Terpaksa Menikah Denganmu

Terpaksa Menikah Denganmu
Tunggu Aku


__ADS_3

Dua bulan berlalu. Dan keadaaan Cia masih sama. Perempuan itu masih terbaring lemah, tanpa ingin membuka matanya. Wanita tersebut masih disupport oleh alat bantu medis untuk menopang hidupnya. Selama itu, Aldo yang telaten merawat Cia. Mengajaknya bicara atau sekedar membersihkan tubuh Cia.


Di sisi lain, Arash yang banyak berinteraksi dengan bayi Sassy. Pria itu kini bisa menggendong Sassy kapan saja. Karena hasil pemeriksaan menunjukkan kalau Sassy sehat-sehat saja. Jadi bayi cantik itu sudah bisa keluar dari inkubator. Tapi masih berada di ruang NICU. Sebab keadaan Cia belum memungkinkan wanita itu untuk merawat bayinya sendiri.


Suatu waktu, ketika Arash akan pulang. Dia bertemu David. Pria itu lantas menyapa Arash. Bagaimanapun dia adalah keponakannya. Pria itu sedikit heran melihat Arash yang tidak menemani Helena. Tapi pria itu enggan bertanya. Meski dia cukup tahu permasalahan Arash dan Helena.


"Kamu gak nemenin istri kamu?"


Pada akhirnya David bertanya.


"Dia lagi dinas keluar kota Om. Aku tidak bisa menemaninya. Om kan tahu, kerjaanku banyak di sini."


"Om tahu, tapi masak Hugo terus yang nganterin Helen kontrol."


Arash mengerutkan dahinya. Kontrol? Memang asam lambung Helena bermasalah lagi. Kenapa Helena harus kontrol segala.


Arash baru akan bertanya lebih banyak pada David tapi pria itu sudah lebih dulu pergi. Dipanggil oleh rekan sejawatnya. Ada operasi mendadak katanya.


Untuk sesaat Arash terdiam. Pria itu berpikir. Mengapa dia baru menyadari kalau semua orang seperti tengah membohonginya. Bahkan sikap Ang dan Shan kemarin juga terihat mencurigakan. Mereka bilang akan pesta berbeque di villa seorang teman. Tapi sikap mereka terlihat berbeda. Mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Apa sesuatu terjadi pada Helena?"


Pikiran buruk terus meracuni benak Arash. Hingga kemudian pria itu memutuskan untuk mencari tahu. Lagipula dia pikir, sudah waktunya menjemput sang istri pulang. Kesembuhan Cia, mereka harus menunggu sebuah keajaiban.


Seorang ART yang bekerja di rumah Rafael cukup terkejut melihat Arash yang tiba-tiba berkunjung. Sebab semua orang sedang pergi mengunjungi Helena. Mereka menemui Helena beramai-ramai.


"Tuan Tan, tapi maaf. Tuan dan nyonya tidak ada di rumah."


Senyum Arash mengembang. Ini yang dia mau. Dia ingin masuk ke kamar Helena. Ingin menikmati aroma sang istri di kamarnya.


"Tidak masalah. Tapi bolehkan aku masuk ke kamar Helena. Ada barangku yang tertinggal di sana."


ART itu sedikit berpikir. Kan cuma ngambil barang. Pasti tidak akan lama. Akhirnya Arash bisa masuk ke kamar Helena. Suasana kamar itu seperti lama tidak digunakan meski terlihat bersih.


Berjalan menuju jendela. Pria itu menyibak tirai kamar Helena yang jendelanya menghadap langsung ke kolam renang. Sejenak menikmati pemandangan dari balkon kamar sang istri. Hingga pantulan cermin rias Helena mengalihkan perhatian Arash.

__ADS_1


Berjalan menuju meja rias sang istri. Arash pun tergerak untuk membuka laci Helena. Pria itu teringat kalau Helena selalu meletakkan barang berharganya di sana.


Mata Arash langsung terpaku pada amplop coklat yang berada di dalamnya. Iseng, Arash membukanya. Sejenak dahinya berkerut. Perlu beberapa waktu, hingga Arash tahu itu apa.


Detik berikutnya, pria itu sudah berlari keluar kamar Helena. Bertanya pada ART ke kota mana tuannya pergi. Tapi wanita paruh baya itu menjawab tidak tahu.


Tentu saja, dia tidak akan memberitahu keberadaan tuannya. "Sial! Mereka membohongiku! Mereka menyembunyikan kebenarannya dariku! Helena hamil anakku!"


