
Shen langsung menyemburkan air yang tengah diminumnya, ketika Shan mengatakan kalau dia sudah menikah. "Kamu gak lagi becanda kan?" itulah reaksi pertama dari Shen begitu sang kakak memberitahu perubahan statusnya.
"Ada muka aku kelihatan bercanda untuk hal seserius ini?" Shan bertanya balik. Mulut Shen menganga tidak percaya. "Kakak menghamili anak gadis orang?" Shan langsung mendelik mendengat tuduhan kejam dari Shen.
"Astaga, Shennia sayang. Kakakmu ini gak sebejat itu ya," sangkal Shan.
"Lalu bagaimana ceritanya Kakak bisa nikah dalam satu malam?" cecar Shen. Wanita itu benar-benar kepo dengan apa yang sudah terjadi dengan sang kakak. "Statusku berubah dalam sepuluh menit Shen," jawab Shan dramatis.
"Atau Kakak dijebak seperti yang di film-film itu?" Shan yang baru mingkem menjawab pertanyaan Shen langsung menoyor kepala si adik. "Sembarangan kalau ngomong. Masih mending, aku dijebak. Setidaknya aku sudah mbobol gawang seorang perempuan....." giliran Shen yang menoyor kepala si kakak. Diiringi pelototan mata Shen.
"Ngomongmu kok makin berantakan to Kak," protes Shen. "Makanya dengarkan ceritaku dulu. Jangan mangap nanya mulu," kesal Shan. Akhirnya Shen kembali mendudukkan diri. Dan mulailah Shan menceritakan malam nahas baginya itu. Nahas kononnya......
Selesai bercerita, Shen malah diam, dengan ekspresi tidak terbaca. "Kakak jadi pedofil ya?" Gubrak! Balok besar serasa menghantam kepala Shan mendengar tuduhan si adik.
"Kakak bukan pedofil ya!" tegas Shan. "La itu tadi katanya istri kakak masih abege," tuntut Shen.
"Abege, 18 tahun Nona. SMA kelas tiga, tahun depan dia lulus," jelas Shan tidak sabaran. "Jadi terpaksa menikah dengannya?"
"Ya gimana, kakak sama dia gak saling kenal, jadi kalo gak terpaksa apa namanya," balas Shan sendu. "Lalu cerita selanjutnya bagaimana?" tanya Shen ikutan sendu.
"Kakak tidak tahu. Aku belum bertemu Hadiyanto Darmawan lagi," sungut Shan. "Dia mertuamu sekarang , Kak. Bapaknya .....siapa tadi istrimu, astaga kakak iparku abege 18 tahun. Ini kalau Arash tahu, bisa diledek habis-habisan aku sama dia, Hugo kan 21 tahun. Wajar, lah istrimu," tambah Shen.
"Meisya Kanaya Darmawan," jawab Shan malas.
"Terus aku harus manggil apa? Kak apa adek?" satu toyoran mendarat lagi di kepala Shen. "Eehh busyet, sudah dong noyorin pala gue. Ntar gegar otak tahu," protes Shen.
"Yeee gegar otak gak mungkin, kalau geser bisa jadi," kali ini Shen reflek menendang kaki Shan di bawah meja. "Ampun deh, sadis amat lu," maki Shan. Detik berikutnya dua kakak beradik itu terdiam. Hanyut dengan pikiran masing-masing.
__ADS_1
*******
Shen memindai penampilan "kakak iparnya" dari ujung rambut sampai ujung kaki. Meisya Kanaya Darmawan, 18 tahun, seperti yang diinfokan Shan, sang kakak, yang sudah resmi menjadi suami Meisya.
"Kau ke sini naik apa?" Shan bertanya heran, melihat tampilan Meisya. Gadis tanggung itu memakai jeans dengan sepatu boot, kaos polos hitam dengan jaket demin membalut tubuh tinggi langsingnya. Sungguh, jika orang tidak tahu siapa Meisya, mereka akan mengira kalau Meisya berusia dua puluhan tahun dengan postur tubuh seperti itu.
"Naik Ducatti," jawab Meisya santai.
"Kamu anak motor?" tanya Shan. Meisya mengangguk. Shan dan Shen saling pandang. "Cantik juga," batin dua beradik itu bersamaan. "Kakak gak salah nerima dia jadi istri. Lumayan, gak malu-maluin kalau diajak kondangan," bisik Shen. Sang kakak langsung melotot mendengar bisikan si adik.
