tanpa status. Sebab kau sendiri tahu kalau aku masih mencintai Helena....”
“Jadi kau samakan aku dengan wanita bayaran di luar sana. Evan, aku bahkan menyerahkan kegadisanku padamu. Tapi kau dengan entengnya mengatakan kalau hubungan kita hanya untuk bersenang-senang. Kau mempermainkanku! Kau keterlaluan, Van!” Brigitta mulai meninggikan suaranya.
“Lalu maumu bagaimana? Kau ingin aku memutuskan Helena? Tidak mungkin, aku sangat mencintai Helena. Begitu juga dia. Kau mau kita pacaran? Seperti aku dan Helena. Tidak bisa, Ta.” Tegas Evan.
“Kau benar-benar brengsek Van. Baik kita lihat, apa Helena akan tetap mencintaimu, jika dia tahu kau sudah mengkhianatinya. Kau sudah tidur denganku. Kita lihat bagaimana reaksi Helena.” Ancam Brigitta. Dia sungguh tidak menyangka kalau Evan tidak mau mengakui kalau dia juga punya rasa padanya.
__ADS_1
“Berani kau mengancamku?” desis Evan.
“Kau yang memancing kemarahanku!” balas Brigitta kesal.
Sejenak keduanya terdiam. “Ta, aku tidak mau bertengkar denganmu. Bagaimanapun, hubungan kita sudah lebih dari sekedar teman. Aku tidak bisa jauh darimu.....” Evan mencoba membujuk Brigitta.
Brigitta tersenyum mendengar ucapan Evan. Dia pikir, Evan hanya belum menyadari perasaannya. Jika sebenarnya Evan juga menyukainya.
“Kalau begitu jangan berhubungan dengan Helena lagi, atau aku akan memberitahunya soal hubungan kita,” ancaman yang sama kembali terlontar dari bibir Brigitta.
Evan jelas tidak bisa melakukan permintaan Brigitta. Memutuskan hubungan dengan Helena. Tidak mungkin. Tapi bagaimana dia dapat membujuk Brigitta agar berhenti mengancamnya. Kepala Evan serasa mau meledak. Bagaimana dia bisa memilih di antara dua wanita itu. Jika keduanya sama-sama memiliki peran penting dalam hidupnya. Helena, wanita yang paling dia cinta. Dan Brigitta, wanita penghangat ranjangnya.
Evan memang egois. Tidak mau memilih satu diantara Helena dan Brigitta. Dua sahabat yang mungkin sebentar lagi akan bertengkar hebat karena seorang pria.
"Brigitta Sayang, bisa tidak jangan menempatkanku dalam posisi yang sulit. Kita tahu kan, kalau kita yang salah sejak awal. Apa kamu mau Helena membencimu setelah dia tahu kita mengkhianatinya," Evan mengeluarkan jurus rayuan mautnya. Keduanya berada di apartemen Evan. Jadi pria itu bisa leluasa melakukan apa saja dengan Brigitta.
Seperti sekarang ini, untuk membujuk Brigitta dia akan merayu wanita itu. Membuatnya lupa dengan ancamannya. Sedang Brigitta terdiam memikirkan ucapan Evan. Dia dan Helena sudah bersahabat sejak lama. Dia tidak mau dibenci oleh Helena. Apalagi kehilangan sahabat seperti Helena.
Bagaimanapun, Helena adalah sahabat terbaiknya. Tidak ada teman lain yang sudi berteman dengan anak yatim piatu sepertinya. Namun Helena selalu ada untuknya. Tidak ada yang mau membantu kesulitannya. Namun Helena dan keluarganya selalu ringan tangan menolongnya. Selalu ada uluran tangan dan pelukan hangat yang menyambut Brigitta tiap kali wanita itu berkunjung ke rumah Helena.
Teringat hal itu, hati Brigitta serasa tercubit. Helena sangat baik padanya. Tapi lihatlah, apa yang sudah dia lakukan pada persahabatan mereka. Brigitta secara terang-terangan mengkhianati persahabatan mereka dengan menjalin hubungan dengan Evan. Kekasih Helena.
Salahkah tindakannya? Beberapa kali pertanyaan itu memang terlintas di kepalanya. Tapi tiap kali bersama Evan. Akal sehatnya menghilang entah ke mana. Terkadang, ada niat dalam hati Brigitta untuk mengakui semua perbuatannya. Mengakui kesalahannya, tapi rasa takut akan kemarahan Helena, membuat Brigitta urung melakukannya.
Brigitta menatap Evan yang kini duduk disampingnya. Karena pria inilah, dia terjebak pada kesalahan yang tidak tahu kapan akan berakhir. Kesalahan tanpa akhir, jika dia dan Evan tidak mau mengendalikan diri dan perasaan masing-masing.
*****
__ADS_1