Gumam Arash marah. Entahlah, dia harus marah atau bahagia saat ini. Helena mengandung anaknya. Ini sebuah anugerah untuknya. Sekarang dia harus bertemu Helena. Pria itu melirik dashboard mobilnya. Sebuah kotak beludru hitam, berada di sana. Kotak itu baru datang dua hari lalu.


"Halo.....bisa kamu cari tahu di mana istriku berada?"


Pinta Arash pada seseorang. Oke, jika semua orang ingin menyembunyikan Helena darinya. Silahkan, tapi Arash pastikan, kalau sebentar lagi dia akan menemukannya.


Tapi sampai hari berganti, orang suruhan Arash tidak juga memberi kabar memuaskan padanya. Hingga pria itu mumet jadinya. Dia berjalan mondar mandir di kamarnya. Bahkan ponsel Shan dan yang lainnya tidak bisa dihubungi.


"Sial!" Mereka pasti sedang berada di suatu tempat. Sedang berkumpul. Tanpa dirinya. Arash seketika ingin memaki semua orang. Pria itu kembali berjalan mondar mandir. Hingga kemudian satu nama masuk ke benak Arash.


Tanpa ragu, dia langsung menyambar kunci mobilnya. Melesat ke sebuah hunian elite di pusat kota.


Rian mendelik, melihat Arash berdiri di depan pintu rumahnya. Pria itu baru saja akan memejamkan mata, setelah menidurkan sang putra. Brigitta sudah melahirkan beberapa waktu lalu.


"Di mana Helena?"


Arash bertanya to the poin. Rian mengerutkan dahinya. Pura-pura terkejut.


"Dia kan istrimu, kenapa tanya padaku."


Rian coba mengeles. Tapi Arash juga bukan orang bodoh. Anak buahnya melaporkan kalau Rian adalah orang lain yang Helena temui selain keluarganya sendiri.


"Aku tahu, kau yang menyembunyikan dia."


"Menyembunyikan apanya. Aku tidak ada hubungan apa-apa selain berteman dengan istrimu."


"Kalian kan mantan."

__ADS_1


"Lalu? Mantan pun sudah bertahun-tahun lalu. Kamu gila kalau masih cemburu soal itu."


Arash membulatkan matanya. Rian bisa menebak isi hatinya. Melihat Arash terdiam, Rian terkekeh. Ternyata dugaannya benar. Arash cemburu pada pertemanannya dengan sang istri.


"Jangan basa basi, cepat katakan di mana Helena. Aku ingin bertemu dengannya. Aku ingin bertemu anakku."


Rian terkejut saat tahu Arash mengetahui perihal kehamilan Helena. Padahal semua orang sudah menyembunyikan hal itu dengan baik.


"Aku tidak tahu di mana dia. Kenapa kau tidak tanya Hugo atau papanya? Mereka pasti tahu di mana Helena."


"Mereka pasti tidak mau memberitahuku."


Rian menghela nafasnya. Dari tempatnya berdiri, Rian bisa melihat Brigitta yang berada di lantai dua. Memberi kode untuk memberitahu Arash. Brigitta tahu kalau Helena juga merindukan Arash. Mereka berdua saling menncintai. Hanya saja, gengsi Helena yang tinggi membuat wanita itu enggan menghubungi Arash lebih dulu. Terlebih Helena berpikir kalau Arash masih sibuk dengan urusan Cia.


Melihat kode dari sang istri, Rian menarik nafasnya kembali.


"Aku ingin bertanya padamu? Kau tahu kenapa Helena memilih pergi?"


"Dia ingin aku bertanggungjawab pada anak Cia. Padahal itu bukan anakku. Itu anak Aldo. Tes DNA ulang sudah dilakukan dan itu benar anak Aldo."


Rian seketika terdiam. Jika begini, masalah antara Arash dan Helena sudah selesai. Keduanya bisa bersama lagi.


*


*


Mobil Arash melaju kencang ke arah pesisir. Pria itu memukul kemudinya berkali-kali. Kenapa dia bodoh sekali. Tidak bisa berpikir kemana sang istri pergi ketika hatinya sedang galau.


Arash sebenarnya tahu, Rian punya sebuah villa di tepi pantai. Tapi dia tidak berpikir Helena akan sembunyi di sana. Satu jam perjalanan terasa sangat lama bagi Arash. Pada akhirnya, pria itu hanya bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia mulai di serang kantuk. Dan jalan yang harus dia lalui juga berkelok-kelok.



Kredit Pinterest.com


Dia lebih memilih lambat tapi pasti selamat. "Tunggu aku Helen, setelah ini jangan harap kau bisa lari lagi dariku." Batin Arash. Menggelengkan kepalanya untuk menghilangkan rasa kantuk yang menyerangnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2