"Kapan disuruh duduknya. Pegel tahu Om,"
"What?" Shen langsung mendelik ke arah Shan. "Dia manggil Kakak Om? Astaga Kak, tua amat lu," gelak Shen tidak tertahankan. Sementara Shan langsung manyun mendengar ledekan Shen. "Emang salah ya, manggil Om. Kalau gitu Meisya ganti deh jadi Om suami,"
Shen tertawa semakin kencang, dengan Shan bertambah manyun wajahnya. "Eh aku 25, kau 18, masak iya elu manggil Om ke gue," protes Shan. Balik lagi mode elu gue-nya.
"Kan sudah om suami, salah ya. Suruh duduk napa, pegel tahu," protes Meisya.
"Nanti deh Meisya pertimbangkan," jawab istri Shan itu santai. "Kakak bakal cepat ubanan deh. Di kantor pusing sama kerjaan, di rumah pening sama bini muda," bisik Shen sambil terkikik. Sementara Meisya tampak tidak terlalu memperdulikan bisik-bisik dua kakak beradik itu. Gadis itu sibuk memindai apartemen Shan dan Shen. Cukup mewah di mata Meisya.
"Om tinggal berdua saja?" Meisya bertanya akhirnya. Meski dirinya langsung mendapat pelototan dari Shan. "Alah Om, belum terbiasa. Nanti deh tak sekolahin dulu ni mulut," jawab Meisya konyol. Shan dan Shen saling pandang. "Kayaknya ni anak rada-rada deh otaknya."
"Sengklek kayak otak kamu?"
"Otak Kakak tu yang somplak." Shen memutus telepati di antara keduanya sembari melengos.
"Lalu sekolah elu di mana?" tanya Shan. "Oh di SMA OneTwo, deket kok dari sini. Om gak usah khawatir. Aku bisa pulang pergi sendiri. Aku biasa naik Daddy," Meisya menjawab. Duo S itu langsung melongo. "Daddy? Daddy siapa?" duo kembar itu bertanya bersamaan.
__ADS_1
"Ducattiku namanya Daddy," sahut Meisya, mulut duo S itu langsung menganga tidak percaya.
******
"Ha? Apa katamu? Shan sudah menikah? Jangan ngigau kamu, sudah siang ini," Arash berkata pada Ang di sambungan ponselnya. Hari memang sudah siang, tapi pasutri itu masih bergelung manis di bawah selimut yang sama. Dengan Helena tidur memeluk dirinya.
"Enak saja, Shen baru saja menghubungiku. Aku gak ngelindur ya, emang kamu. Hayo dari semalam ponselmu off, apalagi kalau kalian gak lagi ngelindur berjamaah," ledek Ang dari seberang.
Arash nyengir seolah Ang bisa melihat dirinya. "Bukan urusanmu. Kita ngelindur kek, kelon kek. Yang penting kita sudah sah," ledek Arash.
"Aseeeeemmmm," umpat Ang dalam hati. Selanjutnya pria itu kembali mengumpat kala Arash mematikan sepihak sambungan teleponnya. "Wah tidak bisa dibiarin nih. Aku harus segera menghalalkan Shen. Enak saja, bisa-bisa nanti aku dikacangin, batin Ang.
Ya, jangan dipermasalahkan, emang situ kacang beneran.
"Ada apa?" tanya Helena lirih. Wanita itu menyembulkan kepala dari balik selimut yang menutupi tubuh mereka.
"Katanya Shan menikah semalam," jawab Arash. Masih mengotak atik ponselnya. "Yang benar?" tanya Helena tidak percaya. "Dia pasti iri dengan kita. Tapi siapa istrinya," gumam Arash. Suami Helena itu berpikir dengan keras, tapi tidak menemukan jawabannya. Hingga kemudian dia mengesampingkan urusan Shan. Lalu melirik kembali Helena yang kembali terlelap.
"Karena saingan kita sudah muncul bagaimana kalau kita gass poll saja," bisik Arash pada Helena. Wanita itu terlihat lelah. Tapi sepertinya Arash tidak peduli. "Gass poll apanya?" tanya Helena.
"Ngadonlah, apalagi," Arash menyeringai melihat wajah bingung Helena. Detik berikutnya istri Arash itu mengumpat kesal. Dari kemarin, Arash tidak berhenti menerkamnya. Pria itu benar-benar menebus waktu bercinta mereka selama ini dalam dua hari ini. "Aku menginginkan anak darimu Helen. Aku ingin kau mengandung anakku," bisik Arash saat mereka selesai dengan sesi panas mereka siang itu.
"Kenapa kau menginginkan anak dariku?" tanya Helena polos. "Karena aku mencintaimu Helen. Aku jatuh cinta padamu. I love you, Helena," jawab Arash. Helena ternganga mendengar pernyataan cinta Arash untuk yang kesekian kalinya.
******
__ADS_1
Arash dan Helena,
*****